
Tiara tersenyum, kedua tangannya menyentuh tangan Alex sedang memegang bola.
"Dengar sayang. Kamu tidak bisa selamanya terbelenggu oleh masa lalu. Jika melihat bola ini membuatmu selalu teringat kenangan buruk. Kalau begitu, kita buat saja kenangan baru. Hanya ada aku, kamu dan dua serangkai," balasnya lalu ia tersenyum membuat Alexander melirik dan memandang wajahnya.
Waktu seketika terhenti, ketika Alexander mendengar apa yang ia katakan. Parasnya yang anggun, membuat Alexander terpesona ketika berpandangan dengannya. Tanpa mereka sadari, Penjaga Toko memandang iri mereka berdua.
"Ehem! Maaf mengganggu. Selain Bola, ada lagi yang mau dibeli?" tanya Sang Penjaga Toko.
Mereka berdua langsung tersadar lalu mereka berpencar, mencari barang menarik untuk dibeli. Tiara, memilih sepasang sepatu olahraga berwarna putih biru muda. Selain itu, dia juga membeli baju dan celana olahraga.
Sama halnya dengan Alex, hanya saja dia menambah sepasang sepatu sepak bola berwarna merah dan hitam. Semua biaya, Alexander yang tanggung. Selesai belanja, mereka berdua pergi meninggalkan toko lalu berjalan mengunjungi Super Market.
"Kita mau ke mana, sayang?" tanya Tiara sambil membawa tas plastik berisi kotak sepatu dan sepasang baju olahraga.
"Belanja. Kita harus membeli persediaan di dapur dan juga persiapan menghadapi musim hujan."
Mereka berdua turun dengan menaiki eskalator. Sesampainya di lantai bawah, mereka berdua berjalan menelusuri lorong yang dipenuhi oleh Stan Makanan. Tiara terpikat, oleh makanan yang ada di sana.
"Mau?" tanya Alex lalu Tiara menjawab, "Tidak."
"Jangan malu, kalau mau kita istirahat dulu sekalian menikmati menu jajanan di sini. Mau atau tidak?" tanya Alex sekali lagi.
Tiara mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Mereka berdua, membeli beberapa menu jajanan lalu mereka berdua duduk di sebuah kursi panjang membelakangi jendela Super Market.
Masing-masing, mereka berdua menikmati menu jajanan. Tiara sedang menikmati Kebab, melirik ke arah Alex.
"Sayang, kamu mau?" tawar Tiara kepada Alex.
"Boleh, yuk saling suap," balas Alex.
Tiara mengangguk-anggukkan kepala dengan sangat senang. Alexander, mulai terlebih dahulu menyuapi burger miliknya kepada Tiara. Begitu juga dengan Tiara, menyuapi Alex dengan Kebab miliknya.
__ADS_1
Mereka saling berpandangan sambil tersenyum lebar. Mesranya mereka berdua, membuat pengunjung Mall memandang iri. Mereka sempat memamerkan kemesraan dengan berfoto selfi.
Selesai menikmati jajanan, mereka berdua berjalan masuk ke dalam Super Market. Barang-barang milik mereka dititipkan pada penitipan barang.
Kemudian, mereka berdua masuk sambil mendorong sebuah roda keranjang besi. Berbagai macam bahan makanan dan kebutuhan dapur tersedia lengkap. Alexander dan Tiara, melihat label harga pada setiap bahan makanan yang akan mereka beli. Tanpa mereka sadari, pengunjung Super Market diam-diam memperhatikan mereka berdua. Kedekatan mereka berdua, benar-benar terlihat seperti pasutri yang baru menikah.
"Sayur, bumbu dapur, cemilan semuanya sudah...," kata Tiara melihat-lihat belanjaan di dalam keranjang.
"Yuk, kita langsung ke kasir!"
Mereka berdua, berjalan menuju kasir untuk menghitung harga belanjaan. Tiara berjalan mengambil barang lalu menunggu Alexander seorang diri di dekat pintu masuk Super Market. Selesai belanja, mereka berjalan menelusuri lorong.
Di depan, mereka melihat sebuah toko yang menjual perlengkapan musim hujan. Alexander dan Tiara, menghampiri toko tersebut. Di sana, mereka membeli payung dan jas hujan.
Setelah membeli perlengkapan musim hujan, mereka pun berjalan memutar menuju eskalator. Mereka berdua berjalan melintasi toko yang menjual handphone. Aura persaingan antara pegawai toko mereka berdua rasakan.
Tiara mulai terpikat dengan salah satu handphone yang ditawarkan di toko tersebut. Buru-buru, Alexander menarik tangannya sambil menatap ke depan.
"Hei! Kenapa buru-buru sayang?!"
Sesampainya di lantai satu, mereka berdua memperlambat langkah kaki. Alexander teringat, Tiara begitu terpikat dengan salah satu handphone yang ada di toko di sana. Wajahnya murung, memikirkan cara mendapatkan uang untuk membelikan Tiara handphone baru.
Tidak mungkin, dua menggunakan uang pemberian Ayahnya terus menerus. Tiara melirik ke arah Alex, ia melihat wajah Alexander sedang murung.
"Suamiku, kamu kenapa?"
"Ah! Tidak-tidak, aku hanya murung karena teringat acara kartun di televisi. Ayo, kita cepat pulang mumpung belum turun hujan," balas Alex.
Tiara terdiam, ia tau bahwa sorot matanya terukir sebuah kebohongan. Dia tersenyum sambil menundukkan pandangan. Sesampainya di Kawasan Parkiran, mereka berdua naik ke atas motor lalu motor Kawasaki W800 dikendarai oleh Alex mulai melaju di atas aspal. Diam-diam, seorang lelaki berambut wavy taper cut coklat mengintai dari kejauhan. Lelaki itu tidak lain adalah Martin. Martin mengambil handphone di saku celananya lalu menghubungi Ilham.
"Ilham, gue sekarang tau siapa pemilik motor itu."
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Tiara duduk menyamping sambil memeluk Alex dari belakang dengan erat. Kepalanya bersandar, ia tersenyum mengingat momen indah bersama Alex. Begitu juga yang dirasakan oleh Alex, ketika mengendarai motornya sambil tersenyum.
Sekian lama di perjalanan, akhirnya mereka berdua tiba di rumah. Tiara turun dari motor lalu membuka gerbang. Setelah gerbang terbuka, motor itu memasuki halaman rumah.
Mereka berjalan membawa barang cukup berat. Barang-barang tersebut, mereka letakkan di atas lantai teras rumah. Setelah itu, mereka berdua duduk berdampingan di atas lantai sambil melepas sepatu.
"Lelahnya hari ini," keluh Alex.
"Iya, sayang. Banyak sekali belanjaan kita hari ini," kata Tiara lalu dia memeluk Alex dengan erat lalu ia berkata, "Terima kasih untuk hari ini. Aku bahagia dengan kencan kita hari ini."
"Sama-sama. Seharusnya aku yang bilang begitu Tiara sayang. Oh iya, bisa kamu berbalik?"
"Kenapa?" tanya Tiara lalu Alex menjawab, "Lakukan saja."
Tiara mulai berbalik membelakangi Alex. Alexander mengeluarkan pita rambut berwarna merah di dalam saku celana yang masih terbungkus oleh plastik. Dia mulai memasangkan pita rambut itu pada rambutnya.
Selesai memasangkan pita rambut, Tiara pun berbalik dengan wajah tersipu malu.
"Coba kamu bercermin," pinta Alex lalu ia berjalan masuk ke dalam rumah.
Dia bercermin, pada sebuah cermin yang terpasang di dinding dapur. Kedua matanya tak berkedip, raut wajahnya memerah ketika melihat pita rambut merah terpasang di belakang rambutnya. Tidak berselang lama, Alexander pun datang lalu ia memandang paras cantiknya dari cermin.
"Maaf sewaktu di Restoran, aku meninggalkanmu. Setelah dari kamar mandi, aku sengaja mengunjungi Toko Aksesoris. Selain pita itu, ini terimalah!" kata Alex lalu memberikan sebuah gelang.
Gelang itu berwarna putih. Pada bagian sisi gelang tertulis, "T & A" berwarna emas. Tiara menerima pemberian Alex, dia langsung mengenakan gelang itu pada lengan kirinya.
Dia berjalan mendekat, Alexander tersipu malu ketika melihat wajahnya yang manis ketika tersenyum. Tiara pun langsung mencium bibirnya, sontak Alexander terkejut. Kedua tangan Tiara, memeluk Alex dengan erat. Alexander terbawa suasana, ia pun membalas ciumannya.
Alex melihat, sedikit air mata Tiara mengalir membasahi pipi. Setelah berciuman, mereka saling berpandangan lalu berpelukan dengan sangat erat.
__ADS_1
"Alexander, cintaku. Aku sangat bahagia sekali! Pemberianmu begitu berharga bagiku. Aku pasti akan terus memakainya!"
"Jangan berlebihan, begitu. Aku hanya memberikannya, sebagai tanda ucapan terima kasih karena telah mengurusku," balas Alex dengan tersipu malu lalu Alex kembali berkata, "Tiara, terima kasih. Terima kasih,telah hadir dalam hidupku. Walau belum satu bulan, hidupku mulai berwarna. Sekali lagi, terima kasih. Aku janji akan terus menjagamu," balas Alex sambil mengelus kepala belakangnya.