
Satu persatu, mereka semua keluar dari kamar lalu duduk bersama di ruang tamu. Kedua kelopak mata terasa lengket, mereka terdiam dan menguap setiap ada kesempatan.
Biasanya, Tiara bangun setengah empat pagi untuk melakukan pekerjaan rumah. Sekarang, pertama kali dalam hidupnya Tiara bangun jam setengah sepuluh menjelang siang.
Tamrin merenggangkan tangannya ke atas lalu mengusap kedua matanya masih mengantuk. Dia memandang tiga temannya masih mengantuk.
"Jadi jalan-jalan?" tanya Tamrin.
Wulan menguap, dia meraih handphone miliknya tergeletak di atas meja tamu. Kemudian dia pun menjawab, "Sudah jam sembilan empat lima. Siang begini memangnya mau ke mana kita?"
Alexander menggelengkan kepala lalu berkata, "Ya, ampun. Gimana sih yang janji," sindir Alexander kepada Wulan.
"Maaf Bos, maklum kurang tidur. Habisnya kalau tidur nanti tangan dan kakiku terikat lagi," ujarnya sambil melirik kepada Tiara.
Tiara memalingkan wajahnya lalu berkata, "Suruh siapa tidur kayak gangsing."
"Sudah-sudah. Wulan bagaimana soal voting? Sudah kamu buat?" tanya Alex.
Wulan menguap sambil menutup mulut dengan telapak tangannya. Dia pun menjawab, "Belum Bos, biar aku kerjakan sekarang."
Wulan mulai membuat angket dengan handphone miliknya. Tiara berdiri dan pamit menuju dapur untuk menyiapkan menu makan siang disusul oleh Alexander dan Tamrin yang juga pergi ke dapur untuk mencuci muka. Selesai mencuci muka, kedua remaja itu bermain play station.
Wulan baru selesai membuat angket, pergi menyusul Tiara ke dapur. Dia melihat Tiara sedang memotong bawang.
"Masak apa?" tanya Wulan.
Tiara sambil mengupas bawang menjawab, "Nasi Goreng Ayam Lada Hitam."
"Boleh aku bantu?"
"Tentu," kata Tiara lalu menggeser pisau dan nampan sambil berkata, "Tolong kupas dan potong bawangnya, sementara aku siapkan bahan yang lain."
"Siap," balasnya singkat.
Wulan mulai membantu Tiara mengupas dan memotong bawang. Kedua gadis itu saling membantu dalam memasak. Banyak hal baru yang Wulan temukan dalam memasak.
Aura keibuan Tiara terasa sangat kuat ketika membimbing dan caranya memasak. Berkat hal itu, dia teringat Ibunya berada di rumah.
Tiara melirik sahabatnya terlihat murung dan bersedih. Sambil menumis Tiara bertanya, "Ada apa Wulan? Kenapa kamu terlihat bersedih?"
Wulan berdiri samping sahabatnya tersadar dari lamunannya. Dia tersenyum lalu menjawab, "Aku teringat ibuku di rumah. Setiap hari, Ibuku selalu memasak dan membersihkan rumah seorang diri. Jarang sekali aku membantunya, sekalinya membersihkan kamar itu pun karena disuruh. Melihatmu terkadang membuatku sempat berpikir bahwa aku adalah gadis yang gagal."
Tiara sambil menumis berkata, "Itu tidak benar Wulan, kamu hanya perlu mengubah kebiasaan hanya itu. Lagi pula, tidak ada yang namanya gadis gagal. Semua makhluk yang hidup, terlahir untuk belajar. Aku yakin, ibumu tidak menyebutmu gadis gagal."
Wulan menghembuskan nafas panjang lalu berkata, "Mengubah kebiasaan itu sangat sulit."
"Memang, tapi kalau tidak sekarang kapan lagi? Pelan-pelan saja Wulan, di mulai dari hal yang terkecil seperti membersihkan kamar misalkan. Setidaknya, dengan membersihkan kamar kamu bisa sedikit membantu Ibumu dan mengurus dirimu sendiri."
Wulan tersenyum lalu membalas, "Nanti aku coba. Kalau ada sesuatu yang merepotkan, tolong bantu aku."
Tiara tersenyum lalu membalas, "Pasti Wulan!"
__ADS_1
Selesai memasak, kedua gadis itu membawa piring dan sebuah wadah berisi nasi goreng. Alexander dan Tamrin sedang bermain play station, mencium aroma nasi goreng. Kedua lelaki itu menoleh pada asal bau tersebut.
Tiara meletakkan wadah itu di atas lantai sambil berkata, "Makan siang sudah siap anak-anak!"
"Mantap!" ucap kompak Alexander dan Tamrin.
Wulan meletakkan piring dan sendok di atas lantai. Dia berkata, "Gimana sih laki-laki, bukannya bantuin malah main game," sindir Wulan kepada Alexander dan Tamrin.
"Gue bantu kok!" bantah Tamrin.
Wulan memasukan satu porsi nasi goreng ke dalam piring. Dia menoleh kepada Tamrin lalu bertanya, "Hah?! Bantu apa?"
"Bantu doa!" balasnya cengengesan.
Mereka bertiga bersorak kepada Tamrin, namun Tamrin menanggapinya dengan tertawa dan cengengesan tanpa rasa bersalah.
"Aku gak mau tau, pokoknya selesai makan kalian yang cuci semuanya," kata Tiara kepada Alexander dan Tamrin.
"Siap," jawab kompak mereka berdua.
Menu makan siang telah siap, mereka semua mulai menikmati makan siang bersama-sama. Citra rasa lezat, membuat mereka semua makan dengan sangat lahap.
Tiara menjentikkan jari, seketika munculah sebuah botol kayu berisi susu.
Tamrin begitu menikmati nasi goreng di dalam mulutnya. Sambil mengunyah dia berkata, "Sumpah ini nasi goreng terenak pernah gue makan!"
Wulan menepuk dadanya sambil berkata, "Siapa dulu dong yang masak!" ucapnya menyombongkan diri.
"Ah, bohong banget!" bantah Tamrin.
"Tapi ini enak banget, padahal bumbu dan cara masaknya biasa saja. Sebenarnya apa sih rahasianya?" tanya Wulan.
"Aku hanya menambahkan cinta," jawab Tiara.
Mereka bertiga tidak mengerti lalu bertanya, "Cinta?"
"Cinta itu merupakan perasaan yang tulus kesungguhan. Jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh dan penuh ketulusan, maka hasil dari pekerjaan apapun akan menjadi maksimal," ujarnya menjelaskan kepada mereka.
"Betul itu, seperti elu pacaran sama motor Vespa butut elu itu," ledek Wulan kepada Tamrin.
"Di sini banyak kaca, mau aku ambilkan salah satunya? Oh iya, elu pacaran sama handphone," balas Tamrin.
Alexander tertawa lalu berkata, "Ya udah, biar gue cosplay jadi handphone," canda Alexander kepada Wulan.
Seketika Tiara menjadi cemberut lalu dia berkata, "Bagus, berarti kamu gak perlu makan malam."
Wulan tertawa lalu berkata, "Bos, kasian deh elu. Bagus Nyonya Bos, cas handphone banyak di rumah. Colokin aja Nyonya Bos, hitung-hitung hemat makanan."
"Jangan begitu, aku cuman bercanda. Nanti kalau aku kelaparan gimana?" kata Alexander memohon belas kasih.
"Minum saja yang banyak, nanti juga laparnya hilang," balas Tiara memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Alexander merangkak mendekat lalu menggenggam kedua tangannya sambil berkata, "Jangan begitu, aku cuman bercanda sayang."
"Hayo loh, Tiara ngambek hayo loh," ucap Wulan dan Tamrin secara bergantian.
Tiara menoleh kepada Alex, gadis itu menahan tawa melihat raut wajah Alex begitu merasa bersalah. Kemudian gadis itu berkata, "Tenang, aku cuman bercanda. Masa aku cemburu karena hal seperti itu?"
"Syukurlah, aku kira kamu marah. Ngomong-ngomong Wulan, bagaimana angetnya? Sudah buat?" ujarnya lalu bertanya kepada Wulan.
"Sudah Bos, biar aku kirimkan ke dalam grup. Sisanya, kalian bagikan ke seluruh postingan di sosial media milik kalian," timpal Wulan.
"Siap," jawab kompak mereka bertiga.
Mereka semua, membagikan angket pada seluruh situs sosial media yang mereka miliki. Belum satu menit, angket yang mereka bagikan mulai terisi.
Jumlah total angket telah diisi mencapai lima ratus suara. Setelah suara hampir mencapai enam ratus, mereka menutup voting. Mereka semua, melihat jumlah total suara yang mereka dapatkan.
Tamrin menatap layar handphone lalu membacakan hasil voting. "Pop urutan pertama, Dangdut ke dua, Rock ke tiga. Gue skip, ya? Jazz urutan terakhir.
"Diantara aliran Pop, Korea Pop paling populer di zaman sekarang terutama para gadis," kata Wulan.
"Gue tau! Kalau gak salah lagunya yang begini, you know me so well!" kata Tamrin dengan hebohnya.
"Itu bukan Korea Pop, tapi Indonesia Pop masih lokal," sambung Alexander kepada Tamrin.
Wulan tersenyum dia teringat masa jaya Boyband lokal. Jadi ingat SD kelas satu, "Dulu gue suka banget sama lagu itu. Pas dicari-cari, ternyata Boyband lokal Smash terutama Morgan. Lagu mereka juga bagus-bagus. Masih ada Girlband juga bagus, contohnya Cherrybelle."
Tiara tersenyum lalu berkata, "Andaikan bertemu kalian lebih awal mungkin aku juga ikut-ikutan trend musik hingga sekarang."
"Jangan khawatir Tiara, santai. Gue dan Wulan akan tunjukkan musik-musik menarik," kata Tamrin.
"Thanks kalian semua, kalau begitu aku akan melakukan wawancara kecil," timpal Tiara kepada mereka bertiga.
"Wawancara apa?" tanya Alexander.
"Wawancara mengenai aliran musik yang kalian sukai," jawab Tiara.
Tiara mulai melakukan wawancara kepada mereka bertiga seputar aliran musik dan band yang mereka sukai secara bergantian. Selesai wawancara telah mendapatkan kesimpulan. Pertama Wulan, dia menyukai musik beraliran Rock dan Korea Pop.
Salah satu band paling ia sukai adalah Gun And Roses. Kedua Tamrin, aliran musik yang ia sukai adalah Reggae dan Pop.
Salah satu band paling ia sukai adalah Band Rumput Laut. Terakhir adalah Alexander, dia hanya menyukai lagu menurutnya nikmat untuk di dengar. Tetapi diantara lagu, dia sangat menyukai lagu berjudul Mata ke Hati dari Band Hivi.
"Jika ditambah dari hasil voting, aliran musik Pop masih mendominasi," kata Tiara.
Tamrin menepuk kedua tangannya lalu berkata, "Sudah diputuskan! Bahwa aliran musik kita adalah Pop!"
Alexander melipat kedua tangannya lalu berkata, "Warna musik Pop di negeri ini telah redup. Semoga Band kita, bisa memberikan warna dan keceriaan layaknya Band Hivi juga Band lainnya."
"Bukan itu saja Bos, semoga karya musik kita tetap murni dan tidak diacak-acak oleh oknum," kata Wulan kepada Alexander.
Alexander menghembuskan nafas panjang lalu membalas, "Semoga."
__ADS_1
Tiara duduk bersandar di samping Wulan. Dia berkata, "Syukurlah anak-anak, kita sudah selangkah lebih maju menuju jati diri Band kita. Soal nama band, pelan-pelan kita pikirkan."
"Siap," ucap kompak mereka bertiga.