
Lonceng pulang telah berbunyi, setelah mengerjakan tugas piket mereka semua pergi ke ruang musik. Alexander, Wulan dan Tamrin terlihat lesu.
"Selama di kelas, kita hanya duduk memperhatikan materi. Tapi sepulang sekolah kenapa terasa telah?" tanya Wulan berjalan lesu.
Alexander menghembuskan nafas panjang lalu berkata, "Gue juga sama. Minggu depan ulangan harian."
"Jujur gue ingin pulang, terus tidur siang dan bersiap kerja part time. Sayangnya hari ini ada Ekskul Band," keluh Tamrin.
"Kalian, semangat dong!" ucap Tiara menyemangati mereka bertiga.
"Iya," ucap kompak mereka bertiga dengan lesu.
Lama di perjalanan, akhirnya mereka pun sampai. Bang Tigor terlihat sedang duduk di depan ruang musik.
Dia masih mengenakan almamater OSIS SMA TEGAR SARI. Bang Tigor menoleh kepada mereka semua.
"Hello, guys!" sapa Bang Tigor.
Tamrin melakukan tos dengan Bang Tigor sambil berkata, "Hei, Bang!"
"Wih! Tiara, Wulan dan Dua pembolos kita, Tamrin dan Alexander!" balasnya sambil melakukan tos kepada mereka.
"Cuman sekali," balas Alex.
"Tapi tetap saja elu membolos. Pakai acara drama di depan gerbang, cie!"
Alexander dan Tiara, memalingkan wajahnya dengan tersipu malu. Wulan dan Tamrin tersenyum lalu menepuk kedua pundak sahabatnya.
Tiara menoleh pada ruang musik masih terkunci. Dia penasaran, mengapa ruangan itu masih terkunci.
"Kak Tigor, kenapa pintunya masih di kunci?" tanya Tiara.
"Sengaja, sebab hari ini kita ke studio musik. Kalian bawa motor?"
"Bawa," jawab kompak Alexander, Wulan dan Tamrin.
"Good! Sekarang, yuk kita ke tempat parkir," ajak Bang Tigor kepada empat adik kelasnya.
Mereka berjalan menelusuri lorong sekolah bersama. Suasana sekolah cukup sepi, terlihat beberapa anggota Ekstrakurikuler berjalan melintasi mereka. Para petugas kebersihan, mulai menjalankan tugasnya.
Sesampainya di gerbang sekolah, mereka dipandu oleh Satpam mulai menyebrangi jalan. Setelah sampai di Kawasan Parkiran, mereka semua menaiki motor masing-masing lalu melaju di atas aspal. Tiara membonceng pada motor yang dikendarai oleh Alex. Sedangkan Wulan mengendarai motor matic dan Tamrin mengendarai motor Vespa miliknya.
Mereka melaju mengikuti Bang Tigor sedang santai mengendarai motor Revo miliknya. Sekian lama di perjalanan, akhirnya mereka sampai di Studio Musik. Bang Tigor dan yang lainnya, berjalan masuk ke dalam.
__ADS_1
Suhu panas mulai berganti menjadi sejuk, ketika mereka berjalan masuk ke dalam. Mereka melihat, beberapa alat musik di sana.
Bang Tigor, berjalan menemui Sang Pemilik studio lalu memberikan uang sewa. Sedangkan mereka, terkagum-kagum dengan suasana di dalam studio.
"Sumpah, baru pertama kali masuk ke sini," kata Alexander terkagum-kagum.
Tamrin sambil melihat-lihat berkata, "Sama Bos. Jadi ini Studio Musik? Merasa keren gue di sini."
"Kalau aku sih, pernah sekali ke Studio Musik yang lain. Tapi menurutku, tempat ini lebih bagus. Aku suka desain tempatnya," ucapnya terkagum-kagum sambil melihat-lihat.
"Aku tidak sabar ingin memainkan seluruh alat musik di sini!" kata Tiara dengan tidak sabaran.
Selesai membayar sewa, Bang Tigor berjalan masuk menghampiri mereka semua. Dia melihat, adik kelasnya terkagum-kagum dengan alat musik di studio. Alexander dan yang lainnya, menoleh kepada Bang Tigor baru saja masuk.
"Welcome to Studio Music! Hari ini, sengaja gue ajak kalian kemari sebagai awal pengenalan tentang apa saja yang ada di studio musik."
Bang Tigor menjelaskan berbagai macam alat musik dan alat sering digunakan di dalam studio. Alexander dan yang lainnya, terdiam memperhatikan. Dia bertanya satu persatu mengenai alat musik apa yang tidak bisa mereka mainkan.
Alexander belum pernah memainkan gitar listrik. Keyboard dan drum, ia sama sekali tidak bisa memainkannya. Wulan pandai bermain Keyboard, tetapi dia tidak bisa memainkan drum dan gitar listrik.
Tamrin, tidak terlalu mahir memainkan gitar listrik dan drum. Keyboard, Tamrin sama sekali tidak bisa memainkannya. Sedangkan Tiara, belum bisa memainkan alat musik satu pun.
"Begitu rupanya. Kalau begitu, aku akan mengajari kalian satu persatu. Sebisa mungkin, kalian harus bisa dua alat musik," ujarnya kepada para adik kelasnya.
"Kenapa harus dua?" tanya Tamrin kepada Tigor.
Tiara melihat-lihat lalu menjawab, "Drum! Aku ingin belajar drum!" ujarnya sambil menunjuk.
"Tamrin?"
"Gitar," jawab Tamrin.
"Alexander? Alat musik apa yang ingin elu pelajari?" tanya Bang Tigor.
"Sama, gitar juga."
"Wulan?"
"Keyboard, sudah lama aku tidak memainkannya," jawab Wulan.
Tigor berjalan menghampiri Tiara yang sudah menegang kedua stik drum. Dia mulai mengajari teknik dasar bermain drum.
Sekali penjelasan, Tiara pun langsung mengerti. Dia mulai mempraktekkan apa yang diajarkan oleh Tigor.
Tigor mulai memutar sebuah lagu. Dia terkagum-kagum, melihat cara Tiara memainkan Drum yang hampir mencapai tingkat mahir. Tidak hanya Tigor, Alexander dan yang lainnya terkagum-kagum kepadanya.
__ADS_1
"Tiara hebat banget. Sekali diajari langsung bisa," puji Tamrin berbisik kepada dua sabatnya.
"Jadi ingat pertama kali Tiara menumpang di rumahku. Awalnya, Tiara tidak bisa membaca. Tetapi dalam semalam, dia pun langsung bisa membaca," kata Wulan.
"Wajar, Tiara itu kan bukan manusia," kata Alex berbisik kepada Tamrin.
"Betul juga," balas Tamrin.
Musik pun berhenti berputar, Tiara langsung mengelap keningnya dengan telapak tangan. Mereka semua bertepuk tangan sambil memberikan pujian. Sekarang, giliran Alexander dan Tamrin untuk diajari.
Tigor mulai menjelaskan, beberapa trik dalam bermain gitar berikut jenis gitar listrik untuk digunakan. Berbeda dengan Tiara, mereka berdua masih butuh waktu untuk beradaptasi. Sementara Alexander dan Tamrin berlatih gitar, Tigor mulai mengajari Wulan. Wulan yang pada dasarnya pernah memainkannya, dia pun langsung mahir memainkannya. Latihan tersebut terus berlangsung hingga jam setengah empat sore.
"Ok, kita cukupkan sampai di sini. Kalian sudah tentukan nama Band kalian?" tanya Bang Tigor.
"Belum," jawab kompak mereka berempat.
"Ya, sudahlah. Menentukan nama Band, memang tidak mudah. Cobalah mengenal jati diri kalian, gue yakin pasti kalian akan menemukannya," kata Tigor kepada mereka berempat.
"Minggu depan, apa kita akan berlatih di sini?" tanya Alexander.
Tigor menggelengkan kepala lalu menjawab, "Minggu depan kita kembali berlatih di ruang musik. Soal biaya sewa, satu jam seharga seratus lima puluh ribu. Karena kita pelajar, maka satu jam sama dengan lima puluh ribu. Semoga untuk kedepannya, kita semua bisa patungan."
"Siap, kak!" balas mereka berempat.
Selesai latihan, mereka semua menaiki motor lalu pulang menuju rumah masing-masing. Sepanjang perjalanan masing-masing, mereka semua terus memikirkan nama Band yang cocok. Namun, hingga pukul sembilan malam mereka belum menemukannya.
Alexander dan Tiara berbaring di tempat tidur. Mereka meraih handphone masing-masing lalu membuka chatting grup.
"Guys, kalian sudah mendapatkan inspirasi untuk Band kita?" ujar Alex memulai percakapan.
"Belum," jawab mereka bertiga secara bergantian.
Tiara teringat perkataan Ilham, mengenai nama dan jati diri. Namun dia juga belum tau, apa maksud dari perkataan Ilham.
"Coba kita mulai dari identitas dan jati diri kita," balas Tiara dalam grup chat.
"Identitas? Jati diri? Menarik..," balas Wulan.
"Soal itu, dari pada pusing-pusing bagaimana kalau nama Band kita serangkai?" tanya Tamrin.
Alexander membalas, "Boleh juga idemu, kita kan dari awal emang klub empat serangkai atau anggota serangkai berjumlah empat orang."
"Gue juga setuju," kata Wulan.
"Berarti semuanya setuju nih?" tanya Tiara kepada mereka untuk meyakinkan.
__ADS_1
"Setuju," balas mereka bertiga secara bergantian.
Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya Band Serangkai resmi di bentuk. Dengan begitu, Band Serangkai bisa memulai dalam merintis karir.