Senar Takdir

Senar Takdir
Cara alternatif ke Sekolah


__ADS_3

Tidak terasa hari Senin telah tiba. Suara alarm handphone nyaring terdengar. Kedua matanya terasa lengket, gravitasi kasur sangat kuat membuat enggan beranjak dari kasur.


Tubuhnya terasa berat seperti ada sesuatu menindih tubuhnya dari samping. Perlahan, dia mulai membuka matanya. Dia melihat Tiara sudah mengenakan baju sekolah tertidur disampingnya.


Alexander tersenyum lalu memeluk Tiara sambil berkata, "Akhirnya ada yang bisa dipeluk."


Pelukannya membuat Tiara terbangun. Gadis itu tersenyum, melihat kekasihnya memeluk sambil tersenyum kepada dirinya.


Tiara menjepit hidung dan menariknya sambil berkata, "Dasar tukang tidur, cape-cape dibangunin. Sudah bangun malah tidur lagi," sindirnya kepada Alex.


Kedua tangan Alex memegang pergelangan tangan Tiara. Dia pun berkata, "Aduh-aduh, sakit! Ini udah bangun!" ucapnya merintih kesakitan. Lalu dia bertanya, "Sejak kapan kamu ada di sini? Kenapa tidak memberitahuku dulu?"


Tiara membalas pelukannya lalu menjawab, "Dari jam setengah lima. Aku sudah memberitahumu, kamu nya saja belum lihat pesanku."


"Begitu rupanya, tapi tidak biasanya kamu tidur lagi. Semalam kamu bergadang?"


"Iya, sayang. Wulan mengajakku bermain Game Mobile sampai jam satu malam. Sekarang, peringkat kami sudah Epic. Yey!" balasnya dengan senang.


"Gila, mata panda kamu masih kelihatan, tuh," ucapnya lalu menunjuk pada kantong mata kekasihnya.


Tiara tertawa lalu berkata, "Iya, sayang. Bermain game online, seru juga. Apalagi bertemu tim payah, benar-benar menguji mental."


"Bukan menguji mental lagi sayang, tapi memancing emosi."


Tiara tertawa lalu berkata, "Andaikan bertemu mereka secara langsung, ingin rasanya mematahkan jari-jari mereka yang toxis," ucapnya sambil mengepalkan tangan kuat-kuat.


"Sabar sayang, sabar."


"Selain itu, aku menonton pertandingan ulang pertandingan tim Sepak Bola Batavia. FC."


"Kamu suka bola?" tanya Tiara.


Tiara menggelengkan kepalanya lalu menjawab, "Aku sudah berjanji kepada Ilham untuk menonton pertandingannya. Tidak enak rasanya, jika aku mengingkari janjiku sendiri."


Mendengar kata Ilham, membuatnya teringat perkataan Wulan mengenai pelaku pemasukan pasir ke dalam tangki oli motornya. Dia pun melepaskan pelukannya lalu berdiri di samping kasurnya. Kemudian, dia melihat jam pada layar handphonenya.


"Sudah jam enam lima belas, aku ingin siap-siap dulu," ucapnya kepada Tiara masih berbaring di atas kasur.


Tiara pun beranjak dari kasur sambil berkata, "Kalau begitu aku akan siapkan sarapan."


Sepuluh menit telah berlalu, selesai mandi dan mengenakan seragam sekolah Alex duduk bersama Tiara di dapur. Di atas meja, terdapat mie goreng, nasi dan susu hangat. Sambil makan, Tiara bercerita mengenai hal yang ia lakukan selama menginap di rumah Wulan.


Selama menginap, Wulan dan Tiara pergi ke tempat hiburan dan mengunjungi tempat menarik. Selain itu, Tiara bermain petak umpet dan lompat tali dengan Adik laki-laki Wulan dan beberapa sepupu datang berkunjung. Terkadang, dia membantu Ibu Wulan memasak dan hal yang bisa ia lakukan.


Tiara merasakan kekeluargaan begitu erat. Bahkan Ibunya Wulan berkata, bahwa dirinya sudah dianggap keluarga dan diminta untuk menginap kembali jika ada waktu luang. Alexander tertawa, ketika mendengar cerita bahwa Wulan terjatuh ke dalam saluran air.


"Kok, bisa sih?!" tanya Alex.


Tiara tertawa lalu bercerita, "Ceritanya sehabis beli cemilan, dia berjalan sambil memainkan handphonenya. Katanya sih, ada even Gacha menarik gak bisa dilewatkan. Karena fokus ke handphone, dia jatuh ke saluran air. Sebagian baju dan tubuhnya warna hitam."

__ADS_1


"Aneh sekali, bukannya dia bisa melihat masa depan?"


"Soalnya, Wulan gunakan kekuatannya untuk event Gacha. Wulan bilang, kekuatannya hanya bisa digunakan untuk satu tujuan dan tidak bisa gunakan dua waktu sekaligus," ujarnya menjelaskan.


Selesai sarapan, mereka berdua mengenakan sepatu. Setelah itu, mereka berdua berjalan menuju garansi di samping rumah.


Alexander diam mematung, ketika teringat bahwa motornya sedang diperbaiki. Dia terus memandangi garasi rumahnya dengan sangat sedih. Kesedihan yang dirasakan oleh Alex, juga dirasakan oleh Tiara.


Tiara memeluk tangan kekasihnya sambil berkata, "Jangan bersedih, sayang. Aku yakin, motormu akan kembali seperti semula. Aku berjanji, pasti akan aku temukan pelakunya dan membalasnya."


Alexander menoleh kepada kekasihnya. Dia mencium pipinya lalu berkata, "Thanks Tiara."


Setelah itu, mereka berjalan meninggalkan rumah lalu berdiri di samping Gapura jalan masuk ke Perumahan. Mereka berdua menoleh ke sana dan ke mari mencari angkutan umum.


Satu persatu, kendaraan umum mulai melintas namun sayangnya kursi penumpang terisi penuh. Mereka berdua semakin panik, ketika waktu sudah menunjukkan jam tujuh empat lima.


Alexander menunjuk pada mobil angkot bernomer enam satu. Dia pun berkata, "Ah, masih ada satu lagi."


"Bang! Bang!" mereka berdua melambaikan tangan.


Mobil angkot itu berhenti, Sang Supir menoleh kepada mereka berdua. Kemudian dia berkata, "Maaf saya gak narik dulu, lagi ada keperluan."


Betapa kecewanya mereka berdua, begitu mendengar apa yang dikatakan Sang Supir. Mobil angkot itu perlahan mulai melaju meninggalkan mereka berdua di pinggir jalan.


"Gawat, sebentar lagi gerbangnya ditutup!" kata Alex begitu panik.


"Tenang, kamu lupa? Aku kan bisa teleportasi."


"Kamu sih gak nanya."


"Tapi tunggu dulu! Kalau gak sengaja ketahuan gimana?" tanya Alex.


"Betul juga suamiku, apalagi OSIS di sekolah kita sangat waspada dan gerak cepat. Kalau begitu, kita terbang saja!"


"Terbang?!"


Tiara tersenyum lalu berlari menarik tangan Alex sambil berkata, "Ayo cepat, kita kembali ke rumah!"


Alexander ditarik dan ikut berlari sambil bertanya, "Pelan-pelan! Untuk apa kita ke rumah?"


"Nanti kamu juga tau."


Mereka berdua kembali ke rumah, sekarang mereka berdiri berhadapan di depan halaman rumah. Alexander terdiam melihat Tiara sedang tersenyum. Dia pun penasaran, apa yang sedang dipikirkan oleh kekasihnya.


"Sekarang apa? Sebentar lagi, gerbang sekolah akan tutup. Bagaimana caranya kita ke sekolah?"


Tiara tersenyum lalu menunjuk ke langit sambil berkata, "Terbang."


"Terbang?"

__ADS_1


"Kita akan terbang untuk pergi ke sekolah," jawab Tiara.


Alexander kebingungan mendengar apa yang dia katakan. Perlahan butiran cahaya keluar dari tubuhnya. Butiran cahaya itu membentuk sebuah selendang berwana merah muda.


Tanpa aba-aba, Tiara langsung menggendong dan mengangkat Alex dengan kedua tangan layaknya princess. Perlahan, dia mulai melayang di udara. Tiara pun tersenyum dan memandang ke atas langit.


Gadis itu mulai terbang di angkasa sambil membawa Alexander dengan kedua tangannya. Kedua tangan Alex gemetar, dia sangat ketakutan ketika menoleh ke bawah. Tiara mulai melesat cukup cepat di atas langit.


"Ampun Tiara, turun! Turun!" ucapnya begitu ketakutan.


Tiara tertawa lalu berkata, "Ya udah, aku lepas nih!"


"Jangan! Jangan! Nanti jatuh!" balasnya begitu ketakutan.


Tingkah kekasihnya yang usil, membuat Alexander semakin ketakutan. Namun, tidak ada pilihan selain terbang di atas langit.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai di sekolah. Tiara menoleh ke bawah mencari tempat yang aman untuk mendarat. Sedangkan Alexander, terdiam ketakutan sambil menutup kedua matanya.


Sekian lama mengamati dari atas, akhirnya mendarat di sebuah jalan gang tepat di samping rumah kosong. Suasana jalan sepi, jarak yang tidak terlalu jauh menjadi tempat alternatif yang baik untuk mendarat.


Tiara mendarat di atas jalan Gang lalu berkata, "Buka matamu, kita sudah sampai sayang."


Alexander pun berdiri lalu dengan tubuh yang gemetar dia berkata, "Lain kali jangan terbang lagi."


Tiara tertawa lalu berkata, "Iya, sayang, Iya," ucapnya kepada Alex masih ketakutan.


Setelah itu, mereka berdua bersama-sama berlari ke sekolah. Ketika gerbang hampir tertutup, mereka berdua tepat waktu masuk ke dalam sekolah. Nafas mereka ngos-ngosan, tubuh mereka berdua berkeringat dan tertawa bersama.


"Tadi itu hampir saja," kata Alex sambil ngos-ngosan.


"Iya, sayang. Untung saja kita tepat waktu," balas Tiara sambil ngos-ngosan.


Mereka berdua melihat Nanda, merupakan teman satu kelas sedang memeriksa kelengkapan beberapa siswa baru tiba di sekolah.


Nanda mengenakan tanda anggota kedisiplinan di bajunya. Selesai memeriksa, Nanda pun datang menghampiri mereka berdua.


Tiara tersenyum lalu berkata, "Aku tidak menyangka, kamu sekarang anggota OSIS Divisi Kedisiplinan," pujinya kepada Nanda.


Nanda tidak menanggapinya lalu memandang mereka berdua dengan tatapan dingin. Kemudian dia pun bertanya, "Mana topi kalian?"


Alex melihat responnya menjadi kesal lalu ia pun berkata, "Hei, Nanda. Gue tau elu anggota OSIS, tapi jangan dingin juga. Tiara sedang memujimu tau."


Nanda menoleh kepada Alex lalu berkata, "Terus gue harus bilang wow gitu?"


"Apa elu bilang?!" kata Alex dengan kesal.


Tiara memeluk lengan Alex lalu berkata, "Sudahlah Alex, Nanda sedang menjalankan tugasnya. Kita harus menghormati pekerjaan sebagai anggota OSIS," ujarnya menenangkan Alex lalu tersenyum.


"Mana topi kalian?" tanya Nanda sekali lagi.

__ADS_1


Alexander dan Tiara membuka tas masing-masing. Mereka berdua ingin mengambil topi di dalam tas.


Sialnya, mereka berdua tidak membawa topi. Akhirnya, mereka masuk bergabung dengan barisan para siswa tidak beratribut lengkap sekaligus datang terlambat.


__ADS_2