Senar Takdir

Senar Takdir
Petir


__ADS_3

Seketika, kedua mata Alexander terbuka. Kedua mata Alexander, tidak berkedip dengan wajah merah sambil memandang Tiara sedang tersenyum genit kepadanya. Pada saat itu, dia terdiam dan tidak tau apa yang harus dirinya lakukan.


Tiara tersenyum, sorot matanya memandang Alex dengan tatapan genit. Salah satu alis Tiara naik turun, membuat Alexander bertingkah tidak karuan. Kemudian Alexander tersenyum lebar dengan wajah memerah lalu menghembuskan nafas.


"Hmm..., terus aja pancing. Nanti diterkam, bercerai air mata," kata Alex.


"Selama suamiku sendiri, di terkam pun tidak masalah, " balasnya membuat wajah Alexander semakin merah dan salah tingkah.


"Terserah! Sudah malam, ayo tidur!"


"Hi.hi.hi! Iya, sayang. Iya," balas Tiara sambil terus menertawakan Alex.


Mereka berdua, masuk ke dalam kamar lalu berbaring di atas ranjang yang sama. Suara notifikasi handphone milik Alexander berbunyi. Dia mengambil handphone miliknya berada di balik bantal.Rupanya, notifikasi berisi tentang terbentuknya grup kelas.


Notifikasi telah berbunyi sejak satu jam yang lalu. Grup tersebut, di buat oleh Tamrin dan menobatkan dirinya sebagai Ketua Grup.


"Baru sekarang, grup kelas dibentuk," kata Fajar.


"Sorry, baru kepikiran," balas Tamrin.


"Tamrin, kenapa Tiara belum masuk ke dalam grup?" tanya Hana.


"Gue belum punya nomer handphone Tiara," jawab Tamrin.


"Wah, kacau. Di sini ada yang punya **** telpon Tiara?" tanya Fajar.


Seluruh anggota grup menjawab, bahwa mereka sama sekali tidak memiliki nomer Tiara. Alexander baru menyadari, bahwa Tiara sama semaki tidak memiliki handphone. Dia melirik ke arah Tiara sedang tertidur dalam posisi menyamping.


Kemudian, Alexander kembali menatap layar handphone miliknya. Tiara berbalik. Dia menggeser tempat duduknya lalu memeluk Alex dengan cukup erat.


"Tidur sayang. Bergadang itu tidak baik, besok kita harus sekolah," ujarnya memperingati sambil memeluk dan bersandar pada pundak Alex.


"Iya, sayang. Nanti, setelah ini..."


"Kamu lihat apa sih?" tanya Tiara.

__ADS_1


Gadis itu penasaran lalu melihat layar handphone milik Alex. Dia mulai membaca percakapan yang ada di dalam grup. Hana pun bertanya, bagaimana caranya menghubungi Tiara jika ada informasi penting.


"Bilang kepada mereka, jika ada informasi penting biar kamu saja yang memberitahuku," kata Tiara kepada Alex.


"Buruk. Bisa-bisa, mereka berpikiran macam-macam tentang kita."


"Kamu benar, sayang."


Tidak berselang lama, Wulan pun membalas percakapan di dalam grup. Dia membalas, bahwa ia sendiri yang akan memberitahu Tiara jika ada informasi penting.


Hana bertanya kembali, mengenai apakah Wulan memiliki nomer Tiara? Wulan menjawab, bahwa ia tidak memiliki nomer telpon Tiara. Tetapi dia tau di mana Tiara tinggal. Selain itu, Wulan beralasan bahwa kedua orang tua Tiara menaruh kepercayaan kepadanya.


Berkat Wulan, informasi tentang Tiara terjaga walau hanya sementara. Kemudian, Alexander menonaktifkan ponsel miliknya. Tiara melepas pelukannya lalu berbaring menatap langit-langit kamar bersama Alex.


"Berbincang di dalam grup kelas, sepertinya seru. Sayangnya, aku tidak punya ponsel," kata Tiara.


"Tidak juga. Awalnya saja seru, tetapi seterusnya grup kelas gak jauh beda dengan kuburan. Selain grup kelas, banyak hal menarik di dalam ponsel."


"Enaknya, aku jadi ingin punya ponsel juga. Tapi kapan ya?"


Alexander perlahan mulai mendekat, dia mencium pipi Tiara membuat gadis itu melirik ke arahnya. Dia tidak menyangka, Alexander menciumnya terlebih dahulu.


"Semoga, sayang."


Tiara tersenyum, sorot matanya menatap genit kekasihnya. Perlahan dia mendekati daun telinga Alex.


"Tidak aku sangka, suamiku begitu berani menciumiku terlebih dahulu..."


Hembusan angin serta bisikan Tiara, membuat daun telinga Alex memerah. Dia langsung berbalik badan.


"Sudah malam, ayo tidur!" balasnya dengan salah tingkah membuat Tiara tak kuasa menahan tawa.


Tiara turun dari kasur lalu mematikan lampu kamar dan kembali ke tempat tidur. Suasana kamar yang terang, kini berubah menjadi gelap dan hening. Cahaya lampu, masuk dari sela pintu yang menemani suasana sunyi.


Alexander yang sedang terpejam, perlahan kembali membuka matanya. Dia melirik ke sana dan kemari mencari bantal guling miliknya.

__ADS_1


"Kenapa sayang?" tanya Tiara.


"Mencari bantal guling," jawab Alex lalu Tiara bertanya kembali, "Untuk apa?"


"Aku tidak bisa tidur kalau tidak memeluk sesuatu."


"Soal itu, aku sudah menyimpannya rapih di Gudang."


"Kenapa?" tanya Alex lalu Tiara menjawab, "Karena ada aku."


Wajahnya merah padam, dia menyembunyikan rasa malu dengan memalingkan membalikan tubuhnya. Kemudian, Tiara menepuk punggungnya sambil meminta Alex untuk balik badan. Dia duduk di atas kasur lalu melihat Tiara berbaring sambil mengangkat kedua tangannya.


"Ayo, sini peluk aku. Katanya, kamu tidak bisa tidur jika tidak memeluk sesuatu?"


Alexander berbaring di atas kasur lalu tanpa bicara ia langsung memeluk Tiara dari samping. Sebelum tidur, Tiara tidak lupa memberikan sebuah ciuman selamat malam pada pipi Alex. Perlahan, mereka berdua mulai tertidur dan menikmati malam yang sunyi.


Dua jam telah berlalu, waktu sudah menunjukkan jam satu malam. Suara tetesan air hujan, mulai terdengar dari luar. Tetesan hujan semakin lama semakin deras. Mereka berdua, tidur saling membelakangi satu sama lain. Di atas langit mulai bergemuruh dan kilatan cahaya mulai terlihat.


Tiara terbangun dari tidurnya. Tubuhnya gemetar, kedua tangannya menutup telinga sambil memejamkan mata. Meskipun dia berasal dari Negeri Kayangan berada di atas langit, dia sangat takut dengan petir. Tidak berselang lama, Alexander terbangun dari tidurnya lalu ia turun dari kasur dan mengambil remote pendingin ruangan di atas meja belajar.


Dia mematikan pendingin ruangan lalu berjalan kembali ke tempat tidur. Perlahan, Alexander kembali berbaring di atas kasur. Alexander melihat Tiara, menutup dua telinga dengan kedua tangannya. Tubuh gadis itu gemetar dengan rasa takut.


"Tiara, kamu kenapa?" tanya Alex.


Tiba-tiba, Tiara langsung memeluknya dengan cukup erat. Tingkah Tiara yang memeluknya secara tiba-tiba membuat Alexander terkejut. Di luar, suara petir terdengar sangat keras.


"Aku takut petir," jawab Tiara sambil menempelkan wajahnya pada dada Alex.


Alexander memeluk gadis itu, dia mengusap kepala belakang secara perlahan. Tiara membalas pelukannya, dia merapatkan tubuhnya hingga ia merasakan detak jantungnya.


"Jangan takut, ada aku di sini. Aku akan selalu menjagamu. Tidak akan aku biarkan, hal-hal menakutkan mengganggumu..."


Mendengar hal itu, Tiara tersenyum lalu mempererat pelukannya kepada Alex. Dalam hati, dia pun berkata bahwa adanya petir tidak terlalu buruk. Berkat petir yang paling ia takuti, dia bisa bermesraan dengan Alex.


Akhirnya, Tiara pun kembali memejampan mata dan tertidur kecuali Alex. Dia teringat keinginan Tiara untuk memiliki handphone.

__ADS_1


"Hmm..., apa yang harus aku lakukan?" gumamnya sambil memandang langit-langit kamar.


Dia pun kembali memeluk Tiara, perlahan dia mengusap kepalanya sambil tersenyum. Alexander perlahan memejamkan mata dan akhirnya ia tertidur tepat di samping Tiara.


__ADS_2