
Tidak terasa, hari pertama sekolah telah tiba. Suatu hari di Komplek Perumahan Elit yang tak jauh dari pusat kota, Wulan masih tertidur pulas. Suhu kamar yang sejuk, membuat Wulan semakin tertidur pulas. Pintu kamar mulai terbuka, seorang gadis mengenakan seragam sekolah putih abu berjalan mendekat. Gadis itu menggoyangkan tubuhnya dengan kedua tangan.
"Wulan bangun," ujar gadis itu membangunkan temannya.
Suara begitu lembut tidak asing baginya. Perlahan, Wulan mulai membuka matanya lalu melirik pada orang yang telah membangunkannya. Seorang gadis berambut emas, berdiri di sampingnya. Sepasang mata ungu, kulitnya putih bercahaya serta memiliki aroma tubuh yang harum. Gadis itu tidak lain adalah Tiara. Dia terlihat rapih mengenakan seragam sekolah dan celemek kuning bermotif kotak-kotak hitam. Wulan melirik ke arah sekitar, melihat suasana kamar tidurnya begitu rapih.
"Pagi Tiara," sapa Wulan sembari mengusap kedua kelopak matanya.
"Pagi Wulan, sudah jam enam pagi. Ayo kita sarapan," ajak Tiara.
Mereka berdua berjalan keluar dari kamar. Tidak lupa, Tiara mematikan AC sebelum menutup pintu kamar. Satu persatu, mereka berdua menuruni tangga lalu mereka berjalan ke dapur. Di bawah, keluarga Wulan terlihat sedang menikmati sarapan pagi di meja makan.
Di atas meja, terdapat dua menu utama yaitu oseng tempe, Tongkol Rica-rica dan nasi beserta pelengkap lainnya. Mereka berdua, mulai menikmati sarapan pagi bersama. Tiara mengambil sesendok nasi beserta lauk pauk lalu masuk ke dalam mulutnya. Kelezatan rempah-rempah, menari-nari di atas lidahnya. Wulan teringat saat pertama kali bertemu dengannya.
Dua hari yang lalu, kira-kira sekitar jam tujuh malam dia berjalan seorang diri di taman kota pinggir sungai. Dia mengenakan jaket hijau dan rok hitam. Dari kejauhan, dia melihat seorang gadis mengenakan baju dayang abu dan samping batik bertelanjang kaki. Kulitnya putih bercahaya, sepasang mata ungu dan rambut kuning emas memancar dalam kegelapan.
Gadis itu menoleh kesana-kemari sembari berjalan ke depan bagaikan orang linglung. Sesekali dia berbelok, memutar dan melihat-lihat dengan tidak jelas. Karena penasaran, Wulan terus mengikutinya dari belakang hingga akhirnya dia memasuki kawasan Karnaval.
Para lelaki, diam-diam melihatnya tanpa berkedip. Parasnya yang cantik, bagaikan bidadari turun dari surga untuk memberikan pencerahan di Bumi. Gadis itu, merupakan target empuk bagi para buaya sedang berkeliaran. Kemudian beberapa pemuda datang mendekat.
"Hai, kamu cantik sekali boleh kenalan?" tanya seorang pemuda berambut gimbal.
"Maaf kisanak, aku sedang terburu-buru," tolak Tiara pada pemuda itu.
"Ha.ha.ha! Di tolak," ledek temannya pada pemuda itu.
"Memangnya kamu mau ke mana? Ayo, biar akang antar," tawar seorang pemuda tampan bertubuh atletis mengenakan baju style zaman sekarang.
Gadis itu merasa tidak nyaman dengan kehadiran mereka. Wulan berjalan mendekat, kelima pemuda itu terdiam melihat kedatangannya.
__ADS_1
"Ternyata kamu di sini, ayo pergi. Sudah waktunya kita pulang, kasihan orang tua kita di rumah," kata Wulan sembari menarik tangannya.
Wulan membawa gadis itu, menjauh dari para pemuda yang membuatnya tidak nyaman. Kemudian, dia membawanya ke sebuah kedai Mie Ayam berada di pinggir jalan raya. Dia memesan dua mangkok mie ayam dan jus jeruk untuk mereka nikmati bersama. Setelah itu, mereka berdua duduk di meja paling pojok.
Perlahan, mereka duduk di sebuah kursi panjang saling berhadapan. Wulan mulai menarik hoodienya ke belakang. Kini, rambutnya yang coklat agak keriting terlihat jelas.
"Kamu siapa? Mengapa membawaku ke mari?" tanya gadis itu.
"Namaku Wulan. Aku melihatmu diganggu oleh para pemuda itu, jadi aku sengaja menarikmu ke sini. Alasan kedua karena perutku sudah lapar," jawab Wulan.
"Namaku Tiara. Terima kasih Kisanak sudah menolongku. Mulai sekarang, aku akan menjadikanmu saudaraku," balas gadis itu.
"Kisanak? Saudara?" timbal Wulan. "Hmm..., kamu bukan manusia ya?" tanya Wulan, berbisik kepada Tiara.
"Tidak-tidak, aku ini manusia seperti kalian," bantahnya.
"Sudahlah, kamu tidak perlu bohong kepadaku. Dari penampilanmu saja sudah kelihatan, apalagi kamu selalu memanggilku dengan sebutan "Kisanak". Sekarang sudah zaman modern, mana ada penduduk sini memanggil orang asing dengan sebutan itu."
"Hmm..., sudah aku duga. Pantas saja, auramu berbeda sekali dengan manusia dan hantu. Auramu terlihat seperti cahaya membuat makhluk manapun tertarik."
"Kamu berlebihan Wulan, sekali lagi aku berterima kasih sudah menolongku," timbalnya sembari sedikit menunduk dan membentangkan selendangnya.
"Santai-santai, sesama makhluk hidup harus saling membantu," balas Wulan.
Pesanan telah tiba, Wulan mulai menikmati mie ayam kesukaannya. Tiara terdiam, melihat makanannya yang berada di atas meja. Gadis itu melihat, temannya begitu lahap menikmati makanannya dengan sumpit.
"Kenapa gak dimakan?" tanya Wulan.
"Aku tidak tau cara memakannya. Biasanya aku makan menggunakan tangan," jawabnya malu-malu.
__ADS_1
"Oh, kalau begitu pakai saja sendok dan garpu," balasnya memberikan sendok dan garpu. "Sini, biar aku ajari cara makannya," kata Wulan sambil mendekat.
Wulan mengajarinya, cara menggunakan sendok dan garpu. Cukup dua kali diajarkan, Tiara langsung mahir menggunakan sendok dan garpu. Sesuap mie ayam masuk ke dalam mulutnya. Kedua matanya seketika terbuka lebar. Dia tidak menyangka, bisa menikmati makanan enak di Bumi. Biasanya dia hanya menikmati buah-buahan dan susu di Kayangan.
Dia teringat, ketika dirinya melihat cara makan Dewi Cinta ketika berada di dalam istana. Tiara mulai meniru cara makan Sang Dewi yang dia ingat. Melihat cara makan Tiara, membuat Wulan terkagum-kagum. Kini, dia percaya bahwa sosok bidadari elegan benar-benar ada. Namun dia penasaran, mengapa bidadari seperti dirinya berada di Bumi.
Selesai makan, Wulan dan Tiara memasuki kawasan parkir berada tak jauh dari Karnaval. Wulan menaiki motor beat miliknya dan Tiara duduk menyamping di belakang. Lama di perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Wulan. Pintu gerbang mulai terbuka, motor itu melaju masuk ke dalam halaman rumah lalu masuk ke dalam garasi. Gadis itu diminta oleh Wulan untuk mencuci kaki terlebih dahulu sebelum masuk rumah. Pintu rumah mulai terbuka, Wulan berdiri sambil memegang gagang pintu.
"Ayo masuk, anggap saja rumah sendiri," ujarnya mempersilahkan Tiara untuk masuk.
"Iya," balas Tiara lalu dia berkata "Permisi," sembari melangkah masuk ke dalam rumah.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, suasana rumah terlihat sepi. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam, tidak berselang seorang wanita 30 tahun berjalan melintasi. Wanita itu, berambut hitam sebahu agak keriting seperti Wulan. Beliau bernama Siska, ibunya Wulan.
"Wulan, habis dari mana?" tanya Sang Ibu.
"Karnaval Bu, sekalian main ke rumah teman ngajak menginap di kamarku," jawab Wulan.
"Salam kenal, saya Tiara teman Wulan," kata gadis itu memperkenalkan diri.
"Wah, cantiknya! Wulan, kamu kok gak cerita punya teman seramah dan secantik ini?!" seru Sang Ibu.
"Tidak sempat," jawabnya.
"Ya sudah, kalian berdua masuk ke dalam kamar. Biar ibu siapkan minuman dan cemilan."
"Iya ibu," ucap kompak mereka berdua.
Mereka berdua, berjalan menaiki anak tangga lalu berjalan memasuki kamar Wulan. Suasana kamar bagaikan kamar pecah, Wulan dengan santainya langsung berbaring di atas kasur. Sedangkan Tiara, duduk bersimpuh di atas lantai kamar sambil melihat-lihat. Tiara bangkit lalu dia mulai membentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
Seluruh barang-barang tergeletak melayang de sendirinya. Wulan sedang santai memainkan ponselnya begitu terkejut, melihat barang-barangnya berterbangan. Secara ajaib, barang-barang berantakan melayang dan kembali pada tempatnya. Kamar Wulan bagaikan kapal pecah, kini terlihat sangat rapih.