Senar Takdir

Senar Takdir
Api membesar


__ADS_3

Tidak disangka, Ilham pun terlihat sedang berjalan mendekati Tiara. Gadis itu langsung mengakhiri pembicaraan. Berkali-kali, Alexander terkejut ketika Tiara tiba-tiba mematikan handphonenya.


"Kamu ada di mana? Di hatimu! Panas kuping gue, tau gak?!" ucap Tamrin dengan iri.


Alexander tertawa lalu berkata, "Makannya, elu cepat-cepat cari di mana jodoh elu biar bisa bermesraan kayak gue, mumpung masih satu sekolah. Yuk, kita harus cepat. Gue khawatir sama Tiara."


"Siap!"


Sementara itu, Tiara memasukan handphonenya ke dalam saku rok. Dia tersenyum dan bersikap seolah tidak terjadi apapun. Winda dan kedua sahabatnya, berjalan mencari tempat aman agar tidak ketahuan oleh Ilham dan Tiara.


Ilham berjalan mendekati Tiara sambil berkata, "Aku cari kamu ke mana-mana. Ternyata kamu di sini."


"Maaf, sehabis toilet rencananya aku mau beli cemilan di sekitar sini," balas Tiara.


Ilham tertawa lalu berkata, "Di sini mana ada Kios Penjualan makanan? Yuk, kita cari sama-sama."


Ilham dan Tiara mulai berjalan bersama, Winda beserta dua sahabatnya kembali mengikuti. Betapa terkejutnya mereka bertiga, ketika melihat Alexander dan Tamrin.


Kartika sambil berjalan bertanya, "Kalau tidak salah, mereka berdua itu Alexander dan Tamrin dari kelas 10 IPS F. Kenapa mereka di sini? Dan kenapa, mereka mengikuti Ilham dan Tiara?"


Winda tersenyum lalu berkata, "Menarik! Ayo, kita buntuti sampai akhir."


Ilham dan Tiara mulai memasuki Wahana Istana Boneka.



Mereka berdua mulai menaiki perahu. Perlahan perahu itu mulai melaju seiring Alunan Lagu Khas Istana Boneka.


Winda serta kedua sahabatnya, ikut menaiki perahu dan mengawasi mereka berdua jauh dari belakang. Sementara Alexander dan Tamrin, berada di depan Wahana Istana Boneka.


Alexander duduk di bangku tak jauh dari Istana Boneka. Dia pun berkata, "Kita tunggu di sini. Setelah mereka keluar, kita akan langsung menghampiri mereka."


"Siap, Bos!"


Di waktu bersamaan, perahu yang dinaiki Ilham dan Tiara mulai memasuki Istana. Mereka melihat, berbagai macam boneka lucu menggunakan baju adat di Negeri Ini.



Boneka-boneka itu ditata sedemikian rupa agar terlihat hidup. Mereka berdua terkagum-kagum, melihat suasa di dalam Istana Boneka. Ilham melirik kepada Ilham.


Dia melihat, Tiara tersenyum bahagia menikmati suasana di dalam istana. Senyuman Tiara, membuat Ilham ikut tersenyum.


"Tiara..."


Tiara menoleh kepada Ilham lalu berkata, "Iya?"


"Kemarin, aku secara resmi masuk ke dalam Tim Sepak Bola Kota Batavia."


"Selamat Ilham!" puji Tiara.

__ADS_1


"Sabtu jam tujuh malam, timku akan bertanding. Kamu mau menontonku bertanding?"


Tiara menghembuskan nafas panjang lalu berkata, "Entahlah Ilham, aku ragu apa Ayahku mengizinkannya," ujarnya raut wajah bersedih.


Ilham tersenyum lalu mengelus-elus rambutnya berkata, "Sudah-sudah, gak perlu bersedih begitu." Dia berhenti mengelus lalu berkata, "Lewat televisi pun tidak masalah. Aku harap, kamu menonton pertandinganku."


Tiara tersenyum lalu berkata, "Pasti! Pasti aku menonton pertandingan mu!" ucapnya begitu bersemangat.


"Thanks Tiara," ucapnya begitu bahagia.


Pada waktu bersamaan, Winda dan kedua sahabatnya melihat Ilham mengelus kepala Tiara. Winda terbakar api cemburu, kedua tangannya mengepal seiring menatap geram kepada Tiara. Kedua sahabatnya terus menenangkannya hingga emosi mereda.


Tiga puluh menit telah berlalu, Ilham dan Tiara telah menjelajahi seisi Istana. Perlahan perahu yang mereka naik, mulai melaju keluar Istana. Kemudian perahu itu berhenti, mereka pun turun dari perahu lalu berjalan menuju pintu keluar.


Tiara merenggangkan otot-otot lengan ke atas. Dia pun berkata, "Gak kerasa, perjalanan kita sudah selesai. Padahal aku masih ingin berlama-lama di dalam sana."


"Kalau berlama-lama di sana, kasian pengunjung belum kebagian. Mungkin di dalam sana terlihat lucu, tapi bagaimana kalau seandainya tengah malam kita terjebak di dalam sana?"


Tiara memeluk dirinya sendiri sambil berkata, "Kamu benar, boneka-boneka itu pasti bergetar sendiri. Membayangkannya saja sungguh menakutkan," ucapnya ketakutan.


Ilham tertawa lalu berkata, "Tenang Tiara, kan ada aku!"


"Iya, percaya! Kalau boneka itu mendekat, tinggal tendangan saja pakai Bola!" canda Tiara.


"Itu pun kalau ada Bola!" balas Ilham.


Matahari mulai terbenam, Ilham pun mendongak ke langit. Kemudian dia pun berkata, "Gak kerasa sekarang sudah mulai gelap. Mau aku antar pulang? Sekalian aku ingin tau di mana rumah kamu. Siapa tau, aku bisa jemput kamu setiap pagi."


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Ayahku itu anti dengan laki-laki, jadi lebih baik aku pulang sendiri," ujarnya menolak tawaran Ilham.


"Kalau begitu, aku turunkan kamu di depan Gang. Dengan begitu, kamu gak perlu takut soal Ayahmu. Aku juga bisa jemput kamu setiap hari di depan Gang."


"Tidak perlu Ilham," ujarnya berusaha menolak ajakan Ilham.


Tidak berselang, seseorang tak asing memanggil Tiara. Suara panggilan itu, membuat mereka berdua menoleh pada dua orang sedang berjalan mendekati mereka. Raut wajah Ilham menjadi dingin ketika orang itu adalah rival cintanya.


Melihat wajahnya, membuat Ilham tersulut emosi. Begitu juga dengan Alexander dan Tamrin, ketika teringat pembullyan dilakukan oleh Ilham.


"Halo tiara!" sapa Tamrin.


"Tamrin, Alex! Sedang apa kalian di sini?"


Tamrin menjawab, "Jalan-jalan sore."


"Sekarang sudah jam empat lebih, kenapa gak pulang?" tanya Alexander.


"Rencananya, hari ini aku mau pulang," jawab Tiara.


"Mau aku antar pulang?" tawar Alexander kepada Tiara.

__ADS_1


Ilham memotong pembicaraan, "Soal Tiara, biar gue yang antar. Kalian berdua lanjutkan saja jalan-jalannya."


Alexander menggenggam tangan Tiara lalu menariknya sambil berkata, "Biar aku saja yang antar pulang. Kebetulan kami ingin jalan-jalan bersama sebentar."


Ilham ikut menggenggam tangan Tiara lalu menarik tangannya sambil berkata, "Tidak baik mengajak perempuan sendirian. Setidaknya, biarkan aku ikut sekaligus mengantarnya pulang."


"Hey, men! Jangan begitulah. Elu itu bukan golongan kami. Jangan memaksa," kata Alex sambil menarik tangan Tiara.


"Di sini siapa yang memaksa? Elu datang, tiba-tiba ngajak Tiara pulang," balas Ilham sambil menarik tangan Tiara.


Tiara melepas cengkraman tangan mereka berdua. Dia pun berkata, "Cukup! Cukup! Kalian berdua, stop! Biarkan aku pulang sendiri!"


Tiara pun berjalan cepat meninggalkan mereka bertiga. Tamrin pun berlari menyusul Tiara, kini Alexander dan Ilham berdiri saling melotot.


Ilham melipat kedua tangannya lalu berkata, "Bajingan, berani sekali elu ganggu kencan gue. Peringatan sebelumnya, apa masih belum cukup?!"


Alexander tertawa lalu berkata, "Kau sebut perlakuanmu di belakang gudang itu peringatan?! Hanya seorang pengecut melakukannya. Apalagi bawa teman, pengecut! Lagi pula, kencan? Kau bilang kencan?! Apa Tiara berpikiran yang sama denganmu? Kurasa tidak."


Ilham menunjuk sambil berkata, "Elu berurusan dengan orang yang salah! Apapun caranya, gue akan mendapatkan Tiara!" ancam Ilham.


Alexander mengacungkan jempol ke bawah. Dia pun berkata, "Elu pikir, gue takut?! Jangan mimpi! Gue gak akan biarkan, Tiara direbut oleh cowok macam elu!"


Mereka pun berpisah, kedua tangan mereka mengepal dengan penuh emosi. Tindakan Alexander, membuat api perselisihan naik ke tingkat selanjutnya.


Winda dan kedua sahabatnya, diam-diam menyaksikan semuanya. Mereka bertiga, diam-diam mulai mengikuti Alexander menuju tempat Tiara dan Tamrin berada.


Sekian lama di perjalanan, Alexander melihat Tiara dan Tamrin sedang duduk pada sebuah bangku pinggir jalan. Mereka berdua langsung berdiri begitu melihat kedatangan Alexander.


Tiara memeluk tangan Alex lalu berkata, "Yuk, kita pulang!"


"Let's go, guys!" balas Tamrin.


Mereka bertiga mulai berjalan bersama menuju Kawasan Parkir Taman Hiburan. Sambil berjalan, Tiara terus tersenyum mengingat tindakan Alexander terhadap Ilham.


Dia pun menoleh kepada Alex lalu berkata, "Nah, gitu dong sayang! Kalau kamu cemburu, tarik saja tanganku."


Alexander tertunduk lesu lalu bertanya, "Apa tindakanku benar?"


Tamrin menepuk pundak sahabatnya lalu berkata, "Tindakan Bos sudah benar. Gue salut sama elu, berani menarik tangan Tiara di depan Ilham secara langsung. Itu hal yang normal Bos. Next time, jangan ragu lagi Bos."


Alexander tersenyum lalu berkata, "Thanks, guys."


"Aku sudah lelah dengan kebohongan ini. Sampai kapan kebohongan ini terus berlanjut?" tanya Tiara dengan serius.


Tiara dan Tamrin menoleh kepadanya dengan serius. Mereka ingin tau jawaban langsung darinya.


Alexander menghembuskan nafas panjang. Dia pun dengan raut wajahnya yang pasrah pun berkata, "Entahlah."


Winda mendengar dan menyaksikan semuanya. Gadis itu beserta kedua sahabatnya semakin geram terhadap Tiara. Tanpa Tiara dan Alexander sadari, api cemburu berubah menjadi api kebencian. Mau tidak mau, Tiara mau pun Alexander cepat atau lambat akan menghadapi situasi terburuk.

__ADS_1


__ADS_2