Senar Takdir

Senar Takdir
Impian Ilham


__ADS_3

Belum sempat menjawab, seorang siswi rambut hitam panjang dan berparas cantik datang menghampiri mereka berdua.


"Selamat ulang tahun Ilham! Sering-seringlah traktir di sini!" ujar gadis itu.


Ilham tertawa lalu berkata, "Jangan setiap hari juga Winda, nanti gue tekor!"


Keceriaan Winda seketika menghilang, ketika melihat keberadaan Tiara. Dia memandang Tiara dengan wajah dingin.


Tiara tetap tersenyum lalu melambaikan tangan sambil berkata, "Halo!" sapa Tiara.


Winda berjalan mendekati Ilham lalu berkata, "Kenapa Tiara ada di sini? Katanya kamu mau undang orang penting?" bisik Winda dengan nada tidak suka.


"Bagiku kamu dan Tiara itu orang terpenting. Kamu kenapa sih?" balas Ilham berbisik kepada Winda.


Winda dengan senyuman terpaksa melambaikan tangan kepada Tiara. Kemudian, mereka berdua duduk bersama menghadap Ilham. Tidak berselang lama, pesanan pun telah tiba lalu pelayanan meletakkan menu makanan di atas meja.



Mereka mulai menikmati hidangan di atas meja. Tiara terdiam, melihat Ilham dan Winda makan menggunakan sumpit. Dia memperhatikan, bagaimana caranya makan menggunakan sumpit.


Setelah paham, dia pun mencoba makan menggunakan sumpit. Jari-jarinya gemetar, berkali-kali makanan yang ia ambil terjatuh. Melihat hal itu, Winda tersenyum dan memandang rendah dirinya.


"Kenapa?" tanya Ilham.


Tiara mengelap sumpitnya dengan selembar tisu sambil berkata, "Aku gak bisa pakai sumpit, mau pakai garpu saja."


Winda memandang rendah Tiara lalu berkata, "Payah, masa gak bisa pakai sumpit."


"Jangan begitu Winda, namanya juga belajar dulu elu juga begitu waktu pertama kali aku ajak ke sini," balas Ilham.


Winda dengan nada yang kesal berkata, "Masih ingat? Gue kira elu pikun karena princess."


Tiara menusuk ikan salmon lalu ia celupkan pada kecap asin serta menambah wasabi sambil berkata, "Sudah-sudah ayo makan, mumpung masih segar dan hangat."

__ADS_1


Mereka berdua, mulai menikmati menu makanan di atas meja. Tiara begitu menikmati, segala makanan yang ada di atas meja. Sedangkan Winda, terdiam menahan emosi ketika melihat Tiara. Selesai makan, mereka duduk terdiam saling berpandangan.


"Setelah ini, bagaimana kalau pergi ke Museum Olahraga? Kebetulan, jarak Museum dari sini tidak terlalu jauh," ajak Ilham pada mereka berdua.


Winda berdiri dengan raut wajah datar lalu berkata, "Gue mau pulang."


"Kenapa? Biasanya elu semangat pergi ke sana. Tidak biasanya elu seperti ini."


"Pikir saja sendiri," balasnya lalu berjalan meninggalkan mereka berdua.


Ilham terheran-heran, mengenai sikap Winda yang tidak biasa. Tiara terdiam, melihat Winda berjalan hingga keluar restoran.


Dia tau, bahwa Winda bersikap seperti itu karena dirinya. Di dalam hati, Tiara bertanya-tanya mengenai alasan Winda membenci dirinya.


"Maafkan sikap Winda, biasanya dia selalu bersemangat diajak ke mana pun," kata Ilham merasa tidak enak.


Tiara tersenyum lalu berkata, "Mungkin, Winda bersikap seperti itu karena ada aku."


Ilham tertawa lalu berkata, "Mana mungkin! Dia itu anak yang supel, apalagi kalian berdua pernah bermain bola bersama. Padahal, aku ingin mentraktirnya waffle ice cream. Mungkin Winda sedang ada masalah keluarga dan sebagainya."


Setelah itu, mereka berdua naik ke atas motor ninja hitam terparkir tak jauh dari restoran. Motor Ninja yang dikendarai oleh Ilham, perlahan mulai melaju meninggalkan restoran. Perlahan laju kendaraan motor yang dikendarai oleh Ilham semakin bertambah.


Tiara mulai memeluk lalu mempererat pelukan seiring bertambahnya kecepatan. Ilham tersenyum, dia sengaja menambah laju kendaraannya sambil mencari kesempatan merasakan kehangatan pelukan Tiara.


Sekian lama di perjalanan, akhirnya mereka berdua sampai di Museum Olahraga yang berlokasi di Kota Batavia.



Mereka berdua berjalan masuk ke dalam Museum. Beberapa pengunjung, terlihat berfoto dan melihat-lihat suasana di dalam Musem. Di sana, mereka melihat banyak sekali piagam serta foto para Atlet memenangkan kejuaraan.


Mereka berdua, berdiri menghadap sebuah lemari piala dan sebuah bingkai foto. Ilham menunjum pada foto album sambil berkata, "Juliadi Maharani, beliau merupakan atlet yang menjuarai Olimpiade Maraton tahun 2004. Bahkan di bawah foto, ada sepatu yang pernah digunakannya. Andaikan aku bertanding lari, kira-kira bisa menang tidak ya?"


Tiara tersenyum lalu menjawab, "Bisa."

__ADS_1


"Bisa menang?!"


Tiara tertawa lalu berkata, "Bisa kalah! Tapi, tidak ada yang tidak mungkin dalam pertandingan. Semua bisa terjadi, tergantung usaha dan keberuntungan."


"Yuk, kita lihat ke tempat lain!" ajak Ilham.


Ilham dan Tiara berjalan berdampingan, tangannya ingin sekali menggenggam tangan Tiara. Namun setiap kali tangannya mendekat, Tiara selalu menghindar dengan mempercepat laju langkahnya.


Meskipun begitu, Ilham merasa senang bisa berjalan berdua dengan orang yang dia sukai. Kemudian mereka berhenti melihat foto atlet angkat beban. Selain foto terdapat beban besi, tongkat dan piala.


"Beliau bernama Musni Subeki, atlet yang menjuarai Olimpiade tahun 1975 yang mendapatkan peringkat pertama. Sayangnya, kehidupan beliau tidak seindah kemenangan. Di masa senja, beliau berakhir menjadi pengemis jalanan. Seolah-olah, mendali itu hanyalah sebuah balon penghibur anak kecil."


Tiara merasa miris mendengarnya lalu ia berkata, "Seharusnya,para atlet diberikan penghargaan dan masa pensiun yang layak."


"Ya, namanya juga Negeri Tikus itu sudah hal biasa. Ayo, kita pindah ke tempat lain!" ajak Ilham.


Tiara tersenyum sambil menganggukkan kepala lalu berjalan mengikuti Ilham. Sepanjang perjalanan, Ilham terus menjelaskan mengenai para atlet beserta prestasi yang ia ketahui. Dia senang, melihat Tiara tersenyum dan memperhatikannya.


"Wah, hebat! Aku tidak sangka, kamu tau banyak soal atlet. Kamu sering ke sini?"


"Thanks, Tiara. Gue pernah ke sini lima kali dengan Winda. Pertama kali aku ke sini waktu masih SMP, sewaktu aku dan Winda bolos sekolah. Kami berencana pergi ke Mall dan tempat hiburan lainnya. Tetapi sayangnya, Mall dan tempat hiburan melarang siswa berseragam masuk. Winda menyarankan datang ke Museum mengisi waktu luang. Awalnya, tidak ada yang menarik perhatianku di sini. Namun semua berubah saat melihat itu..." ujarnya lalu menunjuk pada sebuah album foto pemain sepak bola berikut piala Sepak Bola tingkat Asean.


Mereka berdua, berdiri memandangi foto album berikut berita koran tentang kejuaraan sepak bola dari tahun 1998. Selain itu, mereka melihat mendali dan penyandang gelar pencetak gol terbanyak, Asis Bola terbanyak dan juga bintang lapangan.


"Di antara para pemain gue mengidolakan Satria Pamungkas. Beliau merupakan striker sekaligus pencetak gol terbanyak Piala Asean tahun 2010. Satria Pamungkas sudah mencetak 20 gol. Dari situlah, gue termotivasi untuk menjadi seorang striker terhebat sepertinya. Jujur, waktu itu gue sempat bertanya-tanya apakah aku bisa? Terus, Winda pun berkata bahwa aku bisa melakukannya. Semenjak saat itu, aku terus berlatih hingga masuk ke dalam tim Sepak Bola Kota Batavia."


Tiara tersenyum lalu berkata, "Begitu rupanya, berkat Winda kamu bisa seperti sekarang. Sungguh gadis yang memotivasi."


Ilham tersenyum lalu berkata, "Suatu saat nanti, gue ingin membawa nama negeri ini menjuarai Piala Asia."


"Semangat Ilham, aku yakin kamu pasti bisa! Yang terpenting kamu fokus pada cita-citamu!" kata Tiara menyemangati.


Ilham sangat senang mendengarnya lalu berkata, "Kalau bagiku, apapun yang terjadi kamu harus dukung aku. Sebentar lagi, Liga Sepak Bola antar kota akan dimulai. Kalau timku juara, kamu harus lihat aku memegang piala!"

__ADS_1


"Pasti! Semangat Ilham!" balas Tiara menyemangati.


__ADS_2