
Tiara mengganti seprai berkas persetubuhan lalu berjalan cepat menuju dapur. Tamrin melirik kepada Tiara sedang membawa seprai.
"Bau pandan," kata Tamrin mengendus-endus aroma di sekitarnya.
"Iya, benar. Bau pandan," sambung Wulan.
Mendengar hal itu wajah Alexander merah padam, dia terdiam sambil memainkan Stik Play Station di kedua tangannya. Dia tidak bisa memberitahu mereka, mengenai seprai hasil persetubuhannya tadi siang.
Tamrin menepuk pundak Alex sambil menyebut namanya berkali-kali. Alexander menoleh kepada Tamrin lalu bertanya, "Cium bau pandan?"
Alexander sambil memainkan Stik Play Station menjawab, "Iya, bau pandan."
Tidak berselang lama, Tiara pun datang membawa empat gelas berisi susu hangat di atas nampan. Berkat kedatangan Tiara, aroma daun pandan teralihkan.
Tiara meletakkan gelas berisi susu di atas lantai sambil berkata, "Ayo, diminum dulu."
Tamrin mengambil gelas sambil berkata, "Thanks Tiara, gue minum dulu," ucapnya lalu mengangkat gelas dan mulai meminumnya.
Wulan meminum susu itu, selesai minum dia melihat susu di dalam gelasnya. Kemudian dia berkata, "Aku kira susu yang waktu itu kamu bagikan kepada kami di kelas. Apa sudah habis?"
"Tidak, masih ada di dalam botol. Aku sengaja tidak membagikannya karena menurutku momen yang tidak pas."
Tamrin meletakkan gelas lalu berkata, "Justru minum susu ini momen yang kurang tepat. Seharusnya, suasana malam minggu seperti ini lebih nikmat minum kopi."
Alexander, mengangkat tangan kirinya lalu mengacungkan jempol. "Betul itu! Setidaknya bisa minum dibandingkan kehausan."
Perkataan Alex, membuat Wulan dan Tamrin tersindir. Mereka berdua, meminta maaf kepada Tiara walau sebenarnya Alexander tidak menyindir kedua sahabatnya. Setelah itu, mereka semua kembali menikmati jalannya permainan.
Sekarang giliran Tiara untuk bermain, gadis itu memegang Stik Play Station lalu melanjutkan permainan. Tiara terpukau dengan jalan cerita di dalam game. Dewa yang baik hati, namun berbanding terbalik di dalam game.
Di tengah permainan, Alexander teringat perkataan Tamrin menyinggung soal malam minggu. Semasa SMP, setiap malam minggu ia habiskan waktu di dalam kamar bermain laptop dan gitar. Pernah sekali, dia melihat kakaknya berpakaian rapih keluar rumah.
"Tamrin,ada yang ingin gue tanyakan," kata Alexander memulai perbincangan.
"Soal apa?"
"Malam minggu. Sejak Sekolah Dasar hingga SMP, gue habiskan waktu setiap malam minggu di dalam kamar. Pernah sekali, gue lihat kakak gue keluar dengan pakaian rapih saat malam minggu. Sebenarnya, setiap malam minggu apa yang sering orang-orang lakukan?"
Tamrin meneguk susu hangat miliknya lalu menjawab, "Menurut pengalaman gue, hal biasa dilakukan saat malam minggu yaitu menongkrong, bermain gitar, bergadang sambil minum segelas kopi. Ada juga meminum arak atau sekedar bergaya di jalan."
"Bergaya di jalan?" tanya Tiara sambil memainkan Stik Play Station di kedua tangannya.
__ADS_1
"Iya, balapan liar dan sebagainya."
"Menurutku, selama menghabiskan waktu bersama keluarga atau orang yang tercinta sudah termasuk momen malam minggu," kata Wulan kepada mereka semua.
Alexander tertawa lalu berkata, "Berarti gue sudah menikmati momen malam minggu berkali-kali."
"Beda yang tinggal satu rumah," balas Tamrin membuat raut wajah Alexander dan Tiara memerah karena malu.
Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Selama tiga jam, mereka bergantian memainkan Play Station. Puas bermain Play Station 5, mereka semua duduk di ruang tamu.
Alexander meletakkan gitar tepat di sampingnya. Tamrin duduk bersandar mulai duduk tegak lalu berkata, "Sudah saatnya melakukan ritual malam Minggu!"
Tiara tersenyum lalu bertanya, "Memangnya ada ritual di malam Minggu? Apa perlu aku carikan dupa, lilin dan kemenyan?"
"Tidak perlu, kamu kira mau ngepet kah?"
Tiara tertawa lalu berkata, "Siapa tau kamu mau cosplay jadi babi ngepet," ujarnya dengan nada bercanda.
"Tenang tamrin, gue yang beli lilinya," canda Wulan.
Alexander tertawa lalu berkata, "Gue yang jagain lilin!"
"Kambing elu semua, setidaknya malam Jum'at lah!" balas Tamrin.
"Iya! Lagian, maksud gue itu main gitar! Sekalian cek nada sebelum menentukan aliran Band kita!"
Alexander tertawa lalu berkata, "Ngomong dong dari tadi!"
"Sudahlah kalian, ayo mainkan sekarang Alex!" balas Tiara lalu meminta Alexander untuk memainkan gitarnya.
Alexander mengambil gitar sambil berkata,"Siap!"
Alunan gitar akustik yang merdu mulai terdengar. Mereka bertiga terdiam menikmati irama gitar dimainkan oleh Alex. Belum satu menit, Alexander menghentikan permainan gitarnya.
"Siapa yang nyanyi?" tanya Alex.
Mereka bertiga dengan kompak menjawab, "Elu lah!"
"Suara gue...,"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, mereka bertiga berkata, "Mulai!"
__ADS_1
Mau tidak mau, dia kembali menampilkan permainan gitar sekaligus mengeluarkan suara emasnya. Irama gitar kembali terdengar, Alexander siap menyanyikan sebuah lagu terlintas di dalam kepalanya. Sebuah lagu yang cocok untuk suasana malam minggu.
"Ku ingin cinta hadir untuk selamanya
Bukan hanyalah untuk sementara
Menyapa dan hilang
Terbit, tenggelam bagai pelangi."
Lagu berjudul Pelangi yang diciptakan oleh Band Hivi, membuat suasana malam Minggu penuh irama melodi. Tiara bertanya kepada Wulan mengenai lagu dinyanyikan oleh Alex. Setelah mendapatkan judul, Tiara langsung mencarinya di situs internet. Tiara mulai ikut bernyanyi, membuat alunan musik semakin merdu.
"Bila tak ingin di sini. Jangan berlalu lalang lagi. Biarkanlah hatiku mencari cinta sejati. Wahai cintaku, wahai cinta sesaat."
Wulan dan Tamrin ikut bernyanyi, membuat alunan musik menjadi indah bagaikan cahaya pelangi ketika selesai hujan. Lagu pertama telah berakhir, mereka terdiam lalu meminum seteguk air telah disiapkan di atas meja.
Alexander meletakkan gelas di atas meja lalu berkata, "Nice song guys!" puji Alex kepada mereka bertiga.
Wulan menghembuskan nafas panjang lalu berkata, "Bukannya mendapat inspirasi malah semakin bingung."
"Susah sekali menentukan aliran musik untuk Band kita," keluh Tiara kepada teman-temannya.
Alexander menyandarkan gitar di sampingnya. "Setuju!"
"Saran gue, lebih baik kita buat angket atau voting. Kita tau sendiri, banyak aliran musik seperti Pop, Rock, Dangdut, Jazz dan lain sebagainya. Setelah voting terkumpul, kita lihat aliran mana yang disukai masyarakat. Setidaknya, hasil itu membantu kita menentukan aliran musik yang akan kita ambil," saran Tamrin kepada tiga temannya.
Alexander menoleh kepada Tamrin lalu berkata, "Boleh juga saran elu. Nice Tamrin! Good solution!" puji Alex kepada sahabatnya.
"Kalau begitu, biar gue yang buat angket. Elu semua, cukup sebarkan angket," kata Wulan.
"Siap!" balas mereka bertiga.
Solusi telah didapatkan, mereka kembali bernyanyi bersama sekaligus menikmati suasana malam minggu. Selain bernyanyi, mereka bermain kartu dan cemilan hingga mengantuk.
Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Mereka semua masih bermain kartu, namun Alexander mulai mengantuk.
Dia berdiri dari tempat duduk lalu berkata, "Ngantuk, kalian lanjutkan saja. Gue mau tidur," ujarnya dengan raut wajah mengantuk.
"Bos, payah. Baru jam sebelas, belum tengah malam," ledek Tamrin.
"Ya, maaf. Gue emang sering tidur jam segini," balas Alex.
__ADS_1
Tiara menepuk kedua telapak tangannya lalu berkata, "Yuk, kita tidur!"
Wulan dan Tiara, berjalan masuk ke dalam kamar yang telah disiapkan. Sedangkan Tamrin dan Alex tidur di kamar Alexander. Tamrin tidur di kasur bawah, sedangkan Alexander tidur di kasur atas.