Senar Takdir

Senar Takdir
Perbincangan Ayah dan anak


__ADS_3

Erwin memandangi motor Alex. Beliau melihat lubang pada bagian body mesin dan juga setumpuk pasir bercampur oli di dalam sebuah wadah. Melihat ayahnya terdiam, membuat Alex semakin merasa bersalah.


Tidak berselang lama, Bang Herman merupakan paman Tamrin pun datang. Melihat lelaki mengenakan jas, Bang Herman langsung merapihkan pakaiannya.


"Selamat sore, anda pasti Ayahnya Alex," ujar Bang Herman menyambut kedatangan Erwin.


"Betul, apakah bapak yang mengurus motor anak saya?"


"Betul sekali, saya yang mengurus motor anak Bapak," ucapnya lalu tersenyum ramah.


Tamrin terdiam melongo melihat sikap pamannya seratus delapan puluh derajat. Biasanya, Bang Herman selalu berbicara bahasa daerah dan sesuka hati kepada pelanggannya. Sekarang, dia melihat pamannya bertingkah dan berucap begitu sopannya.


"Bisakah kita bicara di tempat lain?"


"Tentu!" balas Bang Herman.


Bang Herman membawa Erwin, menuju sebuah tempat duduk agak berjauhan dari Alexander dan tiga temannya. Dari kejauhan, Tamrin memperhatikan pamannya lalu duduk sambil melipat kedua tangannya.


"Bang Herman, giliran berjas tingkahnya auto sopan," sindir Tamrin kepada pamannya sendiri.


"Maklum, Ayah Bos itu bukan orang sembarangan," kata Wulan.


"Kamu benar Wulan, aura seorang seorang pemimpin benar-benar terlihat. Aku yakin, beliau di tempat kerja sangat dihormati," sambung Tiara.


Tamrin menoleh kepada Alex, dia melihat Alexander tertunduk lemas. Kemudian dia berkata, "Kanapa Bos? Sejak awal, kelihatannya lemas terus."


"Aku hanya penasaran, apa yang sedang Ayahku bicarakan. Kejadian ini, benar-benar membuatku merasa bersalah. Andaikan tau lebih awal, lebih baik ke sekolah naik kendaraan umum saja. Selain itu, apa yang akan Ayahku katakan nanti? Apa jangan-jangan, uang jajanku akan dikurangi?!"


"Sudahlah Bos, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Semua itu sudah kehendak Dewa, lagian belum apa yang Bos pikirkan terjadi. Rileks, tetaplah positif thinking Bos," balas Tamrin.


Tiara memeluk erat tangan Alex, dia tersenyum manis kepada kekasihnya. Lalu dia pun berkata, "Betul kata Tamrin. Aku yakin, semua akan baik-baik saja."


Alexander tersenyum lalu berkata, "Thanks guys."


Tiara memandang motor Alex lalu berkata, "Tapi sumpah, orang yang melakukan hal ini benar-benar jahat. Kalau ketemu, aku akan ku buat mereka menyesal!" ucapnya dengan nada kesal.


Di dalam hati Alexander dan kedua sahabatnya berkata, "Andaikan dia tau."


Sepuluh menit telah berlalu, Bang Herman dan Erwin telah selesai berbincang. Mereka berdua, kembali berjalan menuju tempat Alexander dan lainnya berada.


Melihat Ayahnya berjalan sambil tersenyum, membuat Alexander penasaran mengenai apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Begitu juga dipikirkan oleh Tamrin dan yang lainnya.

__ADS_1


"Alex, sementara motor kamu dititipkan di sini. Mendengar kerusakannya, mau tidak mau kamu harus naik kendaraan umum.


"Alexander dengan pasrah berkata, "Iya Ayah."


"Sebentar lagi mulai gelap. Yuk, kita cari makan sekalian Ayah antar kamu pulang," ujar Erwin kepada Alex.


Erwin berjalan masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Alexander pamit kepada yang lainnya. Dia berkata kepada Tiara, supaya tidak pulang dan ia akan memberi kabar jika situasi sudah aman.


Setelah itu, Alexander menyusul Ayahnya masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil mereka berdua terdiam. Hanya suara musik meramaikan suasana di dalam mobil.


Alexander lebih memilih menikmati perjalanan.


Sekian lama di perjalanan, mereka semua sampai di Mall Chiki. Alexander dan ayahnya masuk ke dalam Mall sedangkan Supir menunggu di luar. Erwin mengajak putra keduanya mengunjungi restoran yang tak asing bagi Alex.


"Restoran Steak," ucap Alex ketika memandangi restoran di hadapannya.


Erwin menoleh kepada putranya lalu bertanya, "Kamu pernah ke sini?"


"Iya, Ayah. Sekali," jawabnya.


Mereka berdua, masuk ke dalam lalu duduk meja makan di dalam ruang VIP. Di dalam ruangan itu, penuh dengan dekorasi unik dan menarik. Selain itu, suhu di dalam terasa lebih sejuk dibandingkan luar restoran.


"Bagaimana kehidupanmu di sekolah?" tanya Erwin kepada putranya.


Alexander tersenyum lalu menjawab, "Menarik, jauh lebih baik dari kehidupan sekolah sebelumnya."


"Syukurlah, Ayah senang mendengarnya. Apa ada orang yang membullymu?"


Melihat raut wajah Ayahnya membuat Alexander terdiam. Dia teringat pertikaian dan perbuatan buruk dilakukan oleh Ilham.


Alexander tersenyum lalu menjawab, "Tidak ada Ayah," jawabnya berbohong dan bersikap seolah tidak terjadi apapun.


Jawaban Alexander tidak membuat Sang Ayah tertipu. Dia merasa bahwa Alexander sedang menyembunyikan sesuatu apalagi kejadian yang menimpa motornya.


"Motormu itu kemasukan pasir, tidak mungkin pasir masuk dengan sendirinya. Pasti ada seseorang yang memasukkannya secara sengaja. Kamu tidak perlu berbohong sama Ayah. Kalau ada seseorang berbuat jahat, bilang saja sama Ayah."


Alexander memandangi ayahnya dengan rasa bersalah. Dia pun berkata, "Iya, Ayah. Maaf Ayah, gara-gara Alex lengah sekarang motor pemberian Ayah menjadi rusak. Padahal, motor itu pemberian pertama dari Ayah. Sekali lagi, Alex benar-benar minta maaf karena tidak bisa menjaga barang pemberian Ayah."


Erwin tersenyum lalu berkata, "Kamu tidak perlu meminta maaf. Yang terjadi pada motormu itu, murni karena musibah. Ayah bangga dengan tanggung jawabmu pada motor pemberian Ayah. Sudahlah, tidak perlu bersedih. Ayah bisa membelikan mu motor yang baru."


"Tidak perlu, Ayah."

__ADS_1


"Kenapa? Padahal Ayah ingin membelikan mu motor paling keren."


Alexander tersenyum lalu menjawab, "Memang di luar sana banyak sekali motor jauh lebih keren. Tetapi bagi Alex, motor pemberian Ayah jauh lebih berharga dan keren dari motor apapun. Sebisa mungkin, Alex ingin terus merawatnya hingga akhir."


Jawaban putra ke duanya, membuat Sang Ayah terharu sekaligus bangga. Berbeda sekali dengan anak pertamanya selalu mengganti barang rusak dengan barang yang baru. Alexander lebih memilih, merawat dan menjaganya sebisa mungkin.


Dua orang pelayan pun datang membawakan pesanan di atas nampan. Setelah meletakkan pesanan di atas meja, Alexander dan ayahnya mulai menikmati makan malam.


Erwin senang, melihat ekspresi Alexander makan begitu menikmati makanannya. Berbeda sekali ketika berada di dalam rumah selalu makan terburu-buru dan langsung masuk ke dalam kamar. Beliau penasaran, kehidupan seperti apa yang Alexander jalanin di sekolah.


"Alex, Ayah ingin tau. sekarang punya kesibukan apa di sekolah?"


"Kesibukan? Ya, paling di sekolah belajar terus ikut Ekstrakulikuler. Kalau tidak ada kegiatan Ekstrakurikuler, pulang dan tidur."


Erwin tersenyum lalu bertanya kembali, "Menarik, memangnya kamu ikut Ekskul apa?"


"Ekskul Band," jawab Alex.


"Hebat, Ayah tidak menyangka kamu memiliki ketertarikan dengan Ekskul Band," puji Sang Ayah kepada putranya.


"Terima kasih, Ayah. Sebenarnya, dari pada tertarik lebih ke terpaksa."


"Terpaksa? Apa maksudmu?" tanya Erwin begitu penasaran.


Alexander mulai bercerita mengenai pencarian minatnya dalam mengikuti Ekskul. Dia sudah menghampiri setiap Ekskul, namun karena terlalu gugup dan kesialan dia alami membuat Alexander tidak menemukan titik terangnya. Ketika perjalanan menelusuri lorong sekolah, dia melihat pintu ruang musik terbuka.


Dia pun berjalan masuk ke dalam ruang musik. Kemudian, dia mulai memainkan dua gitar telah tersedia sekaligus. Lama Alexander memainkannya, dia pun turut menikmatinya.


Beberapa hari kemudian, Alexander pun kembali ke ruang musik itu. Kali ini, dia mengajak teman-temannya. Mereka melihat lihainya Alexander dalam memainkan gitar.


Tidak disangka, Kak Tigor merupakan anggota OSIS sekaligus Ketua Ekstrakurikuler melihat semuanya. Dia memberikan dua pilihan, pertama keluar atau bergabung ke dalam Ekskul Band. Karena sudah terlanjur, mau tidak mau mereka bergabung ke dalam Ekskul Band.


"Menurut Ayah, sebenarnya kamu itu bergabung bukan karena terpaksa. Tapi bergabung karena takdir. Mungkin para Dewa sudah menunjukkan jalan padamu. Siapa tau di masa depan, Band kamu dan teman-temanmu menjadi terkenal," ujar Erwin kepada putra ke duanya.


"Amin," balas singkat.


"Terus, apa nama Band kalian?"


Alexander tersenyum lalu menjawab, "Band Serangkai."


"Nama yang menarik, Ayah suka. Ayah jadi ingin melihat penampilan Band kalian," puji Sang Ayah membuat Alexander sangat senang.

__ADS_1


__ADS_2