Senar Takdir

Senar Takdir
Makan bersama


__ADS_3

Tidak terasa, waktu sudah tengah hari. Tiara berdiri, dia pergi ke dapur untuk mengambil menu makan siang. Tamrin teringat, saat ia akan memberitahu soal Ilham Wulan menghalanginya.


Tamrin penasaran mengapa Wulan melakukan hal itu. Kemudian dia melirik kepada Wulan lalu bertanya, "Wulan, kenapa elu ngelarang gue ngasih tau Tiara tentang Ilham?"


"Kamu ingat kata Tiara barusan? 'Memang, Ilham itu terkadang bersikap suka memaksa. Tapi aku masih ingin berteman dengannya.' Gue tau Ilham itu bajingan, tapi biarkan Tiara tau sendiri. Lagi pula, Bos kita tidak meminta Tiara untuk menjauhi Ilham. Walau pada akhirnya, Tiara akan menjauhi Ilham."


Tamrin melirik ke depan lalu menghembuskan nafas panjang. Dia berkata, "Kenapa Bos tidak melarang Tiara menjauhi Ilham?"


"Soal itu, elu tanya sendiri sama Bos," jawab Wulan.


Tidak berselang lama, Tiara keluar membawa nampan berisi tiga mangkok berisi Cream Soup Jagung. Dia meletakkan mangkok tersebut di atas lantai.


Tiara sambil meletakkan mangkok berkata, "Maaf guys, menu makan siang kita hanya ada itu. Aku belum sempat masak," ujarnya merasa tidak enak.


Wulan mengambil mangkok di atas lantai, "Santai," ujarnya kepada Tiara.


"Guys, gimana kalau kita makan di kamar Alex? Tiara, Boleh?" tanya Tamrin meminta izin.


Tiara berdiri lalu berkata, "Boleh, kebetulan aku ingin mengecek suhu tubuh dan menyuapi Alex."


Mereka semua berjalan mendekat pada pintu kamar. Pintu diketuk, mereka bertiga perlahan masuk ke dalam kamar. Di samping kasur, mereka melihat air kelapa murni di dalam gelas tersisa setengah.


Kompres, masih menempel pada keningnya. Perlahan Alexander membuka kedua matanya. Dia melihat Wulan dan Tamrin berada di kamarnya.


Alexander tersenyum sambil melambaikan tangan kepada mereka berdua. Wulan dan Tamrin, membalas lambaian tangan Alex. Tiara mengambil termometer suhu dalam kotak kecil atas meja belajar.


Setelah mengambil termometer tersebut, dia berjalan mendekati Alex lalu duduk di sampingnya.


Gadis itu menggenggam tangan kanan Alex, "Angkat tanganmu."


Alexander mengangkat tangan kanannya. Tiara menyelipkan termometer suhu pada ketiak Alex. Perlahan, Alex menurunkan tangannya kembali.


Beberapa menit telah berlalu, suara termometer suhu mulai berbunyi. Tiara mengambil termometer suhu berada di ketiak Alex.


Tiara melihat jumlah suhu yang tertera pada termometer, "Syukurlah, suhunya sudah turun."


"Semalam, berapa suhunya?" tanya Tamrin.


Tiara berjalan menuju meja belajar sambil berkata, "Empat puluh tiga drajat."


"Tinggi sekali," balas Wulan dan Tamrin.


Tiara mengambil surat dokter di dalam ransel hitam miliknya. Dia memberikan surat itu kepada Wulan, "Wulan, tolong besok berikan surat ini ke sekertaris."


"Tentu," balas Wulan sambil menerima suratnya.

__ADS_1


"Tiara, kenapa gak kamu aja?" tanya Tamrin.


"Inginnya begitu, nanti siswa di kelas kita curiga. Apalagi sampai minta jenguk, bisa gawat," jawab Tiara.


Tamrin menganggukkan kepala lalu berkata, "Kamu benar."


Mereka makan bersama, Wulan dan Tamrin begitu menikmati Cream Soup Jagung buatan Tiara.Tiara duduk di samping Alex, kedua tangannya memegang mangkok berisi Cream Soup Jagung hangat.


Tiara mengambil sesendok Cream Soup lalu mendekatkan sendok itu kepada mulut Alex. "Buka mulutnya," ujarnya dengan nada lembut.


Alexander membuka mulutnya sangat lebar, dia melirik kepada dua temannya. Wulan dan Tamrin tersenyum sangat lebar tanpa berkedip.


Melihat hal itu Alexander menutup mulutnya sambil menggelengkan kepala. Kedua tangannya memegang mangkuk yang dipegang oleh Tiara sambil berkata, "Aku makan sendiri," katanya lalu tersenyum lebar.


"Gak boleh, kamu masih sakit," tegasnya kepada Alex.


Dia pun mendekat pada daun telinga Tiara lalu berbisik "Malu."


Tiara tertawa, "Sama teman sendiri masa malu," ucapnya dengan suara lantang.


Malu-malu, Alexander membuka mulut lebar-lebar lalu Tiara mulai menyuapinya. Wulan dan Tamrin mulai, melanjutkan menikmati menu makan siang sambil melihat Alex sedang salah tingkah.


Selesai makan, Tiara meminumkan segelas air mineral. Dia pun membantu Alex untuk minum obat. Melihat sikap Tiara begitu perhatian, membuat Wulan dan Tamrin berpikir bahwa Tiara tidak jauh berbeda dengan seorang perawat.


Selanjutnya, Tiara membawa piring-piring kotor secara bergantian menuju dapur. Tiara berjalan keluar dari kamar, Wulan dan Tamrin melirik kepada Alex dengan penuh kecurigaan.


"Apa?!" tanya Alex.


Wulan tersenyum tipis, dia memandang Alex dengan penuh rasa curiga. "Bos, sejak pertama kali masuk ke kamar ini ada yang ingin aku tanyakan."


Alexander dengan wajah merah dan penuh rasa gelisah bertanya, "Soal apa?"


"Kalian berdua tidur satu ranjang?!" tanya kompak Wulan dan Tamrin.


Alexander terkejut, jantungnya berdegup kencang dan wajahnya semakin merah. "Mana mungkin tidur seranjang!" bantahnya kepada mereka berdua.


"Kalau kalian tidak tidur seranjang, kenapa ada tas dan buku-buku Tiara di sini?" tanya Tamrin.


"Terus, kenapa kasurmu wangi sekali? Dan baju seragam Tiara tergantung di balik pintu? Mencurigakan," sambung Wulan.


Alexander terdiam, tubuhnya terasa lemas dan kepalanya terasa untuk membantah tuduhan kedua temannya. Tidak berselang lama, pintu kamar terbuka.


Tiara tersenyum manis lalu berkata, "Wulan sini! Ayo ke kamarku," ajak Tiara sambil melambaikan tangan ke depan.


Wulan berjalan ke luar kamar, dia mengikuti Tiara memasuki sebuah kamar tidak jauh dari kamar Alex. Suasana kamar yang bersih, lemari pakaian dan sebuah kasur lantai lengkap dengan bantal.

__ADS_1


Wulan berbaring di atas kasur, dia duduk bersandar sambil meluruskan kaki. "Jadi ini kamarmu?"


"Iya, bagaimana?" tanya Tiara.


"Nyaman, aku suka. Padahal, kamu tidak perlu capek-capek menyiapkannya. Aku tau, tempat ini adalah gudang bukan kamarmu. Mungkin kamu bisa menipu Tamrin, tapi kamu tidak bisa menipuku. Kamu lupa? Aku ini bisa melihat masa depan."


Wajah Tiara merah padam, dia mundur lalu menempelkan punggungnya ke tembok. Perlahan dia pun turun lalu duduk bersandar sambil memeluk kedua kakinya.


Tiara teringat, bahwa Wulan bisa melihat masa depan. Dia menyembunyikan di balik pahanya karena malu.


Wulan tertawa, "Maaf, aku hanya mengerjai kalian berdua. Bagiku, tidak masalah tidur seranjang dengan orang yang kamu cintai. Apalagi status kalian berdua sudah mendapatkan persetujuan dari langit. Sebagai permintaan maaf, aku akan berikan satu ramalan khusus untukmu."


Tiara melepas pelukan pada kedua kakinya. Dia duduk tegak dan menatap Wulan, "Ramalan?" ujarnya dengan penuh penasaran.


Sementara itu di kamar Alex, Tamrin duduk di samping sahabatnya. Tamrin tersenyum lebar membuat Alexander merasa tak nyaman.


"Bos, Elu hoki banget dapat istri bidadari! Sekarang kalian tinggal satu atap. Gue iri Bos!"


"Ah! Berisik!" balasnya dengan sangat malu.


"Gue sudah dengar kisah undian jodoh itu dari Tiara. Bos pernah mengikuti undian itu bukan? Ceritakan padaku semuanya Bos!" kata Tamrin begitu bersemangat tidak sabar untuk mendengar cerita Alex.


Alexander mulai menceritakan, awal mengikuti undian mencari Jodoh. Satu hari sebelum kegiatan MOS (Masa Orientasi Siswa) saat sore hari, Alexander mengunjungi Taman Hiburan. Di sana dia melihat sebuah Stan yang bertuliskan, "Cari Jodoh."


Dia melihat, seorang wanita berpakaian khas Yunani Kuno bersemangat menawarkan permainan jarum putar miliknya. Wanita itu melihat Alex, dia menawarkan permainan tersebut kepadanya. Alexander yang penasaran langsung menghampirinya.


Wanita itu bernama Lena, dia mengaku sebagai Dewi Cinta. Sekali putaran, wanita itu hargai sebesar lima ribu rupiah. Pada papan putar tersebut, tertulis jenis Kandidat dan Kelas.


"Jenis Kandidat dan Kelas?" tanya Tamrin.


"Pada papan pertama tertulis kandidat siswi SMP, siswi SMA, Mahasiswi, wanita karir, perawan tua, hantu dan terakhir bidadari. Papan kedua tertulis kelas biasa, menengah dan kelas tinggi," jelas Alex kepada Tamrin.


"Wow! Gue jadi ingin mencobanya. Siapa tau dapat bidadari kelas tinggi macam Tiara!" kata Tamrin begitu semangat.


Tamrin teringat momen ketika Ilham menginjak kaki Alex. Tiara tidak membicarakan hal itu, dia penasaran apakah Alexander sudah memberitahu hal ini atau tidak.


"Soal Ilham menginjak kakimu. Bos sudah memberitahu hal ini kepada Tiara?"


Alexander menggelengkan kepala. Tamrin bertanya, "Kenapa Bos?"


"Aku tidak ingin, merusak pertemanan Tiara dengan Ilham."


"Tapi Bos, Ilham itu bajingan! Dia bisa saja merebut Tiara darimu. Kenapa tidak larang saja? Apa Bos sudah tidak cinta dengan Tiara?" tanya Tamrin.


Alexander terdiam, dia mulai meneteskan air mata hingga membasahi selimutnya. "Cinta, aku sangat cinta dengan Tiara. Jujur, gue sangat cemburu melihatnya dengan lelaki lain. Tetapi, aku tidak bisa merebut kebebasannya. Gue tidak ingin, Tiara bernasib sama sepertiku semasa SD hingga SMP yang kesepian dan tidak punya teman. Tamrin, gue lelah terikat dengan rasa cemburu ini. Gue memilih untuk tidak memikirkannya. Biarlah takdir yang menentukan, gue cukup lakukan yang terbaik sebagai kekasihnya dan menjaga perasaan ini sampai akhir," katanya dengan nada sedih.

__ADS_1


Tamrin tersenyum, dia menepuk pundak Alex lalu berkata, "Gue kagum mendengarnya, Bos. Elu rela, mengorbankan perasaanmu demi kebahagiaan Tiara. Meskipun dia didekati oleh ribuan lelaki, tetapi gue yakin Tiara tidak terpikat. Sebab Cinta Tiara hanya untukmu Bos. Bos harus terus optimis dan selalu percaya kepada Tiara."


Mendengar hal itu Alexander tersenyum lalu berterima kasih kepada sahabatnya. Alexander mengusap air matanya, sekarang dia pun terlepas dari rasa ragu serta gelisah mengikat hatinya.


__ADS_2