
Mereka bertiga, berjalan dan duduk kembali di ruang tamu. Tamrin belum mengabiskan makannya kembali makan. Dia pun makan dengan sangat lahap seperti orang kelaparan.
Wulan tertawa kecil lalu ia berkata, "Lapar atau enak?" sindir Wulan.
Tamrin sambil mengunyah makanannya membalas, "Dua-duanya!"
Tiara tertawa melihat Tamrin makan begitu lahap. Dia berkata, "Tenang Tamrin, stok Cream Soup masih banyak."
Kedua gadis itu menahan tawa setiap kali Tamrin makan layaknya orang kelaparan. Wulan ikut menghabiskan malamnya sampai habis. Selesai makan, Tiara membawa piring-piring kotor itu ke wastafel berada di dapur. Dia duduk kembali dan melirik ke arah dua temannya.
Tamrin penasaran, mengapa Tiara bisa tinggal satu atap dengan Alex. Kemudian dia pun bertanya, "Tiara, kenapa kamu bisa tinggal satu atap dengan Alex? Di mana rumahmu sebenarnya? Apa kamu kabur sehingga bisa tinggal di sini?"
Tiara tersenyum lalu menghembuskan nafasnya. Dia pun duduk tegak dan mulai memperkenalkan diri, "Baiklah, aku akan kembali memperkenalkan diri dan mulai bercerita supaya menjadi jelas. Perkenalkan, namaku Tiara Lestari. Aku adalah seorang bidadari dari Negeri Kayangan."
Tamrin pun tertawa terbahak-bahak. Dia pun membalas, "Gue akui, elu itu gadis paling cantik pernah gue temui. Dan juga, gue akui elu layak memegang gelar Primadona Sekolah. Tapi mengaku bidadari? Konyol sekali!"
Tamrin melirik kepada Wulan, dia melihat Wulan sama sekali tidak tertawa. Wajahnya yang datar, sorot matanya yang serius sambil menganggukkan kepala. Melihat hal itu Tamrin pun berhenti tertawa.
Tiara berdiri, "Kalau masih tidak percaya, perhatikan baik-baik."
Gadis itu mulai berputar, tiba-tiba munculah butiran cahaya dari bawah. Butiran cahaya tersebut, menghalangi pandangan mereka berdua. Di balik butiran cahaya, penampilan Tiara mulai berubah.
Tamrin tidak berkedip, melihat penampilan Tiara begitu anggun mengenakan baju dayang berwarna abu, selendang merah dan samping batik. Sekarang Tamrin pun percaya bahwa Tiara adalah bidadari.
Tamrin tanpa berkedip pun berkata, "Sekarang gue percaya."
Dalam sekejap, penampilannya kembali mengenakan kaos dan celana pendek. Tiara kembali melanjutkan ceritanya. Dulu sejak setengah abad yang lalu, Tiara melayani Dewi Cinta yaitu Dewi Lena sebagai Kepala Pelayan.
Suatu hari, Tiara melihat pantulan air di ruang pribadi milik Sang Dewi. Tiara begitu iri, melihat sepasang kekasih memamerkan kemesraan. Kemudian dia melihat beragam boneka berbentuk makhluk hidup lainnya yang terikat dengan benang merah satu sama lain.
Dewi cinta berjalan di sampingnya, "Itu benang jodoh. Aku telah menjodohkan seluruh makhluk hidup di Bumi saat berada di dalam kandungan."
"Dewi, aku sudah melihat ratusan kisah cinta manusia. Jujur, aku sangat iri pada mereka. Terutama ketika melihat ikatan cinta mereka tetap terjalin kuat meski mengalami kesulitan. Selain itu, ada beberapa pasangan yang menerima kekurangan satu sama lain. Andaikan aku terlahir sebagai manusia, jodoh seperti apa yang akan Dewi berikan?"
Dewi tersenyum lalu ia berkata, "Tiara, kamu tidak perlu terlahir sebagai manusia untuk mendapat pasangan."
__ADS_1
Tiara melirik kepada Sang Dewi lalu berkata, "Apa maksud Dewi?"
"Aku sudah membuat jalur alternatif pencarian jodoh yaitu melalui undian."
"Undian?" tanya Tiara.
"Iya, benar undian. Seperti yang kamu tau, aku telah melakukan perjodohan pada sesama spesies sejak lahir melalui tali jodoh. Sayangnya, benang takdir itu tidak akurat. Sekarang, banyak sekali manusia yang menyimpang. Bahkan berlaku kasar hingga membunuh pasangannya. Aku sudah tidak tahan melihatnya secara berulang. Maka, aku ciptakan metode undian."
Dewi Lena menjelaskan, bahwa undian tersebut akan dilakukan melalui jarum putar. Jarum putar tersebut, memilih sesuai tingkat karakter, kebaikan, ketulusan dan kehidupan seseorang. Sebagai contoh, seorang pria hidup serba kekurangan dan rupa yang tidak terlalu menawan. Tetapi, memiliki hati yang lembut serta tekat yang kuat.
Maka jarum tersebut akan berputar pada pilihan terbaik. Walau pada akhirnya, jarum itu akan memilih sesuai takdirnya.
Sang Dewi, mulai mengumpulkan para kandidat mulai dari manusia, bidadari dan hantu yang terpilih di dalam sebuah dunia yang diciptakan oleh Sang Dewi.
Awalnya, mereka semua protes sebab program itu dianggap mempermainkan perasaan mereka. Namun Sang Dewi berkata, bahwa permainan jarum putar bukanlah semacam jarum putar biasa. Jarum itu berputar, sesuai tingkat kecocokan sesuai dengan pasangannya.
Setelah jodoh sudah ditentukan, Sang Dewi memberikan buku nikah pada para kandidat yang akan dijodohkan. Ketika dua buku nikah saling bertemu, mereka akan resmi menjalin sebuah ikatan pernikahan.
Buku itu bisa kembali jika kedua pasangan merasa tidak cocok. Jika buku itu dikembalikan, mereka berdua resmi bercerai dan ingatan mereka tentang pasangan sebelumnya menghilang.
Wulan dengan serius bertanya, "Apa itu?"
Tiara melirik kepada Wulan dan Tamrin, dia pun menjawab, "Keabadianku. Selain itu, kesaktian ku berkurang seiring bertambahnya umur. Tapi syukurlah, Dewi Lena masih mempertahankan kepintaran ku. Dewi menawari aku menjadi kandidatnya. Aku pun menyetujuinya."
Tiara melanjutkan ceritanya. Setelah menerima tawarannya, dia pun berhenti sebagai Kepala Pelayanan. Dia diminta menunggu di taman pribadi milik Sang Dewi. Tidak berselang lama, Sang Dewi datang dan memberikan sebuah buku nikah.
Di dalam buku tersebut, terdapat nama calon kandidat yaitu Alex. Selain itu, terdapat kisah hidup calon pasangan dimulai dari lahir hingga sekarang. Kemudian, Tiara diminta untuk datang pada sebuah taman pinggir sungai yang tidak jauh dari Taman Hiburan ketika menjelang matahari terbenam.
Mereka sempat bertemu, terapi Alexander berlari meninggalkannya karena menyangka Tiara adalah hantu. Tiara berusaha mengejarnya, namun dia dihadang dan sempat diganggu oleh beberapa pemuda. Beruntung, Tiara bertemu dengan Wulan lalu mereka berkenalan dan tinggal bersama dalam beberapa hari.
Namun setelah Tiara dan Alex jadian, dia pun pamit kepada Wulan karena merasa tidak enak terus menumpang serta menjadi anggota keluarga palsu. Dia memilih untuk tinggal bersama Alex, karena ingin melayaninya sebagai istri.
Tamrin menganggukkan kepala, dia pun berkata, "Sekarang gue paham. Tapi satu hal yang gue gak ngerti. Kenapa status kalian menjadi suami istri sah, padahal kalian belum tunangan atau resepsi sama sekali."
"Sebab sudah mendapatkan persetujuan resmi dari pada penghuni langit. Kalian para manusia, melakukan pernikahan untuk mendapatkan persetujuan dari para Dewa. Setelah melakukan pernikahan, maka langit secara resmi memberikan status suami dan istri."
__ADS_1
Wulan meminum teh tawar hangat lalu meletakkan kembali di atas meja. Dia pun berkata, "Langit memang menyetujui hubungan kalian, tetapi Bumi belum menyetujui hubungan kalian."
Tiara tertawa, "Alexander juga pernah mengatakan hal yang sama Wulan. Waktu itu aku sedih mendengarnya. Tapi setelah itu dia berkata, jangan sedih, Tiara. Aku akan terus berjuang agar Bumi merestui hubungan kita baik secara hukum, adat dan agama. Supaya itu terjadi aku tidak akan menyerah."
Wulan dan Tamrin terkagum-kagum, mendengar apa yang Alexander dari cerita Tiara. Sedangkan Tiara, menunduk sambil tersenyum mengingat perkataan Alex kepada dirinya.
Tamrin mengembuskan nafas, "Sekarang semuanya jadi masuk akal. Pantas saja, banyak laki-laki tergila-gila padamu Tiara. Jujur saja, sebagai laki-laki kecantikanmu di luar nalar Tiara. Tetapi, gue hanya sebatas kagum bukan karena suka atau cinta. Jujur pertama kali bertemu gue diam-diam masukin surat cinta."
Wulan melirik ke arah Tamrin, dia menatap Tamrin dengan sorot mata yang tajam, "Surat cinta?"
"Iya! Entah masih ada atau tidak," jawab Tamrin.
Tiara berdiri dari tempat duduknya, dia berjalan masuk ke dalam kamar. Wulan dan Tamrin terheran-heran, mengapa Tiara masuk ke dalam kamar yang sama dengan Alex.
Tidak berselang lama, Tiara kembali membawa plastik hitam berisi puluhan amplop. Kemudian dia letakkan plastik tersebut di atas meja dalam keadaan terbuka.
Wulan mengambil beberapa surat, "Banyaknya, kamu sudah baca semua?"
"Sebagian," jawab Tiara.
Tamrin mengambil beberapa surat, diam-diam dia mencari surat cintanya. Sekian lama mencari, akhirnya dia berhasil menemukan surat cintanya.
Dia mengambil sebuah amplop berwarna coklat. Tidak disangka Wulan langsung merebutnya.
Perlahan Wulan membuka amplop, "Coba kita lihat, apa isi surat dari Romeo kita," ujarnya perlahan mengambil isi amplop.
"Wulan, please jangan."
Wulan mengabaikannya, dia pun mulai membaca, "Untuk Tiara tersayang. Pertama kali aku melihatmu, aku jatuh hati kepadamu. Bahkan jatuh ku tidak kalah cepat dengan bintang jatuh. Kecantikanmu telah mengalihkan duniaku, bahkan motor CBR idamanku ialah dengan keanggunanmu. Rambut kuning bagaikan jagung yang sering aku makan di pagi hari..."
Tiara senyam-senyum sendiri, sesekali tertawa mendengar isi surat dari Tamrin. Wulan terus membacanya dengan lantang. Sedangkan Tamrin, berbaring di atas sofa sambil menyembunyikan wajahnya yang merah dibalik bantal.
Tulisan Tamrin layaknya seorang Dokter, membuat Wulan sesekali tertawa. Kemudian Tamrin pun terbangun, buru-buru dia merebut surat itu dari Wulan.
Namun sayangnya, Wulan mengetahui hal itu. Wulan langsung menghindarinya. Dia berlari ke luar rumah sambil terus membaca isi surat tersebut.
__ADS_1
Wulan dan Tamrin kejar-kejaran di halaman rumah. Tiara keluar rumah, dia tertawa menyaksikan tingkah mereka berdua.