
Alexander dan Tiara, bergabung bersama bersama para siswa yang terlambat sekaligus terkena Rajia atribut. Matahari bersinar terang, seluruh siswa berkeringat karena panas.
Alexander melihat siswa beratribut lengkap berbaris tepat di bawah pohon yang rindang. Dia pun mengibaskan tangannya sambil memandang iri.
"Hari ini panas sekali, andaikan bisa tukar posisi dengan mereka," keluhnya memandang iri sambil mengibaskan pergelangan tangannya.
Tiara pun tertawa kecil lalu mendekat pada daun telinga Alex dan berkata, "Jangan mengeluh begitu, sayang. Setidaknya, dari kejadian ini ambilah sisi positifnya," balasnya berbisik.
Alexander melirik kepada Tiara lalu bertanya, "Sisi positif seperti apa?"
"Belajar disiplin dan memanage waktu," jawabnya lalu tersenyum. Kemudian dia kembali berkata, "Tapi kejadian ini, ada yang paling membuatku bersyukur."
"Apa itu?"
Tiara tersenyum manis lalu menjawab, "Bisa bersama denganmu," bisik Tiara membuat Alexander tersipu malu.
Alexander berpaling tersipu malu lalu berkata, "Dasar kamu, masih sempat-sempatnya. Bagaimana kalau ada siswa lain yang dengar?"
Tiara tertawa sambil menutup mulut lalu mendekati daun telinga kekasihnya. Dia pun berkata, "Biarin, kalau perlu pakai speaker."
Seorang guru datang mengawasi dan mengatur barisan para siswa yang terlambat. Guru tersebut melihat Tiara dan Alex saling berbisik.
Guru itu datang dan berkata, "Kalian berdua ngapain bisik-bisik? Sekarang itu jam upacara, mengerti?!"
"Siap mengerti," jawab mereka berdua dengan rasa bersalah.
Guru itu menarik tangan Tiara sambil berkata, "Barisan ini untuk cowok, barisanmu bukan di sini."
Tiara masih sempat-sempatnya memandang Alex dengan raut wajah yang murung. Alexander hanya terdiam memandang pasrah sambil menghembuskan nafas panjang. Seseorang menepuk pundaknya, Alexander langsung menoleh ke samping.
Rupanya orang menepuk pundaknya adalah Ruben. Dia merupakan kenalannya dari kelas 10 IPA A berdarah campuran Indonesia dan Australia.
"Masih sempat-sempatnya, kalian berdua bermesraan," kata Ruben.
"Bermesraan? Memangnya kami terlihat seperti itu?"
"Kalau tidak percaya, coba saja melirik ke belakang," ujarnya sambil menunjuk ke belakang dengan jempolnya.
Alexander begitu merinding ketika melihat sorot mata mereka menatap dirinya dengan iri. Sedangkan Ruben dengan santainya terus menepuk-nepuk pundaknya.
__ADS_1
"Berani sekali, padahal gadis itu gebetannya Ilham."
Alexander menoleh kepada Ruben lalu bertanya, "Kata siapa?"
"Kata Martin di depan teman kelas tepat di hadapan Ilham secara langsung. Tapi, aku kurang percaya sih kecuali tau dari orangnya langsung."
"Baguslah kalau begitu," balas Alex.
Ruben tersenyum lalu berkata, "Sekarang siapkan mental mu, karena sebentar lagi akan ada rajia."
"Rajia apa?"
Sekali lagi Ruben menepuk pundaknya lalu berjalan sambil menjawab, "Nanti kamu juga tau."
Mendengar hal itu, Alexander semakin penasaran mengenai rajia yang akan diadakan setelah upacara. Selesai upacara, seluruh siswa terlambat berbaris rapih.
Jantung Alexander berdegup kencang ketika melihat para guru dan anggota OSIS mencukur rambut muridnya. Namun bukan cukuran rapih yang didapat, melainkan cukuran secara asal.
Tidak disangka, anggota OSIS yang ditugaskan untuk memotong rambut adalah Nanda. Kulitnya yang buduk, membuat para siswa memandang jijik kepadanya. Alexander hanya bisa terdiam, ketika hal itu terjadi.
"Giliranmu cepat!" ucapnya memanggil Alex.
Rambut-rambut mulai berjatuhan, betapa memalukannya Alex saat melihat potongan rambutnya sendiri pada kamera belakang handphonenya. Alexander mengusap-usap rambutnya sambil merasakan malu.
"Rambut gue!" ucapnya lalu menoleh kepada Nanda, "Woi, Nanda! Gue tau elu cuman menjalankan tugas, tapi setidaknya pakai hati dong! Potong rambut gak kira-kira!"
"Kalau mau rapih ke Tukang Cukur!" balasnya lalu pergi begitu saja untuk kembali menjalankan tugasnya.
Alexander menjadi kesal, namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah. Setelah itu, dia pun masuk ke dalam barisan siswa yang terlambat sekaligus terjaring razia.
Seseorang tak asing berada di sampingnya, ketika menoleh orang itu adalah Fajar. Dia merupakan teman sekelasnya selalu menggunakan topi terbalik.
Fajar sambil menggaruk-garuk kepalanya berkata, "Kacau banget tuh sih Nanda, cukuran kita jadi berantakan begini. Kepala gue gatal, lagi!"
Seorang siswa merupakan temannya berkata, "Jangan-jangan, kulit kepala elu terinfeksi virus buduk."
"Jijik gue! Jangan sampai kejadian," balas Fajar.
Temannya pun tertawa lalu membalas, "Elu ngomong begitu padahal duduk satu meja."
__ADS_1
"Berisik! Gue juga terpaksa, gak ada yang mau tukar tempat duduk sama gue. Padahal sesekali, pengen gue duduk sebangku sama Tiara. Tapi entah kenapa, Tiara betah banget duduk sebangku sama Ketua Kelas gue."
Alexander terbatuk-batuk, sontak Fajar dan temannya menoleh kepada Alex. Betapa terkejutnya mereka, melihat Alex sejak tadi berada di samping.
"Gue dengar itu," kata Alex.
Fajar dan temannya menoleh pada rambut Alex. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak, begitu melihat potongan rambutnya.
Fajar tertawa lalu berkata, "Bos, sumpah cukuran elu parah banget!" ucapnya meledek sambil menunjuk.
"Iya, siapa yang cukur rambut elu bro? Bagus banget!" ledeknya lalu tertawa terbahak-bahak.
"Berisik! Nanda yang mencukur rambutku. Kalian berdua, masih sempat-sempatnya menghina Nanda," balas Alexander.
"Emang kenyataannya, begitu kan? Nanda itu gadis buduk, kulit gue langsung alergi dekat-dekat dengannya. Selain itu, dia super pelit. Pengen pindah tempat duduk rasanya."
"Gue ngerti jar, tapi meskipun begitu Nanda tetap teman sekelas kita. Merasa sempurna kah?" tegur Alex.
"Ya, udah gini saja. Elu mau gak tukar tempat duduk sama gue?" tawar Fajar.
Mendengar tawarannya membuat Alexander terdiam. Kepalanya menunduk membayangkan duduk semeja dengan gadis buduk. Dia tidak bisa membantah, bahwa ia merasa jijik dan takut terhadap kulit Nanda.
"Gak mau kan? Makannya Bos, jangan sok membela," kata Fajar.
Alexander hanya mengiyakan perkataannya. Kemudian, dia menoleh ke depan menikmati jalannya kegiatan razia dilakukan oleh pihak OSIS.
Sementara itu di sisi lain, Tiara berdiri berhadapan dengan salah satu siswi yang merupakan anggota Komite Kedisiplinan. Anggota OSIS itu menatap tajam dirinya. Tiara dengan santainya tersenyum memandang anggota OSIS itu.
"Sudah tidak bawa topi, logo sekolah kita tidak terpasang, rambutmu melewati pinggang! Kamu masih sempat-sempatnya kamu tersenyum Begitu!" ucapnya lalu menepuk ujung rok sambil berkata, "Panjang rok itu sejengkal di atas lutut! Mau jadi cabe-cabean kah?"
"Maaf, kak."
"Saya gak mau tau, besok logo sekolah kita harus di pasang dan rok harus sejajar dengan lutut. Mengerti?!" tanya anggota OSIS itu dengan nada tinggi.
"Siap mengerti!" balas Tiara.
Setelah mendapatkan omelan, Tiara pun berjalan kembali ke barisannya. Kegiatan razia pun telah berakhir, siswa yang terlambat dan tidak beratribut lengkap berbaris di tengah lapangan. Mereka semua berkeringat, ketika merasakan panasnya sinar matahari.
Mereka dipaksa oleh guru dan pihak OSIS untuk berjalan jongkok bolak-balik sambil merasakan panasnya sinar matahari. Setelah itu, mereka hormat pada bendera sambil menyanyikan lagu kebangsaan. Selesai bernyanyi, mereka semua diperintahkan untuk kembali ke kelas masing-masing.
__ADS_1