
Lonceng pertanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar telah berbunyi. Seluruh kegiatan sekolah telah berakhir.
Bagi yang mendapat jadwal piket, mereka harus membersihkan kelas. Sedangkan tidak kebagian jadwal, mereka langsung pulang dan menjalankan rutinitas masing-masing.
Alexander bersama tiga anggota serangkai, berjalan keluar dari kelas. Hari ini mereka pergi ke Ruang Musik untuk mengikuti kegiatan Ekskul Band. Mereka berjalan menelusuri lorong, melintas kelas dan jalan terdapat pandangan rumput serta bunga.
Wulan sambil berjalan ia berkata, "Bos, aku lihat pertandingan mu. Bos bilang tidak bisa bermain Bola. Jangan-jangan, selama ini Bos bohong. Apa ini yang dinamakan merendah untuk meroket?"
Alex sambil berjalan pun membalas, "Serius, gue gak bohong. Memang dulu sewaktu sekolah dasar gue pernah main bola. Tapi semenjak SMP gue belum pernah bermain bola sama sekali."
"Tapi tidak mungkin Bos bisa melakukannya di saat itu juga," sambung Tamrin.
Tiara menepuk dadanya sendiri lalu ia berkata, "Siapa dulu dong yang ngajarin!" ujarnya dengan nada sombong.
Tamrin pun tertawa, "Memangnya cewek tau apa soal bola?"
"Nantang nih, ceritanya?"
"Kalau ada bola, kita gas kan di sini," balas Tamrin.
"Tenanglah anak-anak, besok pelajaran olahraga. Kalian bisa bertanding sepuasnya besok," ujar Wulan memotong pembicaraan.
Sekian lama mereka berjalan, akhirnya mereka sudah sampai di lorong menuju ruang musik. Di depan, mereka melihat Bang Tigor mengenakan almamater OSIS sedang membuka gembok.
Bang Tigor menoleh ke arah mereka, "Hello guys, " sapa Bang Tigor sambil memberikan tos satu persatu.
"Hello, Bang Tigor," balas mereka berempat sambil melakukan tos satu persatu.
Gembok pintu telah terbuka, mereka semua berjalan masuk ke dalam ruang musik. Bang Tigor, meminta mereka untuk membersihkan ruangan dengan sapu dan kemoceng yang sudah tersedia.
Alexander dan tiga anggota serangkai, mulai membersihkan ruangan sedangkan Bang Tigor pergi ke luar untuk mengambil kardus berisi botol air mineral. Sepuluh menit lamanya, Alexander dan yang lainnya membersihkan ruangan.
Setelah selesai membersihkan ruangan, mereka duduk di atas lantai. Tidak berselang lama, Bang Tigor datang membawa kardus di kedua tangannya. Di atas kardus, terdapat kue dan cemilan lainnya.
Bang Tigor membagikan botol minuman dan cemilan kepada mereka semua, "Silahkan diminum dulu."
Mereka semua meminum botol air mineral pemberian Bang Tigor. Kemudian, mereka duduk membetuk lingkaran kecil.
Bang Tigor, meminum air mineral di dalam botol lalu meletakkan botol miliknya di atas lantai. Dia pun tersenyum lalu berkata, "Alex, jam istirahat gue lihat pertandingan elu di lapangan basket. Cieee..! Gimana rasanya dipeluk ditengah lapangan basket?" ujarnya dengan nada menggoda.
__ADS_1
Wulan dan Tamrin, ikut menyoraki Alexander beserta Tiara hingga wajah mereka merah karena malu.
"Gosip kalian berdua menyebar sampai ke kelasku. Tiara, gue sebagai kakak cuman ngasih tau bahwa temen-temen gue banyak yang suka sama kamu. Dengar-dengar ada yang iseng ngasih surat cinta. Kamu pernah dapat surat cinta sebelumnya?"
Tiara terdiam, kedua jarinya menempel di bawah dagu, "Kalau tidak salah, seminggu tiga kali pasti ada surat di dalam tas. Sekarang, ada dua surat di dalam tas."
Tiara membuat ranselnya, dia mengambil dua surat di dalam tas. Gadis itu terdiam sambil meletakkan surat di atas lantai. Bang Tigor merasa tidak asing diantara surat tersebut.
Tigor mengambilnya, "Boleh gue lihat?" tanya Tigor kepada Tiara.
Tiara pun mengizinkannya. Perlahan Tigor membuka amplop lalu ia membaca suratnya. Tigor tertawa terbahak-bahak, ketika mengetahui bahwa pengirim surat itu adalah teman sekelasnya.
Tulisan tidak beraturan, tanda baca yang tidak pas serta isi penuh dengan puitis bagaikan tulisan aksara kuno membuat Tigor tidak berhenti tertawa.
"Rambutmu yang indah bagaikan emas yang mengambang di kali. Kulitmu yang mulus bagaikan Tol langit dan putih bagaikan formalin!" ujarnya membacakan isi surat temannya.
Alexander dan yang lainnya ikut tertawa terbahak-bahak. Baru pertama kali, ada lelaki yang menuliskan surat cinta dengan isi yang sangat lucu.
Tiara tertawa lalu ia berkata, "Masa kulitku disamakan dengan formalin."
"Maaf Tiara, di kelas temanku itu suka melucu. Setidaknya dia berani mengungkapkan isi hatinya, gue respect. Tiara ada rencana untuk membalasnya?"
"Kenapa?" tanya Bang Tigor.
Tiara menghembuskan nafas, raut wajahnya terlihat sangat bimbang, "Kalau Tiara jujur, Tiara takut menyakiti hati mereka."
Tigor tersenyum lalu ia berkata, "Ternyata kaki itu bukan hanya parasnya cantik, aku akui itu. Tetapi Tiara, menggantungkan jawaban juga salah apalagi kaum lelaki. Meskipun lelaki terlihat kuat, tetapi hati mereka sangat rapuh. Sekarang gue tanya, kamu sudah punya pacar?"
Tiara terdiam, dia melirik ke arah Alex. Dari raut wajahnya Alexander tau, bahwa Tiara sedang bertanya apakah harus menjawabnya atau tidak.
"Sudah," jawab Tiara.
Bang Tigor sempat melihat Tiara memandang Alex. Dia pun penasaran lalu bertanya, "Tiara, kamu berpacaran dengan Alex?"
"Iya, kami berpacaran," jawab Alex sebelum Tiara menjawabnya.
"Cieee..! Pantas saja Tiara berlari ke tengah lapangan basket waktu itu. Sekarang terdengar masuk akal. Apa semua orang tau tentang hubungan kalian?"
Alexander memberitahu, bahwa tidak ada yang mengetahui hubungannya dengan Tiara selain Wulan dan Tamrin. Kemudian dia meminta Bang Tigor untuk merahasiakannya, karena suatu hal yang tidak bisa diberitahu.
__ADS_1
"Aku tidak tau Alex, alasan kenapa kamu menyembunyikan hubunganmu dengan Tiara. Setidaknya, aku harus memberitahu status Tiara kepada temanku. Tapi tenang, namamu tidak aku sebutkan. Dengan begitu, gue bisa menutup sebagian harapan lelaki di luar sana. "
Alexander, berterima kasih kepada Bang Tigor disusul oleh Tiara Wulan dan Tamrin. Perbincangan pun telah berakhir, sudah saatnya bagi mereka untuk mulai kegiatan Ekstrakurikuler.
Bang Tigor berdiri dia berjalan dan diam menghadap mereka semua. Kemudian dia menepuk kedua tangannya lalu berkata, "Ok, sudah saatnya kita memulai kegiatan kita. Untuk mengawali kegiatan, silahkan Alexander maju ke depan untuk memulai penampilannya."
Alexander terkejut sambil menunjuk wajahnya sendiri, "Aku?!"
"Iya, elu Alex. Cuman suara elu dan Tamrin yang belum tampil. Cepat ke depan, masa kalah sama cewek?"
Alexander terdiam, dia mulai merasa gugup untuk ke depan. Kemudian dia menunjuk Tamrin sambil berkata, "Setidaknya Tamrin juga ikut tampil."
"What?!" ujar Tamrin begitu terkejut.
Alexander terus merayu dan memaksa Tamrin untuk ikut tampil ke depan. Mau tidak mau, Tamrin pun terpaksa ikut tampil bersama Alex. Di depan, Alexander memegang Gitar Akustik berwarna coklat sedangkan Tamrin duduk pada sebuah bangku di sampingnya.
Bang Tigor, Wulan dan Tiara mengeluarkan handphone masing-masing lalu bersiap untuk merekam. Sementara itu, Alexander dan Tamrin sedang berunding mengenai lagu yang akan mereka nyanyikan. Setelah berunding cukup lama, akhirnya mereka akan menyanyikan sebuah lagu yang dibawakan oleh Band Jamrud berjudul, "Pelangi Di Matamu."
Alexander mulai memetik gitar, suasana ruangan seketika menjadi sunyi. Tiga penonton mulai merekam.
Alexander mulai membuka mulut lalu mulai bernyanyi, "Tiga puluh menit kita di sini.Tanpa suara. Dan aku resah harus menunggu lama
Kata darimu," ujarnya bernyanyi sambil memainkan gitar.
Tamrin pun membuka mulut dan ia mulai bernyanyi, "Mungkin butuh kursus merangkai kata. Untuk bicara... Dan aku benci harus jujur padamu tentang semua ini."
Suara mereka yang merdu, membuat tiga penonton menikmati penampilan mereka berdua. Meskipun berduel, mereka berdua memiliki ciri khas suara masing-masing. Pertama Alex, memiliki suara merdu bernada sedang ke bawah.
Kedua Tamrin, pemilik suara rocker bernada rendah ke tinggi. Jika kedua suara itu berkolaborasi, maka menciptakan irama yang merdu dan saling menutupi satu sama lain.
Selesai bernyanyi, para penonton memberikan tepuk tangan yang meriah.
Bang Tigor berhenti bertepuk tangan, dia pun berkata, "Gak nyangka, gue berhasil merekrut vokalis di Ekskul ini," pujinya terhadap mereka semua.
"Bang Tigor berlebihan," balas Alex.
"Serius, gue ngomong ke kalian apa adanya. Ngomong-ngomong, ada yang ingin gue tunjukkan kepada kalian semua," ujarnya lalu mengotak-atik handphone miliknya.
Bang Tigor, menunjukkan sebuah poster lomba kepada mereka semua, "Tanggal 30 April, ada lomba Pentas Band di Kecamatan Bungaran. Kalau kalian tertarik bilang gue, nanti gue daftarkan. Tugas kalian, tentukan nama Band dan buat lagu kalian sendiri. Hadiah seratus juta plus rekaman gratis!"
__ADS_1
Alexander dan Tamrin kembali ke tempat duduk semula. Mereka berempat berunding, namun mereka masih bimbang. Akhirnya, mereka berkata kepada Tigor bahwa mereka akan memberi keputusan bulan depan.