
Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan jam setengah lima sore. Suasa bengkel mulai sepi, para mekanik satu persatu kembali ke rumah.
Seluruh bagian dalam mesin telah bersih dari pasir. Namun sayangnya, beberapa lubang pada ruang pembakaran serta retakan pada batang piston tidak bisa diperbaiki.
Bang Herman menoleh kepada Alex. Sejak tadi, Alexander terdiam memperhatikan motornya yang rusak. Dia penasaran, apakah Alexander sudah menghubungi Ayahnya atau belum.
"Alex, sudah hubungi Babeh elu?" tanya Bang Herman.
"Sudah," jawab Alex.
"Terus, gimana kata Babeh elu?"
"Rencana, Ayah ingin datang ke sini."
Bang Herman berdiri sambil berkata, "Syukurlah, kalau begitu Aye pulang dulu sebentar. Badan Aye sakit-sakit, mau istirahat terus ngopi. Tamrin jaga tolong jaga bengkel sebentar."
"Ncang mah mitos! Ngomongnya sebentar, padahal berjam-jam."
Tiara menoleh pada sebuah kedai jus berada di seberang jalan. Kemudian dia pun berdiri lalu tersenyum kepada mereka bertiga.
"Guys, aku mau beli jus. Kalian mau titip?"
"Boleh, tolong jus apel," balas Wulan lalu memberikan uang di dalam saku bajunya.
"Titip juga! Kalau gue alpukat," sambung Tamrin sambil memberikan uang dari saku celana.
Alexander memberikan uang sambil berkata, "Jus jeruk."
Tiara pun pergi menuju Kedai Jus berada di seberang jalan. Alexander kembali memandangi motornya yang rusak. Kedua tangannya mengepal, sorot matanya menatap tajam motornya yang rusak.
"Motor ini pemberian Ayahku satu-satunya. Tega sekali, siapa pengecut melakukannya hal ini pada motorku?!" ucapnya penuh amarah.
Wulan melirik kepada Alex lalu berkata, "Aku tau siapa pelakunya."
Sontak Alexander dan Tamrin menoleh kepada Wulan. Lalu mereka berdua pun bertanya, "Siapa-siapa?!"
"Ilham dan dua temannya."
Seketika waktu pun terhenti, seluruh api amarah menjalar di dalam diri Alex. Kedua tangan Alex mengepal, wajah Ilham dan kedua temannya terbayang dalam pikirannya.
"Semua bermula, ketika Bos dengan beraninya menarik tangan Tiara kemarin di Taman Hiburan. Ilham merasa kesal, karena kencannya diganggu menaruh dendam pada Bos. Kemudian Ilham berkeluh-kesah kepada dia temannya. Martin menyarankan pada Ilham agar memasukkan pasir ke dalam tangki oli. Setelah istirahat ke dua, mereka membolos lalu mengambil pasir tidak terlalu jauh dari sekolah. Mereka membawanya dengan plastik dan memasukkan pasir itu ke dalam tangki oli," ujar Wulan menjelaskan.
Alexander mengepalkan tangannya lalu memukul tempat duduk disampingnya sambil berkata, "Pengecut, kita laporkan saja ke Guru BK (Bina Konseling)!"
Wulan mengembangkan nafas panjang lalu berkata, "Memangnya Bos punya bukti? Pekerjaan yang mereka lakukan termasuk rapih loh."
"Kalau begitu, besok kita balas mereka!" ujar Tamrin dengan penuh emosi.
__ADS_1
Wulan mengayunkan tangannya ke depan sambil berkata, "Tenang guys, tenang. Kendalikan emosi kalian! Belum waktunya kita membalas."
Alexander dengan penuh emosi bertanya, "Terus, apakah aku harus diam saja?!"
"Memang, perbuatan mereka bertiga itu sangat keterlaluan. Apalagi, barang yang dirusak merupakan barang yang berharga bagi kita. Kumohon Bos bersabarlah, sambil menunggu momen yang tepat sebaiknya kita kumpulkan bukti dan kebusukan mereka," kata Wulan dengan bersungguh-sungguh.
"Gue gak tau apa yang elu rencanakan, tapi baiklah aku akan ikut rencanamu Wulan," balas Alex.
Tamrin duduk di samping Wulan sambil berkata, "Pasti tiga pengecut itu tidak berhenti sampai di sini."
"Soal itu, serahkan saja padamu Tamrin. Kau kawal saja Bos di sekolah, seandainya ada yang mengganggu hajar saja," balas Wulan.
Alexander tertawa lalu berkata, "Mengawal? Kalian pikir aku ini anak penjabat kah?"
"Bos lupa? Bos itu putra kedua Pak Erwin Si Pengusaha sekaligus Juragan Sawit. Mendapat pengawalan sudah hal biasa," balas Wulan kepada Alex.
"Tenang Bos, siapa pun yang ganggu Bos biar gue jadikan kerupuk!" sambung Tamrin kepada sahabatnya.
Alexander menghembuskan nafas panjang lalu berkata, "Terserah, suka-suka kalian saja!"
Perbincangan pun berakhir, ketika melihat Tiara berjalan menyebrangi jalan dengan membawa sebuah kantong plastik hitam. Setelah menyebrangi jalan, Tiara membagikan jus kepada mereka satu persatu. Kini tersisa satu cup plastik berisi jus jeruk.
"Jus jeruk itu untuk siapa?" tanya Alexander kepada kekasihnya.
Tanpa malu Tiara pun menjawab, "Buat Ayah Mertua."
Tidak berselang lama, sebuah mobil Toyota Camry Hitam berhenti di depan bengkel. Mobil mewah tersebut, telah menarik perhatian mereka bertiga. Seorang lelaki tak asing turun dari kursi kemudi lalu membuka pintu mobil tepat dibelakangnya.
Seorang lelaki gagah mengenakan jas abu keluar dari mobil. Alexander pun berdiri dari lalu menghampiri lelaki itu tidak lain adalah Ayahnya.
"Ayah," ucap Alex sambil mencium tangan ayahnya.
Erwin langsung memegang kedua kaki anaknya sambil berkata, "Kamu gak apa-apa kan? Mana yang luka?! Apa ada yang sakit?!" ucapnya begitu panik.
"Alex baik-baik saja Ayah."
Sang Ayah pun berdiri sambil berkata, "Syukurlah kalau begitu."
Tiara, Wulan dan Tamrin berjalan menghampiri mereka berdua. Mereka berdiri tepat di belakang Alex.
Tiara menepuk punggung Alex membuatnya menoleh ke belakang. Wajah Alexander tersipu malu ketika melihat Tiara tersenyum sambil menggerakkan kedua alisnya.
"Mereka temanmu?" tanya Erwin kepada putranya.
"Iya, Ayah," jawabnya malu-malu lalu ia menarik tangan Tiara dan memegang kedua pundaknya dengan raut wajah memerah ia pun berkata, "Ayah ini, Tiara," ucapnya dengan terbata-bata.
__ADS_1
Tiara berjalan mendekati Ayah Alexander. Lalu dia berkata, "Selamat sore, Om." Ucapnya lalu mencium tangannya. Kemudian dia berjalan mundur lalu mendekati daun telinganya Alex. Setelah itu ia berbisik, "Maksudku Ayah Mertua."
Alexander semakin salah tingkah, mendengar bisikan Tiara. Sedangkan Tiara sendiri, berjalan mundur sambil menahan tawa melihat kekasihnya salah tingkah.
"Ini Wulan," kata Alex menjulurkan tangannya.
"Eh, Wulan! Sudah lama tidak bertemu. Gimana kabar Papahmu?"
"Om Erwin," balas Wulan lalu mencium tangannya dan berkata, "Papah baik, Om."
"Terakhir, ini Tamrin," ujar Alex memperkenalkan Tamrin kepada Ayahnya dengan nada terbata-bata.
"Mereka bertiga teman Alex," ucapnya malu-malu dengan nada terbata-bata.
"Syukurlah, Ayah senang mendengarnya. Terima kasih sudah berteman dengan anak saya."
Wulan membalas, "Tidak perlu berterima kasih, Om."
"Iya, Om," sambung Tamrin.
"Bagaimana Alex di sekolah?" tanya Erwin kepada mereka bertiga.
"Baik, banget Om!" canda Tiara dengan nada meninggi sambil menepuk pundak Alex membuat Erwin curiga.
Erwin tertawa lalu berkata, "Kalau nada bicaramu seperti itu, membuat Om curiga."
"Enggak, Ayah! Alex baik kok di sekolah!" balasnya
Erwin tertawa lalu berkata, "Ayah percaya, kok. Sekarang di mana motorku?"
Alexander sambil menunjuk menjawab, "Di sana."
Mereka semua berjalan memasuki Bengkel. Erwin merasa haus, ia menoleh kepada supir pribadinya berada di dalam mobil.
Belum sempat Erwin memanggil Tiara pun berjalan mendekat dengan membawa Cup Plastik berisi Jus Jeruk.
"Permisi Om, maaf ini Jus Buat Om. Kebetulan saya ada lebih, barang kali Om suka," ujar Tiara memberikan Jus kepada Erwin tak lain adalah Ayahnya Alex.
Melihat Tiara begitu berani, membuat Alexander berpaling dengan wajah memerah. Dia terlalu malu, melihat Tiara sedang mendekati Ayahnya.
"Terima kasih," balasnya lalu menerima pemberian Jus dari Tiara.
Wulan dan Tamrin mendekati Alex. Mereka berdua pun berbisik, "Cie-cie."
"Ada yang cari perhatian nih," kata Tamrin berbisik kepada Alex.
"Berisik!" balas Alex tersipu malu.
__ADS_1
Erwin memandangi motor Alex. Beliau melihat, lubang pada bagian body mesin dan juga setumpuk pasir bercampur oli di dalam sebuah wadah. Melihat ayahnya terdiam, membuat Alex semakin merasa bersalah.