
Wulan dan Tiara masuk ke dalam kelas, mereka berdua datang membawa wadah styrofoam berisi kuliner khas Nusantara yaitu seblak. Aroma seblak, menyebar ke seluruh ruangan membuat beberapa siswa melirik ke mereka berdua. Mereka berdua, berjalan mendekati Alexander dan Tamrin sedang menikmati makan siang.
"Selamat siang, boleh kita gabung Bos?" sapa Wulan.
"Boleh," jawab Alex.
Mereka semua, duduk mengambil bangku lalu duduk berhadapan. Sebuah meja, menjadi pembatas sekaligus tempat meletakkan menu makan siang mereka berempat. Alex dan Tiara saling berpandangan, mereka memalingkan wajah dengan tersipu malu. Sekali lagi, mereka berdua berpandangan namun kali ini gadis itu menatap dengan raut wajah kesal.
"Bos, masih ingat anggota empat serangkai kita yang ingin aku kenalkan?" tanya Wulan.
"Iya, aku masih ingat," jawab Alex.
"Perkenalkan, teman terdekatku Tiara sekaligus Wakilmu," ujar Wulan memperkenalkan Tiara kepada mereka berdua.
"Oh! Ternyata Tiara, pacarnya Bos," timbal Tamrin membuat Tiara salah tingkah.
"Jangan bercanda!" balas Tiara.
Gadis itu berdiri dari tempat duduknya lalu memandang Alex dengan wajah cemberut. Mereka bertiga terdiam, melihat Tiara tiba-tiba saja berdiri.
"Aku mau beli minum di kantin," kata Tiara.
Dia pergi begitu saja, meninggalkan mereka bertiga sejak tadi terus melihatnya dengan terheran-heran. Kemudian, Wulan dan Tamrin melirik secara bersamaan kepada Alex.
"Bos, Tiara itu memang benar pacarmu? Kelihatannya, kalian seperti baru bertemu atau sedang ada masalah?" tanya Tamrin kepada Alexander sejak tadi terdiam.
"Iya, Tamrin. Mereka berdua sedang ada masalah," jawab Wulan membuat Alex sedikit terkejut.
"Hah?!" timbal Alex.
Wulan bercerita, bahwa mereka sedang bertengkar lalu ia meninggalkannya seorang diri di taman kota pinggir sungai seorang diri, Waktu itu, dia seorang diri mencari Alex namun tidak ada siapa pun selain tiga orang pemuda terus memandanginya sejak tadi.
Tiga orang pemuda berjalan mendekatinya. Mereka bertiga mengganggu Tiara, beruntung ada Wulan waktu itu sehingga ia langsung menariknya pergi. Wulan menceritakan tempat dan kejadian sesuai dengan awal pertemuan dirinya dengan Tiara.
"Bos, gue gak nyangka elu seperti itu. Meninggalkan wanita sendirian, benar-benar suatu kesalahan yang fatal," kata Tamrin terlihat kesal kepadanya.
"Iya, Bos. Sebaiknya, Bos cepat minta maaf," sambung Wulan.
"Iya, nanti."
"Jangan nanti-nanti Bos, hati wanita itu bisa berubah kapan saja apalagi sekelas primadona kayak dia. Nanti direbut nangis," kata Tamrin membuat Alex terdiam memikirkannya.
"Bagaimana caranya minta maaf?"
"Ya, ndak tau..," jawab kompak mereka berdua.
__ADS_1
Sementara itu, Tiara berjalan seorang diri di lorong sekolah. Di depan dia melihat suasana kantin begitu penuh. Dia teringat tingkahnya kepada Alex begitu dingin kepadanya. Seseorang memegang pundaknya, dia melirik ke belakang. Rupanya, orang memegang pundaknya adalah Alex.
Mereka saling berpandangan, wajah mereka merah merona dan tak berkedip. Sekarang, waktunya tepat bagi Alex untuk meminta maaf. Tetapi, ketika dia ingin mengucap sebuah kata mulut dan suaranya seketika terkunci.
Dia merasa, bahwa dirinya telah menjadi orang bisu. Sedangkan Tiara, dia terdiam terheran-heran melihat tingkah laku Alex. Tiara teringat tingkahnya, begitu dingin kepada Alex. Namun, ketika ingin meminta maaf mulutnya seperti terkunci sehingga sulit mengucap satu kata pun.
"Tidak jadi, aku mau kembali ke kelas," ujarnya lalu membalikkan badan.
"Ha? Hei!"
Tiara menghembuskan nafas, dia meneruskan perjalanan menuju kantin walau suasana kantin sangat ramai. Setiap langkah kakinya, perlahan para siswa di kantin mulai memperhatikannya. Mereka bertanya-tanya mengenai siapa dirinya. Dia menyadari hal itu, namun Tiara terus berjalan dan bersikap seolah tidak tau.
Dia mengantri bersama para siswa lain untuk memesan. Suhu panas mulai ia rasakan, sekujur tubuhnya mulai mengeluarkan keringat. Beruntung, dia mengenakan kaos legbong coklat muda dibalik seragamnya. Semua ini berkat Wulan yang menyarankan dirinya, mengenakan kaos untuk menutupi dalaman yang ia kenakan.
Berbeda dengan manusia, aroma keringat bidadari tetap harum walau tidak begitu menyengat. Seolah-olah, dia seperti memakai parfum beberapa saat yang lalu.
"Tiara," panggil seseorang di belakang.
Seorang gadis berambut hitam kuncir kuda setengah, tersenyum manis kepadanya. Dia memiliki mata kuning, kulit cerah dan mengenakan jam tangan berwarna hitam. Gadis itu bernama Hana, teman sekelas yang duduk di belakangnya.
"Eh, Hana. Aku kira siapa," kata Tiara.
"Hi.hi.hi! Sendirian saja, di mana Wulan?"
"Cuaca panas begini, membuat kulitku belang tapi kulitmu masih saja mulus seperti bayi."
"Bisa saja kamu. By the way, kamu sendirian saja. Di mana temanmu?"
"Hah, aku tidak tau di mana mereka sekarang. Mungkin sedang mencari perhatian para senior di sekolah ini. Ayo, kita makan di sini," ajak Hana.
"Tidak Hana, teman-temanku sedang menungguku di kelas."
"Siapa?" tanya Hana lalu Tiara menjawab,"Wulan, Tamrin dan Alex."
"Wah! Boleh aku gabung? Kalian mau makan siang bersama bukan?"
"Boleh, setelah beli minum ayo kita ke kelas."
Sekian lama mereka mengantri, akhirnya giliran mereka berdua untuk memesan. Tiara memesan empat botol teh dingin, sedangkan Hana memesan botol berisi Jus Mangga. Selesai memesan, mereka berdua berjalan kembali ke kelas.
Namun, ketika mereka sedang berjalan seorang siswa menabrak bahu Tiara dari belakang. Siswa itu memiliki mata hijau, rambut hitam ikal dan berpostur agak tinggi kekar. Kulitnya bagaikan sinar bulan, sepasang alis simetris membuat aura ketampanannya memancar keluar.
Dia tidak sendiri, melainkan bersama tiga temannya berparas tampan. Diam-diam, mereka berempat menjadi pusat perhatian para siswi sedang melintas. Kemudian siswa berambut ikal sempat menambraknya datang mendekat.
"Maaf, sudah menabrakmu. Aku tidak sengaja," ujar lelaki itu kepada Tiara.
__ADS_1
Kedua mata lelaki itu tak berpaling, ketika memandang paras Tiara begitu anggun. Hana sejak tadi melihatnya, terkagum-kagum dengan ketampanannya. Sedangkan Tiara, memandang biasa tanpa terpikat sedikit pun.
"Iya," timbalnya dengan singkat.
Setelah itu, lelaki berambut hitam ikal kembali berjalan bersama teman-temannya. Dia sempat melihat lelaki itu ditertawakan oleh teman-temannya. Hana terus memandang lelaki itu, tapi Tiara malah berpaling dan terus melangkahkan kakinya.
"Hei, tunggu!" ujarnya memanggil Tiara berjalan menjauhinya lalu berjalan mendekati temannya.
"Siapa laki-laki itu?" tanya Tiara.
"Oh, lelaki itu namannya Ilham Purnomo. Kudengar, dia anak Wakil Gubenur dan seangkatan dengan kita. Kenapa Tiara, kamu suka ya? Ciee!"
"Ha.ha.ha, bisa saja kamu. Aku tidak tertarik sama sekali," balas Tiara.
"Eh! Padahal dia itu selebgram, anak orang kaya dan atlet sepak bola. Kudengar juga, Albert striker sepak bola di Tim Nasional."
"Biasa saja, lagi pula orang tuanya yang kaya bukan Albert," timbal Tiara lalu Hana bertanya,"Memangnya kamu sudah punya pacar?"
Seketika dia teringat, saat dirinya bersama Wulan sebelum berangkat sekolah. Mereka berdua, sedang mengenakan sepatu tali di teras depan rumah. Wulan memandang Tiara, dia sadar akan kecantikan yang dimiliki olehnya. Beberapa kemungkinan yang akan terjadi terlintas di dalam pikirannya.
"Tiara," panggil Wulan lalu Tiara membalas,"Iya?"
"Kalau ada siswa yang bertanya, apakah kamu punya pacar atau belum. Bilang saja sudah, kamu tidak ingin berpisah dengan suamimu bukan?"
"Iya, Wulan."
Mengingat hal itu, Tiara menjawab bahwa dirinya sudah memiliki kekasih. Hana sedikit terkejut, mendengar Tiara sudah memiliki kekasih. Pantas saja, ketika siswa dikelas bertanya mengenai status percintaannya ia hanya terdiam.
Mungkin saja, Tiara tidak ingin menyakiti hati para siswa di kelas. Begitulah yang dipikirkan oleh Hana, ketika mengingat sikapnya ketika ditanya hal itu. Di depan, beberapa siswa duduk di sepanjang lorong. Mereka semua terpikat oleh kecantikan yang dimiliki oleh Tiara lalu para siswa itu tersenyum manis kepadanya.
"Hai, Tiara!" sapa para siswa itu begitu Tiara melintas.
Tiara hanya tersenyum, menyembunyikan rasa risih sedang ia rasakan. Dia terus berjalan, melintasi kawanan siswa sedang memandanginya sejak tadi. Sementara itu, Alex baru saja sampai di kelas. Sudah lima kali dia bolak-balik keluar dan masuk kelas. Alexander berjalan menghampiri Wulan dan Tamrin sedang duduk di atas meja.
"Bos, sudah minta maaf?" tanya Wulan.
"Belum."
Wulan dan Tamrin saling berpandangan dengan wajah datar. Gadis itu menjentikkan jarinya, Tamrin pun langsung berdiri mendekati Alex. Dia memegang pundaknya lalu membalikkan tubuh Alex menuju pintu kelas. Kemudian, Wulan berdiri di samping Alex lalu berjalan layaknya petugas sipir tahanan.
"Apa-apaan ini?!" tanya Alex.
"Sudahlah, Bos diam saja," kata Tamrin.
"Kami gak mau tau, pokoknya Bos harus minta maaf sama Tiara," sambung Wulan sambil menatapnya dengan sorot mata yang tajam membuat Alexander merinding.
__ADS_1