
Winda melihat pita rambut merah yang Tiara kenakan. Gadis itu hendak menyentuh pita rambut tersebut.
Tiara melirik kepada Winda dengan sorot mata yang tajam lalu berkata, "Jangan coba berani menyentuh pita rambutku dengan tangan kotor mu itu!" katanya dengan nada mengintimidasi.
Winda tersenyum jahat, sorot matanya menatap tajam lalu menarik rambut Tiara. Mereka saling berpandangan lalu Winda berkata, "Elu pikir gue takut?!"
Kedua gadis itu saling menatap tajam dan penuh intimidasi. Kamar mandi sekolah, menjadi saksi bisu pembullyan sedang dialami sosok bidadari seperti Tiara.
Seseorang berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Mereka semua menoleh, rupanya orang itu adalah Wulan. Wulan berjalan santai sambil mengeluarkan pistol air mini miliknya.
"Aduh, stop-stop!" ujar mereka bertiga ketika Wulan menembakkan pistol air miliknya.
Wulan menatap mereka dengan dingin. Sambil menembak dia berkata, "Aku kira ada apa, rupanya ada tiga nenek sihir di sini. Hus-hus pergi-pergi," katanya sambil menembaki baju mereka.
Tantri sambil menunjuk berkata, "Elu siapa? Berani elu ikut campur?" ancamnya kepada Wulan.
Wulan tersenyum tipis, dia terus menembakkan pistol air miliknya sambil berkata, "Cepat pergi dan ganti baju kalian mumpung masih sempat. Kalian mau, aroma air comberan tercium satu kelas kan?"
Tantri dan Kartika berjalan cepat meninggalkan kamar mandi. Sedangkan Winda, melepaskan cengkraman tangan dari rambut Tiara.
Winda melirik Tiara dengan penuh kebencian. Sedangkan Tiara, menghembuskan nafas lalu memandang Winda dengan raut wajah prihatin.
Melihat ekspresi wajahnya membuat Winda semakin geram. Dia pun menampar Tiara, beruntung ada Wulan yang sigap memegang tangannya.
Wulan menatap dingin sambil memegang pergelangan tangan Winda dengan keras. "Berani sekali tangan kotor elu tampar saudara gue. Elu pergi atau terima akibatnya," ujarnya mengintimidasi sambil menodongkan pistol air dengan tangan kirinya.
Sorot mata Wulan yang dingin, membuat Winda merinding. Wulan lepas cengkraman tangan pada pergelangan tangannya. Gadis itu, berjalan cepat keluar dari kamar mandi.
"Tiara, apa ada yang sakit?!" tanya Wulan begitu khawatir sambil melihat-lihat kondisi tubuh sabatnya.
Tiara tersenyum seolah tidak terjadi apapun lalu berkata, "Tidak apa-apa, hanya siraman air toilet dan jambakan rambut."
"Kalau begitu, ayo cepat kita ke kelas. Kebetulan aku bawa parfum di tas, setidaknya bisa menyamarkan baunya. Aku juga ada cairan antiseptik biar badanmu tidak gatal-gatal," balas Wulan.
"Tidak perlu Wulan, aku bisa mengatasinya dalam sekejap. Aku juga bawa parfum sendiri," kata Tiara lalu setengah lengan kanannya.
Sekali jentik, sebuah hembusan angin mulai dirasakan oleh Wulan. Dalam sekejap, baju Tiara yang basah menjadi kering dan rambutnya kembali rapi seperti semula.
Pada pergelangan tangan kanannya, perlahan munculnya butiran cahaya. Butiran cahaya tersebut, membentuk sebuah botol parfum berwarna emas.
Tiara menyemprotkan botol parfum miliknya kepada tubuhnya sebanyak satu semprotan.
Seluruh ruangan beraroma harum, Wulan tidak berhenti terus menghirupnya. Bagi Wulan, roma harum pada parfum milik Tiara lebih wangi dari aroma apapun di dunia ini. Bahkan, aroma jeruk di dalam mobil kalah oleh aroma parfum milik Tiara.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan keluar kamar mandi. Aroma harum, membuat para siswa dan guru melirik kepada Tiara.
Wulan memeluk lengan sahabatnya, dia terus menghirup aroma parfum pada baju Tiara. Dia sambil menghirup aroma parfum berkata, "Wangi sekali, parfum apa ini?"
Tiara sambil menunjukkan botol Parfum emas berkata, "Parfum Kayangan, di dalam botol ini terdapat Ekstrak saripati bunga di Negeri Kayangan. Bukannya aku sombong, sebenarnya tanpa parfum pun aroma tubuhku sudah cukup. Tapi karena mereka, terpaksa aku harus menggunakannya."
"Seberapa awet parfum milikmu?" tanya Wulan.
"Kalau melihat waktu di Bumi, kira-kira dua bulan aroma parfum ini bisa hilang. Kamu mau?"
Wulan sedikit terkejut mendengar tawaran Tiara. Dia pun berkata, "Serius? Kamu mau membaginya denganku?"
Tiara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian, dia menyemprotkan parfum kepada Wulan sebanyak satu semprotan.
"Satu semprotan sudah cukup," kata Tiara lalu menghilangkan parfum miliknya dalam sekejap.
"Kenapa satu?" tanya Wulan.
"Lebih dari satu semprotan, kamu benar-benar dapat masalah. Aroma parfum itu membuat para pejantan dari spesies apapun terpikat dan tunduk kepadamu. Lebih dari dua, mereka akan mengejar layaknya zombie untuk bercinta denganmu. Lebih buruknya lagi, mereka akan memakan tubuhmu seperti kanibal."
Mendengar hal itu membuat Wulan menjadi merinding. Dia melirik ke sekitar, dirinya khawatir sewaktu-waktu para lelaki mengejarnya.
Tiara tertawa, "Tenang Wulan, masih aman. Ya, palingan ada beberapa orang menciumi aroma tubuhmu seperti anjing. Anggap saja latihan rasanya menjadi primadona."
Wulan berjalan kembali ke tempat duduknya. Alexander dan Tamrin, melihat dirinya dengan tatapan aneh. Baru saja duduk, Tamrin menggeser tempat duduknya.
Tamrin mendekati lehernya, hembusan nafas Tamrin mulai ia rasakan. Lelaki itu mulai menghirup aroma tubuhnya, "Wulan, hari ini kamu wangi sekali. Kamu pakai parfum apa?"
Wulan tersipu malu, jantungnya berdegup kencang sambil menundukkan pandangan. Dia pun menjawab, "Bohong, aroma parfum elu bukan begini," ujarnya sambil mengendus-endus aroma tubuhnya.
Tamrin semakin menempelkan hidungnya pada tubuh Wulan. Alexander pun ikut-ikutan, dia maju ke depan lalu menempelkan hidupnya pada punggung Wulan. Tanpa sengaja, dia pun terjatuh ke depan dan memeluk Wulan dari belakang.
"Iya Tamrin, Wulan wangi sekali!" ujarnya masih menempel wajahnya pada punggung Wulan.
Tiara cemburu, buru-buru dia menjewer kuping Alex lalu menariknya ke belakang sambil berkata, "Masih sempat-sempatnya komentar dasar genit!"
"Ampun, aduh sakit-sakit!" rintihnya akibat dijewer oleh Tiara.
Mereka saling berhadapan, Alexander melihat wajah Tiara begitu cemberut. Kedua tangannya terlipat, dia terus menatapnya tanpa berkedip.
"Maaf-maaf," ujarnya meminta maaf kepada Tiara.
Para siswa di kelas mulai berdatangan, mereka mengajak Wulan dan Tiara berbincang-bincang. Baru pertama kali, Wulan dikerumuni dan diajak bicara.
Biasanya, teman-teman dikelas mengajaknya berbicara jika ada perlu. Kecuali Nanda dan David tetap duduk sambil menikmati dunianya sendiri.
__ADS_1
Sekarang baik laki-laki mau pun perempuan, mengajaknya berbicara mengenai hal yang ia tidak ketahui. Sepulang dari kegiatan Ekskul, penghuni sekolah yang melintas melirik ke arahnya.
Tatapan mereka yang terpikat, membuat Wulan merasa tidak nyaman. Tidak hanya itu, beberapa kupu-kupu dan capung mulai bertengger pada tubuhnya.
Di rumah, Wulan juga merasakan hal yang sama. Ketika makan malam bersama keluarga, kedua orang tua serta adik laki-lakinya memperhatikan dirinya. Posisi duduk yang berjarak, kini mulai berdekatan.
Sang Ibu menghirup tubuhnya, beliau mengendus-endus aroma tubuh putrinya sambil berkata, "Wulan, hari ini kamu wangi sekali. Kamu pakai parfum mahal ya?" tanya Sang Ibu sambil mengendus aroma tubuh anaknya.
Adik laki-lakinya yang pendiam menyelinap dari kolong meja. Dia memeluk kakaknya dari depan membuat Wulan terkejut.
Adik Wulan, menempelkan wajahnya lalu bergerak ke atas dada sambil mengendus-endus aroma tubuhnya sambil berkata, "Iya, bu. Kakak wangi sekali! Ingin rasanya memeluk kakak terus menerus!" ujarnya sambil mengendus aroma tubuh kakaknya.
Buru-buru, Sang Ibu menarik telinga kakaknya sambil berkata, "Romi! Kamu gak boleh begitu sama kakak kamu! Sewangi apapun kakakmu, dia tetap seorang wanita! Jangan begitu lagi, hargai kakak kamu!" ujar beliau memarahi anak keduanya.
"Maaf mah," ujarnya tertunduk menyesal.
Selesai makan malam, Wulan seperti biasa masuk ke dalam kamar. Dia berbaring di atas kasur sambil memainkan handphonenya. Berkat semprotan parfum milik Tiara, aroma kamarnya menjadi wangi.
Suara ketukan pintu mulai terdengar, Wulan membuka pintu kamarnya. Wulan melihat kedua orang tua dan adik laki-lakinya membawa bantal masing-masing.
"Papah sudah membicarakan hal ini dengan Ibu. Sesekali kami ingin menginap dan tidur bersamamu. Sekalian Papah dan mamah, ingin mengingat masa lalu saat kamu masih kecil," ujar Sang Ayah kepada Wulan.
Wulan menepuk keningnya lalu berkata, "Lain kali saja Pah, Wulan sibuk ada tugas sekolah."
Perlahan Wulan menutup pintu kamar, dia pun berbaring di atas kasur sambil menutup wajahnya sendiri dengan bantal. Sementara itu di waktu yang bersamaan, Tiara duduk berhadapan sambil melipat kedua tangannya. Alexander duduk terdiam, memandang Tiara yang sedang cemberut dengan rasa bersalah. Sejak sepulang dari kegiatan Ekskul, Tiara terus cemberut.
Alexander mendekat lalu memegang kedua sambil berkata, "Maaf sayang, aku benar-benar tidak bermaksud melecehkan dan sebagainya. Aku hanya menghirup aroma parfum Wulan. Sumpah hanya itu."
Tiara semakin cemberut, dia pun memalingkan wajahnya. "Alasan, memangnya istrimu sendiri tidak wangi?"
"Wangi sayang, setiap hari tubuhmu selalu wangi. Tanpa mandi pun kamu tetap wangi. Ayolah sayang jangan marah, aku menyesal. Sebagai permintaan maaf, aku akan lakukan apapun permintaanmu," ujarnya dengan sungguh-sungguh.
Tiara menoleh kepada Alex lalu berkata, "Apapun?"
"Iya."
"Kalau begitu ikut aku," kata Tiara sambil berdiri lalu berjalan ke kamar.
Tiara berbaring di atas kasur, dia mengangkat kedua tangan dan melebarkan kakinya. Alexander melongo melihat apa yang dilakukan oleh kekasihnya. Jantungnya berdegup kencang dan mulai merasa gelisah.
Tiara mengangkat kedua tangannya sambil berkata, "Kalau begitu, cium dan peluklah aku dari atas suamiku."
Alexander merangkak di atas kasur. Dia mulai menindih tubuh kekasihnya. Perlahan wajah merah berdekatan.
Mereka berdua berpelukan sambil bercumbu dengan mesra. Alexander begitu menikmati, hukuman yang diberikan oleh Tiara. Berkat hal itu, hubungan mereka berdua semakin mesra.
__ADS_1