Senar Takdir

Senar Takdir
Menginap


__ADS_3

Mereka bertiga berjalan menuju ruang keluarga. Wulan bersemangat memasang PS5 pada televisi milik Alex. Selesai memasang kabel Wulan langsung menyalakannya.



Kemudian dia mengendus-endus, aroma sekitar.Wulan tersenyum kepada mereka berdua lalu berkata, "Bau pandan."


Raut wajah mereka berdua memerah lalu Alexander merangkak dan duduk di sampingnya. Alexander dengan wajah memerah berkata, "Ayo kita lihat ada game apa saja di PS5 baruku ini."


Wulan menahan tawa lalu membalas, "Siap Bos!"


Mereka melihat, berbagai macam permainan di dalam menu game. Semua series game terbaru tersedia di dalam Play Station. Saking banyaknya game terbaru, Wulan dan Alexander bingung memilih game yang akan dimainkan.


Alexander, menunjuk pada salah satu game fenomenal, "Kita mainkan itu saja!"



"God Of War, Ghost Of Sparta!" kata Wulan begitu terkagum-kagum.


"Terakhir kali gue main, sewaktu kelas satu SMP. Waktu itu masih series pertama, gak nyangka God Of War sudah sampai versi Renarok," kata Alexander kepada mereka berdua.


Tiara tersenyum lalu merangkak dan duduk di samping Wulan. Dia pun berkata, "Yuk, kita hom pim pah! Kita tentukan, siapa yang main duluan."


"Setuju!" kata Wulan.


Alexander mengembuskan napas panjang lalu berkata, "Males, Wulan kamu main saja duluan biar aku dan Tiara yang suit."


"Kenapa?" tanya Wulan.


"Kamu punya penglihatan masa depan. Jadi, percuma saja kita hom pim pah kalau kamu tau langkah yang akan kaki ambil," jawab Alex.


Wulan terdiam, sekilas mereka berdua melihat raut wajah Wulan yang sedih. Gadis itu tersenyum lalu berkata, "Padahal aku ingin giliran ke dua. Ya, sudah. Aku yang main duluan."


"Kalau begitu, kita mainkan God Of War series pertama," pinta Alexander kepada Wulan.


"Siap Bos!"


Wulan mulai bermain game, Alexander dan Tiara diam menikmati jalannya permainan. Tiara teringat saat Wulan memintanya untuk pulang cepat. Dia penasaran, apa sebenarnya tujuan Wulan.


"Wulan," kata Tiara memulai perbincangan.


Wulan sambil memainkan stik Play Station bertanya, "Iya?"


"Kenapa tadi siang, kamu menyuruhku pulang cepat? Jangan-jangan, Kamu tau kejadian hari ini?" tanya Tiara.


Wulan memandang televisi, kedua tangannya memainkan Stik Play Station pun membalas, "Kejadian hari ini? Maksudmu melihat Bos sedang melakukan ritual lima jari?"

__ADS_1


Mendengar hal itu, wajah Alexander dan Tiara merah padam. Wulan tertawa lalu bertanya, "Setelah itu apa yang kalian lakukan?"


"Sebenarnya apa tujuanmu?" tanya Alexander malu-malu.


"Hanya usil itu saja, aku penasaran bagaimana reaksi kalian berdua. Jadi setelah kejadian itu, apa yang kalian lakukan?"


Alexander dan Tiara terdiam, mereka menunduk dengan raut wajah memerah. Mereka tidak bisa memberitahu Wulan, bahwa mereka telah melakukan olahraga ranjang.


"Mencurigakan, jangan-jangan kalian..."


"Enggak!" ucap kompak Alexander dan Tiara.


"Bukannya kamu sudah tau? Kamu mempermainkan kami ya?!" tanya Alex.


"Mempermainkan apa? Aku gak mempermainkan kalian. Aku hanya tau ritual yang Bos dilakukan Bos, itu saja."


"Ngomong-ngomong, biasanya kamu ke sini dengan Tamrin. Di mana anak itu?" tanya Alexander mengalihkan pembicaraan.


Wulan terdiam, dia terus memainkan Stik Play Station di kedua tangannya. Kemudian, dia mengangkat tangan kirinya lalu menghitung mundur lima sampai satu. Suara ketukan pintu rumah, terdengar seiring berakhirnya hitungan mundur.


"Masuk saja, pintu tidak dikunci!" ucap Alexander dari kejauhan.


"Siap!" balas Tamrin.


"Wih keren, God Of War. Ghost of Spartan!" ucap Tamrin terkagum-kagum oleh game sedang dimainkan oleh Wulan.


Alexander menoleh kepada Tamrin lalu berkata, "Kalau mau main giliranmu terakhir."


"Iya, Bos! Iya!"


Tiara melihat Wulan dan Tamrin, membawa ransel masing-masing. Dia penasaran alasan mereka berdua membawa isi ransel tersebut.


"Wulan, Tamrin untuk apa kalian bawa ransel?"


"Nginap," jawab kompak mereka berdua.


Tamrin duduk bersandar lalu meluruskan kakinya. Dia pun berkata, "Wulan mengajakku untuk menginap di sini."


"Apa kami mengganggu?" tanya Wulan sambil memainkan Stik Play Station.


"Tidak-tidak!" jawab kompak Alexander dan Tiara.


Tamrin, merenggangkan otot-otot jari tangannya ke depan. "Baguslah kalau begitu, sesekali gue ingin merasakan menginap di rumah anak Bos Sawit."


Alexander teringat, ketika Tiara mendekati Nanda. Dia sempat melihat, Nanda begitu mengabaikannya. Entah apa yang terjadi, dia melihat Tiara kembali ke tempat duduknya dengan raut wajah kecewa.

__ADS_1


"Tiara, kamu sudah berhasil minta maaf dengan Nanda?"


Tiara menggelengkan kepala dengan raut wajah sedih. Dia terus teringat, mengenai pertanyaan Nanda mengapa ia mendekati gadis itu.


"Sementara waktu, sebaiknya kita abaikan saja soal Nanda," kata Wulan kepada mereka semua.


Tiara menoleh kepada Wulan sedang memainkan Stik Play Station di kedua tangannya. Dia pun berkata, "Tapi Wulan, aku tidak ingin dia salah paham kepada kita."


"Aku tau itu, mendekati Nanda sekarang sangat beresiko. Apalagi, dia merupakan korban Bullying sejak Taman Kanak-kanak. Seharusnya, sebagai mantan korban bullying di sini mengerti," sindir Wulan kepada Alex.


Alexander merasa tersindir, dia terdiam lalu menunduk dengan raut wajah murung. Seharusnya, sebagai sesama korban bullying ia mengerti.


Tetapi dia sering menghindar jika bertemu Nanda. Melihat kondisi kulitnya, membuat Alexander merasa jijik dan geli. Dia tida memikirkan, bagaimana perasaan Nanda selalu diperlakukan layaknya kotoran.


Wulan sambil memainkan Stik Play Station berkata, "Tenang, cepat atau lambat Nanda akan mengerti dan bahkan menjadi teman kita."


"Menarik, kamu sudah meramalkannya?" tanya Tamrin.


"Yes! Kita akan mendekatinya secara bertahap. Untuk saat ini, lebih baik kita pikirkan soal Band kita. Rabu sepulang sekolah, Kak Tigor akan menanyakannya," Jawab Wulan.


Perkataan Wulan memang benar, ada hal yang harus dipikirkan terlebih dahulu. Mereka harus menentukan, nama Band serta aliran lagu yang akan mereka mainkan.


Dua jam telah berlalu, jam dinding telah menunjukkan jam sembilan malam. Sekarang, giliran Alexander memainkan Play Station. Wulan dan Tamrin, seru menonton jalannya permainan.


"Bos, coba ke sana. Ada tempat rahasia," tunjuk Tamrin pada sebuah tempat dibarik dinding.


Wulan melirik kepada Tamrin, raut wajahnya memerah karena tau dibalik tembok tersebut, Tamrin melirik kepada Wulan, dia tertawa dengan raut wajah mesum dan menjulurkan lidah layaknya anjing.


Adegan panas dimulai. Wulan dan Tiara menutup wajah dengan tangan, sedangkan Alexander terus memainkannya dengan wajah memerah. Beruntung, adegan panas tersebut tidak ditampilkan selain simbol pada tombol Stik Play Station.


Adegan tersebut, membuat Tiara teringat kamar Alexander berantakan karena bercinta. Selain kamar Alex, Tiara belum mengubah gudang kembali menjadi kamar. Tiara berdiri lalu Wulan menoleh kepadanya.


"Mau ke mana?" tanya Wulan.


"Ke dapur," jawab Tiara lalu berjalan ke dapur.


Tiara mengambil sapu lalu membersihkan gudang, dia menggunakan kekuatannya mengubah gudang menjadi kamar. Seprai telah terpasang, empat bantal telah siap digunakan dan pendingin ruangan telah dinyalakan. Selesai mengubah gudang menjadi kamar, buru-buru ia pergi ke kamar Alex.


Tiara mengganti seprai berkas persetubuhan lalu berjalan cepat menuju dapur. Tamrin melirik kepada Tiara sedang membawa seprai.


"Bau pandan," kata Tamrin mengendus-endus aroma di sekitarnya.


"Iya, benar. Bau pandan," sambung Wulan.


Mendengar hal itu wajah Alexander merah padam, dia terdiam sambil memainkan Stik Play Station di kedua tangannya. Dia tidak bisa memberitahu mereka, mengenai seprai hasil persetubuhannya tadi siang.

__ADS_1


__ADS_2