
Keesokan harinya, Tamrin baru saja tiba di kelas. Suasana kelas begitu kondusif, tidak seperti kemarin yang heboh mengerumuni meja tempat Wulan dan Tiara duduk. Dia melihat Wulan, duduk seorang diri melirik ke arah kaca.
Kedua kantong mata agak hitam dan raut wajahnya terlihat mengantuk. Sesekali, terlihat menguap lalu membaringkan kepalanya di atas meja.
Tamrin pun duduk di sampingnya, dia kembali mengendus-endus aroma tubuh Wulan seperti kemarin. Wulan melirik ke arahnya, raut wajahnya tersipu malu sambil menahan ngantuk.
Tamrin sambil mengendus berkata, "Aroma parfum baru elu, masih wangi seperti kemarin."
Wulan, menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangan di atas meja. Dia pun membalas, "Terserah, cium aroma ku sepuasnya. Aku mau tidur," ujarnya begitu o
pasrah.
Tidak berselang lama, Alexander dan Tiara baru saja tiba di kelas. Berbeda dengan Wulan, mereka berdua terlihat penuh aura keceriaan. Padahal kemarin, Tiara cemberut akibat tingkah Alex yang mencium dan mengendus punggung Wulan hingga menindih tubuhnya.
"Cie yang habis baikan," kata Tamrin pada mereka berdua.
Alexander melirik ke arah kaca dengan tersipu malu sambil berkata, "Apaan sih."
Wulan bangkit, dia membalikkan posisi duduk hingga duduk berhadapan dengan Tiara. "Tiara, gue Tidak tahan lagi. Orang di sekitarku berlaku aneh, banyak serangga hinggap di tubuhku. Paling parahnya lagi, aku mendengar suara ketukan kamar. Kamu tau sendiri, kamarku ada di lantai dua!"
Tiara tertawa, dia memasukkan tangan kanannya lalu menjentikkan jari sambil berkata, "Oke, aku mengerti."
Seketika, munculah sebuah botol parfum berwarna hijau tosca digenggaman tangannya. Mereka semua, melihat botol parfum yang dikeluarkan oleh Tiara di dalam meja. Sekali semprot, aroma harum pada tubuh Wulan menghilang.
Alexander dan Tamrin mendekati Wulan mengendus-endus sekitar tubuh Wulan.
Tamrin sambil mengendus berkata, "Aromanya sudah tidak ada lagi."
"Iya, elu benar Tamrin," sambung Alex sambil mengendus-endus sekitar Wulan.
"Sebenarnya, kalian berdua pakai parfum apa sih?" tanya Tamrin begitu penasaran.
Sekali lagi, Tiara memasukan tangan kanannya ke dalam meja. Sebuah botol parfum berwarna emas dalam sekejap muncul digenggaman tangannya. Sekarang, kedua botol parfum itu berada di atas meja.
Tiara mulai menjelaskan, bahwa kedua parfum miliknya berasal dari Negeri Kayangan lebih tepatnya di Olympus. Di dalam botol parfum kuning, terdapat cairan ekstra bunga berasal dari Negeri Kayangan. Para Dewa, bidadari dan malaikat sering memakainya setahun sekali. Tanpa parfum tersebut, penduduk langit tetaplah beraroma harum. Sekali semprot, aroma parfum bisa bertahan hingga dua bulan.
Tetapi ada resiko, jika menggunakannya lebih dari satu semprotan. Pada semprotan kedua, para makhluk berlawanan jenis kelamin akan mendekat. Mereka akan terpikat dan patuh segala perintah pengguna parfum tersebut.
Lebih dari dua semprotan, mereka akan mengejar untuk bercinta dan bahkan lebih parahnya akan memakan pengguna parfum layaknya kanibal. Pada parfum kedua, terdapat Ekstrak tumbuhan asal Negeri Kayangan. Sekali semprot, efek dari aroma parfum sebelumnya akan menghalang.
Jika dari satu semprotan, maka aroma tubuh makhluk yang terkena semprotan akan menghilang. Akibatnya, makhluk itu tidak memiliki aura dan berjalan hampa layaknya zombie.
"Tapi Tiara, kenapa kemarin Bos, Tamrin dan keluargaku bertingkah aneh? Apa mereka terkena efek dari semprotan ke dua?" tanya Wulan.
Tiara menggelengkan kepala, "Mereka hanya senang dengan aroma parfum, hanya itu."
"Itu benar Wulan, gue merasa nyaman dengan aroma parfum pada tubuh elu," sambung Tamrin.
"Wulan saja seperti itu, bagaimana kalau cowok yang memakainya?" kata Alex kepada mereka semua.
__ADS_1
Alexander saling melirik satu sama lain, mereka membayangkan jika seandainya menerima dua semprotan dari parfum tersebut. Pada gadis berdatangan, membuat mereka menjadi cowok populer di sekolah. Mereka tersenyum lebar, memberikan sebuah isyarat rayuan kepada Tiara.
Baru saja Alexander dan Tamrin membuka mulut. Wulan pun berkata, "Gak boleh!"
"Gak boleh, apa? Baru saja buka mulut?!" tanya Alex.
"Kalian berdua, pasti mau merayu Tiara untuk mendapatkan semprotan parfum itu bukan? Terus, kalian berdua berencana membuat kerajaan Harem dan berbuat nakal dengan para gadis."
Alexander dan Tamrin begitu terkejut, mereka tidak menyangka Wulan sudah mengetahui niat mereka terlebih dahulu. Kemudian Tamrin pun berkata, "Mana ada! Jangan sok tau elu!"
Wulan tertawa, dia pun tersenyum tipis lalu berkata, "Kamu lupa? Gue ini gadis ramal."
Alexander merasakan aura lalu ia melirik ke samping. Dia melihat Tiara sangat cemberut, kedua pipinya mengembang lalu berkata, "Benarkah itu?"
"Jangan begitu, kan aku ada kamu," balasnya kepada Tiara.
Tiba-tiba, Wulan melompat ke atas meja lalu mengambil kedua parfum itu seiring datangnya Hana. Melihat hal itu Tiara, Alexander dan Tamrin terkejut.
Hana berdiri di samping meja, dia tersenyum lebar lalu berkata, "Ada apa ini rame-rame? Cie Ketua Kelas, apa nih maksud maksudnya ngomong, kan ada kamu?"
"Anu! Maksud gue, kalau ada apa-apa kan ada kamu sebagai Wakil Kelas," jawab Alex terbata-bata.
"Hmm..., masa sih? Tapi jangan berharap, sekarang Tiara dekat sama Ilham anak kelas A. Benarkan Tiara?"
Tiara tertawa lalu berkata, "Apaan sih!"
"Pokoknya, kalau jadian Tiara harus traktir?" canda Hana.
"Jangan dipikirkan apa kata Gadis Gosip itu, Bos," kata Tamrin.
"Betul Bos, Hana memang gadis seperti itu. Aku pun juga pernah jadi bahan gosip. Apalagi kejadian tadi pagi," sambung Wulan.
"Memangnya ada kejadian apa tadi pagi?" tanya Alex.
"Tadi pagi sewaktu berjalan ke kelas, Bobi temannya Ilham datang menghampiriku. Dia berjalan dan menempelkan tubuhnya lalu sok asik mengajakku berbicara. Kebetulan ada Hana melintas, terus dengan seenaknya menyimpulkan bahwa gue lagi dekat sama Bobi," ujar Wulan menceritakan kejadian tadi pagi.
Tiara tersenyum, dia memeluk lengan Alex lalu berkata, "Jangan khawatir sayang, aku dan Ilham hanya berteman. Kamu lupa? Kita sudah menikah."
Wulan dan Tamrin langsung batuk mendengar apa yang dikatakan oleh Tiara. Melihat reaksi kedua sahabatnya, wajah Alex langsung merah padam lalu menempelkan wajahnya di atas meja sambil menyembunyikan rasa malu. Begitu juga dengan Tiara berpaling sambil tersipu malu.
Alexander teringat Wulan yang mengambil parfum Tiara secara tiba-tiba. Dia penasaran kenapa Wulan mengambil kedua parfum tersebut.
Alexander kembali duduk tegak, dia memandang Wulan lalu bertanya, "Hei, Wulan. Kenapa kamu ambil parfum Tiara?"
"Pencegahan," jawab Wulan.
"Pencegahan? Apa maksudnya?"
"Aku mendapat penglihatan masa depan. Di dalam penglihatan ku, Hana mengambil botol parfum itu lalu menyemprotkannya lebih dari tiga kali. Makanya, aku buru-buru langsung mengambil parfum itu."
__ADS_1
Tiara bernapas lega lalu ia berkata, "Terima kasih Wulan, berkat kamu Hana selamat dari bencana."
"Sama-sama, tapi maaf gara-gara kejadian tadi rahasia status kalian menjadi taruhan," balas Wulan.
Alexander tersenyum lalu berkata, "Santai Wulan, setidaknya tidak ada kekacauan di sekolah kita."
Pintu kelas mulai terbuka, Sang Guru mulai memasuki kelas sebagai awal dimulainya kegiatan belajar mengajar. Tiga jam kemudian setelah pelajaran olahraga, Tiara dan Wulan duduk di samping jalan lorong.
Nafas mereka ngos-ngosan setelah bermain voli. Tiara berdiri dia berkata kepada Wulan, "Haus, aku mau ke kantin. Mau titip apa?"
"Tidak, kamu saja yang pesan. Aku tunggu di sini," balas Wulan.
Tiara berjalan seorang diri menelusuri lorong sekolah. Para siswa menyapa Tiara, gadis itu dengan ramah membalas sapaan mereka semua. Di depan Tiara melihat Winda, Kartika dan Tantri.
Mereka bertiga sedang asik berbincang-bincang. Raut wajah ceria mereka seketika menjadi dingin ketika melihat Tiara. Melihat hal itu, Tiara tersenyum mengangguk ramah pada mereka bertiga.
"Winda lihat ada Si ******, " bisik Kartika.
Winda tersenyum jahat, dia menyuruh Tantri untuk menjulurkan kaki Tiara agar tersandung. Tidak disangka, Wulan pun datang lalu menendang kaki Tantri cukup kencang.
Tantri memegang kaki kanannya, "Aduh-aduh!" ujarnya kesakitan.
Wulan melirik
Wulan melirik kepada Tantri, "Maaf-maaf, gue gak sengaja. Aku kira ranting, ternyata kaki nenek sihir."
Wulan mendorong Tiara menjauhi mereka bertiga lalu berjalan bersama menuju kantin. Tantri pun sangat geram mendapatkan perlakuan dari Wulan. Dia menatap Wulan dari kejauhan dengan penuh amarah."
Tantri melihat Wulan dengan penuh amarah sambil berkata, "Tunggu pembalasan gue!"
Kartika dan Winda langsung memeluknya, mereka memijat kaki Tantri sambil berkata, "Sabar Tantri, sabar."
"Siapa sih, nama teman Si ****** itu? Gue kesel pengen banget jambak rambutnya!"
"Wulan," jawab Kartika.
Tantri mengepalkan kedua tangannya sambil berkata, "Wulan!"
"Tenang Tantri, suatu saat elu pasti dapat kesempatan membalas Wulan," kata Winda berusaha menenangkannya.
Sementara itu di koridor sekolah, Wulan dan Tiara berjalan bersama menuju kantin. Tiara teringat, saat Wulan menendang kaki teman Winda. Dia penasaran, mengapa Wulan melakukan hal tersebut tersebut.
"Kenapa kamu tendang kakinya?"
Wulan menoleh kepada sahabatnya, "Mereka ingin menendang kakimu sampai jatuh. Setelah itu Winda Si Nenek Sihir langsung menyirammu dengan minumannya."
"Gak boleh begitu Wulan, kasihan dia. Bagaimana kalau kakinya cedera? Kamu mau tanggung jawab?"
"Kamu ini, ngapain kasihani mereka? Sesekali harus dikasih pelajaran. Kalau tidak nanti kebiasaan."
__ADS_1
Tiara tersenyum lalu berkata, "Tetap saja kamu salah Wulan. Kalau kamu bersikap seperti itu, apa bedanya kamu dengan mereka? Setidaknya, ada cara yang lebih baik dari pada harus menendang. Pokoknya ulangi lagi," ujarnya menasehati.
Wulan tersenyum lalu berkata, "Iya," balasnya singkat.