
Alexander dan tiga temannya melangkah masuk ke dalam. Mereka melihat-lihat, beragam alat musik berjajar rapih. Tamrin melihat Alexander, memegang Gitar Auditorium berwarna coklat muda.
"Ayo Bos, main! Gue penasaran lihat Bos main dengan dua gitar sekaligus!" ujar Tamrin tak sabar.
"Gak apa-apa, satu gitar aja Bos," sambung Wulan.
Dia menarik sebuah meja kecil dan kursi sejauh dua langkah di depan piano. Mendengar suara tarikan meja, membuat Wulan dan Tiara menoleh padanya.
Kemudian, dia letakkan sebuah suling plastik di atas meja dan Capo ia jepit pada fret pertama pada gitar. Mereka bertiga duduk di atas lantai, tidak sabar melihat Sang Ketua Serangkai menunjukkan kemampuannya.
Sorot mata mereka bertiga membuat kedua tangan Alex gemetar. Kepalanya terasa agak pening, ia pun menoleh ke samping kanan.
"Kalian, bisa kalian berbalik?"
"Kenapa?" tanya Wulan lalu Alexander menjawab,"Gue grogi, kalau sudah seperdua jalan kalian boleh balik badan," pinta Alexander pada mereka bertiga.
"Hmm...,"
Mereka bertiga, balik badan dengan raut wajah datar. Setidaknya, dengan balik badan membuat Alexander tidak grogi. Ia mengambil suling di tangan kanannya lalu mulai meniupnya, seiring srtuming atau genjrengan gitar dengan tangan kiri.
Alunan musik, berjudul My Heart Will Go On membuat Tamrin, Wulan dan Tiara berbalik badan. Mendengar alunan tersebut, membuat mereka bertiga seketika berada di sebuah kapal besar di tengah lautan.
Lihainya Alex mengkombinasikan seruling dan gitar, membuat Tamrin terkagum-kagum. Tiupan pada suling telah berakhir, Alexander meletakkan suling tersebut di atas meja. Dia mulai memainkan gitar dan mengantarkan tiga temannya menuju lautan.
Cara Alexander memainkan gitar, membuat Tamrin teringat seorang Youtuber yang terkenal dengan piawainya dalam memainkan gitar. Orang itu, dapat memainkan dua melodi dalam satu gitar. Jari-jarinya bagaikan mesin yang lincah membuat tiga alunan musik sekaligus.
Dia tidak memiliki studio, namun dapat menampilkan bakatnya dalam kesederhanaan. Berbagai pujian dari Gitaris seluruh Dunia, menjadi hal biasa baginya. Walau mendapatkan pujian, dia tidak besar kepala dan tetap dalam kesederhanaannya.
"Fingerstyle Alif Ba Ta, keren!" puji Tamrin.
"Alif Ba Ta? Siapa itu?" tanya Tiara.
"Youtuber terkenal asal pribumi. Dia bisa memainkan dua alat musik, dua melodi dan tiga suara alat musik sekaligus dengan gitarnya," jawab Wulan lalu Tiara membalas,"Aku tidak tau itu."
"Tenang, besok setelah istirahat aku perlihatkan," timpal Wulan.
Mereka bertiga, tersenyum melihat dan menikmati alunan gitar dibawakan oleh Alex. Begitu juga dengan Alex seiring jiwanya masuk dalam alunan musik. Ia tidak hanya memetik gitar tetapi merasakan irama dalam jiwanya.
Wulan dan Tamrin, dibuat terkejut sekaligus kagum ketika Capo yang menjepit pada Fret pertama, berpindah pada Fret kedua dengan mudah tanpa mengacaukan irama musiknya. Fret sendiri merupakan besi melintang pada fretboard terbuat dari bahan logam.
Tiara teringat, larangan Kak Tigor agar tidak memasuki Ruang Musik selain anggota Ekstrakulikuler. Kemudian, dia menoleh kepada Wulan sedang menikmati irama gitar lalu menepuk pundaknya sebanyak tiga kali.
"Ada apa?" tanya Wulan.
__ADS_1
"Seharusnya kita gak ke sini, bagaimana kalau Kak Tigor datang kemari?" kata Tiara balik bertanya.
"Hmm..., betul juga."
"Kaku amat, kalau Kak Tigor itu tanya suruh siapa masuk ke mari. Bilang saja, iya ndak tau kok tanya saya," timpal Tamrin membuat mereka berdua tertawa pelan.
"Ha.ha.ha, awas ya, kalau ditanya elu yang jawab," ujar Tiara lalu Tamrin membalas,"Santai-santai."
Benar saja, tidak berselang lama seorang lelaki berambut undercut hitam, mengenakan almet hitam masuk ke dalam ruangan. Irama gitar sedang dimainkan oleh Alexander terhenti. Lelaki itu tidak lain adalah Tigor.
Mereka semua, menoleh kepadanya yang sedang terdiam sambil melipat kedua tangan. Wajahnya terlihat kesal, menatap mereka berempat.
"Suruh siapa kalian ke sini?" tanya Kak Tigor.
Wulan dan Tiara, teringat jawaban Tamrin ketika Kak Tigor bertanya seperti itu. Buru-buru, mereka berdua berpaling sambil menahan tawa. Mereka berdua, menepuk kedua pundak Tamrin secara bersamaan.
"Hei, Tamrin ayo cepat jawab," bisik Wulan membuat bulu kuduk Tamrin berdiri.
"Cepat Tamrin, Kak Tigor nungguin tuh," sambung Tiara berbisik padanya.
"Ya, Ndak tau kok tanya saja," ujar Tamrin sembari tertunduk dengan intonasi rendah.
Alexander terdiam terheran-heran, melihat mereka bertiga menahan tertawa. Kak Tigor, menoleh pada mereka bertiga sejak tadi tertunduk sambil menahan tawa. Ia terlihat kesal memandang mereka bertiga.
Mereka bertiga terdiam, perlahan mereka melirik ke arah Kak Tigor dengan raut wajah datar seperti tidak terjadi apapun. Ujung kanan sepatu Kak Tigor, mengetuk lantai secara berulang.
"Padahal gue peringatkan kalian masuk tanpa izin, kecuali anggota Ekskul Musik. Seandainya ada alat musik ada yang hilang. Kalian mau tanggung jawab?!"
"Maaf, kak," ucap kompak mereka berempat.
"Ya sudah, begini saja. Gue kasih dua pilihan. Pertama gabung Ekskul ini atau kalian pergi dari sini."
Tigor menunjuk ke arah Wulan,"Hei, kamu. Namamu Alex bukan?"
"Iya, kak," jawab Alex lalu Kak Tigor memberi pilihan,"Mau gabung atau tidak?"
Alexander tertunduk, kedua jari kanan menjepit dagunya sambil berpikir. Sorot matanya yang serius, memikirkan tawaran dari Kak Tigor. Sebenarnya, bukan dua kali ia melintasi ruang musik melainkan lima kali.
Setiap kali melintasi Ruang Musik, sorot matanya selalu tertarik pada alat musik berada di dalam ruangan. Rasanya, dia ingin memainkan semua seorang diri ketika waktu sepi. Begitu juga sebelum Tiara tinggal satu rumah dengannya.
Irama gitar yang dia bawa, membuatnya terhindar dari kesepian. Walau tidak berlangsung lama, tapi waktu tersebut sangat berharga baginya. Dia pun tersenyum sembari melirik pada Kak Tigor.
"Saya gabung," kata Alexander memberikan keputusan.
"Alasannya?"
__ADS_1
"Setiap kali melintas, entah kenapa mata saya selalu melirik alat musik berada di dalam ruangan ini. Selain itu, tidak ada Ekskul membuat saya tertarik. Dari pada tidak ada kegiatan, lebih baik saya gabung di Ekskul ini," jawab Alex.
"Hmm..., terserah. Bagaimana denganmu, gadis rambut ikal?" tanya Kak Tigor kepada Wulan.
"Bos gabung, saya ikut gabung. Kebetulan, gue ingin bernyanyi sambil memainkan piano," jawab Wulan.
"Keren, kamu bisa main piano?" tanya Kak Tigor.
"Bisa, kak. Dulu dari kelas lima SD sampai kelas dua SMP saya pernah ikut Les Piano."
"Menarik. Bagaimana dengan kalian berdua?"
"Bos, Join. Gue juga ikut Join," jawab Tamrin.
"Aku juga ikut gabung!" sambung Tiara dengan bersemangat.
Akhirnya, mereka berempat secara resmi bergabung ke dalam Ekskul Musik. Mereka berdua duduk membentuk sebuah lingkaran kecil. Kak Tigor, membagikan selembar formulir pendaftaran.
Mereka sedikit terkejut, melihat tulisan Ekskul Band padahal Kak Tigor berkata bahwa Ekskul ini adalah Ekskul musik. Kemudian, mereka mengisi data pada kertas di hadapan mereka.
"Kak, di sini tertulis Ekskul Band. Padahal ini Ekskul Musik?" tanya Tamrin.
"Sebenarnya, Ekskul Musik sudah lama bubar. Gue baru saja, mengajukan Proposal Pembentukan Ekskul Band. Senang rasanya, melihat kalian berempat bergabung ke Ekskul ini. Rasanya pertemuan kita sudah ditakdirkan," ujarnya kepada mereka berempat.
"Mana anggota yang lain?" tanya Alexander.
"Tidak ada, hanya kalian berempat saja."
"Hmm..."
Selesai mengisi daftar formulir, mereka berempat memberikan kertas tersebut kepada Kak Tigor. Maka, secara resmi mereka berempat telah bergabung ke dalam Ekskul Band.
Kak Tigor berjalan keluar, ia mengambil lima bangku di dalam kelas sebelah. Kemudian, dia meminta mereka untuk duduk pada bangku telah disediakan berhadapan dengan Kak Tigor.
"Selamat Datang di Ekskul Band, maaf atas ketidak nyamannya. Maklum, namanya juga baru di bentuk. Silahkan memperkenalkan diri," ujarnya lalu meminta mereka berempat untuk memperkenalkan diri.
Satu persatu, mereka berempat mulai memperkenalkan diri. Kak Tigor sedikit terkejut, mengetahui bahwa mereka berempat satu kelas. Ia pikir, mereka berasal dari kelas berbeda dan bertemu di suatu tempat.
Kak Tigor juga memperkenalkan diri pada mereka berempat. Dia berkata, bahwa selain pendiri Ekskul ia juga merupakan anggota OSIS menjabat sebagai Sekertaris.
Mengetahui, bahwa Kak Tigor menjalani dua kegiatan sekaligus membuat mereka terkagum-kagum. Sebab, tidak ada siswa yang sanggup menjalani tiga kehidupan.
"Perkenalan selesai, sekarang Wulan giliranmu bermain piano," ujarnya mempersilahkan Wulan untuk memainkan piano.
Wulan berdiri, ia berjalan mendekati sebuah bangku hitam menghadap piano. Microphone dan piano sudah menyala, ia pun menarik nafas lalu menghembuskan secara perlahan. Jari-jarinya, mulai memainkan piano sembari wajahnya sedikit mendekat pada microphone.
__ADS_1