
Tiara dan Tamrin, telah sampai terlebih dahulu bersama para tim inti kelas 10 IPS F. Gadis itu melirik ke sana dan kemari mencari Alex.
Tamrin melihat Tiara melirik ke sana dan kemari. Dia pun bertanya, "Ada apa?"
Tiara sambil melirik ke sana dan kemari balik bertanya, "Di nama Alex?"
Belum Tamrin menjawab, sebuah bola sepak menggelinding mendekati Tiara. Gadis itu menginjak bola tersebut lalu menoleh ke arah lapangan. Ilham dan Hana melambaikan tangan ke arahnya.
Selain Ilham dan Hana, Winda juga terlihat di tengah lapangan. Sorot mata Winda, menatap dirinya dengan raut wajah tidak suka. Tiara mengangkat kakinya ke belakang, dia langsung menendang bola itu hingga ke tengah lapangan.
"Tiara, ayo sini!" panggil Hana dan Ilham.
Tiara berlari ke tengah lapangan sambil melambaikan tangan mendekati mereka. Melihat Tiara mendekat, Winda melipat kedua tangannya lalu ia pun berjalan menjauh dari lapangan.
"Winda, elu mau ke mana?!"
Winda terdiam, dia membalikkan badan sambil berjalan mundur, "Bangku penonton, sebentar lagi pertandingan kelas kita akan di mulai."
Winda kembali membalikkan badan, dia terus berjalan menjauhi mereka. Dari kejauhan Ilham pun membalas, " Ayolah, santai saja! Tim kelas kita masih belum lengkap! Ayo sini, kita main bareng!"
Gadis itu tidak menanggapinya, dia terus berjalan dan duduk di bangku penonton. Kedua tangannya mengepal, sorot matanya menatap tajam Tiara dengan penuh kebencian. Tiara terdiam memperhatikan Winda dari kejauhan.
"Aduh!" ucapnya ketika sebuah bola mengenai kepalanya.
Ilham melambaikan kedua tangannya, "Oper ke sini!"
Tiara tersenyum lalu ia pun menendang sambil berkata, "Ini!"
Mereka bertiga, terus bermain bola hingga seluruh tim kedua belah pihak telah berkumpul. Ilham berjalan dan berkumpul bersama timnya, begitu juga dengan Tiara dan Hana berjalan menuju bangku penonton.
Sementara itu Alexander dan Wulan baru saja datang. Alex berjalan mendekati tim sedang duduk menunggu dirinya. Seluruh anggota tim, menggunakan kaos dan baju olahraga dengan motif serta warna bervariasi.
Alexander berdiri menghadap teman-teman satu timnya, "Sudah berkumpul semua?"
Seorang lelaki bertubuh agak gemuk bernama Dodi menjawab, "Sudah Bos, kecuali David dan Samuel."
"Ya, sudah kita pemanasan dulu lalu tunggu perwakilan tim lawan datang ke sini," balas Alex memberikan arahan.
Mereka semua berdiri lalu melakukan pemanasan yang dipimpin oleh Tamrin. Selesai pemanasan, mereka menunggu perwakilan tim datang. Alexander melihat bangku penonton dari tim lawan.
Seluruh siswa kelas 10 IPA A, hadir dalam pertandingan untuk memberi dukungan. Berbeda dengan tim kelas 10 IPS F yang hadir hanya hitungan jari.
Alexander menepuk pundak Tamrin, "Tamrin, coba elu lihat," ujarnya sambil menunjuk pada suporter tim lawan di bangku penonton sebrang.
__ADS_1
"Royal sekali mereka, sampai bawa spanduk segala. Padahal ini bukan pertandingan sungguhan."
Mereka berdua melirik ke belakang, melihat bangku penonton tim kelas 10 IPS F. Alexander pun berkata, "Kelas kita yang hadir hanya hitungan jari."
Tamrin, menunjuk pada seorang gadis berkacamata dan berkulit buduk bernama Nanda, "Lihat, ada Nanda di sana."
"Gue salut, meskipun dia di jauhi dan jarang bicara banyak Nanda masih sempat-sempatnya hadir," ujar Alex.
"Bos, benar."
Tim lawan telah selesai melakukan pemanasan. Ruben, perwakilan siswa kelas IPA A keturunan blasteran Indonesia dan Australia datang mendekat.
Para tim lawan, sudah mengenakan kaos sepak bola mereka sendiri. Kaos tim lawan, berwarna merah hitam dengan motif macan kumbang membuat kelas 10 IPA A terlihat keren.
Ruben berdiri diantara Alexander dan Tamrin. Dia pun bertanya, "Sudah siap?"
"Sudah," jawab kompak Alexander dan Tamrin.
Langit semakin gelap, kedua tim mulai memasuki lapangan. Alexander dan Ilham, selaku Kapten Tim saling berhadapan. Seorang anggota Ekskul Sepak Bola yang berperan wasit, berdiri diantara mereka.
Wasit itu, mengeluarkan sebuah koin lalu meminta mereka untuk memilih salah satu apakah angka atau gambar. Alexander memilih angka, sedangkan Ilham memiliki gambar.
Koin dilempar ke atas, perlahan koin itu turun dan mendarat di punggung lengan Sang Wasit. Sang Wasit menepuk koin itu hingga Alex dan Ilham tidak bisa melihatnya.
Ilham mengoper bola ke gelandang sayap kanan. Tim kelas IPA A memulai permainan dengan umpan pendek. Tamrin dan Rudi, berlari merebut bola dari sisi kiri.
Sayangnya, bola itu langsung di oper pada salah satu bek. Kemudian, bola itu dioper kepada kiper. Sang Kiper melakukan tendangan jarak jauh.
Bobi dan Martin sebagai dua sayap, berlari secara bersamaan lalu Ilham menerobos masuk ke tengah. Bola itu berhasil Ilham dapatkan, dia pun berlari menuju wilayah pertahanan. Penguasa bola serta kekompakan antar striker dan gelandang sayap, membuat gelandang tim IPS F kewalahan.
Ilham mengoper kepada Martin. Martin berlari menembus pertahanan dari sayap kanan. Kemudian, dia menendang ke arah kotak penalti.
Alexander melompat, dia berhasil menyundul bola hingga keluar kotak penalti. Sayangnya, bola itu berhasil Ilham dapatkan. Ilham berlari ke arah Alex, melihat wajahnya membuat Ilham terbakar emosi.
Ilham sambil berlari pun berkata, "Rasakan ini!" ujarnya menendang bola dengan sangat keras ke arah wajah Alex.
Sementara itu di bangku penonton, Tiara menunjuk kepada bola tersebut. Perlahan, laju bola itu berkurang lalu Alexander melompat dan mengenai dadanya. Alexander berlari melewati Ilham sambil menggiring bola.
Tiara menarik jarinya, dia pun duduk bersandar sambil melebarkan kakinya sambil berkata, "Hampir saja. Terima kasih Wulan sudah memberitahuku. Tendangan itu, apa Ilham sengaja?" tanya Tiara kepada Wulan.
"Entahlah," balas Wulan dengan singkat.
Ilham terdiam, dia tidak percaya melihat kecepatan pada bola itu berkurang. Padahal, dia menendang bola itu dengan sangat kuat.
__ADS_1
Di bangku penonton kelas IPA A, Winda pun berdiri lalu ia dengan suara lantang berkata, "Ayo Ilham! Rebut bolanya."
Teriakan Winda membuat Ilham tersadar. Dia langsung berlari mengejar Alex dari belakang. Hujan mulai turun dengan derasnya.
Angin mulai berhembus dengan kencang. Alexander, terus menggiring bola menuju jantung pertahanan. Ilham semakin geram, dia berlari ke samping Alex lalu melakukan tekel dengan sangat keras.
"Agh!" rintihannya ketika kaki Ilham berhasil mengenai kakinya.
Alexander terjatuh, buru-buru dia melakukan umpan silang kepada Rudi. Ketika Rudi akan mencetak gol, Ruben pun berlari dan melakukan seleding tekel. Kemudian Ruben mengoper kepada Bobi dengan melakukan tendangan jarak jauh.
Bola berhasil Bobi dapatkan, dia mengoper kepada Martin dan akhirnya Martin berhasil mencetak gol. Suporter kelas IPA A bersorak menyambut gol pertama tim mereka. Sedangkan tim IPS F harus menanggung kecewa.
Alexander berjalan pincang kembali ke posisinya. Tamrin berlari mendekati Alex lalu menepuk pundaknya sambil berkata, "Kaki elu gak apa-apa?"
"Gak, apa-apa," jawab Alex sambil berjalan pincang.
Tamrin sambil merangkul pun berkata, "Aku melihatnya, Bos. Dia melakukannya dengan sengaja."
"****** Ilham! Padahal ini pertandingan persahabatan!" geram Alex.
"Sabar, Bos. Sebaiknya Bos tetap di lini pertahanan. Jangan nekat masuk ke lini pertahanan musuh. Apalagi, Bos itu masih pemula."
"Thanks, Tamrin. Gue akan coba pertahanan gawang kita."
Tamrin sambil menepuk pundak Alex sambil berkata, "Good Luck!"
Hujan terus turun dengan lebat, para pemain berkumpul ke lini masing-masing. Para pemain Tim IPS F melihat Alexander berjalan pincang.
"Ketua, kaki elu gak apa-apa?" tanya Dodi.
Alexander sambil menahan rasa sakit berkata, "Gak apa-apa."
"Jangan dipaksakan, Bos. Kita gak masalah walau harus main dengan sepuluh orang," ujar Dandi.
"Inginnya, begitu sayangnya gue tidak tega melihat tim sendiri kekurangan orang," balas Alex.
"Bos, gue sempat lihat elu diseleding sama Ilham itu! Seharusnya kita dapat tendangan bebas!" geram Rudi mengingat apa yang dilakukan oleh Ilham.
"Parah banget Ilham! Wasit buta ya?!" geram Fajar.
Alexander memajukan kedua tangannya lalu mengayunkan ke sambil berkata, "Tenang guys, ini hanya pertandingan persahabatan. Kita balas babak selanjutnya," ujarnya berusaha menenangkan tim-nya.
Setelah itu mereka semua kembali di posisi masing-masing. Wasit membunyikan peluit sebagai mulainya pertandingan.
__ADS_1