Senar Takdir

Senar Takdir
Perbincangan


__ADS_3

Sebaliknya dengan Wulan. Dia harus kecewa melihat Stok Kebab milik Saladin telah habis. Rencana Kedai itu akan tutup.


"Tidak!" ucap Wulan begitu kecewa.


"Sabar-sabar, masih ada hari besok."


"Tapi Tamrin! Kedai ini bukannya sore dan belum tentu kebagian," balas Wulan.


"Sudahlah, jangan merengek-rengek kayak bocil. Mumpung ada di sini, lebih baik kita cari menu yang lain. Bagaimana?"


Wulan menganggukkan kepala dengan raut wajah kecewa. Mereka berdua, mulai berjalan sambil melihat-lihat berbagai Kedai Penjual Makanan. Siapa tau, ada makanan menarik yang bisa dinikmati.


Wulan dan Tamrin, berjalan pinggir jalan sambil melihat-lihat suasana di tempat itu. Para pemuda penikmat suasana malam Minggu, terlihat menongkrong sambil bermain gitar. Beberapa gadis duduk dan menikmati menu makanan di Kedai pinggir jalan.


"Yuk, kita ke sana," kata Wulan sambil menunjuk pada sebuah Kedai Tteokbokki.


Mereka berdua, memesan Teokbokki lalu duduk berdampingan pada sebuah kursi panjang, terbuat dari kayu di bawah pohon yang rindang. Wulan dan Tamrin, mulai menikmati Teokbokki.


"Hmm...., enak juga," kata Wulan mengomentari citra rasa makanan di dalam mulutnya.


"Hei, gadis ramal. Kamu sering keluar setiap malam Minggu?" tanya Tamrin lalu Wulan menjawab, "Tidak. Ini pertama kalinya aku pulang malam. Keluar malam pun karena situasi tertentu. Sayang sekali, aku tidak dapat Kebab itu."


"Ya, ampun. Dasar gadis nekat, setidaknya hubungi teman-temanmu untuk ditemani."


"Tidak, sempat. Kebab keburu habis," balas Wulan sambil mengunyah makanan.


Tamrin terdiam menggelengkan kepala sambil mengunyah makanannya. Wulan teringat, ketika ia melihat Ilham berada di tempat itu.


"Aku tidak percaya, atlet Sepak Bola seperti Ilham terlibat balapan liar."


"Ha.ha.ha! Aku kira Bos kita saja yang polos. Tidak aku sangka kamu juga sama."


"Hmm..."


"Dengar gadis polos. Setiap manusia, terlahir dengan dua sisi layaknya bila mata uang. Di depan, dia terlihat baik dan menarik. Tetapi di belakang, dia memiliki sisi jahat yang buas. Mungkin saja, Ilham yang kita lihat merupakan sedikit dari sisi gelapnya."


Selesai menjelaskan hal itu, dia teringat pertandingan sepak bola melawan kelas 10 IPA A yang berlangsung Sabtu depan. Alexander dipilih menjadi Kapten Tim, dari respon Alex ketika dipilih menjadi Kapten Tim Tamrin tau bahwa Alexander tidak bisa bermain bola. Dirinya membayangkan, kacaunya permainan saat dipimpin oleh Alex.

__ADS_1


"Wulan, aku teringat oleh pertandingan kelas kita Sabtu depan. Bisakah kamu meramalnya?"


Wulan menganggukkan kepala, ia mengeluarkan kartu tarot di dalam tas selempang kecil biru miliknya. Dia mulai mengocok kartu tersebut lalu mengambil dua secara acak. Gadis itu melihat, gambar pada kartu tersebut lalu dia menganggukkan kepala.


Melihat raut wajah Wulan terlihat datar membuat Tamrin penasaran. Selesai melihat kartu, dia memasukkan Kartu Tarot miliknya kembali ke dalam tas.


"Jadi, bagaimana?" tanya Tamrin.


"Menang dan kalah," jawab Wulan lalu Tamrin kembali bertanya, "Apa maksudmu?"


"Soal itu, nanti kamu tau sendiri. Pertandingan ini bukan berfokus pada pertandingan antar kelas. Tetapi berfokus pada dua pangeran yang bertanding menarik perhatian Sang Putri."


"Maksudmu, Alex dan Ilham?" tanya Tamrin untuk memastikan.


"Tepat sekali."


"Tapi, Bos kita tidak bisa main bola. Melihat bola pun sepertinya ketakutan."


"Tenang, soal Bos kita serahkan saja pada Tiara."


Tamrin menganggukkan kepala, dia kembali menikmati Tteokbokki miliknya hingga habis. Dia melihat pistol air milik Wulan terpasang pada sabuk sisi kiri.


"Buat jaga-jaga. Malam hari itu sangat berbahaya, jadi aku memutuskan untuk membawanya. Tidak mungkin membawa pistol sungguhan dan senjata tajam. Bisa-bisa, Senin besok aku bersekolah di dalam sel."


"Aku sempat melihat mata kelompok Night Speed. Sebentar kamu isi apa?"


"Campuran cabai dan bawang, hanya itu. Setiap keluar malam, aku sering membayangkan untuk penjagaan."


Mendengar alasan Wulan, membuat Tamrin merasa dirinya kembali berada di Zaman Koboi. Di mana pada zaman itu, banyak sekali bandit membawa senjata api.


Tidak terasa waktu sudah tengah malam. Mereka berdua menaiki motor masing-masing lalu melaju meninggalkan Kawasan Kedai. Tamrin melaju mengikutinya dari belakang.


Sesekali, Tamrin melirik ke arah spion motor untuk memastikan tidak ada yang mengikuti. Dia penasaran, rumah seperti apa yang Wulan tinggal.


Lama diperjalanan, Wulan dan Tamrin memasuki kawasan rumah elit. Mereka berdua berhenti di depan rumah mewah bertingkat. Wulan turun dari motor, dia dorong gerbang lalu dia membalikkan tubuhnya menghadap Tamrin.


Tamrin teringat, perkataan paman dan teman-temannya yang menganggap bahwa Wulan adalah pacarnya. Dia merasa tidak enak pada Wulan atas salah paham dari mereka.

__ADS_1


"Wulan, gue minta maaf."


"Minta maaf soal apa?" kata Wulan balik bertanya.


"Soal paman dan teman-temanku sudah mengira, bahwa kamu itu pacarku. Gue sendiri gak tau, kenapa mereka berpikiran begitu," ujarnya merasa tidak enak.


Wulan menghembuskan nafas, dia tersenyum melihat Tamrin dan ia berkata, "Mungkin karena kita cocok."


Balasan Wulan membuat Tamrin terdiam. Kedua mata tidak berkedip, wajahnya merah tersipu malu. Melihat Tamrin tersipu malu, membuat Wulan ikut tersipu.


"Tamrin, jangan salah paham! Bukannya aku bermaksud aneh-aneh! Hanya sebatas dugaan!" balasnya salah tingkah.


"Santai-santai! Gue juga ngerti!" balasnya dengan wajah merah ikut salah tingkah.


Wulan menuntun motornya masuk ke halaman rumah. Dia melirik ke arah Tamrin sedang duduk di atas motonya.


"Thanks, sudah mengantarku pulang."


"Santai. Lain kali, harus rajin servis motor minimal tiga bulan sekali."


Wulan mengunci pintu gerbang, sedangkan Tamrin mulai melaju mengendarai motor kembali ke bengkel. Setelah mengunci pintu, Wulan membawa motor masuk ke dalam garasi lalu dia berjalan masuk ke dalam rumah.


Raut wajahnya terlihat ketakutan, ketika melihat Ibu dan Papahnya berdiri tegak diam melorot. Wulan mengunci pintu tanpa berpaling memandang kedua orang tuanya.


"Wulan sudah jam berapa?!" tanya Sang Ibu.


"Setengah satu."


"Pergi keluar rumah janjinya sebentar. Gak taunya kebablasan. Makanan terus dipikirkan! Padahal tinggal pesan online!" ujar Sang Ibu Memarahi.


"Kedai Kebab Saladin, belum terima pesan online."


"Aduh, Wulan putri Papah. Setidaknya minta Papah antarkan atau kabari kedua orang tuamu ini, kami khawatir," ujar Sang Papah.


"Maaf, Ibu. Maaf, Papah."


"Karena pulang tengah malam, mulai besok hingga akhir bulan. Kamu dilarang bawa motor!" tegas Sang Papah kepada putrinya.

__ADS_1


Wulan sedih, mendengar ia tidak diperbolehkan membawa motor hingga akhir bulan. Dirinya tidak mencerminkan, kejadian pembegalan yang menimpa dirinya. Dia tidak ingin memperburuk keadaan.


Setelah itu, dia meminta maaf sekali lagi kepada kedua orang tuanya. Selesai meminta maaf, dia berjalan menaiki anak tangga lalu masuk ke dalam kamar. Begitu juga dengan kedua orang tuanya kembali masuk ke dalam kamar.


__ADS_2