
Tiga jam telah berlalu, lonceng pertanda jam istirahat telah berbunyi. Sang Guru berjalan meninggalkan kelas. Seluruh siswa satu persatu, mulai meninggalkan kelas. Buru-buru, Alexander berdiri di depan papan tulis sedangkan Tamrin menutup pintu kelas sebelum siswa lainnya keluar.
"Perhatian semuanya, jangan keluar dulu!" kata Alexander memberikan arahan.
"Ada apa?" tanya Fajar, siswa bertopi terbalik dan celana pensil abu-abu.
"Hari ini, kita akan menentukan jadwal piket. Kalau ingin cepat, silahkan tulis nama dalam gulungan kertas kecil. Biar Tamrin yang melakukan undian dan ditulis di papan tulis," perintah Alex pada seluruh siswa di kelas.
Seluruh siswa di kelas, menulis nama masing-masing di dalam gulungan kertas kecil. Nanda, gadis berambut kepang dua, berkulit cerah dan memiliki jerawat di wajahnya berjalan mengumpulkan gulungan kertas. Setelah itu, sebagian siswa pergi keluar kelas sedangkan sebagian yang lain berada di dalam kelas.
Nanda mulai menyebutkan nama siswa kelas satu persatu. Sesuai undian, Alexander mendapat tugas piket hari pertama, Tamrin hari kedua sedangkan Wulan dan Tiara di hari Jum'at. Setelah itu, seluruh siswa keluar meninggalkan kelas.
"Tiara, Wulan ayo ke kantin!" ajak Hana pada mereka berdua.
"Yuk!" balas Tiara.
Mereka bertiga berjalan ke luar, namun tidak disangka Ilham dan teman-temannya melintas. Melihat Tiara, Ilham pun langsung menghentikan langkahnya lalu tersenyum manis kepadanya.
"Hai, Tiara. Kenapa baru keluar?" tanya Ilham.
"Iya, soalnya kelas kita baru pembagian jadwal piket," jawab Tiara.
"Yuk, kantin bareng," ajak Ilham pada mereka bertiga.
Mereka semua, berjalan menelusuri lorong sekolah. Para siswa berlalu-lalang melintasi mereka semua. Diam-diam, Ilham dan Tiara menjadi pusat perhatian.
Ketampanan serta kepopuleran Ilham sebagai Tim Sepak Bola Nasional, membuatnya terlihat seperti magnet menarik perhatian semua orang. Apalagi, ia berjalan beriringan dengan primadona sekolah yaitu Tiara. Sambil berjalan, mereka semua berbincang seputar kegiatan pembelajaran di kelas masing-masing.
Terkadang, Ilham dan teman-teman melempar candaan membuat Tiara serta kedua temannya tertawa. Lama mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di depan Kantin. Suasana Kantin cukup ramai, membuat mereka semua ragu.
Mereka semua berjalan masuk ke dalam kantin. Martin dan Wiliam, langsung menempati kursi yang kosong disusul oleh mereka berempat. Gadis berambut kuning, berdiri dari tempat duduknya lalu Ilham pun ikut berdiri.
"Tunggu, biar gue yang traktir. Kamu mau pesan apa?" tawar Ilham.
"Jangan!"
"Kenapa?" tanya Ilham lalu Tiara menjawab, "Tiara merasa tidak enak saja dibayar terus menerus."
"Santai saja. Buat Tiara, beli satu Kantin pun gue sanggup."
"Ya, sudah kalau. Aku pesan nasi goreng dan Jus Mangga," pinta Tiara lalu Ilham membalas,"Siap, Ratu."
"Kita berdua dipesan juga?" tanya Martin.
__ADS_1
"Elu berdua, pesan sendiri," jawab Ilham lalu tersenyum sangat lebar.
"Dasar Ilham! Giliran cewek langsung tanggap," timbal Wiliam.
"Oh, jadi cuman Tiara yang dipesan?!" sambung Hana pada Ilham.
"Ya, sudah. Kalian semua boleh pesan, ayo mau pesan apa elu semua?!" tanya Ilham.
Mereka semua, mulai memesan kepada ilham satu persatu. Selesai memesan, Ilham pun pergi menuju stan langganannya lalu ia kembali duduk di tempatnya. Hana teringat soal ekstrakulikuler, ia penasaran mengenai ekskul yang Tiara minati.
"Ngomong-ngomong, kamu sudah tentukan mau gabung Ekskul mana?" tanya Hana.
"Masih belum kepikiran," jawab Tiara.
"Hei, bagaimana kalau kamu gabung di Ekskul Sepak Bola?" tawar Ilham.
"Sepak bola? Bukannya anak Ekskul Sepak Bola hanya menerima anggota lelaki?" tanya Wiliam.
"Tidak Wiliam, kebetulan Ekskul Sepakbola membutuhkan asisten pelatih. Sepertinya, Tiara cocok gabung di sana," timpal Ilham.
"Hmm..., bisa aja elu modusnya. Bilang aja, kalau elu ingin berduaan dengan Tiara," bisik Martin.
"Stttt!" balasnya sambil menempelkan telunjuk dengan tersipu malu.
Tidak butuh waktu lama, dua orang pelayan kantin datang membawa pesanan mereka semua. Mereka semua, mulai menikmati menu makan siang masing-masing. Citra rasa nasi goreng cukup hambar, namun rasa lapar membuat Tiara terpaksa memakannya.
"Ada apa?" tanya Tiara.
Ilham tidak menjawabnya, ia mengambil butiran nasi menempel pada pipinya. Sontak Hana, Wiliam dan Martin pun terkejut melihat Ilham begitu romantis. Sedangkan Wulan, terdiam dengan raut wajah datar.
Selesai makan, Ilham beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju stan langganannya. Dia membelikan dua buah Es Krim vania dengan harga cukup mahal.
"Tiara?" bisik Wulan lalu Tiara membalas,"Iya?"
"Jangan mudah terpikat, ingat Bos kita," ujarnya memperingati. Tiara pun menoleh kepadanya,"Jangan khawatir. Hatiku hanya milik suamiku seorang," bisiknya lalu tersenyum.
Ilham pun datang, dia berjalan membawa dua Es Krim di tangannya. Dia memberikan salah satu Es Krim kepada Tiara. Gadis itu terlihat senang, menerima Es Krim pemberian Ilham.
Kemudian, dia mulai menjilatnya dimulai dari pangkal paling atas. Rasa manis, menari di atas lidahnya membuat Tiara tanpa sadar mulai tersenyum. Senyumannya, membuat siapa pun menjadi terpikat sekaligus menimbulkan kesalahpahaman.
"Gimana Es Krimnya?" tanya Ilham.
"Enak, manis!" jawab Tiara lalu Ilham pun berkata,"Kalau dilihat-lihat, Es Krim ini ada persamaannya sama kamu."
__ADS_1
"Eh, persamaan apa?"
"Sama-sama manis," gombalnya membuat Tiara tertawa.
Mendengar gombalannya, membuat Wulan menggelengkan kepala lalu ia melihat Alexander dan Tamrin duduk tepat di belakang Ilham dan ketiga temannya. Dia duduk bersama Tamrin, sejak Ilham baru saja tiba dengan kedua Es Krim di tangannya.
Dia pun menunduk, sorot matanya yang tajam dan kedua tangannya menggenggam cukup erat satu sama lain. Alexander mendengar semuanya, kedua kuping terasa panas dan hatinya tertusuk oleh jarum.
"Ha.ha.ha! Bisa aja, baskom air. Serem juga disamain sama Es Krim!" balas Tiara.
"Maaf-maaf, soal gombalanku tadi. Nanti pacarmu dengar, gawat kalau sampai salah paham," timpalnya kepada Ilham.
"Tenang, pacarku bukan orang yang mudah salah paham."
"Eh! Kamu sudah punya pacar?!" tanya Ilham dan kedua temannya lalu Tiara menjawab, "Punya."
Hati Ilham terasa sakit, rasanya seperti sebuah pisau yang menusuk jantungnya. Sakit tapi tak berdarah, begitulah yang kini sedang Ilham rasakan. Meski pun begitu, bukan Ilham namanya kalau tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
Namun, dia mencoba berpikir positif bahwa siapa tau ia hanya bercanda. Jika memang Tiara memiliki pacar, pasti dia akan terus berdua dengan kekasihnya.
Selain itu, dia bertekad untuk mencari tau siapa lelaki beruntung telah memikat hatinya. Setidaknya, dia bisa mencari celah untuk merebut hati Tiara dari lelaki itu.
"Begitu rupanya, memang pacar kamu orang seperti apa?" tanya Hana.
"Wajahnya tampan, matanya yang indah bagaikan batu merah delima. Senyuman yang manis seperti hatinya, walau dia tidak terlalu pandai," ujarnya membayangkan sosok Alexander serta kebaikannya ketika ia menggendongnya di Taman Kota.
"So Sweet!" seru Hana.
"Hmm..., aku jadi penasaran. Siapa tau aku bisa berteman dengannya," kata Ilham.
"Kapan-kapan, nanti aku kenalkan sama kalian."
"Benar, ya. Senin depan bisa? Kalau Gak, fiks kamu bohong," kata Hana.
"Ha.ha.ha! Apaan sih," candanya pada Hana.
"Selama kalian pacaran, biasanya kamu manggil dia apa?" tanya Wulan.
"Suamiku," jawab Tiara tanpa pikir panjang.
Mereka semua terkejut, mendengar Tiara memanggil pacarnya dengan sebutan suami. Ucapan begitu berlebihan, membuat mereka semakin penasaran mengenai lelaki beruntung menjadi kekasihnya.
Alexander mendengarnya, ia menempelkan wajah di atas meja dan menguburkan wajahnya di balik kedua tangannya. Wajahnya memerah, jantungnya berdegup kencang sembari menahan kebahagiaan dalam dirinya.
__ADS_1
"Ciiee."
Bisikan Tamrin, membuat Alexander semakin terlihat seperti kepiting rebus. Tamrin pun saling berpandangan lalu menganggukkan kepala. Kemudian dia pun duduk tegak lalu terdiam seolah tidak terjadi apapun.