Senar Takdir

Senar Takdir
Pekerjaan rumah


__ADS_3

Keesokan harinya, di sekolah ketika jam istirahat Alexander tertidur di atas meja. Wajahnya menempel di meja dalam kedua tangannya. Di luar kelas Tiara, Wulan dan Tamrin duduk depan kelas. Mereka melihat Alexander dari kejauhan yang masih tertidur.


Tamrin duduk melirik ke dalam kelas lalu bertanya, "Tiara, ada apa dengan Bos? Kenapa Awal pelajaran sampai istirahat terlihat ngantuk?"


"Semalaman, Alexander sibuk mengerjakan naskah novelnya. Padahal, aku sudah menyuruhnya untuk tidur. Anak itu, terus saja menulis.


Tamrin menoleh kepada Tiara lalu berkata, "Pantesan! Oh, iya Tiara. Ada yang ingin gue tanyakan."


"Soal apa?"


"Kamu dan Alex tinggal bersama, bagaimana cara kalian mencuci pakaian? Sendiri-sendiri?" tanya Tamrin berbisik kepada Tiara dengan malu-malu.


Tiara menggelengkan kepala lalu menjawab, "Semua aku yang cuci."


Wulan dan Tamrin terkejut, saking terkejutnya Wulan yang tadinya fokus menatap layar handphone miliknya langsung menoleh kepada Tiara. Gadis itu memasukkan handphone miliknya ke dalam saku rok sekolah.


"Setrika juga?" tanya Wulan


Tiara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Wajah Tamrin merah, ketika membayangkan Tiara setiap hari melihat pakaian dalam lelaki.


Tamrin dengan raut wajah memerah bertanya, "Kamu gak malu, menyetrika dalaman Alex setiap hari?" ujarnya malu-malu.


Tiara tertawa lalu berkata, "Selagi dalaman suami sendiri, buat apa harus malu." jawab Tiara.


"Bos gak minta dicuci sendiri? Atau kamu disuruh?" tanya Wulan.


"Alex, sempat memintaku agar tidak perlu mencuci pakaiannya. Tapi aku menolak, karena mencuci salah satu kewajibanku dan aku pun menyukainya sekaligus sebagai terima kasih sudah mengizinkan ku tinggal," jawab Tiara begitu polos.


Tiara memberitahu kepada mereka, bahwa mencuci dan menyetrika dirinya yang lakukan. Wulan dan Tamrin, terdiam melongo dengan wajah memerah.


Tamrin pun tertawa lalu berkata, "Itu hal biasa, ibuku juga begitu mencuci baju dan pakaian dalam keluarga laki-lakinya. Setidaknya, kalian tidak sekamar jadi ruang privasi masih aman."


Wulan yang tau, bahwa Tiara sekamar dengan Alex hanya bisa berdehem membuat Tiara berpaling tersipu malu. Tidak berselang lama, Ilham pun datang seketika raut wajah Wulan dan Tamrin menjadi dinding. Wulan kembali memainkan handphonenya sedangkan Tamrin menatap tajam Ilham dengan penuh intimidasi.


Ilham tersenyum lalu berkata, "Hai Tiara," sapa Ilham.


"Hai juga," balas Tiara dengan ramah.


"Jadi ke Restoran Jepang?" tanya Ilham.


"Jadi, aku sudah mendapat izin dari Papahku."


Ilham tersenyum, dia sangat senang mendapat kesempatan pergi bersama Tiara. Kemudian dia berkata kepada Tiara, bahwa sepulang sekolah dia akan menunggu di depan kelas. Setelah itu, Ilham pun pergi meninggalkan mereka bertiga.


Tamrin melirik kepada Tiara lalu bertanya, "Papahmu? Maksudmu Alex?"


"Iya. Sebenarnya aku tidak ingin, sebab aku masih khawatir dengan Alex. Kemarin, sepulang sekolah dia dipukuli oleh para penjahat. Setidaknya, kalau bertemu dengan penjahat itu lagi aku ingin menghajarnya sampai masuk rumah sakit. Tetapi, Alexander malah menyuruhku untuk menerima ajakannya."

__ADS_1


Wulan sambil memainkan handphonenya berkata, "Bos, benar-benar lelaki baik. Kamu jangan pernah kecewakan dia," kata Wulan.


"Pasti!"


Tiara berdiri dari tempat duduknya, dia pamit kepada mereka berdua untuk pergi ke kantin. Sekarang, hanya ada Wulan dan Tamrin duduk di depan kelas. Tamrin masih teringat, pembullyan dialami oleh Alex.


Tamrin melipat kedua tangannya sambil bertanya, "Kenapa, Bos mengizinkan Tiara pergi dengan Ilham? Apa kejadian kemarin itu tidak cukup?" katanya dengan nada kesal.


"Kejadian kemarin, maksudmu pembullyan Bos oleh Ilham dan kawan-kawan?"


Tamrin melirik kepada Wulan lalu bertanya kembali, "Dari mana kamu tau?"


Wulan menepuk pelipis kanan sambil berkata, "Penglihatan masa lalu, aku baru mengetahuinya tadi pagi."


"Wulan, elu keren banget! Bagaimana caranya kamu melakukannya?" tanya Tamrin.


"Mudah, aku hanya menyentuh orang yang ingin aku ramal," jawab Wulan.


"Berarti, setiap elu nyentuh seseorang elu bisa melihat masa depan mereka?" kata Tamrin kembali bertanya.


Wulan melirik kepada Tamrin, dia tersenyum sambil menggelengkan kepala. Dia pun menjawab, "Aku bisa melihat kalau aku menginginkannya. Soal pembullyan Bos kita, asal elu tau saja bahwa dua hari yang lalu Tiara juga dibully."


Tamrin terkejut dia menoleh kepada Wulan dan menatapnya dengan serius. Kemudian dia bertanya, "Sama siapa?!"


"Winda, Kartika dan Tantri. Mereka satu kelas dengan Ilham," jawab Wulan.


"Sebenarnya gue ingin, tapi Tiara melarang gue. Katanya, dia tidak ingin membuat Alexander kembali trauma."


Tamrin semakin kesal lalu berkata, "Andaikan Bos tau, bagaimana reaksinya?"


"Mereka bertiga memang sudah keterlaluan. Tapi Winda, selaku otaknya melakukan itu karena kesalahpahaman."


"Kesalahpahaman? Apa maksudnya?" tanya Tamrin begitu penasaran.


Wulan tersenyum lalu berkata, "Nanti juga kamu tau. Gak seru kalau aku kasih tau sekarang. Yang pasti, setelah masalahku selesai mereka bertiga akan jadi sekutu kita."


Tamrin semakin penasaran, dia menghembuskan nafas panjang lalu berkata, "Gue gak tau, masalah apa yang elu hadapi. Tapi, gue doain semoga cepat selesai."


"Thanks," balas Wulan.


Sepulang sekolah, Ilham duduk di depan kelas 10 IPS F seorang diri. Dia pun menoleh, ketika pintu kelas mulai terbuka lalu Tiara berjalan menghampirinya sambil melambaikan tangan. Senyuman manisnya membuat Ilham ikut tersenyum.


Alexander terlihat berjalan melintas, mereka saling berpandangan. Dia melihat sorot mata Alex begitu dingin, namun Ilham membalasnya dengan senyum kemenangan.


"Ayo," ajak Ilham.


"Yuk!" balas Tiara.

__ADS_1


Mereka berdua menyebrang jalan menuju parkiran lalu menaiki motor ninja hitam milik Ilham. Motor ninja itu mulai melaju di atas aspal. Sinar matahari menembus kulit, beruntung suasana lalulintas sedang lancar sehingga mereka berdua masih merasakan hembusan angin.


Tiara menoleh ke sana dan kemari, melihat gedung pencakar langit dan bangunan menarik lainnya. Beberapa pelajar terlihat melintas dengan menaiki motor.


Sekian lama diperjalanan akhirnya mereka berdua sampai di Restoran. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam restoran. Ketika memasuki restoran, mereka terpukau melihat dekorasi bambu, lukisan dan boneka khas Jepang.


Rasanya, mereka memasuki restoran mewah Jepang Masa Lampau. Mereka berdua, duduk di meja pelanggan terdapat kursi merah.



Seorang pelayan menggunakan baju kimono menghampiri mereka. Ilham memesan, beberapa makanan dan minuman yang ada di dalam menu. Selesai memesan, pelayan itu pergi untuk menyiapkan pesanan.


"Thanks Tiara, sudah mau menemaniku datang ke restoran ini. Maaf, kalau aku sedikit masalah soalnya ini momen penting," kata Ilham memulai pembicaraan.


"Tidak masalah, aku juga ingin tau makanan apa yang ada di restoran ini. Memangnya momen penting apa?" tanya Tiara penasaran.


Ilham tersenyum lalu berkata, "Sebenarnya, hari ini adalah hari ulang tahunku."


"Wah! Selamat Ulang tahun, semoga diberikan kesehatan dan dilancarkan segala urusan," ujarnya lalu mengangkat kedua tangan ketika mendoakannya.


"Amin!" balas Ilham sambil mengusap wajahnya.


"Hari ulang tahunmu kenapa Martin, Bobi dan lainnya tidak kamu ajak?" tanya Tiara.


Ilham tertawa lalu berkata, "Kamu tau budaya ulang tahun di Negeri ini kan?"


Tiara tersenyum sambil menggelengkan kepala lalu berkata, "Budaya ulang tahun? Aku tidak tau. Sejak kecil, aku tidak pernah merayakan ulang tahun. Merayakan ulang tahun teman pun tidak pernah."


Mendengar hal itu Ilham memandang Tiara dengan simpati. Kemudian dia berkata, "Maaf aku tidak bermaksud..."


"Sudahlah Ilham santai saja, aku tidak tersinggung kok. Memangnya budaya ulang tahun di Negeri ini seperti apa?"


Ilham yang terlihat ceria, raut wajahnya seketika menjadi suram. "Orang yang berulang tahun, biasanya mereka diikat pada sebuah tiang. Teman-temannya akan melempari telur, ada juga air comberan hingga tubuhnya kotor. Setelah itu, mereka tanpa ragu meminta pajak atau traktiran sebagai perayaan ulang tahun. Tapi tidak semua seperti itu ada juga merayakannya secara normal."


"Jahat! Seharusnya, orang yang berulang tahun mendapat kebahagiaan bukan kesengsaraan! Mereka gak berpikir perasaan orang yang berulang tahun?!" ujarnya dengan begitu geram.


"Sudah hal biasa bagi Negeri Seribu dongeng. Makanya, aku sengaja tidak memberitahu teman-teman selain orang dekat denganku. Sebenarnya, aku mengundang satu orang lagi."


"Siapa?" tanya Tiara.


Belum sempat menjawab, seorang siswi rambut hitam panjang dan berparas cantik datang menghampiri mereka berdua.


"Selamat ulang tahun Ilham! Sering-seringlah traktir di sini!" ujar gadis itu.


Ilham tertawa lalu berkata, "Jangan setiap hari juga Winda, nanti gue tekor!"


Keceriaan Winda seketika menghilang, ketika melihat keberadaan Tiara. Dia memandang Tiara dengan wajah dingin.

__ADS_1


Tiara tetap tersenyum lalu melambaikan tangan sambil berkata, "Halo!" sapa Tiara.


__ADS_2