
Tiara merangkak di atas kasur. Dia tertidur disamping Alex lalu memeluknya dengan cukup erat.
"Sayang, hari ini ada ulangan harian loh. Pak Dirman, Guru Bahasa Indonesia nanyain kamu. Bu Mela juga nanyain kamu. Katanya, besok kamu harus ikut ulangan susulan."
"Hah? Ulangan?! Bukannya UTS masih lama?"
"Bukan, lebih tepatnya Ulangan Harian. Aneh sekali, padahal ujiannya berlangsung sebulan sekali," jawab Tiara.
"Entahlah, sudah dari dulu istilahnya seperti itu.."
Tiara menoleh pada rambut Alex terkena rajia. Gadis itu membelai rambutnya hingga Alexander merasa geli.
Tiara sambil membelai rambutnya berkata, "Hei, ayo kita ke luar."
"Keluar? Ke mana?" tanya Alex.
"Teras depan rumah, aku ingin merapihkan rambutmu," jawabnya sambil membelai rambut Alex.
Mereka berdua berjalan keluar dari kamar lalu mempersiapkan segala keperluan untuk mencukur rambut. Setelah siap, Alexander duduk pada sebuah bangku yang telah disiapkan.
Tiara mulai menggunting rambut Alex secara perlahan. Gadis itu mengendus bau tak sedap. Perlahan, Tiara mendekati kepala Alex lalu kembali mengendus-endus.
"Kotoran, kenapa ada aroma kotoran kucing di kepalamu?" tanya Tiara menatap dengan khawatir.
Alexander teringat kembali pembullyan yang telah dialami dirinya hari ini. Kemudian dia pun menjawab, "Sepertinya, ada seekor kucing membuang hajatnya di atas bangunan tinggi. Mungkin aku sedang sial saja."
Tiara menghembuskan nafas lalu memandang kekasihnya sambil berkata, "Pembohong. Kalau ingin membohongiku, setidaknya berikan kebohongan yang logis. Pasti karena anak-anak sekolah lain itu kan?"
Alexander terdiam, ketika mendapatkan pertanyaan dari kekasihnya. Dia tidak ingin tau mengenai kejadian yang sebenarnya.
Tiara duduk di sampingnya, kedua tangan gadis itu mengepal seiring memuncak amarah di dalam dirinya.
"Andaikan aku ada di sana, pasti akan kuberi hadiah pukulan pada wajah mereka," ucapnya sambil mengepalkan kedua tangan.
Alexander menoleh kepada kekasihnya lalu menggenggam kedua tangannya kekasihnya. Kemudian dia berkata, "Sebaiknya jangan, nanti tanganmu terluka. Aku tidak terlalu memikirkannya," ucapnya lalu tersenyum menyembunyikan luka di hati.
"Alexander, kamu tidak perlu menyembunyikannya. Senyuman itu, aku tau seberapa terlukanya dirimu. Kesedihanmu merupakan kesedihanku juga. Rasa sakit mu juga rasa sakit ku juga, "ujarnya membuat hati Alexander tersentuh. Kemudian dia memandang Alex sambil menyentuh kedua pipinya sambil berkata, "Tapi kamu harus ingat, bahwa ada aku di sisimu."
Kedua matanya tak berkedip memandang kekasihnya. Perkataannya begitu manis dan indah, tanpa sadar membuat air mata Alex berlinang. Tanpa banyak bicara, dia pun memeluk Tiara dengan cukup erat.
Tiara mengelus-elus punggungnya sambil berkata, "Jika hatimu terluka dan tersakiti, jangan sungkan untuk memelukku. Aku akan selalu menjaga dan memanjakanmu dengan sepenuh hati."
"Segala memanjakan ku, dasar berlebihan!" balas Alex malu-malu.
Tiara tertawa lalu berkata, "Tidak berlebihan, sudah sewajarnya seorang istri memanjangkan suaminya."
Alexander melepas pelukannya lalu memandang kekasihnya sambil berkata, "Thanks."
"Sama-sama. Sekarang, waktunya membersihkan rambutmu," ucapnya lalu berdiri dari tempat duduknya.
Sekali jentik, bangku yang Alexander duduki berubah menjadi kursi yang biasa digunakan untuk creambath.
Melihat hal itu, membuat Alexander terkagum-kagum. Kemudian dia menyentuh kursi itu dengan ujung jari.
__ADS_1
"Bagaimana bisa?" tanya Alex tanpa berkedip.
"Bisa dong! Kamu lupa? Aku ini bidadari," jawabnya.
Kemudian Alexander berbaring di atas kursi tersebut. Tiara mulai membersihkan rambutnya dengan sampo yang telah dicampur oleh seperempat tetes parfum kayangan miliknya. Tidak lupa, gadis itu memberikan pijatan pada kepala Alex.
Alexander teringat ketika Tiara ditinggal berdua dengan Ilham. Dia penasaran, apa yang dilakukannya dengan Ilham.
"Tiara.."
"Iya, suamiku?" ujarnya sambil membilas rambut Alex.
Wajahnya tersipu malu lalu berkata, "Bisakah kamu berhenti memanggilku begitu?"
Tiara tersenyum lalu balik bertanya, "Kenapa? Kamu kan memang suamiku. Kamu tidak senang?"
"Iya, aku tau. Aku senang, sayang. Tapi memanggilku dengan sebutan suami, itu sangat berlebihan. Kita kan belum di meja pelaminan."
"Terus, kamu mau dipanggil apa?" tanya Tiara sambil mengelap rambut Alex yang basah dengan handuk.
Alexander yang malu-malu menjawab, "Apa saja selain suamiku."
Tiara tertawa lalu membalas, "Bener ya? Awas gak boleh protes."
"Iya.."
Selesai mencukur dan membersihkan rambutnya, Tiara memasukkan mesin cukur dan gunting kembali ke dalam tas. Lalu ia rubah kursi sempat diduduki Alex kembali semula. Kemudian duduk di samping kekasihnya. Alexander bercermin pada kaca depan rumahnya.
"Mulai sekarang aku panggil kamu botak," ucapnya membuat Alexander sangat malu.
Alexander menoleh ke belakang lalu berkata, "Mana bisa begitu!"
Alexander pun hanya mengiyakan perkataannya sambil menanggung rasa malu. Kemudian, dia teringat pertanyaan yang tidak sempat ia tanyakan. Dia juga merasa bersalah telah meninggalkan kekasihnya begitu saja.
"Tiara, aku minta maaf."
"Minta maaf, soal apa Botak ku sayang?"
Wajahnya langsung merah begitu Tiara memanggilnya dengan sebutan Botak. Dia sangat malu, mendengar panggilan itu.
"Botak-botak, padahal panjang rambutku 1 cm . Tapi kenapa kamu dan semua orang menyebutnya botak?!" ucapnya sambil menahan malu.
Tiara tertawa lalu menjawab, "Kamu benar botak, tapi meskipun begitu gak bisa mengubah persepsi orang-orang botak."
"Terserah!"
Tiara tertawa lalu kembali bertanya, "Minta maaf soal apa?"
Alexander tertunduk menyesal lalu menjawab, "Minta maaf, karena aku sempat meninggalkan mu sewaktu di lorong sekolah."
"Jangan dipikirkan, aku mengerti. Aku perhatikan reaksimu terhadap Ilham, sepertinya kamu tidak menyukainya."
"Biasa saja, mungkin mood ku sedang tidak bagus."
Tiara memandang serius lalu berkata, "Pembohong."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, apa yang kalian lakukan selama aku tidak ada?" tanya Alexander mengalihkan topik pembicaraan.
"Ilham memintaku menemaninya ke Kantin. Awalnya sih aku menolak, katanya ada hal penting jadi mau tidak mau aku terima ajakannya. Tapi ternyata endingnya, aku malah menemaninya sarapan. Untungnya aku beli eskrim di Kedai Bu Miska, kalau enggak bisa-bisa jenuh perhatiin dia makan."
"Hanya itu?"
"Tidak, kami mengobrol tentang pertandingan sepak bola Sabtu kemarin. Sisanya membicarakan hal penting,. Eh, kamu tau engga Wulan dan Tamrin?" jawabnya kepada Alex.
"Kenapa? Ada apa dengan mereka berdua?"
"Mereka kena hukum Pak Dirman suruh berdiri sambil ngangkat dua ember berisi air di luar. Terus...," ujarnya terus menceritakan kejadian menarik di sekolah.
Mendengar Tiara bercerita, membuat Alexander tersenyum. Dia sadar, bahwa banyak hal menarik yang telah dilewati selama dirinya dibully.
Perlahan, raut wajahnya menjadi murung lalu tertunduk sambil berandai-andai kejadian yang ia alami hanyalah mimpi buruk. Namun sayangnya, semua itu bukanlah mimpi. Kejadian itu benar-benar membuatnya semakin murung.
Tiara menyadari hal itu lalu bertanya, "Ada apa? Kenapa wajahmu murung?" tanya Tiara begitu khawatir.
Alexander menoleh kepada kekasihnya lalu berkata, "Tidak ada."
Senyuman palsunya membuat Tiara semakin khawatir. Kemudian, dia berjalan ke dalam rumah lalu kembali membawa sebuah guci kecil, korek kuping terbuat dari kayu dan selembar kain putih.
Tiara tersenyum manis kepada Alex, senyumannya yang manis membuat Alexander tersipu malu . Meskipun serumah, senyumannya membuat Alex ikut tersenyum. Tetapi, ada kalanya senyuman Tiara membuat Alexander salah tingkah.
Tiara menepuk pahanya lalu berkata, "Sini, biar aku bersihkan telingamu."
Kedua tangannya tak berkedip, ketika memandang pahanya yang putih mulus. Dia pun menelan ludah lalu berpaling sambil tersipu malu.
Tiara tersenyum genit lalu berkata, "Kemari lah, Botak ku sayang. Kenapa malu-malu begitu?" ujarnya merayu.
Alexander menoleh kepada Tiara lalu berkata, "Setidaknya pakai bantal!"
Tiara tertawa lalu berkata, "Sekarang kamu bertingkah seperti perjaka. Padahal setiap malam Minggu..."
"Iya-iya!" balasnya memotong pembicaraan dengan wajah merah padam.
Alexander mulai berbaring di atas paha Tiara. Pandangannya memandang halaman rumah dengan tersipu malu. Sedangkan Tiara tersenyum sambil memasukkan korek kuping kedalam sebuah kendi kecil di tangannya.
"Aku mulai..."
Tiara mulai menggosok daun telinga Alex secara perlahan. Ramuan di dalam kendi kecil itu membuat telinga Alexander terasa sejuk. Aroma khas rempah-rempah, menjadi aroma terapi yang menyejukkan jiwa.
Setelah membersihkan daun telinganya, Tiara mengelap ujung korek dengan selembar kain putih. Kini, ujung korek itu perlahan masuk ke dalam lubang telinga.
Tiara mulai membersihkan lubang telinga kekasihnya. Alexander merasakan nikmat yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Terkadang, dia pun merasa geli membuat tanpa sadar menggerakkan kepalanya.
"Jangan banyak gerak, geli!" ucapnya sambil merasakan geli pada pahanya.
Alexander tersenyum usil lalu ia dengan sengaja menggerakkan kepalanya. Sontak, Tiara pun tertawa dan merasakan geli tidak tertahankan.
"Cukup, stop botak! Geli!" ucapnya menarik pipi Alex.
Alexander tertawa lalu berkata, "Bukannya sudah aku bilang untuk gunakan bantal?"
"Iya, sayang. Iya," ucapnya lalu meletakkan bantal di atas pahanya.
__ADS_1
Setelah itu, Alexander kembali membaringkan kepalanya di atas kepala telah dilapisi bantal. Sesekali, Tiara meniup daun telinga Alex.
Selesai membersihkan telinga, Alexander diminta kembali berbaring menghadap halaman rumah. Tiara mengelus-elus kepala Alex secara lembut. Belaiannya yang lembut, membuat Alexander merasa nyaman.