
Waktu sudah menunjukkan jam dua siang. Para siswa kelas 10 IPS F, berkumpul di pinggir lapangan Sepak Bola. Lokasi Lapangan Sepak Bola, berada tidak jauh dari rumah Dandi.
Mereka semua, mengenakan baju dan celana olahraga masing-masing. Kondisi cuaca hari ini berawan, tidak panas dan juga tidak mendung. Kondisi lapangan Desa yang becek akibat hujan semalam.
Meskipun begitu, kondisi lapangan ini lebih baik dibandingkan bandingkan harus bermain di atas tanah berlumpur. Beberapa anak kecil, terlihat berlarian di pinggir lapangan. Warga Desa, terlihat berjalan berlalu-lalang berbagai aktivitas di jalanan Desa.
Alexander, duduk bersama siswa yang lainnya di atas rumput. Dia pun berdiri lalu bertanya, "Sudah berkumpul semua?"
"Sudah kecuali satu," jawab Fajar.
"Siapa?"
"David, anak kacamata duduk meja bareng gue," jawab Rudi.
Alexander seketika teringat, sosok lelaki berkulit putih dan berambut ikal duduk di tengah bersama Rudi. Dia masuk kelas selalu membawa tas hijau dengan gantungan kunci bergambar anime.
Setiap hari, dia selalu menghabiskan hidupnya menatap layar handphone. Berbicara seperlunya, sisanya ia habiskan waktunya di sekolah seorang diri.
Alexander menepuk keningnya lalu ia berkata, "Ya, ampun gue baru sadar."
"Parah Alexander, sama teman sekelas sendiri gak peka," sindir Dandi.
Fajar melihat Tiara dan Wulan, berdiri memperhatikan mereka semua. Dia terheran-heran dengan kendaraan kedua gadis itu, "Bos, bilang semua laki-laki. Tapi kenapa mereka berdua ada di sini?"
"Mereka akan bantu kita berlatih Sepak Bola," jawab Alex.
Fajar tertawa lalu ia berkata, "Bantu berlatih? Memangnya mereka tau apa soal Sepak Bola?" ujarnya dengan nada meremehkan kedua gadis itu.
Tiara berjalan mendekat, dia tersenyum lalu berkata, "Jangan meremehkan wanita, Fajar. Gini-gini, gue ini spesial penggiring Bola. Kalau elu merasa jago, bagaimana kalau kita bertanding dalam memperebutkan bola," tantang Tiara kepada Fajar.
Fajar, Tamrin dan Rudi yang sudah melawan Tiara pun tertawa. Tamrin pun berkata, "Ayo, Fajar lawan. Masa kalah sama cewek?" ujarnya memprovokasi.
"Siapa takur! Melawan cewek, sepuluh detik cukup," balasnya dengan sombong.
__ADS_1
Tiara dan Fajar berdiri berhadapan. Gadis itu tersenyum penuh percaya diri sambil menginjak bola di kaki kanannya. Wulan meniup peluit sebagai tanda mulainya pertandingan. Fajar berlari mendekati Tiara, dia berkonsentrasi sambil mengamati pergerakan lawannya.
Dia langsung melakukan tekel, namun Tiara menghindar lalu berlari lurus ke sisi kiri lawannya. Fajar terus mengejar dan berusaha untuk merebut bola dari lawannya. Tidak terasa, lima belas menit telah berlalu. Berbagai cara dan teknik Fajar lakukan untuk merebut bola, namun tidak berhasil.
Tiara sambil menggocek bola pun berkata, "Katanya sepuluh detik, sekarang sudah lima belas menit," ledeknya membuat Fajar semakin geram.
Keringat mengucur dengan deras, kedua kaki Fajar terasa sakit dan nafasnya ngos-ngosan. Pergerakan Fajar semakin melambat, akhirnya dia pun berhenti lalu berbalik badan dan berjalan sambil mengangkat jempolnya. Lima teman sekelas termasuk Tamrin, datang menghampiri Tiara lalu babak selanjutnya di mulai. Meskipun Tiara melawan lima orang, gerakan yang lincah serta gocekan bolanya yang lihai membuat lawannya kesulitan untuk merebut bola darinya.
Dua puluh menit telah berlalu, seluruh tim ikut bermain. Mereka kesulitan merebut bola dari kaki Tiara. Akhirnya, stamina mereka semua telah habis. Seluruh teman lelaki di kelas, mengakui kehebatan Tiara dalam bermain bola. Kemudian, mereka beristirahat lalu duduk membentuk lingkaran di bawah pohon.
Dandi minum sebotol air mineral, dia meletakkan botol itu di atas rumput. Kemudian dia bertanya, "Menurut kalian, apakah kelas kita bisa menang dari kelas A?"
Wulan melirik ke arah Dandi, "Mustahil Dan, kelas IPA A Itu sangat kuat. Apalagi di kelas IPA A, ada Ilham yang mendapat pelatihan langsung dari Akademi. Selain itu Bobi juga salah satu anggota Ekskul Sepak Bola di sekolah ini."
"Kalau begitu, kita fokuskan semua latihan kita di pertahanan. Setidaknya, kita bisa menahan mereka di babak pertama," sambung Tiara memberikan arahan. Tiara pun berdiri lalu ia berkata, "Ayo guys, kita lanjutkan latihan kita."
Para lelaki, berdiri pada posisi pertahanan di dalam kotak penalti. Tiara dan Wulan, berperan sebagai penyerang. Latihan menghentikan penyerang pun dimulai, Wulan dan Tiara menggocek bola secara bergantian menembus lini pertahanan.
Tiara membawa ke posisi kiri, sedangkan Wulan menerobos ke tengah untuk menerima umpan. Alexander dan Tamrin berlari untuk merebut bola dari Tiara. Namun, gerakan yang lincah dan licin membuat mereka dilewati dengan mudah.
"Gol!"
Kedua gadis itu, berteriak histeris merayakan keberhasilan mencetak gol. Sedangkan para lelaki terdiam dengan nafas ngos-ngosan.
Selesai berlatih mengentikan penyerang, mereka juga dilatih pertahanan udara dan dinding pertahanan.
Latihan berat itu terus berlangsung hingga matahari terbenam. Selesai latihan, mereka duduk di atas rumput bawah pohon.
Nafas mereka semua ngos-ngosan, jantung berdegup kencang sambil meluruskan kaki. Tiara dan Wulan pun berdiri, mereka semua memperhatikan kedua gadis itu.
"Guys, thanks buat hari ini. Gue sama Tiara mau pulang duluan," kata Wulan kepada mereka semua.
Kedua gadis itu berbalik badan lalu berjalan meninggalkan mereka semua. Para lelaki dengan kompak berkata, "Hati-hati," ujar mereka dengan kompak kepada Wulan dan Tiara.
__ADS_1
Satu persatu teman kelas mulai membubarkan diri. Alexander beserta lainnya, berjalan bersama-sama.
Dandi berjalan sambil menenteng kedua sepatutnya. Dia pun berkata, "Guys, gue gak nyangka Tiara jago main bola."
"Sudah jago olahraga, pintar dan cantik lagi," balas Rudi.
"Wajar, namanya juga gadis primadona. Tapi gue heran, kenapa kulit Tiara tetap putih dan tidak belang?" tanya Fajar.
"Itu hal biasa, siapa tau di rumah Tiara ikut perawatan mahal. Apalagi produk kecantikan sekarang bagus-bagus dan mahal," jawab Tamrin.
Dandi menoleh kepada empat temannya, "Selain itu, bodynya juga mantap. Pahanya yang mulus, sisanya kalian tau sendiri!"
"Dengar gosip, Tiara sudah punya pacar," kata Fajar sambil berjalan.
"Ah, pasti itu bukan gosip. Gue yakin pasti punya!" tanggap Rudi.
"Siapa pun pacarnya, cowok itu benar-benar beruntung," ujar Fajar kepada mereka semua.
Tamrin berjalan mendekati Alex, dia merangkul Alex sambil berkata, "Siapa ya, lelaki beruntung itu? Bos tau?" ujarnya menggoda Alex.
Alexander terdiam, wajahnya merah padam karena merasa dipermainkan oleh Tamrin. Dia pun dengan wajah memerah berkata, "Entahlah, nanti juga elu pada tau."
Sekian lama di perjalanan, mereka sampai di ujung lapangan tempat motor mereka parkir. Mereka semua, kecuali Dandi menaiki motor masing-masing. Dandi pamit dan kembali pulang dengan berjalan kaki.
Mereka semua berpisah, kembali pulang ke rumah masing-masing. Alexander senang, bisa merasakan bermain bola bersama teman sebayanya. Sesampainya di rumah, Alexander memasukkan motor miliknya ke dalam garasi.
Perlahan, dia membuka pintu lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Aroma ayam panggang mulai tercium, dia melihat Tiara mengenakan baju kaos dan celana pendek meletakkan menu makan malam di atas lantai ruang keluarga.
Tiara melirik kepada Alex yang baru datang, "Selamat datang sayang. Ayo, mandi dulu nanti kita makan malam sama-sama."
Alexander tersenyum lalu ia berkata, "Iya sayang."
Alexander, masuk ke dalam kamar lalu keluar membawa selembar handuk masuk ke dalam kamar mandi. Selesai mandi, dia berjalan masuk dengan selembar handuk. Kemudian, dia keluar dengan baju kaos bermotif serigala dan celana pendek hitam.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam. Mereka berdua, mulai menikmati menu Ayam panggang saos lada hitam bersama-sama.