
Seragam putih abu telah dikenakan. Buku-buku dan alat tulis masuk ke dalam tas masing-masing. Alexander berjalan ke luar kamar sambil menjinjing tas dan sepasang sepatu miliknya.
Langkah kakinya terhenti, ketika melihat Tiara berjalan ke dapur membawa kotak bekal makanan. Dia penasaran dengan apa yang dilakukan olehnya. Kemudian, dia meletakkan tas dan sepatu lalu menyusulnya ke dapur.
"Sedang mempersiapkan bekal?"
Tiara sambil memasukkan sayur tahu dan nasi membalas, "Iya, ini semua menu makan siang kita. Hari ini ada kegiatan ekskul bukan? Dari pada beli, lebih baik menikmati makanan rumah."
Alexander melihat lima kotak bekal lalu bertanya, "Semua kotak bekal ini punya kamu?"
Tiara menggelengkan kepalanya lalu menjawab, "Dua kotak bekal ini milik Wulan dan Tamrin. Wulan bilang, dia ingin mencicipi sayur tahu bening juga. Tamrin juga sama, dia ingin mencoba menu makan siang tanpa minyak."
"Wulan benar-benar gadis mengerikan," balas Alexander.
"Kamu benar sayang, tapi semenjak tau kemampuannya. Aku tidak kaget," ujarnya kepada Alex.
"Dua kotak bekal ini punya kita, terus satu lagi punya siapa?" tanya Alex sambil menunjuk.
Tiara memegang kotak nasi berwarna coklat lalu menjawab, "Kotak nasi ini punyaku. Kebetulan, sewaktu di jalan ada pedagang keliling menjual perabotan. Karena diskon dan motifnya menarik, aku langsung membelinya."
"Begitu rupanya, aku baru tau kamu tertarik dengan harga diskonan."
Tiara tertawa lalu berkata, "Tentu saja! Membeli barang diskonan, merupakan salah satu cara meminimalisir anggaran pengeluaran."
Alexander terdiam datar begitu mendengarnya. Dia berpikir, bahwa Tiara tidak jauh berbeda dengan ibu-ibu di luar sana.
Namun ada yang mengganjal dipikirannya, yaitu kotak bekal berwarna coklat. Dirinya penasaran, untuk siapa kotak bekal itu disiapkan.
"Terus, kotak bekal itu untuk siapa?"
"Ilham," jawabnya sambil memasukkan sayur tahu dan nasi ke dalam kotak bekal.
Alexander kembali terdiam, ia pun berpaling menyembunyikan apa yang sedang ia rasakan. Tiara menyadari hal itu, ia menggenggam kedua tangannya dengan erat.
Tiara mencium pipinya membuat Alexander menoleh kepadanya. Lalu ia berkata, "Tenang sayang, porsimu sedikit lebih banyak dari Ilham. Aku juga tambahkan bihun sebagai pengganti mie. Jangan cemburu, ya sayang."
Wajahnya tersipu malu lalu berkata, "Siapa juga yang cemburu?!" ucapnya sambil berpaling karena malu.
"Suamiku orang tidak berterus terang," balasnya kepada Alex.
"Sudah waktunya berangkat sekolah, sebaiknya kita cepat," kata Alex sambil memasukkan kotak bekal ke dalam plastik hitam di atas meja.
"Ok."
Mereka berdua menyusun dan merapihkan kotak bekal makanan. Selesai menyusun dan memasukkan kotak bekal makanan yang telah ditentukan di dalam tas, mereka berdua berjalan ke teras depan rumah.
Di depan teras, mereka memakai sepatu lalu berjalan meninggalkan rumah. Sekian lama di perjalanan, mereka berdua berhenti tepat disamping gerbang utama perumahan.
__ADS_1
Beberapa transportasi melintas, Alexander dan Tiara menoleh ke samping kanan mencari transportasi bisa dinaiki. Dari kejauhan mereka melihat sebuah mobil Bus sedang melaju cukup cepat.
Supir Bus melihat mereka berdua lalu menepi di sisi jalan. Suasana bus yang padat dan penuh sesak, membuat mereka terdiam.
Mereka ingin keluar dari Bus dan memilih menunggu transportasi lain. Namun, Seorang kernet bus datang menghampiri uang dengan memegang segepok uang.
"SMA 22 TEGAR SARI?" tanya Kernet itu.
"Iya," jawab kompak mereka berdua.
"SMA 22 TEGAR SARI lima ribu rupiah," ujarnya menagih bayaran.
Mau tidak mau, Alexander dan Tiara berikan uang selembar lima ribu. Kernet itu langsung menerimanya lalu pergi begitu saja.
Kemudian, Bus yang mereka tumpangi mulai melaju. Alexander dan Tiara berpegangan pada tiang Bus. Suasana di dalam bus yang penuh sesak, membuat mereka harus bersabar. Tanpa mereka sadari, seorang buruh bertubuh gemuk mengintai mereka berdua.
Pria itu berdiri tepat di belakang Tiara. Sorot matanya yang mesum, memandang Tiara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Terkadang, dia menjilati pangkal bawah bibirnya dengan penuh nafsu.
Tiara terkejut, begitu merasakan sentuhan aneh dibelakang tubuhnya. Alexander sempat melihat ekspresinya yang terkejut.
"Kenapa?" tanya Alex begitu cemas.
Tiara pun tak menjawab, namun ekspresi wajah serta lirikan matanya seolah-olah meminta tolong. Alexander pun langsung menoleh ke belakang.
Amarah memuncak, begitu melihat lelaki bertubuh gemuk sedikit mengangkat rok kekasihnya sambil menyelipkan sebuah ponsel. Alexander langsung memukul wajah lelaki itu lalu mencengkram tangannya.
"Anda yang tidak tau malu bajingan!" bentak Alex sambil menunjuk.
"Apa?!"
Mereka mulai beradu pukulan hingga membuat suasana Bus yang tenang dan penuh sesak, kini menjadi tegang. Alex dan lelaki itu saling beradu makian lalu seorang Kernet datang menghampiri mereka.
"Ada apa ini?!" tanya Kernet itu.
Alexander menunjuk sambil berkata, "Babi gemuk itu melecehkan teman saya! Barusan saya lihat mata kepala saya sendiri, babi ini ingin memfoto apa yang ada di balik rok teman saya!" ucapnya sambil menunjuk dengan penuh emosi.
"Hah?! Memang apa buktinya?! Jangan salah paham! Saya mau foto suasana di dalam Bus buat instastory saya!"
Kernet itu menoleh kepada Tiara lalu bertanya, "Benar itu neng?"
Tiara pun menganggukkan kepala tanpa mengucap sepatah kata pun. Kemudian, Alexander merebut paksa ponsel milik lelaki itu. Alex membuka koleksi foto di dalam ponselnya hingga mendapatkan bukti foto apa yang ada di balik rok.
Alex menunjukkan layar ponsel lelaki itu kepada semua orang sambil berkata, "Lihat! Ini buktinya!"
Beberapa penumpang melihat apa yang ada dibalik layar. Sedangkan lelaki itu terdiam lalu Kernet langsung mengamankan lelaki tersebut berikut barang bukti.
"Rok sejengkal di atas lutut, buat apa neng? Jangan begitu kalau mau memikat cowok. Yang ada, cowok bajingan yang kamu pikat." Ucap seorang ibu-ibu.
__ADS_1
"Penampilan cewek zaman sekarang, terlalu mengundang perhatian." Ucap temannya.
Merasa Tiara disudutkan, Alexander pun kembali terpancing emosi lalu berkata, "Terus maksud anda sekalian teman saya yang salah?"
"Memang begitu kan? Lelaki tidak akan seperti itu kalau tidak ada pemicu," balas seorang lelaki membenarkan perkataan kedua ibu-ibu itu.
"Kalau pakaian dan penampilan menjadi pemicu, lebih baik anda sekalian tinggal di hutan! Kalian gak punya hati, bukannya menenangkan malah menyudutkan teman saya!" balas Alex dengan penuh emosi.
Ibu-ibu itu menatap tajam lalu berkata, "Bukannya syukur dinasehati, malah nyolot. Dasar anak zaman sekarang!"
Tiara menggenggam tangannya membuat Alex menoleh kepadanya. Dia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
Tiara tersenyum kepada mereka lalu berkata, "Terima kasih atas nasehatnya. Di sini, memang saya yang salah. Andaikan penampilan saya tidak terlalu mencolok, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi." ucapnya kepada mereka sekolah tidak terjadi apa-apa. Kemudian dia memeluk tangan Alex sambil berkata, "Yuk!"
Tiara menuntun Alexander menuju bangku Sang Supir. Sekilas, Alexander melihat mereka terdiam sambil memandang rendah Tiara. Setelah itu, Bus berhenti melaju lalu mereka berdua pun turun.
"Kenapa kita turun di sini?" tanya Alex.
"Kita naik angkot," jawaban lalu kembali tersenyum.
Sekuat apapun ia tersenyum, pada akhirnya senyuman itu mulai pudar. Trauma yang Tiara rasakan, mulai terlihat jelas pada raut wajahnya.
Sebuah mobil angkot mulai melintas. Selain supir, tidak ada satu pun penumpang yang terlihat.
Mereka berdua pun memberhentikannya. Kemudian, mereka berdua naik satu persatu dan duduk di bangku belakang. Alexander menoleh kepada Tiara. Gadis itu langsung memeluknya dari samping.
"Sayang, terima kasih sudah melindungi ku. Aku tidak bisa membayangkan jika tidak ada kamu," ucapnya sambil mempererat pelukannya.
Alexander membalas pelukannya lalu membelai rambutnya sambil berkata, "Sama-sama. Maaf, andaikan aku tau lebih awal mungkin kita tidak akan naik Bus itu."
"Tidak perlu meminta maaf suamiku, kejadian di Bus itu diluar prediksi kita."
"Tapi, aku masih kesal terutama orang-orang itu. Padahal, kamu itu korban tapi mereka malah menyudutkan mu."
"Jangan dipikirkan, perkataan mereka ada benarnya. Rok ku sedikit pendek, makannya sepulang sekolah nanti aku memintamu menemaniku ke pasar."
Alexander melepas pelukannya lalu menunduk sambil bertanya, "Pemikiran mereka yang dangkal itu, masih membuatku tidak terima. Pasti kamu sekarang masih takut kan?"
"Iya, kejadian membuatku trauma. Rasanya harga diriku dicabik-cabik. Mungkin itu yang dirasakan kaum wanita di luar sana. Ternyata, air yang tenang tidak selalu aman."
Alexander menggenggam tangannya sambil berkata, "Tenang Tiara, apapun yang terjadi aku akan selalu melindungi mu."
Tiara tersenyum lalu mencium pipinya hingga membuat Alexander tersipu malu. Kemudian ia berkata, "Terima kasih, sayang. Sekarang aku merasa aman."
Supir angkot yang mendengarnya pun batuk. Lalu ia berkata, "Ujang, Neng saya masih di sini."
Sontak wajah mereka merah padam lalu berkata, "Maaf-maaf!" ucapnya dengan Malu lalu mereka melepas pelukan.
__ADS_1