Senar Takdir

Senar Takdir
Putaran ke dua


__ADS_3

Suara lonceng mulai terdengar, Tiara dan kedua sahabatnya berhenti tertawa. Tiara dan Alexander tidak asing dengan suara lonceng tersebut.


Mereka semua, melirik ke sana dan kemari mencari asal suara lonceng itu. Lama mencari, akhirnya mereka menemukan Stan milik Sang Dewi.


"Ayo! Ayo! Ayo! Silahkan bermain Gacha Jodoh! Sekali putar cukup lima ribu rupiah! Hadiahnya, anda akan mendapatkan pasangan diluar imajinasi anda!"


Terlihat Dewi Lena sedang membunyikan lonceng di tangannya sambil memproklamasikan Stan Gacha Jodoh miliknya. Mereka semua mulai berjalan menghampiri Stan milik Sang Dewi.


Dewi Lena menoleh kepada mereka semua. Sang Dewi terkejut, melihat kedatangan Tiara dan Alexander.


"Tiara!" ucap Sang Dewi sambil memeluknya.


Tiara dan Sang Dewi melakukan cipika cipiki, sedangkan Alexander serta kedua sahabatnya tersenyum melihat kebahagiaan mereka berdua. Selesai cipika cipiki, Tiara mundur sebanyak dua langkah.


Kedua telapak tangan Tiara dirapatkan lalu sedikit membungkuk. "Hormat saya kepada Sang Dewi. Lama tidak bertemu dengan Dewi," ucap Tiara memberi hormat kepada Sang Dewi Cinta.


Alexander, Wulan dan Tamrin saling berpandangan lalu memandang Sang Dewi dan mengikuti apa yang Tiara lakukan. "Hormat kami kepada Dewi," ucap kompak mereka bertiga.


Dewi Lena tertawa lalu berkata, "Ku perhatikan sejak awal tinggal di bumi, kamu tidak banyak berubah. Tiara, aku sungguh bangga padamu. Untuk kalian bertiga, tidak perlu hormat seperti itu. Kalian semua adalah tamuku, ayo masuk ke dalam!" ujarnya kepada mereka lalu mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam Stan.


Mereka semua masuk ke dalam Stan. Dewi itu menjentikkan jarinya, seketika munculah kursi, meja yang empuk beserta lima gelas susu serta cemilan. Suhu udara yang hangat, perlahan berubah menjadi sejuk layaknya berada di ruang ber-AC.


"Ayo diminum susunya, kalian pasti haus berjalan seharian," ujar Sang Dewi kepada mereka semua.


Mereka berempat, meneguk segelas susu putih keemasan. Kedua mata mereka terbuka lebar, ketika merasakan nikmatnya seteguk susu. Kesegaran mulai mereka rasakan, mereka terkejut melihat asap hitam keluar dari pori-pori.


"Kenapa ini?!" tanya Tamrin melihat sekujur tubuhnya mengeluarkan asap hitam.


"Aku juga," kata Wulan mengeluarkan asap hitam sama seperti Tamrin.


"Tenang, yang keluar itu adalah aura negatifmu. Setelah satu menit rasakan saja sensasinya," ujar Sang Dewi menjelaskan.


Perlahan, tubuh mereka semua menjadi rileks dan kulit mereka terlihat cerah serta mengeluarkan aroma harum. Hati yang penuh dengan aura kegelapan perlahan menjadi jernih. Sensasi mereka rasakan, seolah-olah seperti terlahir kembali.


Alexander menggerakkan tubuhnya sambil berkata, "Tubuhku menjadi rileks, padahal sebelumnya kedua kakiku sakit."


"Sebelumnya sempat lelah, sekarang tubuhku menjadi rileks," sambung Wulan menggerakkan kedua bahunya.

__ADS_1


Tamrin mengangkat gelas berisi susu lalu bertanya, "Sebenarnya ini susu apa?"


"Kalian sudah pernah meminum susu dari surga bukan? Kalau ini adalah susu khusus untuk Dewa," jawab Sang Dewi sambil mengangkat gelasnya.


"Wow! Jangan-jangan sekarang kami jadi manusia setengah Dewa?!" seru Tamrin.


Sang Dewi tertawa lalu berkata, "Mana ada yang seperti itu. Kamu kira game? Susu ini hanya minuman kesehatan sehat layaknya jamu."


"Aku kira jadi manusia setengah Dewa. Siapa tau bisa menjadi karakter utama di film-film," balas Tamrin dengan nada kecewa.


"Ayo, kuenya juga dimakan," kata Sang Dewi kepada mereka.


Mereka berempat mulai menikmati kue dan cemilan di atas meja. Baru pertama kali, mereka merasakan kelezatan dalam menikmati cemilan.


"Aku kira siapa datang ke Stan ku hari ini. Ternyata suaminya Tiara," ujar Sang Dewi memulai perbincangan.


Seketika wajah Alexander dan Tiara merah padam lalu berkata, "Jangan panggil aku seperti itu!" kata Alexander dengan sangat malu.


Sang Dewi tertawa lalu berkata, "Kamu itu memang suami Tiara bukan?"


Dewi Lena, melirik kepada Tamrin lalu dia menjulurkan tangannya. "Halo, kamu pasti Tamrin dan kamu pasti Wulan. Aku tidak menyangka, gadis titisan Sang penguasa waktu ikut ke mari."


"Titisan penguasa waktu, apa maksudnya?" tanya Wulan begitu penasaran.


"Sewaktu kelas enam sekolah dasar, kamu pernah bertemu sosok gadis misterius di dalam mimpimu?" tanya Dewi Lena.


Wulan menjawab, bahwa sewaktu kelas enam sekolah dasar dia bertemu sosok wanita berjubah putih, membawa tongkat dan terdapat sebuah jam di atasnya. Wanita itu berkata, bahwa Wulan adalah kandidat terpilih menjadi tangan kanannya sebagai pembawa pesan dalam serangkaian peristiwa.


Dari situlah, dia memiliki kemampuan melihat masa depan. Ketepatannya dalam memprediksi masa depan sebesar sembilan puluh persen.


"Kenapa Dewi itu memilihku?" tanya Wulan dengan sangat serius.


"Entahlah, mungkin dia asal memilihmu," jawab Sang Dewi secara asal.


Terpaksa Dewi Lena berbohong, dia tidak bisa memberitahu Wulan alasan yang sebenarnya.


"Jadi, apa tujuan kalian kemari?" tanya Dewi Lena kepada mereka.

__ADS_1


"Saya ingin bermain Gacha Jodoh!" kata Tamrin langsung menjawab.


Dewi Lena tersenyum lalu berkata, "Kalau begitu silahkan ikut aku. Kalian bertiga juga silahkan ikut jika ingin melihat," ujarnya berdiri mempersilahkan mereka masuk.


Dewi Lena menunjukkan papan jarum putar. Sang Dewi mulai menjelaskan kandidat yang akan Tamrin dapatkan.


Dewi itu menjelaskan, bahwa dalam mengikuti Gacha Jodoh, Tuan Tamrin diperbolehkan melakukan tiga putaran. Putaran pertama adalah percobaan, kedua putaran mutlak, terakhir putaran setelah menyatakan cerai tetapi ingatan kedua pasangan harus dihapus.


Alexander terkejut, dia tidak mendapat penjelasan sebelum memulai putaran awalnya. Dia berkata, "Hei Dew! Kenapa tidak memberitahuku?!"


Dewi Lena tertawa lalu berkata, "Maaf-maaf, aku lupa." Raut wajahnya menjadi serius lalu bertanya, "Masih ada satu putaran, mau melakukannya?"


Seketika suasana menjadi sunyi, mereka semua memandang dirinya. Sang Dewi, Wulan dan Tamrin memandang Alexander dengan sangat serius. Alexander melihat, raut wajah Tiara terlihat sangat sedih.


Alexander berjalan mendekati Tiara. Dia memegang pundaknya sambil berkata, "Sekarang di rumahku, ada gadis manis yang selalu selalu menemaniku. Dia juga sering membuatkan ku sarapan pagi dan menemaniku di saat sepi," ujarnya menatap kekasihnya. Dia memeluk Tiara sambil berkata, "Lagi pula aku sangat mencintai. Jadi buat apa?"


Air mata kebahagiaan, membasahi pipi Tiara lalu ia membalas pelukannya. Sambil mempererat pelukannya ia berkata, "Sayang, aku mencintaimu!"


"Aku juga, Tiara. Terima kasih sudah merawat dan menemaniku," balas Alexander mempererat pelukannya.


Sang Dewi, Tamrin dan Wulan tersenyum melihat kemesraan mereka berdua. Tamrin yang melihat hal itu semakin tidak sabar untuk memulai Gacha.


Dewi Lena tersenyum lalu menghembuskan nafas panjang. Dia pun berkata, "Syukurlah, aku senang mendengarnya. Jika seandainya Tuan Alexander melakukannya, maka sama halnya meminta perceraian. Dan pada saat itu juga, ingatan kalian pasti sudah aku hapus. Tiara aku turut bahagia, melihatmu hidup bersama lelaki yang tepat."


Alexander dan Tiara melepas pelukan, mereka tersenyum lalu berterima kasih kepada Sang Dewi. Kemudian, Dewi Lena berjalan dan berdiri di samping Tamrin.


"Sekarang Tuan Tamrin, sudah waktunya untuk Gacha. Maaf sudah membuatmu menunggu lama," ujar Sang Dewi.


"Siap! Tidak sabar rasanya mendapatkan jodoh spek bidadari!" ucap Tamrin begitu bersemangat.


"Semoga beruntung," balas Sang Dewi.


Dewi Lena, berdiri di belakang tepat antara papan putar. Sang Dewi menjentikkan jari lalu muncullah sebuah tuas di depan Tamrin.


"Sekarang tarik tuas itu," perintah Sang Dewi.


Tamrin menarik tuas di hadapannya, papan itu langsung berputar. Mereka berempat penasaran, gadis seperti apa yang akan di dapatkan oleh Tamrin.

__ADS_1


__ADS_2