
Keesokan harinya selesai upacara, Tamrin duduk bersandar pada sebuah tembok di dalam kelas. Kedua kaki selonjoran ke depan, pandangannya memandang langit-langit kelas dengan lesu.
Alexander duduk di samping Tamrin. Dia melihat sahabatnya terlihat lesu.
"Lesu amat, elu belum sarapan?"
Tamrin melirik kepada Alex lalu berkata, "Bukan, Bos. Gue masih kepikiran soal jodoh. Kata Dewi itu, jodoh gue siswi di sekolah ini. Penasaran, siapa gadis itu?"
Alexander mengembuskan napas panjang lalu berkata, "Padahal kita sudah membahasnya kemarin. Sabar Tamrin, mungkin jodoh elu itu butuh waktu. Lagian, buru-buru amat sih?"
"Tau lah yang istrinya Spek Bidadari."
"Jangan gitulah Tamrin, gue jadi gak enak sama elu," ujarnya merasa tidak enak.
Tamrin tersenyum lalu menepuk pundak Alex sambil berkata, "Santai Bos."
Alexander mengambil sebuah kartu pemberian Dewi Lena. Dia memberikannya kepada Tamrin lalu berkata, "Dari Dewi, ambilah."
Tamrin menerima kartu sambil berkata, "Kartu untuk apa?"
"Dewi itu bilang, barangkali ingin berkonsultasi soal asmara atau sekedar ingin bertemu bawa saja kartunya."
Tamrin menyimpan kartu itu di dalam dompet. Dia berkata, "Siap, Bos! Kartu ini pasti gue simpan!"
Fajar, Dandi dan Budi masuk ke dalam kelas. Mereka melihat, Alexander dan Tamrin duduk belakang di atas lantai. Setelah itu mereka berjalan menghampiri Alexander dan Tamrin.
Budi mengangkat tangannya, "Hei, men!" sapa Budi lalu melakukan tos kepada Alexander dan Tamrin secara bergantian.
"Gak ke kantin?" tanya Dandi sambil melakukan tos pada mereka berdua secara bergantian.
"Malas," jawab Tamrin.
"Sama gue juga malas" sambung Alexander kepada mereka berdua.
Dandi duduk tepat di samping Alex lalu berkata, "Di kantin ramai banget. Gue kira elu berdua ada di sana."
Fajar menghembuskan nafas, raut wajahnya terlihat kesal. Budi pun bertanya, "Elu kenapa jar?"
"Sekarang pelajaran Pak Dirman, gue males harus duduk sebangku sama cewek," kata Fajar.
"Terus kenapa?" tanya Dandi.
"Kalian emang gak risih duduk sama cewek?" kata Fajar balik bertanya kepada mereka semua.
"Risih? Gue sih enggak," jawab Alexander.
"Tau lah yang sebangku sama Tiara," Fajar dengan iri.
"Jangan-jangan, elu seneng laki-laki ya?" tanya Tamrin dengan nada bercanda.
Fajar dengan polosnya mengiyakan perkataannya. Sontak, mereka merasa geli lalu menggeser tempat duduknya sejauh mungkin. Mereka menyangka, bahwa Fajar tidak berselera pada wanita.
Fajar dengan kesal sekaligus malu berkata, "Jangan salah paham, woi! Gue normal!" bantah Fajar.
Mereka semua, kembali duduk seperti biasa seolah tidak terjadi. Dandi yang tidak mengerti maksudnya bertanya, "Terus kenapa elu tanya begitu? Gue gak ngerti maksud elu."
__ADS_1
"Intinya, gue pengen duduk tempat duduklah! Masa gue harus duduk sama Nanda terus menerus?!" ujarnya kepada mereka bertiga.
Nanda berjalan masuk ke dalam kelas. Dia duduk di tempatnya lalu membaca buku.
Budi menepuk pundak Fajar lalu berbisik, "Teman sebangku elu datang tuh."
Dandi mendekat lalu berkata, "Jangan-jangan, elu diam-diam pegangan tangan sama Nanda," canda Dandi.
Fajar mengusap kedua tangannya secara bergantian. "Ogah banget sentuhan sama Nanda. Nanti gue ketularan buduk," hina Fajar kepada Nanda secara diam-diam.
Tamrin merasa simpati kepada Nanda terus direndahkan olehnya. Kemudian dia mendekat lalu berkata, "Jangan begitu, jar. Nanda glow up, mampus kau!"
Mereka bertiga tertawa tertawa lalu Budi berkata, "Gadis Buduk begitu, mana bisa glow."
"Bedaknya harus tebal 5 cm buat nutupin kulitnya yang buduk," sambung Fajar.
Alexander merasa simpati kepada Nanda. Dia berkata, "Jangan begitulah, guys. Walau begitu juga, Nanda itu teman sekelas kita. Kalau dia dengar, terus nangis dan sakit hati bagaimana? Gue juga yang kena."
Namun, semua itu telah terlambat. Nanda mendengar apa yang mereka bicarakan.
Hati kecilnya, terasa Sakit layaknya tertusuk jarum. Dia sempat meneteskan air mata di balik buku yang ia gunakan untuk membaca. Suara lonceng layaknya di dalam Stasiun Kereta mulai terdengar. Suasana kelas yang ramai, seketika menjadi sunyi.
"Kepada Ketua dan Wakil Ketua Kelas, segera berkumpul di ruang serba guna. Terima kasih!" ujar salah satu anggota OSIS memberikan pengumuman.
Alexander berdiri, dia berjalan ke luar kelas. Dia melihat, Tiara sedang berdiri bersandar pada tembok menunggunya keluar dari kelas.
"Yuk!" ajak Tiara.
"Yuk!" balas Alex.
"Sayang, maaf aku menguping perbincangan kalian," kata Tiara memulai perbincangan.
Alexander terkejut lalu bertanya, "Perbincangan apa?!"
Tiara menoleh kepada Alex dengan raut wajah serius. "Perbincangan kamu dan teman-temanmu di kelas," jawabnya dengan nada serius.
Alexander terdiam, dia tidak menyangka bahwa Tiara menguping pembicaraannya dengan empat temannya. Padahal, tidak ada Tiara di dalam kelas.
"Sejak kapan?"
Tiara tersenyum, dia tertawa lalu menjawab, "Sejak Fajar bilang, gue normal. Setelah itu Fajar, Budi dan Dandi menjelekkan Nanda. Benarkan?"
Alexander terdiam, dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiara menjelaskan, bahwa dia menggunakan kekuatannya untuk menguping pembicaraannya.
Gadis itu memberitahu, bahwa Nanda mendengar apa yang dikatakan Fajar dan kedua temannya. Nanda menangis dibalik buku yang ia gunakan untuk membaca.
Alexander tertunduk dengan raut wajah bersalah, "Aku merasa bersalah, rasanya aku seperti penjahat. Seharusnya tadi itu, aku lebih membela Nanda."
Tiara memeluk lengan Alex lalu berkata, "Bukan salahmu, sayang. Kamu sudah melakukan yang benar. Sekarang kita pikirkan, cara mendekati Nanda. Setelah mendapatkan maaf dan menjadi anggota serangkai, giliran ku yang beraksi."
Alexander penasaran lalu bertanya, "Memangnya kamu mau melakukan apa?"
Tiara tersenyum lalu menjawab, "Rahasia! Yang jelas, siap-siap saja melihat Nanda menjadi idola baru di sekolah."
Alexander semakin penasaran, dia terus bertanya apa yang dilakukan oleh Tiara. Namun gadis itu tetap merahasiakan agar menjadi sebuah kejutan bagi dirinya dan siswa satu sekolah.
__ADS_1
Lama mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di ruang serba guna. Di sana, banyak sekali perwakilan kelas sudah berdatangan masuk ke dalam ruangan.
Seseorang menepuk pundak Tiara, gadis itu langsung menoleh ke belakang. "Ilham, bikin aku kaget saja!"
Ilham tertawa lalu berkata, "Sengaja, ingin lihat reaksimu yang terkejut. Halo Alex, gak nyangka elu di sini. Kirain elu ada di kelas."
Kedua tangan Alexander mengepal, seiring teringat pembullyan yang dilakukan oleh Ilham. Raut wajahnya seketika menjadi dingin lalu bertanya, "Elu ngapain di sini?"
"Elu gak dengar pengumuman barusan?" ujarnya balik bertanya.
Pertanyaan dilontarkan oleh Ilham, memberikan sebuah arti bahwa Alexander adalah lelaki yang tuli dan pikun. Sorot matanya menatap tajam, kedua tangannya semakin mengepal ketika Ilham memandang rendah dirinya. Melihat Tiara di sampingnya, Alex berusaha memendam emosinya.
Seseorang menepuk pundak Alex sambil menyapa, "Hei, Alex!"
Alexander menoleh ke samping lalu berkata, "Oh, Ruben. Gue kira Tamrin."
"Gue baru tau, kalau elu Ketua Kelas."
"Gue juga baru tau, elu ketua kelas 10 IPA A," balas Alex.
Ruben menggelengkan kepala lalu berkata, "Ketua sama Wakil Ketua Kelas gue lagi mager. Mau tidak mau, gue jadi perwakilan walau gue tau apa yang akan diumumin."
Tiara dan Ilham, berjalan semakin menjauhi mereka berdua. Alexander masih teringat insiden pembullyan, menatap geram.
Ruben menyadari hal itu lalu berkata, "Sabar Alex, kendalikan emosi elu. Jangan sampai, elu jadi tokoh utama dalam memulai perkelahian. Kecuali Ilham mukul duluan atau menyangkut harga diri. Elu hajar aja sampai babak belur. Gue siap jadi saksi, terutama saksi pembullyan dilakukannya kepada elu."
Alexander tersenyum lalu menepuk pundak Ruben sambil berkata, "Thanks."
Mereka semua, berjalan masuk ke dalam ruang serbaguna. Setiap perwakilan kelas, duduk sesuai tempat telah ditentukan.
Ketua OSIS berjalan memasuki ruangan. Seluruh perwakilan kelas, bersiap untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh Sang Ketua OSIS. Ketua OSIS menjadi pusat perhatian karena parasnya yang tampan.
"Selamat pagi!"
"Pagi!" ucap kompak seluruh perwakilan kelas.
"Terima kasih sudah datang. Sebelum saya menyampaikan pengumuman hari ini, silahkan absen terlebih dahulu," ujarnya sambil menjulur pada sebuah kertas kosong.
Satu persatu perwakilan, menulis nama dan kelas masing-masing secara bergantian. Selesai absen, orang yang mendapat giliran terakhir memberikan kertas tersebut ke depan.
Setelah absen, Ketua OSIS mulai menyampaikan pengumuman penting. Pertama, pada bulan Mei akan diadakan lomba baris berbaris. Lomba tersebut diadakan disekolah dan telah bekerja sama dengan Ekskul PASKIBRA dan perwakilan dari pihak TNI yang akan menjadi juri. Poin dinilai dari kerapihan, kekompakan dan kreativitas dalam membentuk formasi.
Kedua, mulai Minggu depan setiap perwakilan kelas akan menjadi petugas upacara. Perwakilan OSIS akan datang untuk melatih. Latihan akan dilakukan dalam satu Minggu. Kelas pertama yang akan mendapatkan giliran adalah kelas 10 IPS A.
"Gawat!" kata Alexander.
Tiara menoleh kepada Alex lalu bertanya, "Kenapa sayang?" bisik Tiara.
"Aku lupa mencatatnya," balas Alexander berbisik kepada Tiara.
"Tenang, semua informasi terekam di dalam otakku," ujarnya sambil mengetuk kepalanya sendiri dengan ujung jari.
Pengumuman ke tiga, pada awal Juli setiap pulang sekolah akan diadakan Olimpiade olahraga. Tim telah mencapai final akan bertanding pada tanggal tujuh belas bulan Agustus. Selain pertandingan final, seluruh kelas wajib memeriahkan event tujuh belas Agustus dengan membuka bazar serta pertunjukan kepada masyarakat yang datang.
Pengumuman ke empat, Ketua OSIS menyebutkan kelas yang belum memiliki perwakilan untuk menjadi anggota OSIS. Kelas 10 IPS F masuk dalam kategori tersebut, Sang Ketus OSIS meminta untuk mendaftarkan perwakilan kelasnya menjadi anggota OSIS. Jika tidak, kelas itu akan mendapatkan sanksi.
__ADS_1