Senar Takdir

Senar Takdir
Dibuntuti


__ADS_3

Wulan dan Tamrin kejar-kejaran di halaman rumah. Tiara keluar rumah, dia tertawa menyaksikan tingkah mereka berdua.


Stamina Wulan dan Tamrin mulai berkurang. Sinar matahari menusuk kulit, keringat mereka mengucur membasahi baju.


Tiara keluar dari rumah, dia meletakkan nampan berisi tiga gelas berisi Jus Jeruk di atas lantai teras depan sambil berkata, "Guys! Puas kejar-kejarannya?


Wulan dan Tamrin tertawa, mereka duduk bersama-sama di teras depan. Mereka semua, menikmati Jus Jeruk bersama-sama.


Tamrin meneguk Jus Jeruk, dia mengangkat gelas ditangannya sambil berkata, "Segar!"


"Sayangnya, Bos lagi sakit jadi kurang seru," sambung Wulan.


Tamrin teringat, kondisi kaki kanan Alex yang sakit akibat tekel keras dilakukan oleh Ilham. Dia bertanya mengenai kondisi kaki Alex, "Tiara, bagaimana kondisi kaki Alex? Kemarin Ilham melakukan tekel ke kakinya."


"Kondisi kaki Alex baik-baik saja. Sebelum pulang, aku menggunakan kekuatanku langsung memijatnya."


"Setelah itu, kalian langsung pulang?" tanya Wulan.


Tiara mengaduk-aduk Jus Jeruk miliknya dengan menggunakan sedotan sambil berkata, "Rencananya kami ingin langsung pulang, sayangnya kami ada masalah ."


Tamrin begitu penasaran bertanya, "Masalah apa?"


"Ilham, dia diam-diam mengikuti kami."


Wulan dan Tamrin, menoleh kepada Tiara dengan raut wajah serius. Tiara mulai bercerita, apa yang sebenarnya terjadi setelah selesai pertandingan. Alexander dan Tiara, berjalan bergandengan tangan hingga sampai gerbang sekolah.


Mereka berdua, menyeberangi jalan menuju Kawasan Parkiran Motor. Sesampainya di tempat parkir Alexander menaiki motornya. Belum sempat naik ke atas motor, seseorang menutup kedua mata Tiara.


Kedua tangan Tiara, menyentuh pergelangan tangan yang menutup kedua matanya, "Siapa ini?"


"Ayo tebak," ujar seseorang di belakangnya.


Alexander menoleh ke belakang, dia melihat Ilham menutup kedua mata Tiara dengan pergelangan tangannya. Tiara membuka tangan Ilham menutupi pandangannya. Dia melirik ke arah Ilham lalu tersenyum.


"Tiara, mumpung cuaca dingin begini lebih enak minum wedang jahe merah. Kebetulan ada Kedai langganan gue yang jual itu. Yuk, kita ke sana," ajak Ilham kepada Tiara.


Tiara menaiki motor Alex, "Maaf Ilham, Ayahku sedang menunggu di rumah. Kapan-kapan kita ke sana!" ujarnya seiring motor melaju di atas aspal.


Motor Kawasaki K800 dikendarai oleh Alex melaju di atas aspal basah. Angin berhembus kencang, hujan kembali turun namun mereka tidak menepi. Beberapa pengendara motor melintas mengenakan jas hujan.


Tiara mendekat pada daun telinganya, "Sayang, kenapa kita gak menepi dulu?!"


"Tanggung, sudah basah!" jawab Alex.

__ADS_1


Hujan turun semakin deras seiring hembusan angin. Tubuh mereka berdua menggigil, mau tidak mau mereka berdua harus menepi. Mereka berdua, menepi pada sebuah Pos Kamling di pinggir jalan.


Alexander dan Tiara, duduk berdempetan di dalam pos ronda. Dia melihat Alexander memeluk dirinya sendiri dengan tubuh menggigil.


Tiara tersenyum lalu ia berkata, "Sayang, angkat kedua tanganmu," pinta Tiara.


"Kenapa?" tanya Alex.


"Sudah lakukan saja."


Alexander mengangkat kedua tangan, Tiara langsung memeluknya dari samping. Tiara mempererat pelukannya lalu berkata, "Hangat?"


Alexander tersenyum, dia memalingkan wajahnya lalu malu-malu Alex menjawab, "Hangat."


Suara laju motor mulai mendekat, Tiara langsung melepas pelukannya. Tidak disangka, Ilham pun datang dengan jas hujan. Kemudian, dia masih mengenakan jas hujan duduk di samping Tiara.


Ilham merenggangkan kedua tangannya ke depan, "Dingin sekali cuaca hari ini, tidak gue sangka hujan akan turun lagi. Untungnya ada jas hujan," ujar Ilham memulai pembicaraan.


"Kenapa kamu bisa di sini? Bukannya arah pulang mu ke sana?" timpal Tiara menunjuk ke arah barat.


"Rencananya, aku mau main ke rumah temanku. Kebetulan, rumahnya tidak terlalu jauh dari sini. Sayangnya hujan turun semakin lebat, jadi aku berteduh di sini. Tidak aku sangka ada kalian berdua di sini."


Ilham, mengambil jamu cair dalam kemasan sachet di dalam tasnya. Dia pun memberikannya kepada Tiara, "Minumlah, nanti kamu masuk angin."


Tiara mengambilnya, "Terima kasih."


Terkadang, dia melempar joke dan candaan membuat Tiara tertawa. Sedangkan Alex terdiam layaknya obat nyamuk.


Jamu sachet pemberian Ilham tinggal setengah. Dia memberikannya kepada Alex, "Minum nanti kamu sakit."


Buru-buru Ilham mengambilnya, membuat Alexander dan Tiara terkejut. Ilham mengangkat sachet itu sambil berkata, "Kalau tidak mau biar gue habiskan," katanya lalu meminum jamu itu hingga habis.


Alexander melongo melihat apa yang dilakukan oleh Ilham. Sedangkan Tiara tersenyum lalu berkata, "Jangan rakus begitu!" sindir Tiara dengan nada bercanda.


"Maaf, sayang kalau tidak dihabiskan. Kasihan para petani herbal, kalau tidak dihabiskan sama saja tidak menghormati mereka," balas Ilham.


Tiara tertawa lalu berkata, "Iya-iya."


Hujan mulai reda, mereka bertiga keluar dari Pos Ronda. Alexander dan Ilham naik motor masing-masing.


Tiara berdiri di samping motor Alex, "Ilham, kalau begitu aku pulang dulu."


"Tiara, kenapa tidak denganku saja? Kamu bilang, Ayahmu galak?"

__ADS_1


Alexander melirik ke arah Ilham dengan sorot mata yang tajam. Dia berkata, "Tenang, gue tau di mana Tiara harus turun. Kebetulan, rumah kami gak terlalu jauh," ujarnya memotong pembicaraan.


Ilham terdiam, sekilas Tiara melihat raut wajah Ilham begitu geram dengan Alex. Kemudian Tiara naik ke atas motor Alex, "Dah! Sampai ketemu di sekolah!" katanya seiring motor melaju.


Angin berhembus kencang, Alexander mengendarai motornya ke sisi jalan. Kondisi jalan yang becek, angin berhembus kencang serta jarak pandang terbatas membuat Alexander harus ekstra hati-hati.


"Sial!"


Tiara terkejut, dia mendekati daun telinganya sambil bertanya, "Ada apa?!"


"Ilham mengikuti kita, cepat pegangan yang erat!"


Motor mulai melaju sangat cepat, Tiara memeluk erat Alex dari belakang. Angin berhembus kencang, tubuh Alexander menggigil karena kedinginan merasakan hembusan angin mengenai tubuhnya. Alexander melirik ke arah spion, dia melihat Ilham menambah kecepatan dan menjaga jarak cukup jauh.


Jalan lurus telah ia lewati dan jalan berliku-liku telah mereka lintasi. Sebentar lagi, mereka berdua akan sampai di Gapura Perumahan Bunga Indah.


"Gawat, sebentar lagi kita sampai. Apa kita memutar dulu saja?!" tanya Alex kepada Tiara.


"Tenang sayang, serahkan saja padaku!"


Tiara memejamkan matanya sejenak sambil berkonsentrasi. Dia menyilangkan kedua tangannya lalu mengibaskan pada dua sisi bawah. Seketika, hujan kembali turun dengan deras seiring munculnya kabut putih.


"Belok kanan!" perintah Tiara.


Penglihatan Alexander terbatas, dia berbelok memasuki Gapura Desa Manggis. Perlahan kabut mulai menghilang, namun betapa terkejutnya Alex melihat dirinya berada di kawasan Perumahan Bunga Indah. Alexander, memang setang kemudi dengan satu tangan.


Dia menunjuk pada sekelilingnya dengan tangan kiri, "Bukannya kita masuk ke dalam Desa Manggis?" ujarnya dengan kebingungan.


"Tenang sayang, aku sudah memindahkan kita dengan teleportasi milikku. Jadi ketika kita memasuki Gapura Desa Manggis, kita dalam sekejap langsung berpindah memasuki Kawasan Perumahan Bunga Indah."


Mendengar hal itu, Alexander bernafas lega lalu menambah kecepatan laju kendaraannya menuju rumah. Sesampainya di rumah mereka masuk ke dalam lalu mandi secara bergantian.


Ketika menjelang malam, suhu tubuh Alex mulai panas. Dia diantar oleh Tiara menuju Klinik terdekat.


Setelah melakukan pemeriksaan, Alexander dinyatakan sakit demam. Kemudian Alexander dan Tiara kembali pulang dan beristirahat.


Mendengar cerita Tiara, Tamrin melipat kedua tangannya sambil berkata, "Beruntung kalian tidak dibuntuti sampai sini. Kalau itu terjadi bisa gawat."


"Jujur, gue kurang suka sama Ilham. Tapi gue salut dengan tekatnya," sambung Wulan.


"Memang, Ilham itu terkadang suka bersikap suka memaksa. Tapi aku masih ingin berteman dengannya," ujarnya lalu tersenyum kepada mereka berdua.


Tamrin teringat, saat dirinya melihat Ilham menginjak kaki Alex yang sakit dengan mata kepalanya sendiri. Mengingat hal itu membuat Tamrin sangat kesal.

__ADS_1


Dia ingin memberitahu perbuatan Ilham kepada Tiara. Namun ketika dia membuka mulut, Wulan memeluk pundaknya dengan keras.


Tamrin menoleh ke pada Wulan. Gadis itu menggelengkan kepala sebagai isyarat untuk tidak memberitahunya.


__ADS_2