
Keesokan harinya, Alexander duduk melamun sambil memandang suasana sekolah di balik jendela kelas. Hari ini adalah hari Kamis. Semua siswa mengenakan baju biru muda dan celana abu-abu.
Hari ini adalah jam kosong, sehingga suasana di kelas begitu ramai. Alexander terus memikirkan keinginan Tiara untuk memiliki handphone. Uang merupakan barang sensitif. Meskipun mendapatkan kiriman dari Sang Ayah sebesar sepuluh juta, dia tidak bisa menggunakannya tanpa izin.
Apalagi, uang tersebut digunakan untuk membeli sebuah handphone untuk Tiara. Dirinya tidak ingin, membuat Tiara dikenal sebagai gadis perah.
"Sedang memikirkan Tiara, Bos?"
Alexander sadar dari lamunannya, dia terkejut melihat Wulan tiba-tiba berada di sampingnya. Gadis itu mengenakan hoodie sambil mengocok kartu tarot miliknya.
"Tidak," jawab Alexander membuat Wulan menatapnya dengan serius.
"Hmm...."
"Bagaimana kalau kamu ramal aku!" pinta Alex.
Wulan menghembuskan nafas, membuat beberapa kartu Tarot miliknya terhempas. Sekali lagi, dia mengocok kartu tarot miliknya lalu meletakkan di atas meja. Melihat aksi Wulan, membuatnya terlihat seperti peramal sungguhan. Kemudian, dia mengambil salah satu kartu tersebut lalu melihatnya dengan tatapan serius.
Pada kartu tersebut, terdapat gambar seorang pria terikat oleh rantai besi. Pria tersebut di pandang oleh melihat oleh para pengerajin. Raut wajah dan tingkah laku orang-orang itu beraneka macam. Sedangkan pria yang terikat, memiliki raut wajah yang putus asa.
"Bos akan mengalami sebuah masalah. Masalah tersebut terkait keahlian dan percaya diri. Rantai trauma karena masa lalu, membuat Bos semakin terpuruk dan ragu mempercayai orang lain."
"Hmm..., menurutmu apa yang harus aku lakukan?" tanya Alex.
"Jangan ragu masa lalu, jika tidak mampu jangan ragu meminta bantuan. Bukalah hatimu kepada orang lain hanya setengah pintu. Terakhir, beranilah menentang trauma dan carilah kebebasanmu sendiri," ujar Wulan memberikan nasehat.
Mendengar hal itu, Alexander terdiam lalu ia berpikir keras mencerna perkataan Wulan. Dia penasaran, masalah apa yang akan dia hadapi. Tidak berselang lama, Tamrin pun datang lalu ia duduk berhadapan dengan Alex dan Wulan.
"Sedang apa kalian?"
"Meramal. Aku baru saja selesai meramal Bos," jawab Wulan.
"Kenapa kalian tidak mengajakku? Padahal gue juga mau diramal. Parah, jahat kalian..."
"Sudahlah Tamrin, jangan iri. Kamu juga akan aku ramal. Sekarang kamu diam dan perhatian," balas Wulan kepada Tamrin.
Wulan mulai mengumpulkan kartu tarot miliknya lalu ia mulai mengocok kartu itu dengan cepat. Kemudian, dia letakkan kartu-kartu di atas meja lalu mengambil dua kartu tersebut.
Kartu pertama, terdapat seorang lelaki sedang menelusuri jalanan berlubang dengan menunggangi seekor kuda. Perjalanan lelaki itu dihadang oleh dua orang tentara Romawi bertanduk merah dan lelaki tersebut memberikan sebuah kartu.
Pada kartu yang kedua, lelaki tersebut berada di sebuah ruangan yang terdapat seorang hakim.
"Bagaimana?" tanya Tamrin.
"Hari ini, kamu akan mengalami kesialan."
"Kesialan?"
"Kesialan tersebut, terkait dengan jalan yang sering kamu lewati. Kamu melupakan batas waktu, pada salah satu barang yang kamu miliki."
"Membingungkan. Gue sama sekali tidak mengerti," balas Tamrin.
"Sudahlah, abaikan penjelasan hal itu. Aku sarankan, hari ini jangan langsung pulang. Sebaiknya kamu pulang pada waktu senja," ujarnya memberi saran.
"Mana bisa! Sepulang sekolah, gue harus kerja. Kalau tidak, gue bisa kena teguran Bos di tempat kerja. Lagi pula, aku tidak terlalu percaya dengan ramalan."
__ADS_1
"Kalau tidak percaya, kenapa memintaku meramal? Terserah. Percaya atau tidak percaya, setidaknya aku sudah memberitahumu. Konsekuensi kamu tanggung sendiri."
"Ok, Madam Wulan. No problem..."
Sementara itu, Tiara dan Hana baru memasuki kelas. Aroma khas kuliner Bandung yaitu seblak, memenuhi ruang kela. Mereka berdua, duduk di kursi depan lalu menikmati makanan bersama.
"Tiara, kamu sudah masuk ke dalam Grup Kelas?" tanya Hana lalu Tiara menjawab, "Belum."
"Kenapa?"
"Tidak ada yang punya nomer telpon ku..."
"Kalau begitu, aku minta sekalian ingin bertanya kalau ada tugas yang sulit."
"Tidak bisa. Ayahku sangat ketat," ujarnya beralasan.
Selesai makan, Tiara berjalan membuang sampah di dalam tong sampah depan kelasnya. Seseorang memanggilnya, ia pun langsung melirik ke arah orang yang memanggilnya. Rupanya, orang itu tidak lain adalah Ilham.
"Hai," sapa Ilham.
"Hai, juga."
"Lagi jam kosong?" tanya Ilham lalu Tiara menjawab, "Iya."
"Ketua Muridmu sudah bicarakan pertandingan antar kita?"
Tiara pun teringat, mengenai kelas 10 IPA A menantang kelasnya. Gadis itu menjawab, bahwa ia dan Ketua Kelas akan segera membicarakannya. Ilham hanya terdiam sambil melipat kedua tangannya.
"Begitu rupanya. Tiara, sepulang sekolah kamu ada acara?" tanya Ilham lalu Tiara menjawab, "Ada. Rencananya, hari ini aku, Wulan dan Hana ingin berkunjung ke Mall Cikini."
"Ok, aku akan langsung beritahu mereka."
"Sepulang sekolah, aku dan teman-temanku langsung pergi ke kelasmu."
Setelah itu mereka berdua berpisah. Tiara berjalan masuk ke dalam kelas lalu berjalan mendekati Alexander sedang berbincang dengan Wulan dan Tamrin.
"Kamu habis ngobrol sama Ilham?" tanya Alex lalu Tiara menjawab, "Iya, Alex. Dia meminta jawaban, seputar tantangan Sepak Bola pada kelas kita."
"Hmm.., tapi kenapa lama?" tanya Alex.
"Cieee... ada yang cemburu," ujar Tamrin memotong pembicaraan.
Wajah Alex memerah, ia memalingkan wajahnya sambil menahan malu. Di dalam hati, ia mengakui bahwa dirinya cemburu.
"Sttt! Jangan, keras-keras nanti teman kelas kita ada yang dengar," balas Alex.
"Oh iya, satu lagi. Aku minta izin mau pergi ke Mall sama Wulan dan Hana. Tetapi, Ilham dan teman-temannya berencana untuk ikut."
"Hebat! Sudah mulai izin-izin segala," kata Tamrin.
"Ehem! Memangnya, kenapa harus izin?" sambung Wulan bertanya.
"Because, Alexander Wirawan is My Husband.."
Mendengar hal itu, wajah Alexander seketika merah padam. Begitu juga dengan Tamrin, mendengar kalimat romantis membuatnya sangat iri.
__ADS_1
"Ah, sial gue iri!" ujar Tamrin sambil berdiri dari bangku. "Sial banyak gula, telingaku sakit!" sambil berlari mengelilingi kelas.
Tingkah Tamrin, menjadi pusat perhatian seluruh kelas. Mereka semua bertanya, mengenai alasan Tamrin bersikap aneh. Dia pun menjawab, bahwa ia iri pada Alex karena menaiki motor idamannya.
Seluruh kelas percaya, mengenai kebohongan yang dilontarkan olehnya. Sementara itu, Wulan merapikan kartu tarot miliknya lalu pamit kembali ke tempat duduknya.
"Tiara, pergi ke Mall memangnya kamu punya uang?" tanya Alex kepada Tiara.
"Tidak, uang pemberian dari orang tempat aku tinggal sementara sudah habis. Tetapi kamu tenang saja, aku tidak membeli apapun di sana."
"Sepulang sekolah, temui aku di belakang sekolah. Semoga suasananya sepi," bisik Alex kepada Tiara.
"Memangnya ada apa?" tanya Tiara lalu Alexander menjawab, "Pokoknya, kamu turuti saja," balasnya berbisik kepada Tiara.
Lonceng pertanda jam pelajaran selanjutnya telah berbunyi. Seluruh siswa kembali ke tempat masing-masing untuk bersiap menyambut kedatangan Sang Pengajar.
Sepulang sekolah, Tiara berjalan keluar kelas namun baru saja keluar ia di tarik oleh Hana.
"Hayo, mau ke mana buru-buru begitu!? Jangan lupa dengan acara kita!" seru Hana.
"Dasar, kamu bikin kaget saja. Aku ada urusan sebentar, nanti aku kembali lagi. Oh iya, Ilham dan teman-temannya mau ikut."
"Serius? Wah asik, kalau cowok-cowok populer itu ikut kita!"
"Sudah, ya!" balas Tiara lalu ia pun berlari.
"Hei, tunggu! Gue ikut!" kata Hana.
Baru beberapa langkah, seseorang memegang tangannya. Hana pun berbalik, melihat seorang memegang tangannya. Rupanya, orang itu tidak lain adalah Wulan.
"Jangan," kata Wulan lalu Hana bertanya, "J
Kenapa?"
"Kalau kita menyusulnya, kasian Ilham dan teman-temannya kebingungan mencari kita."
Hana tidak jadi menyusul Tiara. Dia lebih memilih menunggu Ilham dan kawan-kawan bersama Wulan. Berkat Wulan, Tiara bisa bertemu dengan Alex sesuai tempat yang telah dijanjikan.
Sekian lama berjalan, akhirnya Tiara sampai di tempat yang telah dijanjikan. Dia melihat, Alexander melambaikan tangan di depan warung kecil pinggir jalan. Sinar matahari bersinar terang, suasana siang hari sangat panas. Pejalan kaki hanya hitungan jari berjalan berlalu-lalang.
"Sayang, ada apa sampai memintaku bertemu di sini?" tanya Tiara.
Alexander mengambil dompet di saku belakang celananya. Dia mengeluarkan tiga lembar mata uang seratus ribu.
"Buat kamu. Sebisa mungkin tolong dihemat," ujarnya sambil memberikan uang dengan malu-malu.
"Tapi, kenapa sayang?" tanya Tiara merasa tidak enak.
"Aku ini suamimu. Mana tega membiarkan istrinya pergi, tanpa membawa uang."
Tiara terdiam, kedua tangannya menutup mulut yang terbuka. Wajahnya merah padam dan tak berkedip ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Alex. Kemudian, Tiara pun tersenyum membuat Alexander semakin salah tingkah.
"Tadi kamu bilang apa?" goda Tiara.
"Tidak ada pengulangan!" balas Alex dengan wajah merah padam lalu dia berjalan meninggalkan Tiara sambil berkata, "Pokoknya kamu hati-hati, lebih dari jam 7 malam harus pulang!"
__ADS_1
"Iya, suamiku. Aku usahakan pulang secepat mungkin," gumamnya melihat Alexander dari kejauhan.