Senar Takdir

Senar Takdir
Planning selanjutnya


__ADS_3

Tamrin sambil merenggangkan jari-jarinya berkata, "Berani sekali, kalian bertiga melukai Bos gue. Padahal baru satu bulan, kalian malah menampakkan jati diri. Setidaknya tunggu setengah tahun." Dia melirik kepada Alex lalu berkata, "Pukulan yang bagus Bos, Ilham bajingan itu memang harus dihajar!"


Bobi mendaratkan sebuah pukulan sambil berkata, "Bajingan!"


Tamrin tersenyum, dia menggoyangkan telunjuk di depan mereka bertiga. Kemudian dia menarik Bobi dan memukul pipinya. Martin langsung memukul pipi Tamrin dengan sangat keras hingga terdorong beberapa langkah.


Tamrin tertawa mengibaskan kedua tangannya. "Nice punch!"


Mereka semua, berkelahi dibelakang gudang sekolah. Ilham dan Alex saling melupakan kebencian dan amarah.


"Hei, kalian! Stop!" ucap seseorang dengan lantang.


Baku hantam pun terhenti, mereka semua melirik kepada seorang siswa mengenakan almamater OSIS. Rupanya siswa itu adalah Ruben, dia berjalan mendekati mereka semua.


"Sekarang, kalian semua bubar atau gue laporin soal hal ini ke Guru Bina Konseling!" ancam Ruben kepada mereka semua.


Martin mendekat lalu dia berkata, "Dasar Cepu, padahal kita satu kelas. Baru jadi anggota OSIS sudah Sok Pahlawan."


Ruben tersenyum tipis lalu berkata, "Terserah elu ngomong apa. Yang jelas, gue punya bukti kejahatan kalian," kata Ruben lalu dia melirik ke arah Ilham, "Gue heran sama elu, Ilham. Elu itu anak Wakil Gubernur, bukannya ngasih contoh tapi elu malah seenaknya. Sekarang perintah dua teman elu, kembalikan uang Alex sudah kalian rampas."


Bobi dan Martin, mengambil uang milik Alex beserta dompet di dalam saku celana lalu memberikannya kepada Ilham. Setelah terkumpul, dia mengembalikan dompet dan uang yang telah diambil.


"Sekarang, kalian berdua bersalaman dan minta maaf," perintah Ruben kepada Ilham dan Alex.


Alexander dan Ilham mulai bersalaman, mereka berdua terdiam mematung sambil memandang dengan penuh intimidasi. Secara lisan mereka beramai namun hati sebaliknya.


Ilham tersenyum tipis lalu berkata, "Elu beruntung kali ini. Mungkin tidak lain waktu, siapkan saja uangmu untuk berobat kalau elu masih coba dekat-dekat dengan Tiara," ancam Ilham kepada Alex.


"Gue, beruntung? Bukannya elu yang beruntung, mengajak teman dan mengancam gue seperti pengecut. Dasar mental patungan," balas Alex.


Ilham semakin geram, dia semakin memperkuat mencengkram tangannya sambil berkata, "Terserah elu ngomong apa, yang jelas gue bakal terus dekati Tiara. Ketika gue jadian sama Tiara, elu gak ada hak untuk mendekatinya lagi. Ingat, Tiara itu milik gue!"


Alexander tertawa, dia tersenyum sombong lalu ikut memperkuat mencengkram tangannya sambil berkata, "Gue gak peduli seberapa besar usaha elu dekati Tiara. Meskipun kalian pacaran, pada akhirnya Tiara akan kembali kepada gue. Elu gak bisa mengusik hubungan gue sama Tiara."


Amarah semakin memuncak, cengkraman tangan mereka berdua semakin kuat. Mereka melepas cengkraman tangan lalu maju untuk kembali beradu pukulan.

__ADS_1


Ruben dengan sigap berdiri diantara mereka berdua. Dia langsung menahan Alexander dan Ilham dengan kedua tangan sambil berkata, "Stop, woi! Gue bilang stop!" ujarnya lalu melirik ke arah Alex lalu berkata, "Cukup! Elu mau gue laporin juga?! Kalian semua bubar!" tegas Ruben kepada mereka semua.


Tamrin, Martin dan Bobi ikut membantu Ruben memisahkan mereka berdua. Setelan itu, Alexander dan Ilham pun terdiam. Mereka saling memandang dengan mengintimidasi.


Ilham berbalik badan, "Ayo guys, kita pergi!"


Ilham dan teman-temannya, pergi meninggalkan mereka bertiga. Mereka bertiga, berjalan menelusuri lorong menuju gerbang sekolah. Bobi melihat Ilham berjalan dengan penuh amarah.


Kedua tangan Ilham mengepal, dia memukul diding sekolah sambil berkata, "Bangsat! Gue pengen banget hajar wajah sombongnya sampai babak belur!"


"Sabar Ilham, gue ngerti elu kesal tapi kendalikan emosi elu. Setidaknya, kita berhasil menggertak Alex dan sudah memberi peringatan," kata Martin.


"Benar kata Martin, sekarang elu fokus aja pendekatan sama Tiara. Kita beruntung, Ruben tidak melaporkan hal ini ke BK (Bina Konseling) jadi masih ada peluang merebut hatinya," sambung Bobi.


"Gue yakin, Tiara secepatnya jadi pacar elu. Untuk sekarang, elu cari aman demi citra elu depan Tiara," kata Martin dengan nada menyemangati.


Ilham tersenyum, dia menepuk pundak kedua sahabatnya sambil berkata, "Thanks."


Di waktu yang bersamaan Alexander, Tamrin dan Ruben berjalan menuju UKS. Sebelumnya, Alexander dan Tamrin berencana langsung pulang namun Ruben bersikeras meminta mereka pergi ke UKS untuk mengobati luka mereka berdua. Pintu Ruang UKS terbuka, Ruben terlebih dahulu masuk ke dalam.


Suasana UKS begitu sepi, tidak ada siapa pun selain mereka bertiga. Tidak berselang lama, seorang siswa petugas UKS datang. Ruben menjelaskan situasinya lalu meminta obat luka memar.


"Thanks," balas Alex.


Ruben menjulurkan tangannya lalu berkata, "Kenalin, gue Ruben. Elu pernah pijat kaki gue setelah pertandingan, masih ingat?"


Alexander bersalaman sambil berkata, "Alexander. Gue masih ingat."


Selanjutnya, Ruben bersalaman sekaligus berkenalan dengan Tamrin. Ruben duduk di pinggir kasur berhadapan dengan mereka berdua.


"Alex, gue masih ingat aksi elu mati-matian menjaga gawang. Gue kagum sama elu, kapan-kapan kita tanding bola lagi," puji Ruben membuat Alexander tersenyum.


"Thanks, kapan pun kelas 10 IPS F always siap," balas Alex.


Alexander teringat pembullyan yang telah dia alami. Pandangannya tertunduk, kedua tangannya mengepal penuh dengan amarah sambil berkata, "Ilham bajingan, dia menyeret gue ke belakang gudang sekolah!"

__ADS_1


Ruben melipat kedua tangannya sambil berkata, "Gue sempat mendengar perbincangan elu dengan Ilham. Pasti masalah cewek kan?"


"Iya," balas Alex dengan singkat.


"Asal elu tau aja Ruben, Ilham sialan itu menginjak kaki kanan Alex saat pertandingan!" sambung Tamrin.


Ruben menggelengkan kepala lalu berkata, "Gue gak nyangka, Ilham orang yang seperti itu. Padahal, dia itu sangat ramah dan disukai para siswa dan guru."


Alexander, mencengkram seprai kasur dengan kuat. Dengan penuh amarah dia berkata, "Gue kira setelah masuk SMA hidupku akan lebih tenang. Padahal, gue sudah mencatat dan mempersiapkan segala hal menghindari pembullyan. Pada akhirnya, gue kembali mengalami pembullyan. Gue benci Ilham! Kenapa harus ada pembullyan?!"


"Dengar Alex, selama manusia terikat oleh sifat iri dan dengki pembullyan akan selalu ada. Meskipun elu pergi ke ujung dunia, selama ada manusia maka pembullyan pasti terjadi," jawab Ruben.


Tamrin tersenyum, dia menepuk pundak Alex sebanyak tiga kali. Lalu dia berkata, "Betul kata Ruben. Tidak ada pilihan lain selain menghadapinya. Jadi Bos, apa planning elu selanjutnya? Pindah sekolah?"


Alexander tertawa lalu melirik kepada Tamrin dan berkata, "Pindah sekolah? Konyol sekali. Planning ku selanjutnya, membuat rencana menghadapi Ilham dikemudian hari. Lagi pula, ada seorang bidadari harus aku lindungi. Aku tidak akan biarkan, Ilham merampasnya dariku!"


Tamrin tertawa lalu berkata, "Menarik-menarik! Sekarang ada Gue dan Wulan, kita berdua akan selalu membantu elu."


Alexander melirik kepada Ruben lalu bertanya, "Bagaimana denganmu Ruben? Elu sekelas dengan Ilham, tidak takut di bully dan sebagainya?"


Ruben tersenyum lalu menepuk ujung jari pada kepalanya sambil berkata, "Selama mereka masih ketergantungan dengan ini. Mereka tidak ada apa-apanya."


Setelah itu, Tamrin dan Alex mulai mengobati luka dengan salep. Selesai memberi salep, mereka semua keluar dari UKS.


Ruben pamit kepada mereka untuk menghadiri rapat OSIS. Sedangkan Alexander dan Tamrin, berjalan menuju parkiran berada di seberang jalan.


Alexander sambil berjalan berkata, "Tamrin, gue ada permintaan."


Tamrin melirik kepada Alex lalu berkata, "Permintaan apa?"


"Tolong, rahasiakan hal ini dari Tiara. Gue gak mau, pertemanan Tiara dengan Ilham menjadi renggang."


Tamrin menghembuskan nafas panjang lalu berkata, "Yakin, Bos? Merahasiakan hal ini dari Tiara, sama halnya menyiksa dirimu sendiri."


"Iya, Tamrin gue tau. Gue hanya ingin, Tiara bahagia menikmati masa mudanya. Lagi pula, sejak awal gue selalu sendiri memendam rasa sakit."

__ADS_1


Tamrin memegang pundak Alex lalu berkata, "Itu dulu, Bos. Sekarang ada gue dan Wulan, kita berdua siap menerima rasa sakit yang Bos alami. Bos lupa? Kita ini Empat Serangkai."


Alexander tersenyum lalu berkata, "Thanks Tamrin."


__ADS_2