
Mereka berdua, berjalan masuk ke dalam rumah disusul oleh Alex. Wulan duduk di ruang tamu, dia mulai mengeluarkan handphone miliknya. Sedangkan Tiara pergi ke dapur.
Wulan melihat, sinyal WiFi milik Alex tertangkap pada handphonenya. Dia berkata, "Bos, aku baru tau kalau rumahmu ada WiFi."
Alexander membalas, "Sebenarnya sudah lama, gue memilikinya."
"Sewaktu Bos sakit, Bos sengaja tidak bilang punya WiFi, ya? Dasar pelit."
"Suruh siapa gak nanya," balas Alex.
Wulan memberikan handphone miliknya. Alexander langsung memasukkan password WiFi rumahnya. Setelah itu, dia memberikan kembali handphone milik Wulan.
Wulan tidak menyangka, bahwa sinyal WiFi milik Alex sangat bagus. Buru-buru, dia membuka aplikasi game mobile sambil berkata, "Sinyal idaman, fiks jadi tempat nongkrong. Bos, mohon kerjasamanya kalau sewaktu-waktu aku menumpang di sini."
Alexander mengembuskan napas panjang, di berbalik badan sambil berkata, "Terserah."
Dia berjalan menuju dapur lalu dia melihat Tiara memasukan Wafel Ice Cream ke dalam tiga mangkuk kecil. Alexander penasaran, di mana Tiara membelinya.
"Beli di mana?" tanya Alex.
"Taman Kota, tempatnya tidak jauh dari Museum Olahraga. Ilham yang membelikannya untukku. Katanya untuk Papah dan Ibuku di rumah. Karena hanya ada kita berdua, jadi tiga Wafel ini untuk kita bertiga," jawab Tiara.
Selesai urusan di dapur, Tiara pergi ke ruang tamu membawa tiga mangkuk berisi Wafel Ice Cream di atas nampan. Tiara melihat, Wulan sedang asik memainkan game online di dalam handphonenya.
Tiara meletakkan tiga mangkuk itu berisi Wafel di atas meja sambil berkata, "Ayo Wulan dimakan dulu."
Wulan, meletakkan handphone miliknya di atas meja lalu mengambil mangkuk sambil berkata, "Di taman Wafer Jumbo, sekarang wafer lagi. Fiks auto gemuk!"
Tiara sambil mengunyah Wafel berkata, "Memangnya kamu lagi diet?"
"Tidak. Bukannya gue sombong tapi mau makan sebanyak apapun gue tetap kurus," kata Wulan lalu mulai memakan Wafel Ice Cream.
Tiara tertawa lalu berkata, "Enak dong! Bisa ikut lomba makan tanpa takut gemuk," canda Tiara kepada sahabatnya.
Tidak berselang lama Alexander pun datang. Alexander datang membawa sebotol madu lalu meletakkannya di atas meja sambil berkata, "Silahkan untuk tambahan toping."
Wulan dan Tiara, secara bergantian menambahkan madu sebagai toping tambahan. Mereka semua menikmati Wafel bersama-sama.
Alexander bertanya, tentang kegiatan apa yang dilakukan oleh Tiara dan Ilham hari ini. Tiara bercerita, bahwa hari ini dia pergi ke Restoran Jepang namun tidak hanya berdua melainkan bertiga yaitu dengan Winda. Dia juga menjelaskan, bahwa Winda adalah teman Ilham semasa SMP dan sekarang satu kelas dengannya.
Setelah itu, Tiara dan Ilham mengunjungi Museum Olahraga. Winda tidak ikut, dia pulang tanpa alasan tidak jelas. Di Museum Olahraga, dia mengungkapkan impiannya membawa negara ini menuju Liga Asia.
Selesai mengunjungi Museum, mereka berdua pergi ke taman Kota tidak jauh dari Museum. Dia ditraktir Wafel oleh Ilham lalu makan bersama di taman. Semua yang dia lakukan, hanya untuk merayakan ulang tahunnya.
Tiara meletakkan mangkuk di atas meja dengan raut wajah yang bimbang. Alexander melihat hal itu lalu bertanya, "Ada apa?"
"Aku bingung, hari ini adalah hari ulang tahunnya. Suamiku, apa aku harus memberinya hadiah atau tidak? Kalau tidak, aku merasa seperti sudah memanfaatkannya untuk kesenanganku sendiri."
Alexander tersenyum lalu berkata, "Jangan berpikiran seperti itu. Sejak awal, Ilham yang mengajakmu duluan, bukan kamu. Jadi, tidak ada unsur dimanfaatkan."
"Betul kata, Bos. Menurutku, sebaiknya berikan saja coklat atau makanan," sambung Wulan memberi saran.
Seketika dia teringat, pembullyan yang dilakukan oleh Ilham kepada dirinya. Dia sangat geram mengingat hal itu, tanpa sadar dia mengepalkan tangan pada sofa. Tiara memegang dadanya sendiri, dadanya terasa sakit dan penuh dengan amarah.
__ADS_1
Aura sekitar yang sejuk mulai terasa panas. Dia melirik kepada Tiara, dirinya sekuat tenaga mengendalikan emosi.
Alexander, menghembuskan nafas panjang dengan wajah datar lalu berkata, "Lebih bagus lagi, kamu tidak perlu memberikan apapun."
"Tapi kenapa?" tanya Tiara.
Alexander tersenyum lalu berkata, "Sebab itu hal yang wajar. Tapi kalau kamu bersikeras, berikan saja coklat atau makanan seperti saran Wulan."
Apa yang Tiara rasakan, membuat dirinya merasa bahwa Alexander menyembunyikan sesuatu. Amarah serta kebencian, membuatnya semakin penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Wulan mengeluarkan Kartu Tarot atau kartu ramal miliknya di dalam saku celana. Kemudian, dia letakkan di atas meja membuat Alexander dan Tiara teralihkan.
"Hei, mau melihat ramalanku hari ini?" tawar Wulan kepada mereka berdua.
Alexander memendam emosi, seketika diselimuti rasa penasaran. Kemudian dia berkata, "Tentu! Ayo cepat!"
Wulan mulai mengocok kartu Tarot miliknya. Selesai mengocok, dia meletakkan kartu tersebut di atas meja secara terbalik. Kedua matanya tak berkedip, melihat pola kartu di tangannya.
"Ada apa? Kenapa melihatnya seperti itu?" tanya Tiara begitu penasaran.
Wulan tidak menjawab pertanyaannya. Dia membalikkan kartu tersebut lalu menunjukkannya kepada mereka berdua.
Alexander dan Tiara, melihat sebuah gambar peti harta bercahaya turun dari langit menghampiri Sang Raja. Namun Sang Raja hanya terdiam di atas singgasananya. Justru beberapa Menteri Sang Raja yang mengulurkan tangan pada peti tersebut.
"Kalian punya kertas HVS?" tanya Wulan pada mereka berdua.
"Sudah jangan banyak tanya, berikan saja padaku," ujarnya dengan tidak sabaran.
Alexander mengambil kertas HVS dari dalam kamar lalu memberikannya kepada Wulan. Gadis itu mulai menulis sesuatu lalu Tiara dan Alex duduk disampingnya karena penasaran. Alexander dan Tiara melihat, Wulan menulis dua huruf dan satu angka yaitu "PS5".
Tidak berselang lama, handphone milik Alexander berbunyi lalu dia mengambil handphone miliknya di dalam saku celana. Rupanya, orang yang menelpon Alex adalah Erwin tidak lain Ayahnya. Buru-buru, Alexander pergi ke ruang keluarga untuk menjawab telepon Ayahnya.
Sementara itu di Ruang Direktur, Erwin duduk menghadap jendela sambil memegang handphonenya.
Dia menunggu Alexander menangkap telponnya. Tidak berselang lama Alexander mengangkat telponnya.
"Alex, gimana kabarmu?"
"Kabar Alex Baik Ayah," jawab Alex.
"Bagaimana kehidupan sekolahmu? Apa ada yang membully mu?!" tanya Erwin begitu khawatir pada putra keduanya.
"Tidak, baru juga bulan pertama masih suasana perkenalan."
Beliau memandang suasana perkotaan dibalik jendela dengan wajah cemas lalu bertanya, "Kamu tidak bohong kan?" ujarnya dengan nada serius.
Di ruang keluarga, Alexander terdiam mendengar pertanyaan ayahnya. Alexander teringat, pembullyan telah dia alami dua hari yang lalu.
Alexander tersenyum lalu berkata, "Tidak ayah," jawabnya berbohong.
__ADS_1
"Sisa berapa uangmu?" tanya Sang Ayah.
"Empat juta tujuh ratus," jawabnya ragu-ragu.
"Hematnya! Ayah gak nyangka, kamu bisa sehemat ini," puji Sang Ayah.
Alexander terkejut lalu bertanya, ", Hemat dari mana? Segitu boros Ayah!"
Erwin tertawa lalu berkata, "Segitu termasuk hemat, semua uang itu termasuk perawatan motor, jajan, listrik, bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga bukan? Belum termasuk tiket jalan-jalan. Memangnya kamu gak pergi ke mana gitu?"
"Iya, sih. Bulan ini, Alex habis ke Taman Hiburan, Mall dan Restoran Steak," jawab Alex.
Mendengar hal itu, Erwin pun tersenyum lalu berkata, "Ayah senang, akhirnya kamu bisa melihat dunia. Bagaimana rasanya? Lebih menarik dari pada makan di rumah seharian."
Alexander tersenyum lalu membalas, "Ayah benar."
Wulan pun datang, dia berdiri berhadapan dengan Alex sambil menunjukkan selembar kertas HVS bertuliskan "PS5".
sepuluh juta ke rekening kamu. Kamu gak minta dibelikan apa gitu?"
Wulan berjalan mendekat memegang kertas sambil berkata, "PS5."
"PS5?!" ucap Alex.
"Oh, kamu ingin PS5? Ok, nanti ayah pesankan sekarang," kata Erwin kepada putra ke duanya.
"Enggak, ayah! Alex gak minta untuk...."
Belum sempat melanjutkan perkataannya. Beliau pun berkata, "Sudah jangan begitu Alex. Sudah lama kamu menginginkannya bukan? Biar ayah belikan, siapa tau teman mu datang terus main bareng. Tidak baik, berdiam diri sambil main handphone gak jelas."
Alexander menghembuskan nafas panjang lalu berkata, "Iya, Ayah."
Wulan kembali ke ruang tamu lalu berjalan dengan penuh riang gembira sambil berkata, "Yes! PS5!"
Alexander berjalan menyusul Wulan lalu berkata, "Dasar, Wulan. Yang dapat siapa yang senang siapa," gumamnya sambil berjalan.
Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan jam delapan malam. Tiara mengantar Wulan ke halaman rumah.
Wulan menaiki motor matic merah miliknya. Dia melihat Tiara terdiam dengan raut wajah murung.
"Kenapa wajahmu murung begitu?" tanya Wulan.
Tiara menatap sahabatnya dengan serius lalu bertanya, "Wulan, kamu tau sesuatu tentang Alex?"
Wulan sambil mengenakan helmnya menjawab, "Iya."
"Apa Alexander menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya dengan begitu penasaran.
Wulan sambil menyalakan motornya menjawab, "Aku tidak bisa menjawab, cepat atau lambat kamu akan tau sendiri."
Gerbang rumah mulai terbuka, Wulan pun pamit dan mulai menambah laju kendaraannya. Tiara sambil menutup gerbang, terus dihantui rasa penasaran tentang apa yang sebenarnya disembunyikan Alex.
__ADS_1