Senar Takdir

Senar Takdir
Hal biasa di tongkrongan


__ADS_3

Fajar dan Alex masuk ke dalam Gang lalu berjalan mengunjungi suatu tempat.


"Kemana kita?" tanya Alex.


"Tempat tongkrongan," jawab Fajar.


Dari kejauhan, Alexander melihat Budi dan Dandi duduk di depan sebuah rental PS (Play Station). Mereka berdua, sedang menikmati sebatang rokok. Asap keluar dari mulut mereka, membuat Alexander teringat dengan Hadi dan komplotannya semasa SMP.


Komplotan Hadi selalu bolos di pelajaran tertentu untuk menghisap rokok. Mengingat hal itu, Alexander memandang mereka berdua tidak jauh berbeda dengan Hadi membuatnya merasa takut.


Budi dan Dandi memanggil mereka berdua sambil melambaikan tangan. Fajar membalas lambaian tangan mereka, kecuali Alex sedang tertunduk cemas dan takut.


Seseorang menepuk pundak, membuat Alexander terkejut. Dia menoleh ke samping, rupanya orang itu adalah Tamrin.


Tamrin langsung merangkulnya sambil berkata, "Hei, Bos! Tumben terlambat."


"Biasa kejar deadline," balas Alex.


"Yuk, kita samperin mereka!" ajak Tamrin.


Alexander tersenyum sambil menganggukkan kepala. Mereka bertiga, berlari menghampiri Dandi dan Budi sedang duduk pada sebuah bangku panjang sambil menghisap rokok.


Mereka semua, secara bergantian melakukan tos. Kemudian mereka duduk bersama pada kursi yang telah disediakan.


"Wih, Bos! Gue gak nyangka elu ke sini. Elu juga Tamrin!" kata Budi.


"Gue kesiangan, kebetulan aja gue diajak sama Fajar," balas Alex.


"Jelaslah Bos telat, dia berangkat bareng princess di kelas kita!" seru Fajar.


Dandi menghisap rokoknya lalu berkata, "Aromanya sebentar lagi ada yang jadian."


Budi menghisap rokok lalu menghembuskan asap rokok sambil berkata, "Bukannya Tiara lagi dekat sama Ilham Si Anak Kelas A itu?"


"Betul juga! Siap-siap move on dari sekarang Bos," timpal Fajar.


Alexander tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang mereka katakan. Andaikan mereka tau hubungan Alexander dan Tiara, entah bagaimana reaksi mereka. Tamrin sudah tau hanya cengengesan tidak jelas.


"Bagaimana dengan elu, Tamrin? Elu diajak Fajar juga?" tanya Dandi.


"Gue juga terlambat. Dari kejauhan, gue lihat Bos dan Fajar masuk Gang lalu gue ikutin mereka sampai di sini."


Fajar berdiri di depan pintu Rental PS3 lalu berkata, "Mumpung masih sepi, yuk main!" ajak Fajar pada mereka semua.

__ADS_1


"Gas!" ucap Dandi, Budi dan Tamrin.


Mereka semua mulai memesan waktu dan tempat untuk bermain. Selesai memesan waktu dan tempat, mereka duduk sila menghadap televisi. Dandi dan Budi, duduk memegang sebuah Stik Play Station.


Sedangkan Fajar dan Tamrin, duduk menonton untuk menunggu giliran bermain. Sedangkan Alexander bermain dan memegang Stik Play Station seorang diri.


Suasana Rental PS3, mulai ramai seiring dimulainya permainan. Selain Alexander dan teman-temannya, ada juga beberapa siswa dari sekolah lain yang ikut membolos ke Rental PS. Aroma asap rokok, serta suara musik sumbang membuat Alexander merasa mual.


Apalagi ditambah suara game, membuat suara dirental menjadi campur aduk. Dandi dan Budi, sedang asik bermain game Sepak Bola. Fajar dan Tamrin, diam menonton jalannya pertandingan Sepak Bola.


Sedangkan Alexander, dia asik sendiri bermain GTA V (Grand Theft Auto).



Suara permainan GTA V, membuat Fajar dan Tamrin melirik kepada game sedang dimainkan oleh Alex. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak, melihat karakter Franklin dimainkan oleh Alexander rusuh di pangkalan militer. Sesekali Tamrin dan Fajar ikut bermain secara bergantian.



Selain membuat kerusuhan, dua karakter yang dimainkan oleh mereka bertiga mencuri alutista secara random. Kemudian mereka keluar dari Pangkalan Militer lalu membuat kerusuhan di tengah kota tanpa alasan yang jelas.


Dandi dan Budi telah selesai bermain, mereka bergantian dengan Fajar dan Tamrin. Dandi duduk di samping Alex lalu menonton jalannya permainan. Selain GTA V, Alexander juga bermain game pertemuan pesawat yaitu Ace Combat.


Budi sibuk memainkan handphonenya, Dandi pun penasaran apa yang sedang dilakukan oleh Budi. Rupanya, Budi sedang menonton video porno di dalam handphonenya.


Fajar meletakkan stiknya lalu melihat pada layar sambil berkata, "Mana-mana?!"


Mereka bertiga mulai menonton film porno bersama. Tamrin sejak tadi asik bermain, ikut bergabung menonton bersama mereka.


Suara ******* wanita mulai Alexander dengar. Akibat suara tersebut, membuatnya tidak bisa fokus. Naluri hewani, membuat Alexander melirik pada film sedang teman-teman lihat.


Budi menyadari hal itu, dia tersenyum lebar lalu berkata, "Bos, gak usah ngintip segala. Ayo gabung!" ajak Budi.


Waktu perlahan mulai melambat, kepala Alex terasa pening mencari alasan yang tepat untuk menolaknya. Sebenarnya, dia pernah menonton film yang sedang mereka tonton. Namun jika Alex mengatakan hal itu, mereka pasti berpikiran bahwa dirinya sangat mesum dan suka mengoleksi film. Tamrin, Dandi dan Fajar ikut mengajaknya membuat Alexander harus memutar otaknya sekeras mungkin.


"Gue harus apa?" ujarnya kebingungan bertanya pada dirinya sendiri.


Terpaksa, Alexander menerima ajakan teman-teman menonton film porno. Birahi Alex terus meningkat seiring jalannya cerita di dalam film. Namun anehnya, teman-teman Alex tidak terlihat birahi seolah itu hal biasa.


Nafsunya sudah mencapai batas maksimal, ketika dia melihat warna merah jambu. Dia kembali teringat, selembar kain tipis berwarna merah jambu.


Bukannya fokus pada pemeran film, dia membayangkan pemeran wanita itu adalah Tiara dan pemeran Pria merupakan dirinya. Buruh peliharaannya mulai terbangun lalu seiring bangkitnya Sang Burung Alex pun berkata, "Please Jabrik, gue mohon jangan bangun!" ucapnya di dalam hati.


Lima menit telah berlalu, film yang mereka tonton pun telah berakhir. Akhirnya, Alexander terbebas dari neraka namun sialnya burung peliharaannya belum juga tertidur.

__ADS_1


Fajar, Dandi dan Budi terus membicarakan adegan panas di dalam film. Sedangkan Tamrin dan Alex menyimak dan tertawa tidak jelas.


"Gila, body Emi benar-benar gitar spanyol," puji Dandi.


"Mainnya juga profesional, kira-kira kalau gue main sama dia kuat gak ya?" kata Budi membayangkan dirinya bermain dengan wanita di dalam film.


Fajar tertawa lalu berkata, "Palingan sepuluh detik sudah lemas," ledek Fajar kepada Budi.


"Sombong amat. Kayak sudah pernah aja!" balas Budi.


"Jangan salah, gue ini Rajanya para wanita, bung!"


Tamrin tertawa lalu berkata, "Ngaku Raja wanita palingan juga kalah sama sabun," ledek Tamrin.


Mendengar perbincangan mesum, membuat wajah Alexander semakin merah dan gelisah. Kemudian dia menepuk punggung Tamrin lalu bertanya, "Tamrin, kalian gak malu bahas hal itu di sini? Apa Fajar benar-benar melakukannya?" tanya Alex berbisik kepada Tamrin sambil menahan malu.


"Membicarakan hal mesum, sudah biasa di dalam tongkrongan. Bahkan, menonton film porno dan membicarakan gadis juga hal biasa dalam kutip body dan sebagainya," jawab Tamrin berbisik kepada Alex.


"Bukannya itu pelecehan?"


"Memang, tapi kalau tidak seperti itu sulit untuk berbaur, Bos. Seperti pribahasa pernah gue dengar, terkadang ikan air tawar harus berenang di laut demi bertahan hidup selagi kita tidak terbawa sifat asinnya," balas Tamrin berbisik kepada Alex.


Fajar menepuk Tamrin lalu bertanya, "Lagi bisik-bisik apa elu berdua?!"


Alexander tersenyum lalu menjawab, "Koleksi film. Asal kalian tau, film itu pernah gue tonton."


Budi tertawa lalu berkata, "Sepertinya, diam-diam Ketua Kelas kita bandar film!"


"Pasti!" sambung Fajar.


Alexander tertawa lalu berkata, "Buat apa koleksi selama nonton gratis di situs hitam?"


Sementara itu pada waktu dan tempat yang bersamaan, seorang Guru selesai melainkan game. Beliau berjalan menuju pintu keluar, namun langkahnya terhenti ketika melihat lima siswa tak asing baginya.


Kedua tangannya terlipat, sorot matanya tajam sambil menggelengkan kepala. Lalu beliau berkata, "Bapak gak nyangka, ada kalian di sini."


"Pak Dirman!" ucap Alex dan empat temannya.


"Di saat yang belajar, kalian malah membolos main PS (Play Station). Terus dengan pedenya menonton dan membicarakan hal mesum. Ditambah merokok, mantap sekali!"


Mendengar hal itu, Alexander dan yang lainnya terdiam dan berkeringat dingin. Kemudian, Pak Dirman menyuruh mereka semua kembali ke sekolah. Beliau mengawal mereka dari belakang hingga masuk sekolah. Sesampainya di sekolah, mereka dihukum berlari mengelilingi lapangan basket sebanyak tiga puluh kali. Selesai berlari, mereka berdiri hormat pada tiang bendera hingga jam istirahat.


Panas matahari, mulai menusuk kulit dan keringat mulai bercucuran membasahi baju. Selain menahan panasnya matahari, mereka juga menahan malu dipertontonkan oleh seluruh penghuni sekolah yang melintas.

__ADS_1


__ADS_2