
Tidak terasa Selasa telah tiba. Tiga hari lagi, pertandingan antar kelas 10 IPS F melawan kelas 10 IPA A akan dimulai. Waktu menunjukkan pukul setengah delapan pagi.
Setengah jam lagi, pintu Sekolah akan ditutup. Langit biru terhalang oleh awan hitam. Gemuruh dan kilat cahaya terlihat di atas langit.
Angin berhembus kencang dan hujan turun dengan deras. Alexander dan Tiara yang sudah berpakaian lengkap, duduk mengintip suasana luar di balik kaca ruang tamu. Suara petir nyaring terdengar, Tiara langsung memeluk Alex dari samping.
"Jangan takut. Ada aku di sini," ucap Alex sambil mengelus kepalanya.
Tiara menggelengkan kepalanya lalu ia berkata, "Aku tidak takut. Entahlah, apakah aku harus takut atau bersyukur. Di sisi lain aku takut, tetapi berkat petir juga aku bisa bermesraan denganmu."
Alexander tersipu malu, dia membalas pelukannya lalu memalingkan wajah dan ia menarik pipi Tiara dengan gemas. Hujan semakin deras dan angin semakin kencang. Tinggal dua puluh lima menit lagi, gerbang sekolah akan ditutup.
"Bagaimana ini? Gerbang sekolah sebentar lagi akan ditutup," kata Alexander sambil melihat suasana luar dibalik jendela.
"Tenang, suamiku. Kita gunakan kemampuan teleportasi milikku! Dalam sekejap, kita langsung berada di koridor sekolah," balas Tiara lalu Alexander membalas, "Tidak usah. Sesekali kita membolos saja," ajak Alex.
"Gak, boleh sayang! Hari ini ada pelajaran Akuntansi, Bahasa Inggris dan Sosial. Sayang sekali kalau dilewatkan!"
"Ya, sudah kamu pergi saja sendiri. Aku mau masuk kamar. Cuaca hujan begini, paling nikmat untuk tidur," ujarnya berjalan menjauhi Tiara.
Tiara terdiam melihat Alex dengan raut wajah cemberut. Kedua tangannya terlipat sambil memandang pintu kamar.
Sementara itu di dalam kamar, Alexander masih mengenakan seragam sekolah berbaring di atas kasur. Dia membuka handphone miliknya lalu mengirim pesan kepada Grup Empat Serangkai.
"Hei, guys. Kalian masuk sekolah?" tanya Alex memulai pembicaraan.
"Sekolah? Ngapain masuk sekolah. Lebih baik minum kopi terus tidur," balas Tamrin.
"Ha.ha.ha! Betul sekali!" balas Alex.
"Enaknya yang pada bolos sekolah," kata Wulan.
"Elu emangnya gak bolos?" tanya Tamrin.
"Inginnya begitu, tapi anak Kepala Sekolah kayak gue mana bisa bolos. Ah, sialan! Gue pengen tidur! Di kelas cuman lima belas orang termasuk gue."
"Ha.ha.ha! Mending elu minum air hujan biar gak boring," ledek Tamrin.
__ADS_1
"Jangan lupa, cemilan daun di taman. Tidur di atas meja juga nikmat," sambung Alex memprovokasi.
"Ah, sialan kalian berdua!"
"Ngomong-ngomong, Tiara masuk sekolah?" tanya Tamrin kepada Wulan.
"Tiara gak ada di kelas, mungkin dia bolos. Gimana Bos, Tiara kenapa gak masuk sekolah?" tanya Wulan.
Alexander tidak membalas pesan. Dia meletakkan handphone di samping kepalanya.
"Aneh, bukannya Tiara pergi ke sekolah?" ujarnya sambil memandang pintu kamar.
Perla pintu mulai terbuka, dia melihat Tiara dengan wajah cemberut berjalan masuk ke dalam kamar. Pintu kembali ditutup, Tiara meletakkan ranselnya begitu saja di samping pintu kamar. Tiara mematikan lampu kamar lalu berjalan dan merangkak di atas kasur.
Gadis itu setengah tengkurap, tangan kiri memeluk tubuh dan kaki kiri memeluk paha Alex. Perlahan wajahnya mulai mendekat lalu mencium pipi Alex.
Seketika, wajah Alexander merah padam. Jantungnya berdegup kencang dan ia pun gelisah dibuat olehnya.
"Kamu, jahat meninggalkan istrimu sendiri. Padahal, kamu tau sendiri istrinya takut petir," kata Tiara sambil mempererat pelukannya.
"Kasian deh, lu. Suruh siapa sendirian di luar," ledek Alex.
"Sayang, sini lihat," ajak Alex kepada tiara agar melihat percakapan di grup.
Tiara membaca percakapan Alexander, Tamrin dan Wulan di dalam grup. Gadis itu tertawa, ketika melihat ungkap kekesalannya karena tidak bisa membolos dalam bentuk kalimat. Dia melihat percakapan terakhir yang menanyakan alasan, mengapa dirinya tidak masuk sekolah.
"Kenapa kamu tidak berangkat sekolah? Katanya tidak mau melewatkan pelajaran Akuntansi?"
"Di luar masih hujan, guru-guru pasti tidak datang semuanya. Jumlah murid di kelas kita hanya lima belas orang. Kalau tidak belajar, lebih membolos sekalian. Mumpung suasana masih hujan, aku ingin bermesraan dengan kamu, sayang," jawab Tiara lalu mempererat pelukannya.
Notifikasi handphone telah berbunyi, mereka berdua melihat Tamrin mengirim foto secangkir kopi. Mereka tertawa, melihat emoticon Wulan begitu kesal terhadap Tamrin. Apalagi Wulan memberitahu bahwa jam pelajaran pertama kosong.
Alexander tidak mau kalah, dia mengirimkan foto langit-langit kamar yang hanya disinari lampu tidur. Wulan membalas mengirimkan foto tentang suasana di kelas begitu sunyi dan hanya terlihat beberapa murid yang berbincang.
Alexander dan Tamrin membalas dengan emoticon tertawa. Setelah itu, percakapan berakhir setelah Wulan memberitahu bahwa Guru Sosial baru memasuki kelas. Terakhir, Tamrin membalas bahwa dirinya akan tidur hingga hujan reda.
Alexander meletakkan handphone di samping kanan kepalanya. Mereka berdua berbaring memandang langit-langit kamar di atas ranjang yang sama.
__ADS_1
"Yakin, mau langsung tidur? Sayang sekali melewatkan musim hujan dengan tidur, bukan?" tanya Tiara.
"Tadinya sih ingin, tapi setelah percakapan di grup ngantuk ku sedikit berkurang."
"Hmm..., kalau begitu yuk kita keluar," ajak Tiara.
Mereka berdua keluar dari kamar. Tiara pergi ke dapur lalu kembali membawa dua gelas berisi teh tawar hangat. Gadis itu meletakkan dua gelas teh di atas meja.
Kemudian, dia masuk kembali ke dalam kamar lalu keluar membawa buku catatan miliknya berwarna coklat. Dia duduk disamping Alexander sedang menikmati segelas teh hangat.
"Sayang lihatlah," perintah Tiara sambil memberikan buku catatan miliknya.
"Apa ini?" tanya Alex sambil membuka lembar demi lembar.
"Itu adalah hasil risetku selama berada di Ekskul Sepak Bola."
"Hebat, susunan tim hingga peraturan dasar ada di sini," puji Alex sambil melihat dan membaca sekilas isi buku tersebut.
"Tapi aku masih belum menentukan, latihan apa yang cocok untukmu. Jadi hari ini, aku akan sesi tanya jawab seputar susunan tim beserta tugasnya. Kamu siap, sayang?"
"Siap."
Tiara mulai melakukan sesi tanya jawab dimulai dari susunan tim dimulai dari striker, gelandang bertahan, gelandang serang dan posisi bek. Alexander dengan mudah menjawab semua pertanyaan Tiara berikut dengan tugasnya.
Selanjutnya pertanyaan seputar peraturan dasar sepak bola. Alexander sekali lagi menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Tiara dengan mudah.
"Sayang, kamu hebat bisa menjawab pertanyaanku. Berarti kesimpulan dari tanya jawab kali ini, bahwa kamu tidak buta tentang Sepak Bola. Pertanyaan selanjutnya, sudah berapa kali kamu main sepak bola?"
"Tiga kali, sewaktu aku masih Sekolah Dasar. Itu pun karena dipaksa oleh siswa berandalan di sekolahku. Mereka terus membully seperti menendang bokong, samsak hidup, membawakan tas dan terkahir menendang bola ke wajahku hingga menangis. Aku masih ingat, wajah kotor mereka menertawakan diriku yang menangis. Semenjak saat itu, aku tidak ingin bermain bola lagi."
"Begitu rupanya. Jadi kamu berhenti dan menjauhi Sepak Bola karena trauma di masa lalu. Sekarang, pertanyaan selanjutnya. Setiap kamu bermain Sepak Bola, posisi apa yang sering kamu mainkan?"
"Posisi Bek tengah dua kali dan Gelandang Sayap Kiri sekali."
Sesi tanya jawab telah berakhir. Dari semua pertanyaan, Tiara menyimpulkan bahwa Alexander tidak terlalu buta seputar Sepak Bola. Dia menghindari permainan Sepak Bola karena trauma di masa lalu.
Tugas Tiara, selaku pelatih sekaligus kekasih Alexander yaitu mencari cara menghilangkan trauma Alex di masa lalu dan membangun kenangan baru. Selain itu, dia harus melatih Alex tentang penguasaan bola.
__ADS_1
Semua hal yang harus dilakukan, Tiara tulis di dalam buku catatannya. Setelah hujan berakhir, Tiara akan langsung melatihnya.