
Tiara duduk tepat di sampingnya. Kedua kakinya bertumpu di atas paha Alex. Alexander mulai menyentuh kedua telapak kakinya. Ia mulai memijat telapak kaki secara perlahan lalu naik hingga sampai lutut. Melihat raut wajah Tiara begitu menikmati membuat Alexander senang.
Kulitnya yang putih dan terasa lembut, begitulah yang di[pikirkan oleh Alex ketika memijat kakinya. Alexander berpaling tersipu malu saat melihat senyuman manisnya.
"Suamiku, kenapa kamu tiba-tiba saja memijat kakiku?"
"Aku melakukan ini, sebagai rasa terima kasih karena telah mengurusku," jawabnya kembali memandangnya.
"Tidak perlu berterima kasih. Sudah sewajibnya sebagai seorang istri, mengurus suaminya."
Alexander terdiam, wajahnya merah padam dan kedua matanya tidak berkedip ketika melihatnya tersenyum. Kemudian, dia menunduk sambil meletakkan kedua tangan di atas betisnya.
"Tiara."
"Iya suamiku, sayang?"
"Kenapa kamu memanggilku suami? Padahal, status kita berpacaran?"
"Kenapa? Tentu saja karena kita sudah menikah."
"Ha?! Bagaimana bisa?! Kita saja belum menikah."
"Jawabannya ada di buku nikah kita," jawab Tiara lalu Alexander bertanya kembali,"Buku nikah? Maksudnya?"
Tiara mulai menjelaskan, mengenai status pada buku pernikahan. Dia mulai menceritakan, mengenai perjodohan yang direncanakan oleh Sang Dewi. Banyak sekali penyimpangan yang terjadi di Dunia Manusia.
Selain itu, beberapa makhluk hidup dan sudah mati yang iri dengan percintaan manusia. Sang Dewi Cinta bercerita, bahwa selain dua hal tersebut ia bercerita sebagian manusia lebih memilih sendiri dibandingkan hidup berpasangan. Tiga hal tersebut, membuat Sang Dewi Cinta merencanakan perjodohan pada para kandidat berdasarkan kecocokan pada alat jarum putar yang dia ciptakan.
Jarum berputar lalu berhenti, pada kandidat sesuai parameter kecocokan. Tidak hanya itu, Sang Dewi melihat latar belakang kandidat melalui penglihatannya. Setelah menentukan kandidat, Sang Dewi Cinta memberikan sebuah buku nikah.
Jika memiliki kecocokan, kedua buku itu akan bercahaya dan terhubung satu sama lain. Maka perjodohan tersebut telah sukses, dua kandidat dinyatakan menikah dan mendapatkan restu dari Sang Dewi para penduduk langit.
__ADS_1
"Begitu rupanya," kata Alex dengan wajah murung.
"Kenapa? Kamu tidak senang dengan status pernikahan kita?"
"Bukannya begitu. Langit memang menyetujui kita, tetapi Bumi belum tentu menyetujui hubungan kita."
"Kamu benar, suamiku. Jika mengandalkan kekuatan buku nikah kita, rasanya hubungan kita hanyalah kebohongan."
Tiara terdiam, ia pun menunduk dengan raut wajah sedih. Apa yang dikatakan Alexander memang benar. Langit memang sudah merestui, tetapi Bumi belum memberikan restunya.
Dia sempat membaca, mengenai status pernikahan pada sebuah buku di dalam Perpustakaan Istana Dewi Cinta. Mendapatkan status pasangan resmi di Bumi sangatlah rumit. Supaya menjadi sepasang suami istri, kedua pasangan harus mendapat pengakuan secara hukum, adat dan agama.
"Tenang...."
Mendengar hal itu, Tiara pun melirik kepada Alex. Dia tersenyum, sorot matanya menatap tajam dengan penuh keseriusan. Kedua tangan Alex, menggenggam erat kedua tangan Tiara.
"Jangan sedih, Tiara. Aku akan terus berjuang agar Bumi merestui hubungan kita baik secara hukum, adat dan agama. Supaya itu terjadi aku tidak akan menyerah."
Kedua mata Tiara tidak berkedip, dia memandang Alexander dengan pipi merah merona. Air mata mulai mengalir, dia memeluk Alex lalu bersandar di bahunya.
"Seharusnya aku yang berterima kasih, karena kamu hadir dalam hidupku. Selama ini, hidupku sangat sulit. Kamu tau sendiri, bahwa aku adalah korban bullying. Mereka selalu menindas dan berbuat jahat kepadaku. Tidak peduli bahkan Ibuku sendiri, selalu membela mereka dibandingkan anaknya sendiri."
Tiara mendekati wajah Alex lalu mencium pipinya hingga Alexander langsung melirik kepadanya. Gadis itu tersenyum manis sambil memandang Alexander tidak berkedip.
"Masa lalu biarlah berlalu. Sayang, kamu jangan takut dan memikirkan hal itu. Sekarang ada aku, Wulan dan Tamrin. Kami akan selalu melindungi dan peduli kepadamu. Kalau ada sesuatu yang terjadi, jangan ragu untuk bercerita," kata Tiara lalu mengusap kedua mata Alex.
"Thanks, Tiara."
Mereka saling berpelukan sambil menikmati hembusan angin senja yang masuk ke dalam rumah. Barang-barang di ruang tamu serta hembusan angin, menjadi saksi bisu ikatan cinta mereka berdua. Pelukan Alex semakin erat, dalam hati ia ingin terus menjaga dan berjuang agar Tiara menjadi istri sesungguhnya.
Malam telah tiba, Tiara sedang membersihkan kamar Alex. Dia mengenakan kaos singlet kuning tua dan celana pendek merah sejengkal di atas lutut.
__ADS_1
Alexander masuk ke dalam kamar. Dia melihat Tiara sedang sibuk membereskan kamarnya.
Alexander tetaplah lelaki normal. Dia melirik ke arah penampilannya. Paha yang mulus, putih dan lekuk tubuhnya membuat Alexander menelan ludah. Sadar diperhatikan, Tiara tersenyum genit kepada Alex.
"Hayo, lihat apa hayo?!" goda Tiara.
"Tidak!" balasnya lalu berjalan keluar kamar dengan wajah merah padam.
Selesai membereskan kamar, Tiara keluar dari kamar lalu duduk di samping Alexander sedang menonton televisi. Suara tawa, menghiasi setiap sudut ruangan ketika melihat adegan konyol di dalam film.
Alexander tertawa sambil menahan rasa gelisah di dalam dirinya. Baru pertama kali ia nonton berdua dengan seorang gadis. Jantungnya berdegup kencang, matanya tidak pernah berhenti melirik Tiara dari kepala hingga ujung kaki.
"Kamu kenapa, sayang? Aku perhatikan, kamu terlihat gelisah?" tanya Tiara.
"Maaf, baru pertama kali aku menonton film berdua dengan seorang gadis."
"Hmm.., begitu rupanya. Aku kira, kamu gelisah karena melihat tubuhku...," bisik Tiara membuat wajah dan telinga Alexander merah padam.
Alexander terdiam dengan wajah merah padam sambil menggelengkan kepala. Sekilas ingatan melintas di dalam pikirannya. Alexander teringat pertemuan kedua dengan Tiara, ketika selesai upacara di lorong sekolah. Waktu itu, dia tidak sengaja melihat ****** ***** putih di balik roknya.
Bukan sekali ia melihat, namun tiga kali ia melihat pada waktu yang berbeda. Itupun ia melihatnya tanpa ada unsur kesengajaan. Mengingat hal itu, membuatnya semakin gelisah dan bingung.
"Tiara, maaf."
"Maaf? Minta maaf, soal apa?" tanya Tiara penasaran.
"Kamu masih ingat, pertemuan ke dua kita di sekolah?" tanya Alex sambil memalingkan wajah lalu Tiara membalas,"Iya, masih."
"Maaf, aku tidak sengaja melihat kain putih di balik rokmu. Sebenarnya, aku melihatnya tidak sekali melainkan tiga kali!" ujarnya lalu ia duduk tegak berhadapan dengannya. "Silahkan tampar aku!"
Kedua matanya terpejam, ia mempersiapkan mentalnya untuk menerima tamparan darinya. Tiara tersenyum genit padanya, dia mulai mendekati daun telinganya.
__ADS_1
"Alex, genit.....," bisik Tiara.
Seketika, kedua mata Alexander terbuka. Kedua mata Alexander, tidak berkedip dengan wajah merah sambil memandang Tiara sedang tersenyum genit kepadanya. Pada saat itu, dia terdiam dan tidak tau apa yang harus dirinya lakukan.