
Tiara berdiri seorang diri di sebuah bangunan yang sepi belakang Mall. Dalam sekejap, ia menghilang dibalik butiran cahaya lalu muncul di halaman rumah.
Hari sudah senja, angin sejuk mulai berhembus membuat rambut kuning Tiara berkibar. Dia mulai berjalan sambil membawa dua kantong plastik putih berisi paket makanan restoran cepat saji.
"Aku pulang," kata gadis itu berjalan melewati Alexander sedang mencuci motornya.
"Cepatnya, sekarang baru jam setengah lima."
Tiara, tidak menanggapi perkataannya. Dia meletakkan dua kantong plastik di atas meja kayu teras depan rumah. Kemudian, gadis itu mencium tangan Alex yang basah lalu mengecup bibirnya.
"Kenapa kamu mencium tanganku?" tanya Alex dengan tersipu malu.
"Tidak perlu diperjelas, pasti kamu juga sudah tau. Hi.hi! Ya, sudah aku masuk ke dalam," balas Tiara lalu pamit masuk ke dalam rumah.
Alexander, kembali melanjutkan mencuci motor motor kesayangannya. Wajahnya merah padam, dia tidak menyangka bahwa Tiara akan mencium tangannya. Pada momen itu, Alexander mengakui bahwa dirinya hanyut dalam suasana romantis khas rumah tangga.
"Sampai kapan kehidupan manis ini terus berlangsung? Semoga kehidupanku yang sekarang tidak pernah berakhir," gumamnya sambil mengelap motor miliknya dengan selembar kain.
Tidak terasa, malam pun telah tiba. Alexander duduk hanya beralaskan lantai di ruang keluarga. Sedangkan Tiara, mempersiapkan paket makan malam yang telah ia bawa dari Restoran Cepat Saji.
"Makan malam sudah siap. Sayang, cuci tangan dulu sebelum makan," ujarnya meminta kepada Alex.
Alexander pergi ke dapur untuk mencuci kedua tangannya sedangkan Tiara, mengelap lantai dengan selembar kain. Tiara mulai bercerita, mengenai kegiatan yang telah ia lakukan bersama teman-teman. Volume suara televisi, Alexander kecilkan agar suara Tiara terdengar jelas.
Cerita Tiara terdengar sangat mengasyikkan. Dia pun mematikan televisi agar dirinya fokus mendengarkan Tiara bercerita.
"Seru sekali, kegiatan kalian selama berada di Mall. Membuatku iri. Ngomong-ngomong, kenapa kamu pulang cepat? Padahal waktu itu, masih jam setengah lima sore?"
"Pertama, aku ingin menghemat uang pemberianmu. Sebab, uang pemberianmu sangat berharga bagiku. Kedua, aku ingin menikmati makanan ini bersama kamu. Mana tega, seorang istri makan enak sedangkan suaminya menunggu di rumah. Ketiga, aku ingin menempati janji agar pulang cepat."
Tiara benar-benar gadis langka, begitulah yang Alexander pikirkan ketika mendengar jawabannya. Sekilas dia teringat, ketika ia semasa Sekolah Dasar hingga akhir masa Sekolah Menengah Pertama. Semasa kecil, dia makan bersama ibu dan Kakaknya bernama Arman.
Sang Ibu selalu memuji Arman, mengenai prestasi Akademik dan kemampuan sosial yaitu menambah teman. Berbeda dengan Alex, memiliki kemampuan Akademik yang standar dan pribadi yang pemalu. Dirinya selalu dibandingkan dengan Arman, membuat Alexander merasa muak.
Semenjak saat itu, dia lebih memilih makan dan melakukan aktifitas di dalam kamar. Laptop dan gitar pemberian Sang Nenek, menjadi teman sejati ketika merasakan kesepian. Sekarang ada Tiara yang menemani ketika sepi.
Alexander bersyukur, tinggal di rumah milik almarhum Nenek dan Kakeknya. Sebuah rumah tidak terlalu mewah, tapi memiliki seribu kenangan. Dia hanya bisa tersenyum, mengingat masa kelam dan juga tersenyum merasakan kebahagiaan.
__ADS_1
"Sayang, Ilham menanyakan keputusan mengenai pertandingan Sepak Bola melawan kelas kita."
"Terus, kamu jawab apa?"
"Maaf sayang, aku bilang bahwa kelas kita bersedia melawan kelasnya. Aku benar-benar minta maaf sayang, telah menjawab tanpa pikir panjang," ujarnya dengan menyesal.
"Seharusnya, aku yang minta maaf. Andai saja aku ingat, terima atau tidak setidaknya seluruh teman kelas kita tau. Tapi jangan khawatir, besok saat waktu istirahat aku akan beritahu mereka secara langsung."
Keesokan harinya, lonceng pertanda istirahat pertama telah berbunyi. Seluruh siswa di kelas, bersiap-siap untuk pergi ke luar. Buru-buru, Alexander berlari dan berdiri menghadap seluruh teman kelas.
"Jangan keluar dulu, guys. Ada pengumuman penting!"
"Pengumuman apa?" tanya Dandi, teman sekelas Alex.
"Iham, anak kelas 10 IPA A menantang kelas kita bertanding Sepak Bola."
"Ilham, striker tim sepak bola nasional dari kelas elit, menantang kelas kita?!" tanya Fajar begitu syok.
"Iya."
Suasana kelas yang sunyi, seketika menjadi penuh dengan perbincangan. Melihat hal itu, Alexander terdiam melihat mereka saling berbincang.
"Hmm..., katanya ingin membentuk ikatan persahabatan dengan kelas kita."
"Hmm..., Ketua. Menurut gue, ini sangat aneh sekali. Tidak mungkin, kelas elit itu tiba-tiba menantang kelas kita. Apa ketua berjanji melakukan taruhan?" tanya Fajar lalu Alexander menjawab, "Tidak."
"Payah! Padahal, kalau ada taruhan main bola jadi bersemangat!"
"Hei, taruhan uang itu melanggar peraturan sekolah!" tunjuk seorang gadis berambut kuncir kuda bernama Mela.
"Kaku amat! Di kasih bagian nanti juga seneng," balas Fajar.
"Hi.hi.hi!" balas gadis itu.
"Sudah-sudah! Kita terima tantangan mereka atau tidak?!" tanya Alex memotong pembicaraan.
Mereka setuju untuk menerima tantangan dari kelas 10 IPA A. Alexander memberitahu, bahwa pertandingan akan berlangsung di lapangan Sepak Bola Sekolah. Sebagian penghuni kelas, satu persatu berjalan keluar kelas.
__ADS_1
Sebagian siswa, memilih berada di kelas untuk menyusun jadwal latihan dan strategi dalam menghadapi kelas elit. Fajar dan Tamrin, menghitung jumlah siswa di kelas. Siswa 10 IPS F berjumlah tiga belas, sedangkan siswi berjumlah 17 orang.
"Mau tidak mau, seluruh siswa kita harus main," kata Tamrin sambil berpikir.
"Betul itu! Sebelas pemain inti dan dua bangku cadangan. Sekarang, siapa yang mau jadi Kapten?" tanya Dandi.
"Fajar, kau saja yang jadi Kapten," kata Tamrin.
"Sorry, keahlian gue menjaga gawang. Gue juga, tidak terlalu bakat memimpin. Bagaimana kalau ketua saja?"
"Elu gila! Males banget! Gue gak ada bakat memimpin!" tolak Alex.
"Ayolah, KM (Ketua Murid). Coba saja, lagi pula pertandingan ini hanya sekedar liga persahabatan," rayu Dandi.
"Tamrin, Wulan dan Tiara sering memanggil mu, Bos. Pasti leadership mu bagus!" sambung Fajar.
"Betul! Betul! Betul!"
Setelah berulang kali mereka membujuk, akhirnya Alexander bersedia menjadi Kapten Tim. Di saat yang bersamaan, trauma semasa kecil melintas di dalam pikirannya. Dia sangat ketakutan, membayangkan pertandingan sepak bola yang berakhir dengan kekalahan. Seluruh tim dan teman sekelas, menyalahkan Alexander atas kekalahan tersebut. Begitulah imajinasi negatif yang terlintas di dalam pikirannya. Lonceng telah berbunyi, istirahat telah berakhir. Seluruh murid, kembali ke dalam kelas masing-masing untuk memulai pelajaran.
Sepulang sekolah, Alexander berjalan bersama tiga anggota Empat Serangkai. Dia berjalan lemas dengan raut wajah murung. Di lapangan basket, dia melihat beberapa siswa bermain bola.
Melihat bola saja, membuat Alexander merinding. Trauma akibat pembullyan yang pernah ia alami membuatnya tersiksa. Rasanya, ingin berlari pun sangat sulit.
"Bos, kamu kelihatan murung. Sebenarnya ada apa, Bos?" tanya Tamrin.
"Tamrin, kenapa gue harus jadi Kapten Tim?" kata Alex balik bertanya.
"Mungkin karena kemampuan leadership Bos yang bagus."
"Betul kata, Tamrin. Aura kepemimpinan Bos, ketika berbicara di depan banyak orang terpancar luas," sambung Wulan.
"Kalian meledek, ya?"
"Kita tidak meledek. Kami sungguh-sungguh," balas Tiara.
"Betul, Bos. Tidak ada di sini yang meledek atau menertawakan Bos."
__ADS_1
"Memangnya, kenapa kamu tidak mau jadi Kapten?" tanya Tamrin.
"Pertama kemampuan, leadership ku buruk. Kedua, aku ini tidak bisa main bola! Ketiga, aku memiliki trauma di masa lalu. Aku sudah lelah dengan semua trauma ini..."