
Alexander tersadar, bahwa Tiara masih mengenakan baju sekolah. Kemudian dia pun bertanya, "Kenapa gak ganti baju?"
Tiara tertawa lalu menjawab, "Sekolah shift dua!" canda Tiara lalu menarik roknya ke atas sambil berkata, "Sayang lihat sini," ujarnya menggoda.
Alexander tidak berkedip, ketika melihat sepasang paha mulus berikut selembar kain putih menutup gua kehidupan. Burung kecil bangkit dari tidurnya.
Dia melihat Tiara menjilati ujung pangkal lidahnya. "Peliharaan besar mu bangun. Boleh aku memanjakannya?" ujarnya meminta izin dengan nada menggoda.
Alexander hanya mengangguk, dia terlalu malu untuk menjawabnya. Mendapat izin darinya, membuat raut wajah Tiara terlihat sangat mesum. Perlahan, dia menarik celananya lalu keluarlah Sang Burung Perkasa menggemparkan jagat raya.
"Aku mulai," kata Tiara sambil membuka mulutnya.
Burung itu masuk ke dalam mulutnya. Kepala bergerak naik turun, membuat Sang Pemilik merintih kenikmatan. Alexander merasa seperti di sengat listrik.
Sesekali Tiara menjilatinya seperti menjilat Eskrim. Semenjak kejadian itu, Alexander benar-benar melihat sisi lain dari kekasihnya. Tidak ada yang tau selain dirinya dan juga seorang gadis bisa melihat masa depan.
Entah Tiara belajar dari mana, dia benar-benar profesional dalam memberikan pelayanan. Nafsu birahi merasuki jiwanya, kedua tangannya mulai meraba tubuh kekasihnya.
"Ah, Tiara! Yes!" rintihannya kenikmatan.
Melihat kekasihnya begitu menikmati, membuat libido meningkat. Tiara terkejut, ketika jari-jari kekasihnya mulia bermain pada organ intimnya. Mereka berdua, terus memberikan kenikmatan hingga akhirnya mencapai puncak.
Mulutnya terasa penuh, namun Tiara menelannya seperti halnya minum jamu. Melihat hal itu, membuat Sang Burung semakin kekar. Tiara menjentikkan jari, seketika munculah sebuah botol kecil berisi ribuan pil.
"Tablet pemberian Dewi," kata Alexander melihat sebuah pil.
Tiara tersenyum lalu berkata, "Iya, sayang. Mau lanjut?"
"Tentu!" balas Alexander begitu bersemangat.
Mereka berdua menelan pil itu, seketika stamina mereka kembali pulih dan nafsu mereka berapi-api.
Alexander memegang sebuah gundukan dibalik kain putih. Dia memandang kekasihnya penuh nafsu. "Boleh aku menciumnya?"
Tiara memandang Alexander penuh nafsu menjawab, "Boleh, sayang. Cepat, aku tidak tahan!"
Mereka mulai bermadu cinta hingga matahari terbenam. Puas bermadu cinta, mereka berdua secara bergantian membersihkan diri. Setelah itu, mereka duduk berpelukan di teras depan sambil menikmati waktu menjelang senja.
Tiara tersenyum lalu berkata, "Hebat sekali, sayang. Di dalam ku benar-benar terasa penuh. Beruntung, kita masih terikat kontrak dengan Sang Dewi. Kalau tidak perutku bisa mengembang."
"Mengembang? kamu kira kue?"
Tiara tertawa lalu membalas, "Kue sembilan bulan, kalau keluar jadi makhluk hidup."
Alexander tertawa lalu berkata, "Bisa aja kamu, dasar tukang kue!"
Tiara mempererat pelukannya lalu berkata, "Sayang, kalau kamu cemburu tolong jangan ragu untuk menarik tanganku. Kamu harus ingat momen ini sayang. Tidak ada yang boleh menyentuhku kecuali kamu, suamiku."
Alexander mencium pipinya lalu membalas, "Thanks, my love."
Keesokan harinya, mereka berdua tiba di kelas. Mereka melihat, Wulan dan Tamrin sedang asik memainkan handphonenya.
Wulan dan Tamrin menoleh kepada mereka berdua. Mereka melihat, Alexander dan Tiara tersenyum sambil memancarkan aura bersinar.
__ADS_1
Wulan meletakkan handphonenya di atas meja. Dia pun tersenyum lalu berkata, "Segar banget nih kelihatannya, Bos dan Ibu Bos!"
"Aura good mood kelihatan banget. Pasti terjadi sesuatu nih! Biasanya Bos, datang selalu mengantuk," sindir Tamrin.
Alexander tertawa lalu berkata, "Apa sih! Setiap hari mood gue selalu bagus!"
Tiara dan Alexander duduk di tempatnya lalu berkata, "Nanti juga, pas pertengahan pelajaran kamu ketiduran lagi," sindir Tiara.
"Maklum, gue kurang tidur."
Tiara tersenyum lalu berkata, "Oh, iya. Kita kan bergadang sampai jam satu malam."
Mendengar hal itu, Alexander memalingkan wajahnya dengan tersipu malu. Melihat reaksi Alex, membuat Tamrin memandang curiga.
"Curiga, ngapain kalian bergadang? Hmm... mencurigakan, " ujarnya menatap curiga kepada Alex.
Alexander menoleh kepada Tamrin lalu berkata, "Main game, kita main game sampai jam satu malam!" ujarnya berbohong kepada Tamrin.
Tamrin melipat kedua tangannya lalu berkata, "Taulah yang tinggal serumah," ujarnya memandang iri.
Wulan menoleh kepada Tamrin lalu ia pun tersenyum. Dia pun bertanya, "Kalau serumah, memangnya elu sanggup main sampai jam satu pagi?"
"Serumah dengan jodoh gue? Itu mah pasti! Kalau ada PS5, jangankan jam satu pagi. Main sampai jam 9 pagi pun gue masih sanggup."
Wulan begitu bersemangat lalu berkata, "Sip, Tamrin! Ayo, kita tos!"
Tamrin pun kebingungan lalu berkata, "Entah kenapa elu yang senang. Tapi, okelah kita tos!" ucapnya lalu melakukan tos dengan Wulan.
Wulan dan Tamrin tersipu malu. Gadis itu langsung berkata, "Jangan salah paham, guys! Maksud gue, kalau seandainya Tamrin serumah dengan pasangan. Kita bisa menikmati fasilitas rumahnya secara gratis!"
Tamrin menghembuskan nafas lalu berkata, "Maaf-maaf aja, nih. Gue masih numpang sama Paman gue. Di rumah pun tidak ada, kalau cemilan dan kopi okelah!"
Tiara tersenyum lalu berkata, "Kapan-kapan boleh kita main ke rumah?"
"Boleh! Rumah paman gue, always terbuka sampai jam sembilan malam!"
"Kok, sampai jam sembilan malam?" tanya Alexander dengan polos.
Tamrin tertawa lalu menjawab, "Di atas jam sembilan kami tidur."
Alexander tertawa lalu berkata, "Betul juga!"
Sebuah notifikasi, masuk ke dalam handphone milik Tiara. Dia meraih handphone miliknya di dalam saku rok.
"Menjadikan PS5 sebagai tameng, nice trik Tiara. padahal kalian habis bermain ranjang sampai jam satu pagi. Asik ada ilmu baru," ujar isi pesan dari Wulan.
Tiara menoleh kepada Wulan, gadis itu tersenyum lebar sambil menggerakkan kedua alisnya. Wulan mengetuk pelipisnya dengan ujung jari.
Gerakan tersebut memberi arti, bahwa Tiara tidak akan pernah bisa membohonginya. Melihat hal itu, raut wajah Tiara merah padam karena malu. Alexander dan Tamrin melihat raut wajah Tiara merah padam.
"Kenapa?" tanya Alexander.
"Tidak ada," jawab Tiara menahan malu.
__ADS_1
Tamrin teringat, sebuah kasus pemerkosaan fenomenal di televisi. Dia pun bertanya, "Guys, kalian tau berita terbaru di televisi?"
Wulan menoleh kepada Tamrin lalu berkata, "Kasus pemerkosaan dilakukan oleh preman jalanan itu? Kalau tidak salah, korbannya siswa dari SMA Putri Bunga Indah penyembah Dewi Bumi?" tanya Wulan.
Alexander teringat, para gadis penyembah Dewi Bumi selalu mengenakan jubah putih layaknya penyihir. Selain itu, pakaiannya serba tertutup. Hanya lengan, kaki dan wajah saja yang terlihat.
"Padahal pakaian mereka tertutup. Mereka juga merupakan kaum agamis dan berkepribadian lembut. Tapi kok, bisa?"
Tamrin tertunduk lalu bertanya, "Iya, kok bisa? Lekuk tubuh mereka saja tidak terlalu terlihat."
Tiara menghembuskan nafas panjang lalu menjawab, "Semua itu karena fetish."
"Fetish? Apa itu?" tanya mereka bertiga.
"Dengar anak-anak, fetish merupakan kondisi seseorang akan melakukan suatu hal untuk memenuhi hasrat dan nafsu seksualnya. Mengerti?" ujar Tiara menjelaskan.
Alexander dan kedua sahabatnya menjawab, "Enggak."
Raut wajah Tiara menjadi sangat datar. Dia menghembuskan nafas panjang lalu menjelaskan, "Dengar anak-anak, aku langsung kasih contoh saja. Misalkan, pasangan kita mengenakan kostum. Seketika, hasrat seksual akan meningkat atau tertarik pada bagian tubuh tertentu."
Wulan mengangkat tangannya lalu bertanya, "Guru Tiara, Wulan ingin bertanya."
"Silahkan murid ku."
"Misalkan, tertarik pada ketiak lalu bernafsu menjilatinya. Apakah itu termasuk fetish?" tanya Wulan.
Tiara menunjuk sambil berkata, "Tepat sekali!"
Tamrin mengangkat tangannya lalu bertanya, "Misalkan, melakukan seksual di tempat umum termasuk fetish?"
"Nice, tepat sekali!" ujarnya kepada Tamrin sambil menunjuk.
Alexander melipat kedua tangannya lalu berkata, "Jika dikaitkan dengan kasus di televisi. Bisa jadi, pelaku memiliki libido tinggi dan memiliki fetish terhadap jubah atau pakaian tertutup."
"Bisa jadi, pelaku memiliki fetish itu dan ia nekat melampiaskannya kepada siswi itu," timpal Tiara lalu ia bertanya, "Kesimpulannya, bahwa setiap orang memiliki fetish masing-masing. Selain itu, kejahatan seksual selalu terjadi dan tidak pandang bulu. Jadi dalam kasus ini, siapa yang salah?"
"Tentu saja laki-laki yang tidak bisa menjaga libidonya," jawab Tamrin.
Raut wajah Alexander menjadi murung lalu bertanya, "Libido setiap orang itu berbeda, terkadang jika sudah mencapai batasnya mereka beronani untuk memuaskan nafsunya. Bagaimana menghilangkan nafsu ini?" tanya Alex secara blak-blakan kepada Tiara.
Tiara tersenyum lalu menjawab, "Nafsu itu adalah anugrah dari Sang Pencipta. Sangat mustahil untuk menghilangkan. Tetapi kita bisa mencegah nafsu ini dengan dua cara. Pertama menikah, kedua yaitu berpuasa dari apapun membangkitkan nafsu. Tidak mungkin harus pindah ke tengah hutan. Mau cosplay jadi Tarzan?"
Wulan tertawa terbahak-bahak lalu berkata, "Kalau Bos jadi Tarzan, biar Tamrin cosplay jadi kingkong!" canda Wulan.
"Gak apa-apa jadi kingkong, tapi elu harus cosplay jadi Bagong!" balas Tamrin.
Tiara tertawa lalu berkata, "Sudah-sudah!"
"Berbicara soal fetish, ngomong-ngomong apa fetish kalian berdua?" tanya Wulan kepada Alexander dan Tamrin.
Raut wajah Alexander dan Tamrin merah padam, mereka memalingkan wajah karena malu. Tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab.
Satu persatu, para siswa di kelas mulai berdatangan. Mereka terlihat berbincang-bincang dan bercanda di kelas. Suasana kelas yang ramai pun berakhir, ketika Sang Guru datang seiring berbunyi lonceng sekolah.
__ADS_1