
Sepasang kekasih duduk berdekatan, kedua tangan mereka saling bercengkrama dalam nuansa romantis. Angin sejuk mulai berhembus, awan putih menutup sinar matahari. Alexander tersenyum sangat lebar dari biasanya.
Kedua matanya tidak berkedip, merasakan momen spesial yang ia rasakan hari ini. Dia tidak percaya, telah membuat ikatan cinta dengan sosok bidadari seperti Tiara. Tanpa sadar, dirinya tenggelam dalam lautan imajinasi.
Dalam pikirannya, ia membayangkan dirinya mendapatkan ciuman setiap kali bertemu. Selain itu, dirinya berkencan dengan Sang Kekasih menuju tempat belum pernah Alexander kunjungi. Sebuah ciuman mengenai pipinya, seketika Alexander tersadar dari lamunannya.
Wajahnya memerah, ketika tau Sang Kekasih telah menciumnya. Tiara tersenyum manis, dia memeluk lengan Alexander dengan cukup erat. Kedua jarinya memainkan hidup Alexander yang mancung.
"Lagi mikir aneh-aneh, ya?" goda Tiara lalu Alexander membalas ,"Enggak!" memalingkan wajah dengan tersipu malu lalu Tiara memalingkan wajahnya.
"Sayang, aku masih marah. Tega sekali, kamu waktu itu meninggalkanku sendirian di taman."
"Maaf Tiara, sayang. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu waktu itu. Sewaktu di taman, aku kira kamu itu hantu."
"Hah..., aku maafkan. Tapi dengan dua syarat."
"Apa itu?" tanya Alexander lalu Tiara menjawab, "Kamu, harus makan masakan buatanku setiap hari. Minimal ajak aku di mana pun tempat kamu makan.
"Pasti, sayang!" kata Alexander dengan penuh semangat lalu wajah Tiara mulai mendekat dan dia pun berkata, "Cie..., baru menjalani cinta sudah berani manggil sayang. Suamiku, benar-benar romantis."
Wajah Alexander merah padam, matanya berpaling karena tidak kuat melihat sosok gadis cantik dengan jarak begitu dekat. Apalagi, dia menggodanya membuat Alexander semakin salah tingkah.
Tidak disangka, Tamrin dan Wulan datang dari dua arah berlawanan. Mereka berjalan membungkuk sambil menjulurkan tangan mereka ke depan. Tingkah mereka berdua, sudah seperti seorang pengemis.
"Tuan, pajak jadiannya tuan," pinta Wulan dan Tamrin kepada mereka berdua.
Kedatangan mereka berdua, membuat Alexander dan Tiara terkejut. Padahal, selesai makan di Kedai Mie mereka berdua pulang terlebih dahulu. Selain itu, Alexander tidak melihat mereka di perjalanan.
"Kenapa kalian bisa di sini?" tanya Alex.
"He.he.he! Kami berdua mengikuti Bos jauh di belakang sejak tadi," jawab Wulan.
"Kapan?!" tanya Tiara pada mereka berdua.
"Sejak awal kalian meninggalkan parkiran," jawab Tamrin.
"Hah? Padahal gue gak lihat kalian berdua," kata Alexander pada mereka berdua.
"Ya, namannya juga cinta. Cinta dapat membutakan seseorang, jadi wajar saja Bos tidak sadar," canda Tamrin.
"Terserah elu dah!"
__ADS_1
Empat serangkai mulai berjalan menelusuri Taman. Pengunjung taman mulai berdatangan, mereka semua terlihat asik berfoto begitu juga dengan empat serangkai. Suasana dan tata letak yang menarik, membuat tempat ini termasuk dua puluh tempat dengan latar foto menarik.
Kemudian mereka semua, mengunjungi sebuah cafe berada di Seberang Jalan Taman. Alexander, membayar seluruh pesanan mereka bertiga.
Beruntung Alexander membawa uang lebih, jika tidak mungkin akan menjadi hari memalukan. Sekian lama menunggu, akhirnya pesanan mereka telah tiba. Di atas meja terdapat empat roti panggang dan empat cangkir kopi.
"Ayo, kita bersulang sebagai perayaan jadiannya Bos empat serangkai dan Primadona Sekolah kita," kata Tamrin sambil mengangkat gelas.
"Ha.ha.ha! Kalian berlebihan, masih ada lebih cantik di luar sana. Tapi, ya sudah. Bersulang!" timpal Tiara lalu mengangkat gelas.
"Bersulang!" ucap mereka semua sambil bersulang.
Mereka semua mulai meneguk kopi masing-masing. Citra rasa biji kopi pilihan, bercampur dengan susu dan suhu panas yang pas membuat terasa nikmat. Baru pertama kali, Alexander pergi ke Cafe bersama teman sebayanya.
Rasanya nikmat dan hangat, ketika berkumpul serta tertawa bersama. Berbeda jauh dengan kehidupan dirinya semasa SMP. Roda terus berputar, Alexander berpikir mungkin sudah saatnya bagi ia untuk berada di atas.
"Guys, boleh gue minta tolong?"
"Minta tolong apa, Bos?" tanya Tamrin kepada Alex.
"Tolong rahasiakan hubungan kami berdua," pinta Alexander pada mereka bertiga.
"Soalnya, gue tidak ingin kehidupan masa SMA terganggu oleh percintaan. Jadi, kita bebas berteman dengan siapa pun."
"Benar juga. Baiklah jika itu mau kamu, sayang."
"Tapi, ada aku khawatir...."
"Kamu mengkhawatirkan apa, sayang?" tanya Tiara.
"Sekarang zamannya tikung menikung. Aku takut, kamu direbut oleh orang lain," kata Alex kepada Tiara.
"Jangan khawatir sayang. Aku bukanlah gadis yang mudah terpikat. Hatiku hanya milikmu seorang. Tidak akan aku biarkan lelaki mana pun merampasnya," balas Tiara lalu tersenyum membuat Alexander tersipu malu.
Wulan dan Tamrin terdiam melihat mereka berdua dengan raut wajah datar. Mereka berdua merasa, kehadiran mereka tidak jauh berbeda dengan obat nyamuk.
"Soal itu, jika ada orang yang bertanya mengenai hubungan asmara cukup bilang bahwa kalian berdua sudah punya kekasih tanpa perlu memberitahu siapa kekasih kalian," saran Tamrin.
"Benar kata Tamrin, setidaknya mereka bisa menjaga sikap. Ya, semoga saja," sambung Wulan.
"Thanks kalian berdua," timpal Alex pada kedua temannya.
__ADS_1
Tidak terasa hari mulai senja, mereka semua berjalan menuju parkiran dan pamit ke rumah masing-masing. Sepanjang perjalanan, Alexander selalu tersenyum sangat lebar. Gigi putihnya terlihat, kedua matanya tidak berkedip ketika mengingat momen romantis bersama Tiara.
Sesampainya di rumah, dia langsung membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Kemudian membersihkan rumah sebelum ia beristirahat. Semenjak jadian dengan Tiara, dia melakukan pekerjaan rumahnya dengan sangat bersemangat.
Selesai mengerjakan pekerjaan rumah, dia masuk ke dalam kamar lalu tidur di atas kasur. Dia memeluk sebuah bantal guling dengan begitu erat.
"Tiara, sayang!" teriak Alexander seiring pelukannya begitu erat.
Sisi lain dari Alexander semakin terlihat, ketika ia menonton acara televisi sambil memeluk guling yang ia bawa dari kamarnya lalu membawanya, kembali ke dalam kamar saat waktu tidur tiba. Lampu kamar dimatikan, dia pun mulai tertidur sambil memeluk bantal guling miliknya. Dirinya tidak sabar untuk bertemu kembali dengan Tiara walau di dalam mimpi.
Tidak terasa pagi telah tiba, kedua matanya masih terpejam sambil memeluk bantal guling miliknya. Namun kali ini, ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Dia memeluk sesuatu yang hangat.
Selain itu, Alexander merasakan detak jantung serta hembusan nafas. Dia juga merasa, tubuhnya seperti ada sosok telah memeluknya. Alexander yang setengah tersadar namun kedua mata semakin terpejam, menyangka bahwa ia berada di dalam mimpi.
Dia mencium sosok itu, bibir dan lidah mereka saling beradu salam gairah cinta. Selain itu, dia mempererat pelukan sambil mencium wajah yang ia anggap Tiara berkali-kali.
"Tiara sayang, aku ingin tidur seranjang selamanya denganmu sayang!" ucapan sambil memeluknya dan menindih tubuhnya dari atas.
"Aku juga ingin terus, selamanya seperti ini suamiku sayang," balasnya dengan suara begitu lembut.
Kemudian, dia mempererat pelukannya lalu menurunkan Alexander dari atas tubuhnya secara perlahan. Seperempat mata Alexander mulai terbuka, dalam keadaan setengah sadar Alexander melihat Tiara mengenakan kaos singlet coklat dan celana pendek berwarna merah darah.
"Sayang, aku buat sarapan dulu," ujarnya pamit kepada Alex.
"Iya."
Alexander pun kembali melanjutkan tidurnya. Perlahan, kedua mata Alexander mulai terbuka seiring dengan akal sehatnya.
"Tunggu dulu, perasaan aku tinggal sendiri. Tapi rasanya seperti memeluk dan mencium gadis sungguhan. Apa, jangan-jangan!"
Wajah Alexander pun pucat, ia melirik sekitar kamarnya. Dia melihat bantal guling miliknya, berada di atas lantai membuat Alexander semakin ketakutan.
Namun, ia berusaha untuk selalu berpikir positif. Perlahan, dia mulai mencium aroma telur dan tempe goreng. Perutnya mulai keroncongan, dia pun berjalan ke luar kamar.
"Selamat pagi sayang, sarapan pagi kita sudah siap," kata Tiara sambil meletakkan menu sarapan di atas meja makan.
"Kamu?! Kenapa kamu ada di sini?! Apa aku sedang bermimpi?!" balasnya begitu terkejut.
Tiara berjalan mendekat, dia mencium keningnya membuat wajah Alexander merah padam. Kemudian, dia memeluk Alexander cukup erat selama beberapa detik dan melepaskan pelukannya.
"Suamiku sayang, cuci muka dulu. Nanti aku jelaskan sambil sarapan," kata Tiara sambil memainkan kedua pipi Alex.
__ADS_1