
Makan siang telah siap, Tiara memanggil Alexander untuk pergi ke dapur. Dia mengambil piring, sendok, nasi dan lauk pauk. Hari ini, Tiara memasak olahan sayur dan tempe goreng.
Aroma olahan sayur dan tempe goreng, membuat Alexander tidak sabar untuk memakannya. Mereka berdua berjalan ke ruang tengah dan menikmati menu makanan siang sambil menonton televisi.
Sesuap nasi dan sayur masuk ke dalam mulutnya, "Enak! Menu masakan apa ini?" puji Alex dengan nada kepedasan.
Tiara sambil mengunyah makanan menjawab, "Bobor Sawi. Dulu, sewaktu aku berada di Perpustakaan Langit Negeri Kayangan, aku sempat membaca resep makanan di Bumi. Aku senang bisa memasak dan menikmatinya bersamamu, sayang."
Alexander mengunyah makanannya secara perlahan, "Ada rasa pedas-pedasnya," katanya dengan wajah berkeringat serta nada kepedasan.
"Aku sengaja menambahkan lebih banyak cabai, soalnya aku tau bahwa kamu suka pedas. Semoga perut kita aman, soalnya kamar mandi kita cuman satu."
Alexander tertawa lalu ia berkata, "Kamu benar," ujarnya sambil mengunyah makanan dengan nada kepedasan.
Selesai makan siang, mereka pergi ke dapur sambil membawa piring kotor. Mereka secara bergantian, mencuci piring dan sendok telah mereka gunakan. Setelah itu, mereka kembali ke ruang keluarga.
Tiara menikmati acara berita di televisi, sedangkan Alexander menatap layar handphone. Alexander melihat brosur seputar informasi lomba menulis novel. Batas waktu pengiriman naskah adalah akhir bulan yang berarti dua minggu dari sekarang.
Tiara sambil menonton acara televisi berkata, "Jam dua, kita lanjutkan latihan."
Alexander tidak membalas perkataannya. Dia hanya diam sambil memandang layar handphone miliknya.
Ketika memperhatikan brosur lomba, dia teringat rencana membeli handphone baru untuk Tiara. Dia mengetik handphone harga satu hingga tiga juta pada pencarian di Internet.
Merasa tidak diperhatikan, Tiara melirik ke arah Alex. Raut wajahnya cemberut ketika melihat Alexander hanya fokus memandang layar handphone, "Kamu dengar tidak?!" tanya Tiara sedikit meninggikan nada suaranya.
Alexander hanya mengiyakan perkataannya membuat Tiara iara semakin cemberut. Tiara merangkak lalu melihat layar handphone sambil bertanya, "Kamu lihat apa sampai serius begitu?"
Alexander memberikan handphonenya sambil menjawab, "Brosur lomba. Rencana, aku ingin mengirim naskah yang sudah aku tulis dalam lomba."
"Naskah novel Lorex 19 itu?!" tanya Tiara dengan heboh.
Alexander tersenyum sambil menganggukkan kepala. Tiara sangat bersemangat, "Sayang, boleh aku membaca novel mu lagi? Sudah lima puluh halaman yang aku baca. Aku ingin melanjutkannya sekaligus membantumu memeriksa dan memperbaiki susunan, kata dan kalimat kurang tepat."
Alexander berdiri dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju kamar sambil berkata, "Boleh-boleh!"
Dia keluar dari kamar dengan membawa laptop di kedua tangannya. Tiara diajarkan Alex, cara menghidupkan laptop, memperbesar volume suara dan mencari file tempat naskah disimpan. Gadis itu fokus menatap layar laptop lalu mulai membaca halaman selanjutnya.
Setiap ada tata bahasa, diksi dan kata yang kurang tepat Tiara langsung memperbaikinya tanpa mengubah alur cerita. Selagi Tiara sibuk membaca, Alexander kembali menatap layar handphone. Dia ingin mencari toko menjual handphone sekaligus lapangan Sepak Bola untuk berlatih.
__ADS_1
Alexander melirik kepada kekasihnya. Dia tersenyum melihat Tiara begitu serius membaca karyanya, "Baru pertama kali, ada gadis begitu serius membaca karyaku. Jujur aku terharu setengah mati, " ujarnya di dalam hati.
Alexander berdiri lalu berjalan masuk ke dalam kamar sambil berkata, "Aku ngantuk, kalau sudah bangunkan saja aku."
Tiara sedang fokus membaca hanya mengiyakan perkataannya. Di dalam kamar, Alexander berbaring di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar. Dia teringat lokasi toko yang menjual handphone, "Setelah latihan, aku akan membawanya ke sana," katanya sambil mengubah posisi tidur ke samping.
Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan jam dua siang. Sudah lima puluh halaman telah Tiara baca. Gadis itu mematikan laptop lalu berdiri sambil melakukan perenggangan, "Waktu membangunkan Alex."
Perlahan pintu kamar mulai terbuka, dia melihat Alexander baru saja terbangun dan duduk di samping kasur. Dia melirik ke arahnya lalu tersenyum, "Kamu sudah membacanya?" tanya Alex.
"Iya, sayang. Sudah seratus halaman sudah aku baca. Cerita kamu benar-benar seru! Aku senang, akhirnya Angela bisa ikut berpetualang. Memang, Roki dan Angela itu tidak terpisahkan. Aku juga salut sama Roki yang menghargai Mona sebagai budak walau pada akhirnya dia juga menjadikan Mona guling hidup tanpa merebut mahkotanya!"
"Aku terharu mendengarnya, terima kasih Tiara sudah membaca karyaku."
Mereka berdua keluar dari kamar, Alexander mengenakan sepatu olahraganya sedangkan Tiara menjentikkan kedua jarinya. Sekali jentik, munculah lima benda rintang berbentuk kerucut sudah berjajar rapih. Selesai mengenakan sepatu, Alex berdiri sambil melipat kedua tangannya.
Tiara tersenyum lalu menginjak bola," Sayang, perhatikan ini."
Gadis itu menggiring bola melewati benda kerucut dangan pola dan gerakan zig-zag. Lihainya Tiara dalam menggiring bola, membuat Alexander sekilas terbayang sosok pemain sepak bola terkenal yang selalu muncul di iklan televisi, "Hebat. Gocekan itu, mirip sekali dengan Cristiano Ronaldo," gumamnya terkagum-kagum.
Tiara menginjak bola, dia tersenyum melihat Alex begitu serius memperhatikannya. Kemudian, dia menyuruh Alexander untuk mencobanya. Alexander menggiring bola melewati rintangan dalam gerakan zig-zag.
Keringat mengucur membasahi baju, nafas Alex ngos-ngosan dan jantung berdegup kencang. Dia pun duduk di teras rumah selama sepuluh menit. Selesai istirahat, Alexander dan Tiara berdiri berhadapan.
Tiara menginjak bola sambil tersenyum memandang Alex, "Sekarang coba rebut bola ini dariku," ujarnya dengan nada menantang.
Alexander tanpa bicara langsung menggerakkan kakinya merebut bola. Tiara langsung menggocek dan menggiring bola sambil menjaga jarak. Setiap kali Alexander gagal merebut bola, Tiara tertawa lalu meledeknya, "Payah, masa kamu kalah dengan seorang gadis? Ayo, sayang. Cepat rebut bola ini dariku," ujarnya sambil menggiring bola.
Berkali-kali Alexander gagal merebut bola. Gerakan Tiara yang lincah membuat Alexander sulit untuk merebutnya. Ajang rebut bola pun berakhir saat Alexander kehilangan stamina.
Mereka berdua duduk berdampingan sambil meluruskan kaki. Nafas mereka ngos-ngosan, jantung mereka masih berdegup kencang.
"Staminaku sudah habis, penguasaan bola mu tingkat kelas dunia. Mustahil aku merebutnya," ujarnya dengan nada terengah-engah.
"Jangan begitu, sayang. Kamu hanya perlu banyak berlatih, mungkin suatu saat kamu bisa merebutnya dariku," balasnya dengan nada terengah-engah.
"Setelah ini tolong temani aku," pinta Alex kepada Tiara.
Tiara melirik ke arah Alex lalu bertanya dengan nafas masih ngos-ngosan, "Memangnya kita mau ke mana?"
__ADS_1
"Nanti kamu tau."
Hari mulai senja, setelah beristirahat mereka masuk ke dalam rumah. Mereka bergantian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi, mereka berdua memakai baju, berdandan dan keluar rumah.
Mereka berdua, menaiki motor Kawasaki W800 yang dikendarai oleh Alex. Motor melaju meninggalkan rumah. Alexander, menambah laju kecepatan motornya menuju lokasi tempat menjual handphone.
Di perjalanan, Tiara menempelkan dagunya di atas pundak Alex, "Kita mau ke mana?" tanya Tiara.
Alexander tersenyum lalu menghentikan laju kendaraannya di depan sebuah Toko Handphone, "Kita ke sini!" jawabnya dengan nada memberikan kejutan.
Tiara melihat berbagai jenis handphone dan perangkat di toko itu, "Kenapa kita ke sini?" tanya Tiara kembali.
"Aku mau membeli handphone baru untukmu. Tidak enak rasanya, melihat istriku tidak punya handphone sekaligus aku ingin berterima kasih kepadamu karena sudah membantuku selama ini."
Tiara memeluk Alex dari belakang, kepalanya bersandar pada punggung Alex, "Terima kasih, sayang," ujarnya sambil mempererat pelukan.
Mereka berdua turun dari motor lalu menghampiri toko itu. Seorang Penjaga Toko bermata sipit berusia empat puluh tahun, menyambut kedatangan mereka berdua dengan ramah. Alexander dan Tiara, melihat berbagai jenis handphone di balik etalase toko.
"Tolong handphone harga dua juta ke atas," pinta Alex kepada penjaga toko itu.
Penjaga Toko itu, meletakkan berbagai jenis handphone miliknya di atas etalase toko. Beliau menjelaskan keunggulan dan kekurangan setiap handphone. Tiara terdiam melihat koleksi handphone itu sambil berpikir.
Tiara menunjuk pada sebuah handphone, "Saya pilih ini."
Penjaga itu, langsung melakukan aktivasi dan mengurus segala keperluan untuk handphone baru milik Tiara. Alexander membayar uang tunai kepada penjaga toko itu sebesar tiga juta. Selain handphone, Alexander membeli Tiara kartu telpon termasuk pulsa.
Kini, uang jajannya selama sebulan tersisa lima juta. Meskipun begitu, Alexander tidak terlalu memikirkannya.
Setelah membeli handphone baru, mereka berdua kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan, Tiara memeluk box kecil berisi handphone miliknya dengan sangat senang. Sesampainya di rumah, mereka berjalan masuk ke dalam rumah. Mereka berdua, duduk berdampingan sambil menikmati acara televisi.
Gadis itu duduk di samping Alex lalu ia mencium pipi Alex dan berkata, "Terima kasih, sayang. Padahal kamu tidak perlu membelikan aku handphone. Aku tau, uang itu bekal pemberian Ayahmu."
Alexander memeluknya dari samping lalu mengelus rambutnya, "Jangan berkata seperti itu, aku membelinya sebagai tanda terima kasihku karena telah membantuku selama ini. "
Tiara tersenyum lalu menyodorkan handphone miliknya, "Sayang, boleh aku minta nomermu?"
Alexander tersenyum, dia mengambil handphone miliknya sambil berkata, "Tentu."
__ADS_1
Alexander memasukkan nomor handphone miliknya. Dia melirik kepada Tiara sedang tersenyum manis, "Tiara aku berjanji, semoga suatu hari nanti aku bisa membelikanmu dengan uangku sendiri," ujarnya di dalam hati.