Senar Takdir

Senar Takdir
Terbayang Masa Lalu


__ADS_3

Lonceng pertanda pulang telah berbunyi. Seluruh siswa keluar dari kelas, mereka berlarian bagaikan seekor singa mencari makan. Para guru, terlihat berjalan sekitar lingkungan sekolah menuju Ruang Guru.


Wulan dan Tiara, beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati dua anggota serangkai. Mereka berdua, melihat Tamrin sedang menepuk Alex yang sedang tertidur.


"Bos, bangun!" ujar Tamrin sambil menepuk pundak Alexander berkali-kali.


"Bangun! Sudah waktunya pulang," sambung Tiara ikut membangunkannya.


Pelajaran Sejarah, membuat siapa pun merasa ngantuk apalagi cara Sang Guru menjelaskan pelajaran seperti halnya mendongeng sebelum tidur. Tidak hanya Alex, beberapa siswa yang duduk di barisan paling belakang merasakan hal yang sama.


Alexander terbangun, dia melihat tiga temannya sejak tadi membangunkan dirinya. Ia mengusap kedua matanya lalu berdiri dan mengajak mereka bertiga, keluar dari kelas. Ilham bersama dua temannya duduk di depan kelas, dia melirik ke arah Tiara baru saja keluar dari kelas.


"Hei, Tiara," sapa Ilham lalu Tiara membalas,"Hei juga."


"Mau pulang, bareng? Biar aku antar pulang ke rumah mu," tawar Ilham.


"Tidak, perlu. Kebetulan, hari ini aku ada rencana berkumpul dengan teman-temanku."


Ilham terdiam sejenak, dia terpikirkan sebuah rencana untuk lebih dekat dengannya. Siapa tau, keahlian sepak bola miliknya membuat Tiara terpikat.


"Tiara, siapa Ketua Kelas di sini?" tanya Ilham.


"Gue, ada apa?" jawab Alexander lalu balik bertanya.


"Gue ingin menantang kelas kalian bermain sepak bola dengan kelasku. Kalian mau?"


"Hmm..., boleh. Nanti gue tanyakan ke anak kelas," jawab Alexander.


"Bagus! Kami tunggu kepastiannya," timpal Ilham.


"Siap. Memangnya, kenapa kelasmu ingin bertanding dengan kelas kami? Bukannya lebih baik menantang kelas 10 IPS A?" tanya Alexander lalu Ilham menjawab,"Kelas kalian, lebih menarik dibandingkan kelas 10 IPS A. Sekalian menambah pertemanan, itu saja."


Setelah itu, Ilham dan tiga temannya pamit untuk pulang. Ilham melangkahkan kakinya, menjauhi empat serangkai. Alexander, mengajak tiga temannya menuju kantin.


Mereka berjalan, menelusuri lorong sekolah cukup sepi. Hanya sedikit siswa, terlihat berlalu-lalang sekitar lingkungan sekolah. Alexander terdiam, memikirkan ajakan Ilham mengenai pertandingan persahabatan.


"Bos, apa kita terima tantangan dari mereka?" tanya Tamrin.

__ADS_1


"Kita harus diskusikan hal ini dengan teman kelas kita," jawabnya lalu tiba-tiba ia menepuk keningnya sendiri sambil berkata, "Aduh!"


"Kenapa Alex?" tanya Tiara begitu cemas.


"Aku baru ingat! Seharusnya aku buat grup kelas di WhatsApp."


"Baru kepikiran sekarang, Ketua Kelas memang payah," ledek Wulan membuat Alexander menimpanya dengan cengengesan.


Sesampainya di kantin, mereka semua duduk di kursi berada paling pojok. Tiara berdiri, ia menawarkan pesanan pada tiga temannya.  Alexander dan dua serangkai mulai memesan.


Mereka bertiga, kompak membeli seblak sebagai menu utama dan hanya minuman saja yang berbeda. Tidak lupa, mereka bertiga memberi selembar uang pada Tiara. Kemudian, gadis berambut kuning itu pergi menuju stan yang masih buka.


Tamrin teringat Ilham, aura tikungan sekaligus persaingan ia rasakan dan begitu juga dirasakan oleh Wulan. Mereka berdua, terdiam memandang Alexander dengan sorot mata serius. Sorot mata mereka, membuat Alexander merasa tidak nyaman.


"Kenapa?" tanya Alex lalu Tamrin balik bertanya,"Bos, kamu tidak curiga dengan Ilham? Gue merasa ada niat terselubung."


"Benar apa kata Tamrin, Bos. Memangnya, Bos tidak curiga? Menantang Tim Sepak Bola kelas kita belum terbentuk. Aneh sekali bukan?" sambung Wulan lalu Alexander tertunduk dan ia membalas, "Iya, aku juga memikirkannya."


"Bos hanya diam saja?" tanya Tamrin.


"Sepertinya, iya. Aku tidak ingin, mengganggu kehidupan pribadi Tiara. Biarlah ia punya teman sebanyak mungkin, jangan sepertiku."


"Coba Bos ingat, apakah Tiara pernah bilang menginginkan seratus teman?" tanya Tamrin.


Mendapatkan tekanan dari dua sahabatnya, membuat Alexander terdiam. Dia belum pernah mendengar, bahwa Tiara menginginkan seratus teman. Baru dua hari, dirinya menjalani hubungan spesial dengan Tiara malah dihadapkan oleh masalah tidak bisa dianggap sepele.


Apalagi orang itu adalah Ilham, Pemain Tim Sepak Bola Nasional sekaligus anak Wakil Gubenur. Dia juga sempat melihat, bahwa sorot matanya hanya tertuju pada Tiara. Mengingat hal itu, membuat hatinya sakit dan akal sehatnya pun mulai terbakar.


Namun, tidak ada yang bisa Alexander lakukan selain diam. Sejak dulu, setiap kali melawan dan berdiri di atas permukaan malah berbalik kepadanya.


Ketakutan mulai menyelimuti dirinya, ia membayangkan pembullyan yang belum tentu terjadi.


Kedua tangannya gemetar, seketika suasana sekitar menjadi gelap gulita. Ia hanya melihat, layar putih yang menampilkan tayangan masa kelam. Di balik kegelapan, munculah Ilham dan teman-temannya.


Dia memukul rahang Alex hingga terjungkal. Tiga temannya, mulai mengeroyok Alexander secara brutal. Selain itu, amarah Sang Ibu dan cacian dari kakaknya membuat Alex menderita.


Tanpa sadar, dia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Melihat Alex wajahnya dengan penuh ketakutan, membuat Wulan dan Tamrin khawatir. Tidak berselang lama, Tiara pun datang lalu ia melihat kedua tangan Alexander gemetar menutup wajahnya.

__ADS_1


Mereka bertiga, berjalan mendekat lalu menepuk tubuh Alex dengan sangat khawatir. Namun, Alexander tetap terdiam dalam keadaan kedua tangan masih menutup wajahnya.


"Bos Alex! Bos! Bos!" ucap mereka bertiga sambil menepuk tubuhnya.


"Ciluk, ba!" timpal Alex membuka kedua tangan sambil memperlihatkan wajah konyolnya.


"Astaga, Alex bikin kaget saja!" timpal Tiara.


"Maaf, sesekali iseng bolehlah," kata Alex lalu tersenyum lebar memperlihatkan giginya.


"Ha.ha.ha! Bisa jail juga rupanya," balas Tiara.


Tamrin dan Wulan tau, bahwa apa yang dilakukan Alexander merupakan sebuah kebohongan. Mereka berdua, merasa bersalah sekaligus penasaran dengan apa yang Alexander pikirkan.


Mereka berdua tersenyum lalu bersikap seperti biasanya. Dua pegawai kantin, datang membawa nampan berisi pesanan mereka berempat.


Mereka mulai menikmati jajanan pedas di siang hari. Rasa gurih dan pedas, membuat kenangan masa kelam terlupakan sejenak. Alexander pun tertunduk, memikirkan respon ketika mendengar perkataan dua temannya.


Ia merasa bersalah, karena membuat tiga temannya sempat khawatir. Tetapi, rasa takut dan trauma tidak bisa ia tutupi sepenuhnya. Alexander memandang tiga temannya lalu tersenyum sambil meletakkan sendok di dalam mangkok.


"Habis ini, yuk! Kita keliling sekalian lihat Ruang Ekskul di sekolah ini," ajak Alexander pada tiga temannya.


"Yuk! Kebetulan, gue ingin lihat-lihat Ekskul di sini!" kata Tamrin dengan bersemangat.


"Gue juga ingin lihat-lihat, Ekskul Taekwondo dan musik di sekolah ini," sambung Wulan.


Makanan telah mereka habiskan, rasa pedas terasa membakar lidah lalu dipadamkan oleh dinginnya air es memang terasa nikmat. Tiara, Tamrin dan Wulan tidak sabar untuk berkeliling bersama.


Namun entah mengapa, perlahan wajah Alexander terlihat murung. Api semangat dan pancaran keceriaan mereka bertiga mulai redup.


"Sorry guys, gue mau langsung pulang," kata Alex membuat mereka langsung menoleh ke arahnya.


"Hah?! Kenapa?" tanya Tamrin.


"Kebetulan, ada kerabat ingin main ke rumah. Jadi terpaksa gue harus pulang cepat," jawabnya berbohong.


"Ya, sudah. Hati-hati, Bos!" timpal Tamrin.

__ADS_1


Alexander, pergi meninggalkan tiga temannya sedang terdiam memandang dirinya secara diam-diam dari kejauhan. Wajahnya yang murung serta sorot matanya kosong, membuat Tamrin dan Wulan terus terpikirkan.


Tiara tidak tau, hanya tersenyum dan ceria seperti biasanya. Setelah itu, Wulan dan Tamrin pamit kepada Tiara lalu berjalan menyeberang menuju parkiran. Sedangkan Tiara, mencari tempat sepi untuk melakukan teleportasi.


__ADS_2