Senar Takdir

Senar Takdir
Ketua Kelas


__ADS_3

Lonceng pertanda masuk telah berbunyi, Alexander melangkah masuk ke dalam kelas. Dia melihat Tiara sedang dikerumuni oleh para siswi di kelas. Kecantikannya bagaikan sinar matahari terpancar seluruh kelas.


Mereka saling berkenalan dan memulai komunikasi dalam menjalani awal kehidupan sebagai siswa SMA. Alexander duduk di bangku belakang pojok kanan. Seorang siswa mengenakan blangkon khas sunda, terlihat asik mengobrol dengan tiga temannya.


Siswa itu tidak lain adalah Tamrin, dia duduk tepat di sampingnya. Dia mengambil sebuah buku kecil di dalam tasnya lalu membacanya secara perlahan.


"Berkumpul, merupakan langkah awal dalam menjalin pertemanan. Ikuti arah pembicaraan sampai selesai."


Alexander berdiri dari tempat duduknya, dia berjalan mendekati Tamrin sedang mengobrol bersama tiga temannya. Mereka semua sedang asik membicarakan pertandingan sepak bola berlangsung semalam. Dia hanya terdiam mendengar perbincangan mereka semua.


"Cristiano Ricardo keren parah! Dia bisa melawan 6 pemain lawan sekaligus!" seru seorang siswa bernama Dandi.


"Tim Star memang bukan kaleng-kaleng," sambung Tamrin.


"Skor pertandingan semalam saja 4-3!" sambung temannya mengenakan topi terbalik bernama Fajar.


"Kalau gak ada bek terkenal itu, pasti sudah dibantai 7-0. Hei, elu nonton bola semalam?" tanya teman sekelas bernama Rudi mengenakan bando putih.


"Nonton, Chris John bukan? Dia memang bek bukan kaleng-kaleng!" seru Alex.


"Ha.ha.ha!" mereka berempat tertawa.


"Chris John itu atlet tinju bukan pemain bola," kata Dandi.


"Aneh, sejak kapan Chris John jadi bek? Yang ada pemain lawan babak belur kena tinjunya," sambung Rudi.


Kisah lampau terulang kembali, ketika dirinya ditanya mengenai hal yang tidak di ketahui. Mereka perlahan mulai menjauhinya lalu melempar beberapa pertanyaan seputar dunia yang ia tidak ketahui.


Ribuan pertanyaan itu, membuat Alexander merasa tidak nyaman lalu dia mulai menghindar. Beberapa siswa mulai mendekat lalu berbuat iseng kepadanya. Mereka bilang, bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah bercanda.


Lambat laun, canda itu berubah menjadi pembullyan. Sebagian uang jajannya selalu diberikan kepada para siswa mengaku sebagai preman. Setiap kali melawan, mereka selalu berbuat jahat dan usil.


Kenangan tersebut, membuat Alexander merasa pesimis dan kembali trauma ketika mengingat pembullyan selama sembilan tahun. Alexander sangat hafal, mengenai kejadian selanjutnya setelah mereka tau bahwa dirinya sangat minim pengetahuan mengenai sepak bola. Dia hanya bisa membalas mereka bertiga dengan tertawa.


"Suamiku," gumam Tiara memperhatikan Alexander sejak tadi.


"Ada apa?" tanya Wulan.


"Suamiku, sepertinya dia sangat tertekan," jawab Tiara berbisik begitu khawatir kepada Alex.


"Sementara, kita biarkan saja. Kalau kita ikut campur, hubungan sosialnya dengan teman sekelas malah semakin buruk. Lagi pula, tadi saat di lorong kenapa kamu bersikap dingin kepadanya?"

__ADS_1


"Habisnya, aku masih kesal sama Alex. Kamu tau sendiri, aku ditinggal di taman kota sendirian," jawab Tiara.


"Jangan begitu, aku yakin soal itu hanya salah paham."


Beberapa siswi mendekati Tiara, mereka mengajaknya berbincang sedangkan Wulan hanya terdiam mengawasi temannya. Sementara itu Alexander terdiam, mendengar pembicaraan Tamrin dan tiga teman barunya. Di antara keramaian, dia merasakan kesunyian begitu mendalam


Tidak ada seorang pun mengajaknya berbicara. Dia merasa, bahwa dirinya hanya pelengkap dalam kisah seseorang. Pada akhirnya, dia akan terus berputar dalam siklus yang sama.


Padahal, dia ingin sekali menjalani kehidupan baru yang lebih baik. Tapi kenyataannya, sampai sekarang takdir baik belum berpihak kepadanya.


"Alex," sahut Tamrin.


"Iya?"


"Motor Kawasaki W800, punya elu?" tanya Tamrin.


"Iya, kenapa emangnya?"


"Serius, motor elu?!" tanya Fajar.


"Iya."


"Wih, gila! Motor seharga dua ratus lima puluh satu juta dan spesial edition!" seru Rudi terkagum-kagum dengan motor Alex.


"Tapi sayangnya, tidak ada indikator bensin. Mau tidak mau, harus diperiksa secara manual. Beratnya saja 217 kg, mau tidak mau harus hati-hati. Tapi kapasitas mesinnya 773 CC (Cubical Centimeter), bentuknya juga clasic gak pasaran kayak Motor Ninja di parkiran," timbalnya kepada mereka berempat.


Alexander merasa senang, akhirnya dia bisa mengikuti pembicaraan yang dia tau dan ia suka. Beruntung, semalam dia sempat membaca spesifikasi pada motornya sebelum tidur. Kebetulan, dia sedang mencari referensi dalam membuat sebuah karya fiksi.


Dia bersyukur, bisa mencari referensi berhubungan langsung dengan motornya. Perbincangan dengan teman sekelasnya, baru pertama kali ia nikmati. Trauma pernah ia alami seketika menghilang.


Kemudian, dia melirik ke arah gadis berambut kuning yang sedang asik berbincang dengan teman-temannya. Ia melihat Wulan melirik ke arahnya sedang memegang sebuah kartu tarot buatannya.


Pada kartu tersebut, terdapat seorang lelaki memegang sebuah pedang emas. Di depan lelaki itu, ada beberapa lelaki suku pedalaman sedang memujanya. Selain itu ada tiga jam dan panah lintas putar menurun dari sisi kiri.


Wulan tersenyum kepadanya sembari menganggukkan kepala. Setelah itu, dia kembali bergabung dalam perbincangan bersama para siswi di kelas. Tidak berselang, seorang guru masuk ke dalam ruangan.


Seluruh siswa di kelas kembali ke tempat duduknya masing-masing. Ternyata, guru itu adalah Pak Dirman sempat menghukum Alexander dan Tamrin, akibat terlambat mengikuti Upacara Pembukaan MOS.


"Selamat pagi, anak-anak."


"Selamat pagi, pak!" balas kompak seluruh siswa di kelas.

__ADS_1


"Sebelum mulai kegiatan belajar, bapak ingin membentuk struktur organisasi kelas. Namun sebelum itu, bapak absen terlebih dahulu. Bagi yang disebut namanya, tolong angkat tangannya dan bilang hadir. Ok, Alex dan Tamrin?"


"Iya Pak," jawab kompak mereka berdua.


Mereka berdua, menjadi pusat perhatian ketika Pak Dirman memanggil nama mereka berdua. Alexander merasa malu, terutama dilihat oleh Tiara Si Gadis Pirang yang cantik jelita. Sepasang mata ungu, kulitnya seputih salju dan senyumannya yang manis membuat wajah Alex memerah.


Dia sempat mendengar, suara tawa dari gadis itu hingga membuat Alexander salah tingkah. Demi menutup rasa malu, dia alihkan dengan melirik ke arah jendela berada tepat sampingnya.


Nama siswa dipanggil satu persatu. Alexander, mendapat giliran pertama langsung mengangkat tangan lalu disambung dengan siswa yang lain hingga Tamrin sebagai nomer urut kedua terakhir. Setelah absen, kini giliran Pak Dirman untuk membentuk struktur organisasi kelas.


"Kalian semua, bagi yang ingin menjadi ketua kelas silahkan angkat tangan. Setelah itu, kita akan mengadakan pemilihan suara terbanyak," ujar Pak Dirman kepada seluruh siswa di kelas.


Tidak ada satu pun siswa di kelas mengajukan diri sebagai Ketua Kelas. Pak Dirman terus merayu agar salah satu siswa tertarik untuk mengajukan diri menjadi Ketua Kelas.


"Bos, ayo ajukan diri sebagai ketua," rayu Tamrin.


"Males."


"Kenapa?" tanya Tamrin.


"Menjadi Ketua, berarti menjadi babu kelas. Males gue, mending pulang, main dan tidur."


"Bapak dengar itu," ujar Sang Guru sejak tadi berdiri tepat samping Tamrin.


Mereka berdua terdiam, sebagian siswa di kelas terlihat menertawakan mereka berdua. Ada juga yang hanya terdiam melihat mereka berdua.


"Kalau begitu, mau tidak mau bapak tunjuk salah satu diantara kalian menjadi Ketua dan Wakil Ketua Kelas. Alexander, bapak tunjuk kamu sebagai Ketua kelas dan kamu Tamrin jadi Wakilnya."


"Mohon maaf, saya tidak setuju jika saya menjadi Wakil Ketua Kelas."


"Kenapa, Tamrin? Tolong sebutkan alasannya."


"Di dunia ini, tercipta pasangan Adam dan Hawa. Bukan Adam dan Hendra. Untuk jabatan Wakil, sebaiknya bapak tunjuk saja siswi di kelas kita. Lagi pula, saya tidak mampu untuk menjadi perwakilan kelas ini," jawab Tamrin memberi alasan kepada Sang Guru.


"Kalau begitu, saya juga tidak setuju mendapat jabatan ketua. Alasannya, saya juga tidak mampu memimpin dan mendapatkan kepercayaan dari teman kelas," kata Alexander memotong pembicaraan.


Pak Dirman, langsung bertanya kepada penghuni kelas apakah Alexander layak dan setuju menjadi pemimpin di kelas? Seluruh penghuni kelas dengan kompak menjawab bahwa mereka setuju.


"Sial," gumamnya di dalam hati.


"Para siswi, apakah ada yang mau mengajukan diri menjadi Wakil Kelas? Kalau iya, silahkan angkat tangannya."

__ADS_1


Tiara tersenyum lalu mengangkat tangannya, hingga menjadi pusat perhatian. Dia melirik ke arah Alex, sepasang mata ungu memandang Alex dengan penuh pesona. Kibaran rambut emas serta aroma tubuhnya membuat gadis itu terlihat mempesona.


Wajah Alexander merah padam, dia memalingkan wajahnya untuk menutupi rasa malu. Namun, ketika dia beranikan diri untuk menatapnya wajah Tiara menjadi cemberut dan kesal lalu ia kembali memalingkan wajahnya ke depan, seolah sedang terjadi permusuhan.


__ADS_2