Senar Takdir

Senar Takdir
Luka tersembunyi


__ADS_3

Jam istirahat pertama telah tiba, Guru pun pergi meninggalkan kelas. Wulan dan Tamrin sedang menjalani hukuman yaitu, berdiri memegang kedua ember berisi air telah berakhir.


Kedua tangan mereka terasa pegal lalu mereka berdua duduk di depan kelas. Tidak berselang lama, Tiara pun datang menghampiri mereka berdua.


"Hei, couple preman. Bagaimana rasanya berdiri sambil memegang dua ember?" canda Tiara.


"Kamu nanya apa meledek?" balas Tamrin.


"Maaf-maaf," timpal Tiara sambil cengengesan.


"Tiara, kami berdua sudah mencari Alex ke seluruh lingkungan sekolah. Sayangnya, gue dan Tamrin tidak menemukannya di mana pun," kata Wulan.


Tamrin menghembuskan nafas panjang lalu berkata, "Di telpon pun tidak diangkat. " Tamrin mendongak ke langit sambil berkata, "Dasar Bos. Setidaknya, angkat telpon teman-temanmu ini. Bikin khawatir saja...."


Mereka semua terdiam lalu menatap ke depan sambil mengkhawatirkan Alex. Namun pada akhirnya, mereka pun pergi ke kantin sambil mencoba menghubungi Alex kembali.


Sementara itu di trotoar jalan, Alexander berjalan seorang diri kembali pulang ke rumahnya. Bajunya yang kotor, wajahnya babak belur, baju kusut dan robek akibat pembullyan menimpa dirinya. Dia pun teringat dengan kenangan semasa SMP, tepat setelah pembagian rapot. Hadi berserta anak buahnya, menyeret Alex ke tempat biasa mereka menongkrong.


Alexander dihina dan dipukuli oleh teman-temannya. Dia sempat melawan untuk terakhir kalinya, namun berakhir dengan babak belur.


Setelah itu, Hadi beserta komplotannya pergi meninggalkan Alex begitu saja. Dia hanya menangis, melihat dirinya babak belur dan kotor. Alexander membasuh tubuhnya dengan air sungai.


Meskipun air sungai berwarna coklat serta dipenuhi sampah, baginya itu lebih baik dibandingkan pulang dengan tubuhnya yang hitam. Setelah membersihkan diri, mau tidak mau dia harus berjalan kaki untuk sampai ke rumahnya.


Rumah Alex, berlokasi di Desa Tegal Parang berjarak 3 km dari tempatnya bersekolah. Sepasang kaki berpijak di atas tanah seiring panasnya trik matahari. Keringat mulai mengucur dengan deras membasahi tubuhnya.


Sesekali, dia beristirahat pinggir jalan untuk melepas lelah. Meskipun derita kini sedang dia alami, setidaknya Ijazah dan sertifikat Ujian Sekolah masih dalam keadaan utuh.


Tiga jam lamanya Alex berjalan kaki, telapak kakinya mulai terasa sakit dan nyeri akibat lecet. Tidak ada satu pun teman, kenalan atau keluarga yang melintas.


Selama sembilan tahun menempuh pendidikan hanya segelintir orang, mau berteman dengannya. Seolah-olah, dia berjalan seorang diri diantara lampu lampion gelapnya malam. Matahari mulai terbenam, Alex baru saja tiba di rumah.


Getaran handphone miliknya, membuat Alexander tersadar. Dia lebih memilih untuk mengabaikannya. Kemudian, dia kembali melanjutkan perjalanannya kembali ke rumah dengan berjalan kaki.


Dirinya ingin sekali, kembali pulang dengan menaiki angkutan umum. Namun karena uangnya diambil, sekaligus aroma tubuhnya yang tidak sedap membuatnya terpaksa berjalan kaki.


Di depan dia sampai di lampu merah berada perempatan jalan. Suasana lalulintas tidak terlalu padat, namun sinar matahari membuatnya terus berkeringat. Seorang anak punk, berjalan membawa sebuah ukulele dengan sebuah kantong plastik berisi uang.

__ADS_1


Sambil berjalan, anak punk tersebut memainkan ukulele miliknya. Langkah kaki anak punk itu terhenti ketika Alexander melintas. Sontak dia pun menoleh kepada Alex,


"Hei!" panggil anak punk itu.


Alexander sempat menoleh kepada anak punk itu. Namun melihat penampilannya membuat Alexander lebih memilih untuk mengabaikannya.


"Anak SMA 22 TEGAR SARI?" tanya anak punk itu. Alexander tetap mengabaikannya lalu dengan nada kesal dia berkata, "Hei! Elu tuli ya?! Gue bicara sama elu!"


Alexander berhenti melangkah lalu balik badan dan berkata, "Iya."


"Jarang sekali siswa SMA TEGAR SARI di sini. Kenapa dengan penampilan elu? Habis tawuran di mana?"


"Enggak Bang, saya gak tawuran."


"Terus kenapa elu di sini?"


Aroma tak sedap mulai tercium membuat anak punk itu terdiam. Anak punk itu langsung menutup hidungnya. Kemudian dia mundur sebanyak dua langkah.


"Gue gak tau dan gak mau tau apa yang sebenarnya terjadi sama elu. Mending elu cepat pulang, bau! Kebetulan banyak angkot lewat sini," ucapnya sambil memegang hidung dengan kedua tangannya.


"Inginnya sih begitu, gue gak punya uang bang."


"Perumahan Bunga Indah.."


Anak punk itu, mengambil selembar uang lima puluh ribu dari dalam kantong plastik miliknya. Kemudian dia memberikan uang itu sambil berkata, "Ini duit buang ongkos elu. Cepat balik, pengen muntah gue nyium aroma tubuh elu!"


Alexander menerima uang itu sambil berkata, "Thanks bang."


Anak punk langsung pergi begitu saja setelah memberikan uang kepada Alex. Sedangkan Alex, langsung memanggil dan menaiki salah satu mobil angkot yang berhenti di sampingnya. Beberapa penumpang, merasa tidak nyaman dengan aroma tubuhnya. Sedangkan Alexander terdiam pasrah melihat reaksi para penumpang.


Sesampainya di rumah, Alexander langsung membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Di balik guyuran air shower, dia memandang langit-langit kamar mandi dengan tatapan kosong.


Kemudian, dia pun menangis histeris begitu teringat pembullyan setelah upacara sekolah. Berkali-kali, ia berkata bodoh dan lemah dengan suara lantang.


"Andaikan tau lebih awal, gue gak bakal sekolah di situ! Padahal gue ingin menikmati masa sekolah kali ini dengan tenang. Tapi kenapa terjadi lagi?!" ucapnya sambil menangis histeris.


Selesai mandi, Alexander berjalan keluar dengan mata sembab. Kemudian, dia mengganti baju dan berbaring di atas kasur. Perlahan Alex mulai tertidur.

__ADS_1


Dirinya berharap, semoga apa yang ia alami hanyalah mimpi. Walaupun pada akhirnya, harapan tetaplah sebuah harapan.


Suara pintu terbuka mulai terdengar, Alexander mulai membuka kedua matanya. Dia melihat Tiara berjalan mendekati dirinya. Kedua tangannya terbuka lebar lalu memeluk Alex dengan erat.


"Kemana saja? Kenapa kamu tidak menjawab teleponku?" tanya Tiara begitu khawatir.


"Maaf..."


Tiara melepas pelukannya, kemudian ia memandang kekasihnya. Kedua matanya yang sembab, wajah dan tangannya penuh luka lembab. Melihat hal itu, Tiara semakin cemas.


"Sebenarnya kamu ke mana? Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa wajahmu, sayang?!" tanya begitu khawatir.


Mendengar hal itu, dia terdiam lalu menunduk dan berkata, "Aku membolos. Terus di jalan, aku bertemu segerombolan pelajar lain. Kemudian mereka menyerang ku hingga membuatku begini.."


Tiara membalikkan telapak tangannya. Butiran cahaya keluar dari telapak tangan lalu cahaya tersebut, membentuk sebuah guci kecil. Dia mulai mengolesi bagian tubuh Alex yang terluka dengan cream putih di dalam guci.


"Lain kali, kalau ingin membolos ajaklah aku. Setidaknya, aku bisa melindungi mu. Aku gak mau lagi terjadi apa-apa sama kamu. Ini sudah kedua kalinya, aku melihatmu babak belur seperti ini," ujarnya sambil mengolesi obat cream pada wajah Alex yang terluka.


Seketika dia teringat oleh teman wanita sekaligus cinta pertamanya semasa SMP. Dulu sewaktu Alex kelas dua, dia sebangku dengan seorang gadis bernama Mirna. Dia memiliki paras cantik berambut coklat dan berkuncir kuda.


Mereka berdua pun berkenalan, perlahan mereka berdua mulai berbagi cerita. Terkadang, Hadi dan rombongannya datang untuk mengganggu. Sering kali, Alexander disuruh-suruh bahkan melakukan perbuatan memalukan seperti tarian perut di depan Mirna.


Mirna tersenyum dan menyemangatinya agar Alexander selalu sabar dan bersemangat dalam melaluinya. Senyuman Mirna, telah membuat Alexander terpikat.


Akhirnya, Alexander memutuskan untuk menyatakan cintanya di taman sekolah. Mereka berdua bertemu di bangku taman. Sebelum itu, Alexander membelikan coklat dan susu dingin untuk menambah suasana.


Angin pagi mulai berhembus, membuat keringat yang membasahi bajunya menjadi kering. Para siswa berlalu-lalang, menikmati jajanan serta berbincang-bincang dengan temannya sebelum pelajaran dimulai. Mereka berdua duduk bersebelahan, sembari menatap ke depan.


Gadis itu melirik ke arah Alex dan dia pun berkata, "Maaf Alex, aku hargai usahamu untuk memikat hatiku. Tapi sayangnya, aku sudah memiliki pacar dan kamu bukanlah tipeku. Tidak mungkin aku berpacaran dengan orang sepertimu. Memukul seseorang saja kamu tidak berani, apalagi melindungi diri sendiri. Jadi tolong jangan dekati aku lagi. Mulai besok, bersikaplah seolah tidak saling kenal."


Bagaikan seribu pedang, menancap pada jantungnya. Itulah yang sedang ia rasakan, pada saat itu. Tak disangka orang yang ia sukai berkata demikian.


Tubuhnya seketika menjadi lemas, dia tak tau apa yang harus dia lakukan sekarang. Dirinya sudah ditolak, sebelum dia mengungkapkannya. Seketika dunia menjadi gelap gulita, dia berjalan di dalam kegelapan dengan rasa hampa.


Tidak hanya Mirna, sebagian siswi berpikiran yang sama. Mereka memandang rendah Alex dan menganggapnya sebagai lelaki pengecut.


Mengingat hal itu membuat Alexander menjadi murung. Namun dia tersenyum menyembunyikan luka sedang ia rasakan.

__ADS_1


Alexander menyentuh wajah kekasihnya sambil berkata, "Tenang aku ini kuat. Kamu tidak pernah khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri," ucapnya penuh keyakinan kepada kekasihnya.


Tiara menyentuh tangan kekasihnya sambil berkata, "Iya, sayang." balasnya lalu tersenyum.


__ADS_2