Senar Takdir

Senar Takdir
Balas menggoda


__ADS_3

Tidak terasa Senin telah tiba, Alexander terbangun dari tidurnya. Dia melihat kekasihnya masih tertidur lelap. Biasanya, dia bangun terlebih dahulu untuk mencuci dan menyiapkan sarapan pagi.


Alexander menggeser tempat tidurnya, ia mendekati kekasihnya. Dia membelai rambutnya dan mencium pipinya. Kemudian dia berjalan keluar dari kamar untuk mencuci muka.


Selesai mencuci muka, dia berjalan kembali ke kamar lalu dia menoleh ke arah jam dinding di ruang keluarga. Jam dinding menunjukkan jam setengah lima pagi. Alexander teringat, bahwa hari ini adalah hari Senin.


Pintu kamar perlahan mulai terbuka, Alex melihat Tiara baru terbangun. Tiara duduk membungkuk di samping kasur. Kedua matanya setengah terpejam dan rambutnya acak-acakan.


Alexander menyalakan lampu kamar lalu berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. Tiara menggeser tempat duduknya, dia mencium pipi Alex dan langsung memeluknya dari samping.


"Selamat pagi, My Husband."


"Pagi, My Wife."


"Sekarang jam berapa?" tanya Tiara lalu Alexander menjawab, "Setengah lima."


"Waduh, gawat! Aku kesiangan!"


"Kesiangan? Sekarang masih pagi. Apa ada acara televisi yang ingin kamu lihat?"


"Bukan, sayang. Biasanya jam segini, aku membersihkan kamar mandi, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan."


Tiara pamit kepada Alex, dia langsung keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Melihat Tiara begitu rajin, membuat Alexander merasa tidak enak membiarkan ia melakukannya seorang diri. Rasanya, dirinya melihat Tiara tidak jauh berbeda dengan pembantu rumah tangga. Suara notifikasi handphone nyaring terdengar.


Alexander, mengambil handphone miliknya di atas lemari plastik. Sesaat dia terdiam ketika melihat Bola Sepak miliknya masih terbungkus di dalam jaring.


Buru-buru, dia mengambil handphone miliknya lalu membawanya keluar kamar. Kemudian, dia duduk bersandar di ruang keluarga.


"Halo penghuni kelas, hari ini adalah hari Senin. Jangan sampai telat!" seru Hana dalam grup kelas.


Suara benturan piring mulai terdengar, Alexander langsung meletakkan handphone di samping televisi lalu berjalan ke dapur. Rupanya, Tiara sedang sibuk mencuci piring. Melihat Tiara begitu rajin, membuat hati Alexander tersentuh.


Dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi lalu mulai menggosok dinding kamar mandi dengan sikat. Tiara mendengar suara sikat dari dalam kamar mandi. Gadis itu, berjalan menuju kamar mandi lalu melihat Alexander membersihkan kamar mandi.

__ADS_1


"Sayang, tidak usah. Biar aku saja," kata Tiara kepada Alex.


"Tidak perlu, biar aku saja. Kamu lanjutkan saja mencuci piring."


Selesai membersihkan kamar mandi, dia membantu pekerjaan rumah seperti menjemur pakaian, membersihkan kaca dan juga kamar tidur. Berkat Alexander, pekerjaan rumah menjadi ringan. Setelah itu, dia kembali duduk bersandar di ruang keluarga.


Dia teringat Tiara tidak memiliki handphone. Mengingat hal itu, Alexander merasa kasihan kepada kekasihnya. Alexander terdiam lalu berpikir, bagaimana caranya mencari uang untuk membeli handphone untuk Tiara.


Tidak berselang lama, Tiara pun datang membawa dua gelas berisi susu hangat. Suara benturan gelas ke lantai, membuat Alexander tersadar dari lamunannya.


"Sayang, tidak baik melamun di pagi hari. Sebenarnya, kamu sedang memikirkan apa?"


"Jalan cerita! Aku sedang memikirkan jalan cerita selanjutnya," jawabnya berbohong.


Tiara terdiam, cara Alexander meninggikan suaranya membuatnya tau bahwa Alexander berbohong. Dia mengira, bahwa Alexander sedang memikirkan pertandingan Sepak Bola antar kelas hari Sabtu.


"Hmm..., begitu rupanya. Aku jadi penasaran ingin membacanya. Ngomong-ngomong, tidak biasanya kamu membantuku mengerjakan pekerjaan rumah. Kenapa kamu membantuku? Padahal, biarkan saja aku melakukannya seorang diri."


"Apa? Coba katakan sekali lagi. Aku tidak dengar?!" canda Tiara lalu Alexander membalas, "Tidak ada pengulangan!" dengan wajah merah padam.


Tiara tertawa melihat Alexander salah tingkah. Kedua matanya tidak berkedip memandang Alex. Dia menggeser tempat duduknya lalu mencium pipinya membuat wajahnya semakin merah.


"Terima kasih."


Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan jam setengah enam. Satu jam lagi, upacara bendera akan dimulai. Buku pelajaran, topi dan alat tulis sudah mereka masukkan ke dalam tas.


Mereka berdua, berada di depan halaman rumah. Alexander berdiri berhadapan dengan Tiara, menunggunya memakai sepatu. Kedua mata Alexander tidak berkedip, sorot matanya fokus pada kain putih di balik rok yang dikenakan oleh Tiara.


Tiara terheran-heran, melihat Alexander diam membatu tanpa berkedip. Ketika dia memandang ke bawah, Tiara pun tau apa yang dilihat oleh Alex.


Gadis itu tersenyum, sorot matanya memandang mesum pada kekasihnya. Ujung lidah menjilati bibir bawahnya. Tiara dengan sengaja, melebarkan kedua pahanya hingga paha mulus dan selembar kain putih terlihat sempurna. Kain putih agak kendor, membuat ia melihat celah liang cikal bakal kehidupan.


Burung peliharaannya yang perkasa langsung ereksi sempurna. Wajahnya merah padam, dia berbalik badan lalu menepuk Sang Burung berkali-kali hingga tertidur.

__ADS_1


"Tidur, elu Jabrik!" sambil menunjuk pada burungnya sendiri.


Tiara berdiri lalu berjalan tanpa mengikat sepatu sebelah kirinya.


"Hei, cintaku. Kamu melihatnya, ya?" tanya Tiara menggoda Alex.


"Enggak!" bantah Alex dengan wajah merah padam.


"Beneran? Coba tebak, hari ini aku pakai warna apa?" tanya Tiara terus menggoda Alex.


"Putih."


Tiara langsung tertawa terbahak-bahak. Menjawab hal itu, sama saja dengan pengakuan. Wajah Alex merah padam, dia sangat malu dan mengutuk sifat polosnya.


"Ah, sudahlah! Sekarang kamu masuk, pakai celana!" ujarnya sambil mendorong Tiara masuk kembali ke dalam rumah.


Respon Alexander, membuat Tiara terus tertawa lalu ia berjalan masuk ke dalam kamar untuk memakai celana. Sementara itu, Alexander berdiri di depan rumah dalam keadaan gelisah. Dirinya tidak menyangka, bahwa Tiara menunjukkan begitu saja apa yang ada di balik rok tanpa ragu.


Wajahnya merah padam, dia berjalan kesana kemarin dengan rasa gelisah. Sesekali dia menepuk kepalanya sendiri agar dirinya tenang. Tidak berselang lama, Tiara pun keluar dari rumah lalu kembali mengenakan sepatu.


Sekarang, dia mengenakan celana pendek coklat dibalik rok sekolah yang ia kenakan. Alexander merasa lega, tidak melihat apa yang harus ia lihat.


Tetapi dia tidak bisa menghilangkan, ingat seputar keindahan dibalik rok kekasihnya. Selesai mengenakan sepatu, dia berjalan mendekati Alex sedang gelisah.


"Sayang, kenapa kamu memintaku mengenakan celana?" tanya Tiara menggoda Alex.


Setiap hari, Tiara selalu menggoda Alex. Sekarang waktunya yang tepat bagi Alexander untuk membalas Tiara.


"Aku teringat kejadian dua hari yang lalu, saat pria itu mencoba memfoto apa yang ada dibalik rok mu. Aku khawatir, siapa tau selama ini para siswa di sekolah diam-diam mengintip dan melakukan hal yang sama dengan pria itu. Tidak boleh satu pun lelaki yang boleh melihatnya," jawab Alex lalu ia pun mendekati daun telinganya dan dia berkata, " Hanya aku yang boleh melihatnya."


Alexander berhasil membalasnya, seketika wajah Tiara merah padam. Jantungnya berdegup kencang, sorot matanya memandang Alex dengan penuh terpesona. Dia tersenyum manis memandang Alex tanpa berkedip.


Mereka berdua menaiki motor, Alexander mulai mengendarai motor menuju sekolah. Di kursi belakang, Tiara terus tersenyum ketika mengingat perkataan Alex.

__ADS_1


__ADS_2