Senar Takdir

Senar Takdir
Terdiam


__ADS_3

Alexander, berjalan menyeberangi jalan lalu melangkahkan kakinya menuju parkiran. Dia menaiki motornya dan melaju secara perlahan meninggalkan parkiran. Tamrin baru saja memasuki parkiran, mereka sempat berpapasan.


Tamrin melambaikan tangan dan Alexander, membalas dengan membunyikan klakson sambil tersenyum tipis. Perlahan dia menurunkan tangannya, sekilas dia melihat wajahnya kembali murung.


Hembusan angin terus ia rasakan, beberapa transportasi terus melintasi dirinya sedang melaju pelan. Kenangan masa lalu, terus menari di dalam pikirannya. Hujatan serta caci maki, membuat Alexander menggenggam stang dengan sangat kuat.


"Astaga, Tiara!" ujarnya teringat kekasihnya yang masih berada di lingkungan sekolah.


Buru-buru, Alexander putar balik menuju sekolah namun ia tidak menemukan Tiara di mana pun. Pada akhirnya, Alexander memutuskan untuk pulang. Sekian lama diperjalanan, akhirnya Alex sampai di rumahnya.


Gerbang mulai terbuka, suara sapu lidi jelas terdengar lalu ia melihat Tiara sedang menyapu halaman. Dia mengenakan kaos pink dan celana pendek coklat selutut.


Gadis itu tersenyum manis kepadanya sambil menyandarkan sapu lidi, pada tiang rumah. Tiara melihat, Alexander ikut tersenyum namun ia kembali tertunduk dengan wajah suram.


"Selamat datang suamiku," ujarnya sedikit membungkuk dan memandang wajah Alex lalu ia tersenyum dan bertanya, "Aku mencari mu ke sekolah. Tapi kamu gak ada di sekolah, aku kira kamu main sama Wulan? Bagaimana mana kamu bisa di sini?"


"Aku pulang dengan kemampuan Teleportasi milikku."


"Teleportasi? Apa itu?"


"Kemampuan berpindah tempat yang pernah kita singgahi dalam sekejap"


"Oh.."


Alexander memasukkan motor ke dalam garasi. Setelah memasukan motor, Alex berjalan masuk ke dalam rumahnya sedangkan Tiara terlihat melanjutkan pekerjaannya yaitu menyapu halaman.


Dia sempat memperhatikan kekasihnya sebelum masuk rumah. Tiara berbeda dengan gadis lain, meskipun berkeringat namun kulitnya tidak terbakar sinar matahari. Bahkan, percikan keringat akibat kibasan tangan dan rambutnya membuatnya terlihat anggun.


Selesai melepas sepatu, dia berjalan masuk ke dalam rumah. Ia sempat kagum, melihat isi rumah begitu bersih dan rapih. Alexander, sempat menyentuh meja berada di ruang tamu.


Tidak ada debu selain hembusan angin dan aroma harum. Kemudian, dia berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju. Suasana kamar yang rapih, bersih dan harum membuat Alexander merasa seperti bukan berada di dalam kamarnya.


Begitu juga dengan dapur terlihat sangat rapih dan bersih. Tiara berjalan masuk ke dalam dapur, ia melihat kekasihnya begitu terkagum-kagum dengan hasil kerja kerasnya.


"Bersih sekali!" puji Alexander sambil memandang isi dapur.


"Tentu saja suamiku, siapa dulu kalau bukan Tiara!" sahutnya dari belakang menyombongkan diri.

__ADS_1


"Begitu rupanya, padahal tidak perlu serapih ini," balas Alex lalu tersenyum sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Gak bisa begitu! Keluarga mu mau datang. Tidak enak rasanya, melihat suasana rumah yang berantakan," timpal Tiara lalu Alexander berkata, "Mereka tidak datang."


"Kenapa?" tanya Tiara.


"Aku bohong. Aku hanya ingin pulang cepat, itu saja."


Tiara kembali bertanya, namun Alexander terdiam lalu ia berkata bahwa dirinya ingin tidur siang. Kemudian, dia berjalan masuk ke dalam kamar dan berbaring di atas kasur. Sejak berada di Kantin Sekolah, wajah Alexander terlihat murung dan sedih membuat dirinya semakin penasaran.


Selesai melakukan pekerjaan rumah, Tiara berjalan menuju kamar. Perlahan dia mulai membuka pintu, hembusan angin AC mulai ia rasakan. Ia berjalan masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan perlahan.


Alexander, terlihat tidur dalam posisi menyamping. Perlahan ia naik ke atas ranjang lalu Tiara mulai memejamkan mata dan akhirnya ia pun tidur.


Satu jam lamanya ia tertidur, suasana kamar yang sejuk dan hening membuat gadis itu semakin tertidur lelap. Namun, keheningan itu mulai berakhir ketikan mendengar suara tangisan. Suara itu begitu jelas dan tidak asing baginya.


"Bajingan kalian semua! Beraninya kalian melakukannya dengan orang lemah sepertiku!"


Suara tangisan histeris penuh penderitaan, membuat Tiara membuka mata. Ia melihat Alexander menangis dalam keadaan tertidur. Kedua matanya terpejam, namun air matanya terus mengalir.


Tiara sangat khawatir, ia menepuk mengguncangkan tubuhnya sambil menyebut suamiku berkali-kali. Kedua mata Alexander terbuka, dia melihat Tiara duduk memandangnya dengan sangat khawatir.


"Sayang, kamu mimpi apa sampai menangis begitu?"


Alexander tidak menjawabnya, ia pun tersenyum dan mengambil ponselnya berada di atas lemari plastik kamarnya. Dia berkata, bahwa dirinya hanya bermimpi buruk dikejar oleh sosok hantu.


Padahal, jelas-jelas ia mengigau seperti orang menderita karena suatu siksaan. Singkat cerita malam pun telah tiba, Tiara menceritakan seputar kegiatan menyenangkan saat sekolah. Namun, Alexander terdiam dengan sorot mata yang kosong dan terkadang menanggapinya dengan singkat.


Dua hari telah berlalu, wajahnya yang murung juga terlihat ketika berada di Sekolah. Setiap tiga anggota serangkai berkumpul, Alexander selalu beranjak pergi dan lebih memilih untuk menyendiri dengan berbagai alasan.


Ketika Tamrin, mengajaknya berbicara ia hanya membalas singkat lalu tersenyum aneh. Perbincangan dengan topik sedang dibahas tidak nyambung. Jika tidak diajak bicara terlebih dahulu, Alexander hanya terdiam seolah Tamrin adalah orang asing.


Keesokan harinya, setelah jam istirahat Tiara masuk ke dalam kelas. Kedua tangannya, memegang plastik hitam berisi serta minuman. Sesekali, dia merapihkan seragam Pramuka yang ia kenakan.


Tiara melihat Wulan dan Tamrin, menoleh ke arahnya dari kejauhan. Dia berjalan dan duduk di bangku pojok, tempat biasa Empat Serangkai makan bersama. Tidak ada Alex di tempatnya, selain tas miliknya.


"Akhir-akhir ini, Bos seperti menjauhi kita," kata Wulan.

__ADS_1


"Iya, apa kita pernah berkata sesuatu yang menyakitkan?" tanya Tamrin pada mereka berdua.


"Entahlah," jawab mereka berdua.


"Tiara, pacarmu pernah cerita, curhat dan sebagainya?" tanya Tamrin.


"Sttt!" timpalnya sambil menekan telunjuk pada mulutnya. "Bisa engga, ngomong pacarnya jangan keras-keras?"


"Maaf, tapi apa pacarmu pernah cerita?"


"Tidak," jawabnya singkat.


Mendengar hal itu, Wulan dan Tamrin tertunduk sedih. Mereka saling berpandangan dengan wajah murung lalu kembali memandang Tiara.


"Seandainya, kita ada salah seharusnya Bos katakan saja," kata Tamrin.


"Benar, Tamrin. Kita ini Empat Serangkai, sudah sewajarnya kita saling terbuka dan jangan memendam sendiri. Tiara tolong kamu tanyakan pada Alex, apa kita punya salah?"


"Sepulang sekolah aku akan langsung bertanya," timpal Tiara.


Sepulang sekolah, dia melihat Alexander di kamar sibuk dengan laptopnya. Tiara menoleh, Alexander sedang membuat naskah cerita. Perlahan gadis itu mendekat, dia mengecup pipinya membuat Alexander tersipu malu.


"Hei!" timpalnya tersipu malu.


"Hi.hi.hi! Sengaja, biar kamu sadar ada aku di sini," godanya pada Alex.


Tiara sedikit membungkuk, dia memperhatikan apa yang sedang Alexander kerjakan. Dia sempat membaca beberapa lembar naskah novel di dalam laptopnya.


Sadar sedang diperhatikan, buru-buru Alexander menutup layar laptop miliknya. Wajahnya merah padam, kedua matanya tidak berkedip memandang Tiara.


"Kenapa?" tanya Tiara terheran-heran.


"Naskah novelku belum selesai. Kalau kamu ingin membacanya nanti kalau sudah selesai," jawabnya sambil menutup layar laptop.


"Iya, sayang. Iya," timpalnya membuat Alexander kembali melanjutkan pekerjaannya.


Selagi Alexander sibuk dengan laptopnya, buru-buru ia mengganti bajunya. Sekarang, dia mengenakan kaos dan celana coklat. Selesai ganti baju, dia keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.

__ADS_1


Gadis itu, membuat secangkir Jus Jeruk dingin dari jeruk asli dan madu. Selanjutnya, ia letakkan tepat di samping laptopnya sudah diberi selembar tisu sebagai alas sebagai dukungan. Semoga, selesai dengan pekerjaannya Alexander mau bercerita mengenai apa selama ini ia rasakan.


__ADS_2