Senar Takdir

Senar Takdir
Bendera perang


__ADS_3

Keesokan harinya setelah selesai jam olahraga, Alexander duduk seorang diri di pinggir jalan lorong dekat lapangan basket. Tubuhnya penuh keringat, nafasnya ngos-ngosan akibat materi bola basket yang diajarkan oleh Guru Olahraga. Fajar dan teman-temannya, terllihat bermain voli di sisi lain lapangan basket.


Tamrin dan Tiara, berdiri berhadapan dengan sebuah bola futsal di antara mereka berdua. Kemudian, mereka mulai berduel memperebutkan bola. Wulan terlihat berjalan menghampiri mereka berdua, lalu dia bergabung bersama Tamrin merebut bola. Gerakkan Tiara yang lincah dan licin, membuat mereka berdua kesulitan merebut bola. Tidak berselang lama, Rudi pun datang lalu bergabung bersama Tiara untuk mempertahankan bola.


Alexander yang melihatnya hanya tertawa sambil mengistirahatkan tubuhnya. Setelah nafasnya stabil, dia mengambil handphone di dalam saku celana olahraga yang ia kenakan. Dia mulai mengetik melanjutkan naskah novel miliknya.


Di dalam naskah tersebut, tokoh utama memasuki kamar lalu disambut oleh kedua istrinya. Sorot matanya fokus menatap layar handphone dengan tatapan mesum. Kedua jarinya, terus mengetik dan pikirannya terbang menuju dunia imajinasi.


Sambil mengetik dia pun berkata, "Gaya atas atau gaya menyamping? Enaknya pakai kostum apa ya? Pelayan!" ujarnya di dalam hati lalu dia tertawa membuat siswa yang melintas menatap aneh dirinya.


Pada saat menulis naskah, Alexander menjadi sosok pribadi yang lain dari biasanya. Akal sehat seketika kembali, Alexander kembali tersadar dari dunianya.


Buru-buru dia membalikkan layar handphonenya lalu melirik ke belakang dan sekelilingnya. Kemudian, dia mengembuskan nafasnya dan berkata, "Sial! Malah terbawa suasana."


Alexander kembali menulis, namun kali ini ia berusaha untuk menahan sikap dan emosinya ketika menulis. Ketika sedang mengetik, seseorang duduk disampingnya.


Alexander melirik kepada orang di samping, "Hei, Tamrin!" sapa Alex mengira adalah Tamrin.


Raut wajah Alex yang ramah, perlahan menjadi dingin ketika mengetahui bahwa orang yang duduk disampingnya adalah Ilham. Alexander masukkan handphone miliknya kembali ke dalam kantong celana. Mereka duduk berdampingan sambil memandang ke depan dengan wajah dingin dan mengintimidasi.


"Tempat ini memang paling indah, apalagi melihat sosok bidadari riang gembira sedang bermain dengan teman sebayanya," kata Ilham dengan ramah.


Alexander melirik kepada Ilham sambil bertanya, "Tidak perlu basa-basi, sebenarnya elu mau apa?"


Ilham tertawa lalu melirik ke arah Alex, " Kaku sekali, gue hanya ingin mengingatkan pertandingan kelas kita di hari Sabtu. Gue khawatir, kelas kalian akan lupa."


"Hanya itu?" timpal Alex.

__ADS_1


Raut wajah Ilham yang ramah, seketika berubah menjadi dingin dan penuh intimidasi, "Wajahmu itu membuatku muak. Melihat gue seperti itu gue bakal gentar? Mimpi," ujarnya dengan nada sombong.


Semakin Alex melotot, jantungnya semakin berdegup kencang. Alarm pertanda bahaya telah berbunyi di dalam dirinya. Kedua tangannya gemetar, namun ia samarkan dalam kepalan tangan.


"Gue tanya sekali lagi, elu mau apa?"


"Menurut informasi yang gue terima, elu dan Tiara berjalan berdua di Mall. Selain itu gue perhatikan, kalian berdua selalu dekat dan bahkan pulang bersama. Apalagi saat pertandingan futsal kemarin. Tiara berlari ke tengah lapangan terus memeluk elu di hadapan semua orang. Gue yakin, hubungan kalian tidak sebatas teman dekat. Sebenarnya, seberapa dekat elu dengan Tiara? Hubungan apa yang elu jalanin dengan Tiara? Elu pacarnya?"


Alexander menatap Ilham dengan sangat tajam seiring detak jantungnya berdegup kencang sembari menahan rasa tegang dan takut, "Mau pacar atau tidak itu bukan urusan elu."


Ilham tertawa sambil berpaling menatap ke depan. Dia pun kembali melirik Alex dengan wajah dinginnya, "Ya, ampun sombong sekali. Elu dengar baik-baik, gue gak peduli seberapa dekat dengan Tiara yang pasti gue akan rebut Tiara dari elu bagaimana pun caranya. Sebab, ketika gue menginginkannya, maka itulah yang harus gue dapatkan," ujarnya dengan nada mengintimidasi.


"Apapun caranya? Arogan sekali.


Mendengarnya saja membuatku muak. Jangan mimpi, apa pun caranya tidak akan gue biarkan satu pun lelaki merebutnya dariku," balas Alex menatap tajam Ilham dengan nada mengintimidasi.


Suasana semakin tegang, kedua tangan mereka saling mengepal satu sama lain dan bersiap untuk memukul. Aura kebencian mereka saling beradu, sorot mata yang mengintimidasi menambah ketegangan. Sebuah bola, menggelinding ke arah mereka.


Tiara, Rudi, Wulan dan Tamrin memanggil mereka berdua. Namun Alex dan Ilham berdua berpaling lalu karena tidak ada tanggapan Tiara serta Rudi berlari mendekat. Sedangkan Wulan dan Tamrin, mereka berdua berjalan mengekor mereka dari belakang.


Tamrin sambil berjalan pun bertanya, "Momen tendangan gue sudah pas?"


Wulan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, "Sesuai ramalanku semalam. Kalau terlalu lama, Bos kita semakin tertekan."


Di saat yang bersamaan, Tiara dan Rudi berdiri menghadap mereka berdua. Tiara penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Ilham.


"Hai, Ilham!" sapa Tiara.

__ADS_1


"Halo, Tiara," balasnya dengan ramah.


"Kamu sedang apa di sini?"


"Aku hanya mengingatkan pertandingan antar kelas kita dengan Alex. Supaya menarik, bagaimana kalau ditambah dengan taruhan? Uang misalnya?"


"Tidak boleh, itu judi namanya. Lagi pula, uang jajan pelajar tidak sebanyak yang elu kira," balas Alex.


"Soal itu, masing-masing iuran seribu perorang. Kalau dapat, lemayan menambah uang kelas kalian bukan?"


Alexander melipat kedua tangannya sambil tersenyum licik, "Baiklah, kami mau bertaruh. Asalkan selain uang, misalnya mentraktir satu dus botol air mineral atau pijat gratis. Kalau tidak mau, pertandingan antar kelas kita batal."


Ilham pun menyetujuinya, dia pun berdiri dan pamit kepada mereka untuk kembali ke kelas. Pertemuan dengan Ilham hari ini sebagai pertanda dimulainya berkibarnys bendera perang.


Alexander melirik ke arah mereka semua dengan wajah serius, "Tolong beritahu kepada teman kelas kita untuk berkumpul di kelas. Kita harus memberitahu hal ini kepada mereka."


Tiara dan lainnya menganggukkan kepala lalu berpencar mencari anggota kelas yang lainnya. Seluruh anggota kelas telah berkumpul di dalam kelas. Alexander, menceritakan soal pertandingan yang dibicarakan oleh Ilham.


"Kenapa tidak taruhan uang saja? Perasaan sekolah kita tidak tidak ada larangan taruhan?" tanya Fajar.


Alexander menghembuskan nafas sambil melipat kedua tangannya. Dia memandang teman sekelasnya dengan raut wajah serius, "Jika kita bertaruh uang, maka suasana dan permainan kita akan menjadi serius. Selesai bertanding pasti kita saling menyalahkan. Asal kalian tau, percaya atau tidak tujuan pertandingan ini adalah untuk memecah belah kelas kita."


Hana sudah menjalani pertemanan dengan Ilham serta teman-temannya menjadi kesal. Dia dengan serius bertanya, "Memangnya, elu punya bukti apa berkata seperti itu?"


Alexander melirik kepada Hana, dia pun tersenyum lalu berkata, "Tidak, hanya firasat. Percaya atau tidak itu urusan elu. Yang jelas, gue tidak menyuruh elu dan kalian semua memusuhi kelas IPA A. Yang merasa laki-laki, jangan lupa latihan kita jam dua siang."


Sambil membubarkan diri, para siswa pun berkata, "Siap Ketua," ujar mereka dengan nada datar.

__ADS_1


__ADS_2