Senar Takdir

Senar Takdir
Rencana jahat


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, hari Sabtu pun telah tiba. Winda baru tiba di sekolah, dia berjalan menelusuri lorong menuju kelas. Dia melihat Ilham duduk terdiam seorang diri di depan kelas.


Winda teringat kejadian di Taman Hiburan. Dia pun berjalan mendekati Ilham lalu menutup kedua matanya.


"Tebak, ini siapa?" tanya Winda sambil menutup mata Ilham dengan kedua tangannya.


Ilham menggenggam kedua pergelangan tangan Winda. Dia pun berkata, "Stop Winda, gue tau itu elu," ujarnya dengan nada tidak suka.


Winda melepas kedua tangannya lalu duduk di samping Ilham. Setelah itu dia berkata, "Santai aja, hari ini kamu kelihatan lagi Bad Mood. Ada apa?"


"Dua hari yang lalu, gue berkencan dengan Tiara. Terus, pecundang Alexander itu datang dan mengacaukan semuanya. Padahal, sedikit lagi gue tau di mana rumah Tiara."


Winda dengan kesal pun berkata, "Sudahlah Ilham, ngapain sih mikirin Tiara terus?! Lupain aja, mending fokus dengan karier sepak bola elu!"


"Elu itu kenapa segitu kerasnya ngelarang gue dekat sama Tiara?!"


"Dia itu mempermainkan perasaan elu!" tegas Winda kepada Ilham.


Ilham menatap Winda dengan sangat serius. Kemudian dia bertanya, "Punya bukti?"


Winda mengambil handphone miliknya di dalam saku rok. Dia menunjukkan foto Alexander menelpon. Selain itu, dia menunjukkan foto kemesraan Tiara dan Alexander sedang berjalan bermesraan setelah pertemuan dirinya dengan Alex.


"Kau sebut perlakuanmu di belakang gudang itu peringatan?! Hanya seorang pengecut melakukannya. Apalagi bawa teman, pengecut! Lagi pula, kencan? Kau bilang kencan?! Apa Tiara berpikiran yang sama denganmu? Kurasa tidak."


Begitulah sekilas ingatan perkataan Alexander terhadap dirinya. Kedua tangannya mengepal seiring amarah di dalam dirinya semakin memuncak. Winda menunjukkan foto Tiara bersama om-om di Restoran Steak dalam Mall Cikini. Dia pun berkata, "Lihat ini! Tiara itu cewek penggoda!"


"Stop Winda!" balas Ilham lalu memalingkan wajahnya sambil berkata, "Males banget. Elu itu, bikin gue gak mood aja! Mending, elu pergi ke kantin atau ke mana yang elu suka."


Winda merasa sakit hati mendengarnya. Rasa sakit itu, membuatnya teringat dengan Tiara. Rasa sakit begitu mendalam, membuat kebencian terhadap Tiara semakin meningkat.


Winda pun terdiam, dia berdiri lalu berjalan meninggalkan Ilham. Sambil berjalan ia pun berkata, "Gadis penggoda sialan!" gumamnya di dalam hati dengan penuh emosi.


Tidak berselang lama, Bobi dan Martin berjalan melewatinya. Kedua lelaki itu terdiam memperhatikan Winda sedang menahan amarah.


Mereka berdua berjalan menghampiri Ilham sedang duduk terdiam di depan kelas. Raut wajahnya terlihat kesal, membuat mereka berdua bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi.


Martin menepuk pundak Ilham sambil berkata, "Hei, bro! Ngelamun aja!" sapa Martin.


Ilham menoleh kepada Martin lalu berkata, "Astaga, bikin gue kaget saja!"


"Elu kenapa kelihatan kesal begitu?" tanya Bobi.


"Biasa, Si bodoh Alex!"

__ADS_1


"Memangnya, apa yang sudah Si Pecundang itu perbuat?" tanya Martin.


Ilham bercerita, mengenai Alexander yang mengganggu kencannya dengan Tiara. Padahal sedikit lagi, dia bisa tau di mana Tiara tinggal.


Dengan begitu, dia bisa menjemput dan bisa lebih dekat dengan Tiara. Dia juga menceritakan, mengenai perkataan Alexander begitu sombong.


"Malam ini, elu ada pertandingan bukan? Sekarang elu sabar, mending elu fokus buat hadapi pertandingan elu nanti malam," kata Martin.


"Ah! Mending elu ajak Tiara nonton pertandingan elu malam ini. Bayarin tiket dan biarkan Tiara duduk di bangku VIP. Bagaimana?" ujar Bobi memberi ide.


"Kebetulan, pagi ini gue mau ajak dia," balas Ilham.


"Ya, sudah. Mending elu chat dia aja sekarang, siapa tau Tiara sudah berada di kelas," balas Martin.


Ilham mengambil handphonenya sambil berkata, "Betul juga."


Di waktu yang bersamaan, Tiara sedang duduk terdiam mendengar perbincangan Alexander dan kedua sahabatnya. Handphone miliknya berada di dalam saku rok mulai bergetar.


Tiara pun mengambil handphone di dalam sakunya. Ilham mengirimkan sebuah pesan di dalam ponselnya.


"Selamat pagi," sapa Ilham.


"Selamat pagi juga."


"Malam ini, timku akan bertanding. Kamu mau menonton pertandinganku? Kalau mau, aku siapkan kursi VVIP," tawar Ilham kepada Tiara.


"Acara apa?"


"Rencananya aku, Alexander, Wulan dan Tamrin ingin belajar bareng. Sekalian menikmati waktu malam Minggu. Kami pasti nonton pertandingan mu Ilham. Semangat, buat pertandingan hari ini."


"Thanks Tiara," balasnya singkat.


Kirim pesan pun telah berakhir, Tiara memasukan handphone miliknya kembali ke dalam saku rok. Alexander, Wulan dan Tamrin baru saja selesai berbincang menoleh kepadanya.


"Habis chatting?" tanya Alex.


"Iya."


"Chatting sama siapa?" tanya Alexander kembali.


"Ilham. Dia mengajakku untuk melihat pertandingannya malam ini. Katanya sih, dia membayar ku duduk di bangku VVIP."


"Terus, kamu terima?" tanya Wulan kepada sahabatnya.

__ADS_1


Tiara menggelengkan kepalanya lalu Tamrin yang penasaran pun bertanya, "Elu balas apa?"


"Belajar bareng. Kalian lupa? Malam ini kita belajar bareng master kita," ucapnya lalu menepuk pundak Alexander.


Alexander tertawa lalu berkata, "Bisa aja kamu, aku juga masih belajar," ujarnya malu-malu.


"Belajar main 3 gitar sekaligus?! Keren-keren!" puji Wulan lalu bertepuk tangan.


Alexander tertawa lalu berkata, "Apaan sih!"


Di saat mereka tertawa bersama, tanpa mereka sadari Ilham terdiam menahan emosi. Ilham memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya. Sorot matanya tajam menatap begitu teringat nama Alex pada pesannya.


Bobi dan Martin saling berpandangan, mencemaskan sahabatnya sejak tadi terdiam kesal. Mereka penasaran, mengenai apa yang sebenarnya terjadi.


"Kenapa bro, Tiara menolak ajakanmu?" tanya Martin.


Ilham menoleh kepada Martin lalu berkata, "Iya, katanya ia ingin belajar bareng. Gue gak nyangka, pecundang Alexander itu ikut! Kalau pecundang itu ikut, pasti dia cari kesempatan mendekati Tiara! Pecundang itu bikin gue muak!"


"Tahan kawan, hari ini ada pertandingan bukan? Jangan sampai pecundang itu mengganggu performa mu malam ini. Bisa-bisa, gue kalah taruhan," kata Bobi kepada sahabatnya.


Martin tertunduk memegang dagunya dengan kedua jari. Perlahan dia pun mulai tersenyum jahat.


Martin pun menoleh kepada Ilham. "Kalau elu segitu muak dengan Alex, kita rusak saja motornya," ujarnya memberi ide.


Bobi tertawa lalu berkata, "Di samping sekolah kita ada tumpukan pasir. Kita masukan saja ke dalam tangki oli motornya! Bagaimana?!"


Ilham tersenyum jahat lalu berkata, "Ide yang sangat bagus. Setelah jam istirahat, kita bolos lalu ambil pasir dan masukkan ke dalam tangki oli."


"Siap, Bos!"


Empat jam telah berlalu, setelah jam istirahat mereka bertiga memanjat pagar belakang sekolah sambil membawa tas masing-masing. Selesai memanjat pagar, mereka turun lalu berjalan menuju tumpukan pasir hitam. Mereka bertiga memungut kantong plastik hitam besar lalu memasukkan pasir ke dalam.


Selesai memasukkan pasir ke dalam kantong plastik hitam. Mereka menyebrangi jalan lalu berjalan memasuki Kawasan Parkir. Dua penjaga parkiran, duduk santai memandangi layar handphone.


Ilham serta kedua sahabatnya, berjalan mendekati Motor Kawasaki W800 sambil tersenyum jahat. Tutup tangki oli mulai terbuka, Martin tanpa ragu memasukkan pasir itu ke dalam tangki tersebut. Ilham tersenyum puas, begitu melihat pasir itu terus masuk ke dalam tangki oli.


"Mampus elu, Alex! Suatu kesalahan berurusan dengan gue," ucapnya menatap motor milik Alex dengan penuh kebencian.


Bobi memegang pundak Ilham lalu berkata, "Dragon Boys."


Martin menutup tangki oli sambil berkata, "Setidaknya Alex gak bisa bawa motor lagi untuk waktu yang lama."


Ilham tertawa lalu berkata, "Pasti! Puas gue lihatnya jalan kaki. Gue penasaran, berapa biaya perbaikan motornya?"

__ADS_1


Bobi tertawa jahat lalu berkata, "Seharga jual ginjal!"


Mereka tertawa bersama lalu berjalan menuju motor masing-masing. Setelah itu, mereka menaiki motor dan melaju meninggalkan Kawasan Parkir. Dua penjaga parkir, menerima uang parkir tanpa merasa curiga.


__ADS_2