
Lama diperjalanan, akhirnya mereka sampai di sekolah. Alexander dan Tiara turun dari angkot lalu menyebrangi jalan. Kemudian, seorang siswi tak asing berjalan menghampiri mereka berdua.
"Hello Tiara!" ucapnya begitu riang sambil memegang tangannya.
"Eh, Hana!" balas Tiara lalu mencubit pipinya sambil berkata, "Dasar bikin aku kaget saja."
"Maaf-maaf," ujarnya lalu menoleh kepada Alex dan berkata, "Hello ketua, kemarin ke mana? Pak Dirman nyariin elu tuh."
"Biasa anak muda," jawabnya dengan gugup.
Hana tersenyum lalu berkata, "Hmm... gue ngerti, gue ngerti. Mentang-mentang absennya bagus, bisa bolos sembarangan."
Alex tertawa gugup lalu berkata, "Ya, begitulah..."
"Ngomong-ngomong, sejak kapan kalian berangkat bareng?" tanya Hana.
Mendengar pertanyaan itu, sontak Alexander dan Tiara terkejut. Mereka saling berpandangan lalu tertawa gugup kepada Hana.
"Bareng? Ah, tidak. Kami hanya kebetulan bertemu," jawab Tiara.
"Pembohong, aku melihatmu dua kali berboncengan dengan ketua. Awas nanti Ilhamnya marah loh," balas Hana kepada Tiara.
Tiara tetawa lalu berkata, "Apaan sih!"
Hana merangkul tangan Tiara lalu berkata, "Yuk Tiara , kita ke kantin!"
Tiara menoleh kepada Alex lalu berkata, "Alex, aku dan Hana mau ke kantin dulu."
"Ok, have fun."
Kedua gadis itu, pergi meninggalkan Alexander sambil bergandengan tangan. Alexander tersenyum melihat Tiara begitu menikmati masa mudanya. Kemudian, dia kembali berjalan menuju kelas.
Sepanjang perjalanan, terlihat beberapa siswa baru saja datang. Mereka berjalan membawa tas dan keperluan masing-masing.
Suasana pagi yang sejuk dan damai, membuatnya sempat tersenyum. Di dalam hati Alex berharap agar merasakan ketenangan ini selama bersekolah.
Namun sayangnya, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Di depan ia melihat Beno serta anak buahnya.
Alexander terus berjalan seolah tidak melihatnya. Beno tersenyum jahat lalu dengan sengaja membuat Alexander tersandung dengan kakinya. Mereka semua tertawa, melihat Alexander terjatuh.
"Kalau jalan itu, jangan lupa pakai mata! Jangan cuman mengandalkan kaki!" ucap anak buah Beno bernama Asep.
Mereka tertawa lalu Beno berkata, "Harus begitukah supaya elu liat gue? Babi?"
Alexander terdiam, ia berusaha bangkit tanpa memperdulikan perkataan mereka. Namun semakin diabaikan, Beno pun semakin kesal.
__ADS_1
Beno pun mencengkram dagu Alex sambil berkata, "Elu tuli kah? Ayo jawab!"
Caci makinya, tidak membuat pendirian Alexander luntur. Seketika waktu pun terhenti, dia melihat sekilas para siswa memandang rendah dirinya.
Tidak ada satu pun yang peduli, mereka hanya melihat dan melihat. Bahkan seorang guru melintas bersikap acuh tak acuh pada muridnya sedang ditindas.
"Bos, kita bawa aja Si Tuli ini. Kita perbaiki telinganya, sekalian kita minta uang keamanan," ujar salah satu temannya.
Beno tertawa lalu berkata, "Gas!"
Beno dan teman-temannya merangkul Alex lalu membawanya ke suatu tempat. Selama Alexander dibawa, tidak ada satu pun yang penghuni kelas yang peduli. Namun, ketika ada salah satu teman kelasnya ia pun bersembunyi dibalik Beno dan teman-temannya.
Sepanjang perjalanan, beberapa diantaranya mereka menampar bokong Alex dengan cukup kencang. Ada juga salah satu diantara mereka, menepuk wajah Alex dengan tangan telah dilumuri oleh ludah.
Beberapa siswa yang tau tentang Beno, menjadikan Alexander sebagai topik hangat. Alexander pasrah dengan nasib malang yang telah ia alami. Baginya, sebisa mungkin menahan air agar tidak membasahi pipinya.
Beno beserta anak buahnya, membawa Alex menuju sebuah tempat diujung kiri lingkungan sekolah. Suasana tempat yang sepi, sunyi dan sering digunakan siswa nakal untuk merokok.
Tanpa ragu, Beno menendang bokongnya hingga tersungkur. Semua anak buahnya beranggota lima orang pun tertawa.
"Bos, saatnya kita ambil pajak keamanan," ucap Asep kepada Beno.
"Nanti dulu, kita rajia ponsel dan isi tasnya!"
"Siap Bos!"
Namun, tiga anak buah Beno tidak memperdulikannya hingga akhirnya tas Alex berhasil direbut. Salah satu anak buah Beno bernama Jojon, mengeluarkan kota bekal milik Alex.
"Bos lihat, kotak bekal !" ucapnya sambil mengangkat kotak bekal milik Alex.
Beno tertawa lalu berkata, "Ciri khas anak cupu! Kita lihat isinya!"
Mereka tertawa begitu melihat isi menu dari kotak bekal tersebut. Kemudian Beno mengambil kotak bekal di tangan anak buahnya.
"Anak orang kaya, tapi menu bekalnya makanan orang miskin. Makanan miskin seperti ini, pantasnya dibuang ke selokan," ucapnya lalu membuang isi kotak makanan itu ke dalam selokan.
Alexander mulai berlinang air mata lalu menjulurkan tangan sambil berkata, "Stop, jangan!"
Melihat Alex begitu menderita, membuat Beno dan teman-temannya semakin senang. Mantan preman semasa SMP itu berjalan mendekat lalu menampar Alex hingga terdiam.
"Berisik, gitu doang nangis. Kalau ketahuan guru gimana? Lagian elu kan anak orang kaya, beli lah. Sekarang kita rajia handphonenya, siapa tau ada film porno di dalam handphonenya."
"Siap Bos!"
Mereka semua berusaha untuk merebut handphonenya miliknya. Alexander kembali sekuat tenaga mempertahankan handphonenya.
__ADS_1
Beno menunjukkan layar handphone pada temannya sambil berkata, "Guys lihat! Ada kecupan cinta dari mamah. Pakai segala sayang, hahaha!"
Melihat hal itu Alexander merasa malu sekaligus merasa lega, sebab mereka tidak tau bahwa nama kontak itu adalah nomer Tiara. Alexander sengaja menamainya dengan sebutan mamah agar tidak curiga.
"Gue yakin, pasti dirumahnya menggunakan popok," ucap salah satu anak buah Beno.
"Makan pun disuapi," sambung temannya.
Beno tertawa lalu berkata, "Pasti pergi ke kamar mandi pun tidak berani," ujarnya lalu melotot sambil berkata, "Woi, mana suara nangisnya?! Handphone mu mau dikembalikan tidak?!"'
Asep pun mendekat lalu menampar Alex dengan keras sambil berkata, "Huu!"
Penindasan dialami oleh Alexander, benar-benar membuatnya tidak berdaya. Namun bagi Beno, penderitaan Alex merupakan hiburan tersendiri.
"Sekarang, pajak keamanannya. Ambil dompet dan uang yang babi ini bawa!" perintah Beno kepada anak buahnya.
Tanpa berbelas kasih, uang jajan Alexander sebanyak dua ratus ribu dirampas oleh mereka. Kemudian dia pun berdiri memandang mereka sambil menghadap berbelas kasih.
"Setidaknya, tolong sisakan ongkos untuk pulang," ujarnya layaknya seorang pengemis.
Mereka semua menoleh lalu berkata, "Lah kok nawar?!" ucap mereka bersama-sama.
Setelah itu, mereka pergi meninggalkan Alexander begitu saja. Kemudian Alexander pun berjalan seorang diri kembali ke kelas.
Sesampainya di kelas, Alexander mengetuk pintu lalu setelah diizinkan masuk ia pun masuk ke dalam. Ketika memasuki kelas, dirinya menjadi pusat perhatian.
Bu Mika, merupakan guru bahasa Inggris menoleh kepadanya. Beliau menggelengkan kepala ketika melihat penampilan Alexander kucel dan kumal.
"Sekarang jam setengah sembilan, kamu habis dari mana?" tanya Bu Mika dengan serius.
"Maaf Bu, saya datang terlambat."
Tiara mendengar jawaban Alex terkejut lalu berdiri dan berkata, "Enggak Bu, Alex datang ke sekolah bareng saya jam tujuh empat lima. Saya dan Hana pergi ke kantin, terus Alexander bilang duluan ke kelas," ucapnya dengan penuh khawatir.
Seluruh siswa mulai memperbincangkan sikap Alexander yang tidak biasa. Ada juga segelintir siswa yang tidak peduli. Sedangkan Tiara terdiam mengkhawatirkan Alex.
"Terus, kamu habis dari mana?"
Alexander tersenyum lalu menjawab, "Pergi ke kantin, Bu."
Bu Mika menggelengkan kepala lalu menunjuk sambil berkata, "Sekarang kamu berdiri dengan satu kaki, tangan di telinga sambil nyanyikan lagu nasional. Setelah itu, kamu berdiri sampai pelajaran selesai. Cepat!"
"Baik, Bu."
Alexander dengan tabah mulai menjalani hukuman. Tiara kembali duduk ditempatnya, sedangkan yang lainnya kembali menatap ke depan.
__ADS_1