Senar Takdir

Senar Takdir
Empat Serangkai


__ADS_3

Di depan gerbang sekolah, terdapat berbagai penjual kuliner lalu Alex, Wulan dan Tamrin berjalan melihat-lihat. Alex mengantri membeli soto, Tamrin Siomay dan Wulan Batagor.


Setelah mendapat pesanan, mereka masuk ke dalam sekolah lalu mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka memulai makan siang. Panasnya sinar matahari, membuat kulit terasa seperti tertusuk jarum.


Beberapa siswa, terlihat berjalan berlalu-lalang sekitar lingkungan sekolah. Mereka bertiga, duduk di sebuah bangku taman sekolah yang berada di jalan masuk menuju lingkungan sekolah.


Kebetulan terdapat sebuah pohon beringin dan pohon mangga yang rindang sehingga tidak terlalu terkena sinar matahari. Para peserta MOS, terlihat duduk sambil menikmati jajanan dibawah pohon.


"Panas," keluh Alex.


Wulan mengibaskan tangannya, "Maklum, namanya juga musim panas. Pasti panas, mana mungkin dingin."


Tamrin berdiri dari tempatnya, "Guys, gue mau beli minum ke depan. Kalian mau titip apa?" tawar Tamrin.


Alexander memberikan selembar uang lima ribu sambil berkata, "Ini, tolong Es kelapa."


Wulan juga memberikan selembar lima ribu, "Gue juga."


Tamrin berjalan menuju penjual es kelapa yang sedang berdagang depan gerbang sekolah. Sedangkan Alexander dan Wulan, duduk berdua menunggu pesanan mereka berdua.


"Alex," sapa Wulan.


"Iya?"


"Kemarin sore, kamu bertemu sosok yang menarik. Dia memberimu takdir, tapi kamu malah meninggalkannya," kata Wulan membuat Alexander terdiam.


Dia teringat oleh pertemuan dengan seorang wanita yang mengaku sebagai Dewi Cinta. Setelah melakukan permainan jarum putar, dia diminta untuk menemui seorang gadis cantik bernama Tiara di taman kota pinggir sungai.


Kedekatan dengan Tiara bagaikan mimpi, kecantikan tiada banding membuat Alexander seperti berada di surga. Namun dia penasaran, apakah kejadian waktu itu Wulan melihatnya? Semakin lama memikirkannya, membuat Alexander semakin penasaran.


"Elu lihat gue kemarin sore di Karnaval?" tanya Alexander.


"Tidak, aku menebaknya melalui kartu ramalan," jawab Wulan sambil memberikan sebuah kartu tarot.


Pada kartu tersebut, terdapat seorang lelaki dan dua wanita. Lelaki itu, mengenakan baju modern berdiri berhadapan dengan seorang wanita yang mengenakan pakaian khas wanita Zaman Kerajaan Nusantara.


Sedangkan wanita satunya, berdiri di antara mereka berdua mengenakan baju kebaya, samping batik dan mengenakan sebuah mahkota. Wanita itu, menjulurkan tangan ke depan seolah dia memperkenalkan pihak lelaki kepada wanita, begitu juga dengan sebaliknya.


Belakang wanita itu, terdapat cahaya dan kibaran selendang membentang luas. Sedangkan belakang wanita itu, terdapat berbagai macam hewan dan benda berharga lainnya.


Alexander langsung menunjuk Wulan sambil berkata, "Tepat sekali!" lalu dia berhenti menunjuknya dan bertanya, Kamu, peramal?"


Wulan menggelengkan kepalanya, "Aku hanya asal tebak."


Sepuluh menit kemudian, Tamrin pun datang membawa tiga plastik berisi es kelapa. Dia memberikan kepada mereka berdua satu persatu.

__ADS_1


Mereka bertiga mulai menikmati makan siang di bawah pohon beringin yang rindang. Angin sejuk mulai berhembus, kelezatan menu makan siang ditambah minuman es kelapa membuat waktu makan siang terasa nikmat. Alexander tersenyum, merasakan hal sejak lama dia inginkan yaitu makan bersama teman sebaya.


Dulu semasa Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama, tidak ada satu pun siswa makan bersamanya. Setiap hari, dia makan seorang diri di tempat yang menurutnya nyaman. Terkadang, dia pernah makan seorang diri di kamar mandi. Bahkan, dia tidak pernah makan sama sekali akibat pemalakan dilakukan oleh preman sekolah.


Tamrin melihat Alexander mulai berhenti mengunyah makanan. Wajahnya terlihat sedih dan murung seperti sedang memikirkan masalah yang rumit. Dia menepuk pundak Wulan, ia menunjuk kepada Alex membuatnya ikut menoleh kepadanya.


"Kenapa bro?" tanya Tamrin.


Alexander menoleh kepada mereka berdua lalu dia tersenyum seolah tidak terjadi apapun.


"Gue cuman berpikir, setelah kita mendapatkan kelas dan mendapatkan teman baru, apa kita masih sempat kumpul atau kita akan bersikap seolah tidak mengenal?" kata Alex membuat mereka terdiam merenung.


Apa yang dipikirkan oleh Alex, membuat Wulan dan Tamrin ikut memikirkannya. Beberapa jam lagi, penentuan kelas akan segera selesai. Mereka bertiga akan masuk ke dalam kelas telah ditentukan. Setelah itu, mereka akan terus bersama teman kelas hingga lulus. Pasti, mereka akan menjalani kehidupan masing-masing membuat momen pertemuan mereka bertiga berakhir.


"Kalau begitu, kita bentuk saja tiga serangkai," saran Tamrin.


"Tiga serangkai?" tanya Alex dan Wulan.


"Iya, semacam nama perkumpulan dan gang," jawab Tamrin.


"Boleh, aku setuju, Tapi jangan tiga serangkai, tapi empat serangkai," saran Wulan.


"Kenapa? Kita hanya bertiga, siapa yang ke empat?" tanya Tamrin.


"Elu punya pacar? Keren! Orang mana?" tanya Tamrin begitu penasaran.


"Masih pribumi," jawab Alex memalingkan wajah dengan malu-malu.


"Pacarmu ada di mana sekarang? Beda sekolah atau satu sekolah sama kita?"


"Pacar Alex masih satu sekolah dengan kita. Sayangnya karena suatu alasan, dia tidak bisa ikut kegiatan MOS. Paling hari Senin kita bisa bertemu dengannya," kata Wulan memotong pembicaraan.


Alexander terheran-heran dengan apa yang dikatakan Wulan. Padahal dia sama sekali belum mempunyai pacar, tapi mengapa dia berkata seperti itu? Dan siapa pacar yang dia maksud? Pertanyaan itulah selalu berputar di dalam kepalanya. Sedangkan Tamrin mempercayai apa yang dikatakan oleh Wulan.


"Baiklah, perkumpulan kita sudah terbentuk dan sekarang sudah waktunya bagi kita untuk menentukan siapa ketuanya," kata Tamrin.


"Ketua, buat apa? Tidak penting. Sudahlah Tamrin jangan berlebihan, cukup seperti biasa saja," bantah Alex.


"Penting, dong! Sebab adanya Ketua, membuat perkumpulan ini terjaga dan terarah dengan jelas," balas Tamrin. "Bagaimana menurutmu Wulan, kamu setuju?"


"Setuju. Meskipun kita beda kelas, jika ada perkumpulan kita masih bisa berkumpul," jawab Wulan setuju dengan saran Tamrin.


"Jadi siapa ketuanya?"


Mereka berdua dengan kompak langsung menuju Alex. Sontak dia pun terkejut, melihat mereka berdua kompak menunjuknya.. Padahal, dia sama sekali belum berpengalaman dalam perkumpulan apapun. Selain itu, teman semasa sekolah dasar hingga menengah pertama sangat sedikit. Bahkan ketika kelas delapan, dia sama sekali tidak memiliki teman.

__ADS_1


"Kok, gue?!"


"Sudahlah kamu jangan protes. Suara terbanyak, itulah yang menang," kata Wulan.


"Lagi pula, diantara motor siswi SMA motormu paling keren," sambung Tamrin.


"Alex memang punya motor apa?"


"Kawasaki W800 Hitam, sepesial edition!" serunya terkagum-kagum.


"Wow! Motor seharga tiga ratus juta. Kecepatan maksimum 177 kmph dan RPM tenaga maksimum 6500. Keren! Memang layak dipanggil bos," puji Wulan kepada motor Alex.


"Ya, ampun. Menentukan ketua tidak bisa dilihat dari motor," balas Alex kepada mereka berdua.


"Sudah terima saja, tidak baik menolak amanah," timbal Wulan.


"Iya-iya."


Alexander resmi menjadi ketua empat serangkai. Mereka berdua, mulai memanggil Alex dengan sebutan bos. Sedangkan Alex, terdiam menahan malu mendengar mereka memanggilnya dengan sebutan bos. Tidak berselang, bel pertanda masuk telah berbunyi lalu mereka bertiga masuk ke dalam kelas. Kedua kakak kelas masuk ke dalam ruangan untuk memberikan arahan untuk bersiap keluar melihat ajang promosi dari setiap ekstrakulikuler.


Seluruh peserta MOS, keluar dari ruangan lalu berjalan menuju gedung gor tak jauh dari kawasan parkiran sekolah. Di sana, mereka semua melihat berbagai ajang promosi dari setiap ekstrakulikuler. Alexander menikmati setiap pertunjukan dari setiap ekstrakulikuler. Selesai pertunjukan, setiap ekskul memberikan selembar kertas pendaftaran kepada seluruh peserta MOS.


"Bos, rencana mau gabung ekskul apa?" tanya Tamrin.


"Belum tau, kayaknya gak ikut ekskul apapun."


"Jangan begitu Bos, masa muda harus dinikmati. Pilihlah salah satu ekskul. Lagi pula, waktu sekolah kita hanya setengah hari," kata Tamrin.


"Gabung saja Bos. Ekstrakulikuler itu penting untuk menambah pertemanan dan kemampuan bersosialisasi," sambung Wulan.


"Memangnya, kamu mau gabung ekskul apa?" tanya Alex.


"Tidak ada," jawab Wulan membuat mereka berdua terdiam memandangnya dengan wajah datar.


"Dasar, ngasih nasehat sendirinya juga begitu," sindir Tamrin.


"He.he.he," tawa Wulan.


Ajang promosi telah berakhir, salah satu panitia maju ke depan. Panitia itu memberi arahan kepada pada peserta MOS untuk keluar dari GOR secara beraturan. Seluruh peserta MOS diminta untuk melihat daftar penempatan kelas yang tersebar di seluruh mading sekolah. Alexander dan kedua temannya, berjalan menelusuri lorong untuk mencari mading sekolah. Sekian lama mencari, akhirnya mereka berhasil menemukannya.


Wulan senang, melihat bahwa dirinya satu kelas dengan dua temannya yaitu di kelas 10 IPS F. Kemudian, seluruh peserta berkumpul di lapangan basket untuk mengikuti upacara penutupan kegiatan MOS.


Hari mulai senja, seluruh peserta dan panitia menikmati jalannya upacara penutupan. Rencananya, kegiatan MOS berlangsung dua hari namun karena keputusan Dewan Guru kegiatan MOS menjadi satu hari. Meskipun begitu, waktu singkat terasa begitu berharga bagi para peserta karena sebentar lagi, mereka semua kembali pulang dan bersiap untuk mengikuti pembelajaran di hari pertama.


Selesai upacara, Alexander dan Tamrin berpisah dengan Wulan. Kemudian mereka berdua menyebrangi jalan dan memasuki kawasan parkir. Para peserta terlihat terkagum-kagum, melihat motor yang dikendarai oleh Alex. Setelah itu, Alex dan Tamrin berpisah lalu melaju kembali pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2