Senar Takdir

Senar Takdir
Sepulang Ekskul


__ADS_3

Tiga menit lamanya Tiara bernyanyi. Namun bagi mereka semua, waktu berlangsung sangat cepat. Selesai menyanyi, mereka semua kembali ke tempat duduk masing-masing. Tigor keluar mengambil minum dan cemilan lalu memberikannya kepada mereka dinikmati.


"Silahkan dinikmati, semuanya gratis!" ujar Tigor mempersilahkan mereka.


Mereka semua, mengambil segelas air kemasan dari dalam kardus beserta cemilan. Empat Serangkai terlihat menikmati cemilan. Tigor masih tidak percaya, anggota barunya terlihat memiliki talenta luar biasa terutama Wulan dan Tiara.


"Wulan dan Tiara, penampilan kalian berdua sebelumnya keren sekali. Suara kalian terdengar seperti alunan surga," puji Tigor pada mereka berdua.


"Thanks kak, kakak berlebihan. Kami masih perlu banyak berlatih," timpal Wulan lalu Tiara berkata,"Benar apa kata Wulan, kak. Jujur masih banyak kekurangan dalam penampilan kami."


"Sudahlah, jangan merendah seperti itu.


Handphone milik Tamrin mulai gemetar di dalam saku celananya. Dia pun berdiri dari tempat duduknya, mereka semua menoleh kepadanya. Kemudian dia pamit untuk menjawab panggilan dari seseorang.


Setelah sepuluh menit, dia pun kembali masuk ke dalam Ruang Musik lalu menoleh ke arah jam dinding menunjukkan pukul dua siang. Dia berjalan ke tempat duduknya lalu mulai mengenakan tasnya.


"Mau ke mana, Tamrin?" tanya Tigor lalu Tamrin menjawab,"Maaf Kak, ada panggilan kerja. Saya izin pulang," ujarnya meminta izin.


Tamrin pun tersenyum lalu pamit dan berjalan meninggalkan Ruang Musik. Tigor bertanya pada mereka bertiga, mengenai di mana Tamrin bekerja.


Tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahuinya. Istirahat telah berakhir, ketua Ekskul Band berdiri menghadap mereka bertiga.


"Sekarang Alexander, ayo maju ke depan," pinta Sang Ketua kepada Alex.


"Hah?!" timpalnya sangat terkejut.


"Kenapa?" tanya Tigor lalu Alexander menjawab,"Tidak ada."


Alexander maju ke depan, ia bersiap dengan Gitar Auditorium dikedua tangannya. Selama ini, dia selalu memainkan gitar namun sampai sekarang Tiara belum mendengar suara nyanyiannya.


Perlahan, dia duduk lalu memandang mereka bertiga dengan rasa gugup. Jari-jarinya mulai memainkan irama gitar. Tetapi, entah mengapa suara lantunan gitar tidak seindah sebelumnya.


Suara itu terdengar asal dan seperti dipaksakan, membuat para penonton merasa tidak nyaman. Mulutnya mulai terbuka, namun bukan suara nyanyian melainkan terdengar hembusan nafas dari mulutnya.


"Hei, ada apa?" tanya Tigor.


"Suaraku fals, kak. Nanti kalau saya nyanyi, kaca ruangan ini bisa pecah," jawabnya membuat Tigor tertawa.

__ADS_1


"Ngaco, elu. Elu kira kita ini ada di Dunia Kartun kah?" timpalnya.


"Bos, tenang Bos jangan gugup. Lepaskan saja, anggap kami ini batu dan sebagainya," kata Wulan.


"Iya, Alex. Jangan terburu-buru, menyanyi semampu yang kamu bisa," sambung Tiara.


"Maaf, gue belum siap. Mungkin pertemuan selanjutnya," timpal Alexander pada mereka bertiga.


"Ya, sudahlah. Pertemuan selanjutnya, elu harus tampilkan iramamu pada kami semua. Oh iya, jangan lupa beritahu Tamrin supaya dia tampil juga," pinta Tigor kepada Alex.


Alexander tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dia pun berdiri lalu kembali ke tempat duduknya. Tigor mulai membahas, jadwal pertemuan dan kegiatan Ekskul.


Dia berkata, bahwa kegiatan Ekskul diadakan setiap hari rabu sepulang sekolah. Ekskul ini baru dibentuk, Tigor akan usahakan mencari pihak sekolah yang mau menjadi Pembina Ekskul Band.


Selain kegiatan pentas, mereka juga akan dikenalkan berbagai alat musik termasuk cara memainkannya. Selesai membahas agenda, mereka mulai merapihkan dan membersihkan ruangan. Setelah itu Alexander, Wulan dan Tiara pamit kepada Sang Ketua Ekskul.


Mereka bertiga, menyebrangi jalan lalu memasuki kawasan parkir. Wulan dan Alexander menaiki motor dan mereka, berpisah pulang ke rumah masing-masing. Sekian lama di perjalanan, Alexander dan Tiara sampai di rumah.


Tiara turun dari motor, ia mulai membuka gerbang secara perlahan. Alexander melaju masuk ke dalam halaman rumahnya. Motor Kawasaki miliknya ia masukkan ke dalam garasi lalu mengunci pintu garasi rapat-rapat.


"Suamiku sayang, kenapa kamu berpaling?" tanya Tiara lalu Alexander menjawab," Tidak."


Semakin Tiara mendekat, wajah Alexander semakin merah dan jantungnya pun berdegup kencang. Sorot matanya, seolah tertarik untuk memandang parasnya yang cantik. Tetapi, rasa malu menghalangi itu semua.


"Mukamu merah, sayang."


Mendengar hal itu, membuat Alexander semakin salah tingkah. Melihat Alexander salah tingkah, membuat Tiara tertawa gemas.


"Suamiku, tolong bentangkan kedua tanganmu," pinta Tiara lalu Alexander membalas,"Untuk apa?"


"Sudahlah, lakukan saja!" pintanya dengan memaksa.


Alexander membentangkan kedua tangannya. Tidak disangka, dia pun memeluk Alexander dengan erat. Kehangatan pelukan mulai ia rasakan, wajahnya memerah dan perlahan kedua tangan Alexander turun.


"Memeluk seseorang selama tiga puluh detik membuat perasaan membaik," ujar gadis itu sembari mempererat pelukan.


Alexander tersenyum, dia pun mulai membalas pelukan. Hatinya sedang lelah, akibat rutinitas sekolah mulai membaik. Rasanya, seluruh beban terangkat bersama hawa panas tubuhnya.

__ADS_1


"Tolong, tiga puluh detik lagi," pinta Alex berbisik pada telinga kekasihnya.


Tiara melepas pelukan, dia pun mundur sebanyak dua langkah membuat Alex sedikit terkejut. Gadis itu mendekat, dia mendekat pada daun telinganya.


"Aku sibuk, nanti kita lanjutkan nanti malam di kamar," bisiknya membuat raut wajah Alexander memerah.


"Kalau begitu, aku pergi ke kamar," timpalnya lalu pergi dan masuk ke dalam kamar begitu saja.


Alexander berbaring di atas ranjangnya, ia menutup wajahnya sendiri dengan bantal. Kemudian, dia memeluk bantal itu dan berguling-guling ke sana dan kemari sambil menyebut nama Tiara berkali-kali.


Setelah itu, dia pun tersenyum sambil memandang langit-langit kamar. Perlahan Alexander mulai memejamkan mata lalu dia pun tertidur.


Hari semakin senja, dua jam lamanya Tiara melakukan pekerjaan rumah. Pakaian kotor telah dicuci, seluruh lantai rumah dan jendela telah ia bersihkan. Satu persatu pakaian, sedang ia gantungkan pada jemuran berada di teras depan rumah.


Keringat, membasahi kaos berwarna pink sedang dia kenakan. Punggung bawah dan kedua kakinya mulai terasa pegal.


Selesai menjemur pakaian, dia berjalan masuk ke dalam rumah. Dia melihat Alexander, baru saja duduk di sofa panjang ruang tamu. Alexander tersenyum memandang Tiara, sesekali ia menguap dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya sendiri.


"Selamat sore, suamiku," sapa Tiara sembari memegang ember di kedua tangannya.


"Sore," balasnya lalu ia berkata,"Sini," pinta Alexander sambil menepuk sofa tepat disampingnya.


Tiara berjalan mendekat, ia duduk tepat samping kekasihnya. Baru saja ia duduk, Alexander berdiri dari tempat duduknya.


"Aku mau ke dapur, kamu mau minum apa?" tanya Alex lalu Tiara membalas,"Biar aku saja, sayang. Kamu duduk manis saja di sini," ujarnya sambil berdiri.


"Tidak usah, sesekali biar aku buatkan sesuatu untukmu. Kamu mending duduk manis dan istirahat," bantahnya sambil menekan kedua pundaknya hingga kembali duduk.


Tiara tersenyum manis kepadanya, ia meminta Alexander membuatkan segelas teh tawar hangat. Kemudian, Alexander berjalan ke dapur sambil membawa ember lalu membuat segelas teh dan susu. Selesai membuatkan minuman, dia membawa dua gelas di tangannya menuju Ruang Tamu.


Kedua gelas itu, ia letakkan di atas meja tamu lalu Tiara pun mengambilnya. Mereka berdua, mulai menikmati minuman hangat sambil menikmati sinar dibalik kaca.


"Tiara, julurkan kedua kakimu di atas pahaku," pinta Alex kepada Tiara.


Tiara menyamping, kedua kakinya menjulur di atas kedua paha Alex. Kedua telapak tangan Alex, mulai menyentuh kedua telapak kakinya. Ia mulai memijat kedua telapak kaki secara perlahan lalu naik menuju pangkal betis.


Rasa pegal pada kedua kakinya, mulai menghilang dan berganti dengan rasa nikmat. Melihat raut wajah Tiara begitu menikmati, membuat Alexander terasa senang.

__ADS_1


__ADS_2